
Mata Bisma tak mampu terpejam, walau pun tubuhnya sudah rebah di peraduan. Mengingat kelakuan Deby bersama lelaki asing saat di restoran tadi, membuat rasa jijik Bisma hadir.
Bagaimana mungkin ia akan memulai hidup baru dengan perempuan murahan yang di otaknya hanya memikirkan kesenangan dan materi?
Akan jadi apa keturunannya nanti jika mempunyai ibu yang tidak memiliki kehormatan sama sekali?
Bisma menggelengkan kepala menyadari bahwa Deby tidak berubah seperti apa yang diucapkannya sore tadi di dalam mobil. Bagaimana ia bisa begitu mudah diperdaya perempuan pengumbar syahwat dengan penampilan tertutup tersebut. Penampilan seperti peri, tapi kelakuan seperti rubah betina yang tak mempunyai rasa malu.
Ia merasa kehilangan muka, jika suatu saat mama dan Mayang mengetahui siapa sesungguhnya Deby, yang ia puji sebagai perempuan terbaik yang akan menemani hingga hari tuanya kelak.
Kembali bayangan Ajeng bersama Hilman dan keakraban yang terlihat dengan kedua orang tuanya membuat kecemburuan kembali hadir di benak Bisma. Kalau saja ia tidak egois dengan membiarkan hatinya tergoda sesaat, tentu saat ini ia bersama keluarga kecilnya menikmati kehangatan dan berbagi kebahagiaan bersama.
Keintiman yang terjadi antara ia dan Ajeng tanpa melibatkan perasaan khususnya dirinya kembali bermain di pelupuk matanya. Sungguh ia adalah lelaki yang tidak bersyukur.
Dari awal ia setuju dijodohkan dengan Ajeng. Penampilan good looking, bahkan nyaris sempurna membuatnya tak menolak untuk segera membina rumah tangga dengan perempuan pilihan mamanya.
Bagaimana ia mati rasa, tak melibatkan hati dalam hubungan pernikahan yang terjadi hingga mendapatkan seorang putri. Keagresifan Ajeng dalam menstimulus dirinya hingga terjadi hubungan intim membuatnya sangat merindukan semuanya.
Dalam kegelapan malam kilat mulai menyambar disertai hujan turun seperti air bah saking derasnya, membuat Bisma terus mengingat semua perlakuan Ajeng padanya. Ia sangat menginginkan semuanya, bahkan detik ini.
Seperti layar kaca yang menampilkan adegan demi adegan yang membuat Bisma tak ingin pindah ke cerita lainnya. Ia ingin semuanya menjadi kenyataan. Bukan hanya bayangan masa lalu yang membuatnya menyesali seperti saat ini.
“Ah, Ajeng aku menginginkanmu .... “ desah Bisma dalam ke frustrasiannya karena hanya mampu mengingat semua yang terjadi tanpa tau kapan bisa mengulang kembali.
Ia membolak-balik badan di pembaringan. Aroma wangi parfum yang biasa digunakan Ajeng terasa menusuk indera penciumannya di keheningan malam. Pikiran Bisma semakin kacau. Ia meremas kepalanya dengan pikiran berkecamuk.
Udara dingin terasa menusuk hingga ke persendian ketika Bisma membuka pintu kost-an tempat ia berada.. Karena matanya yang enggan terpejam membawa Bisma keluar dan duduk di beranda kost yang sepi karena para penghuninya sudah terlelap dalam pelukan malam.
Sementara itu di kediaman Ajeng, ia baru saja berganti pakaian setelah memenuhi undangan Hilman dan kedua orangtuanya. Ia merasa tersentuh dengan keramahan kedua orang tua Hilman. Kerinduannya akan orang tua yang telah lama pergi serasa terobati dengan kehadiran tante Yenni dan Om Yusuf.
“Mbak tadi lihat mas Bisma?” pertanyaan Dimas menghentikan aktivitas Ajeng yang sedang membereskan mainan barbie Lala yang berserakan.
Ajeng mengangguk sekilas. Dari ruang VIP restoran tempat ia berada tadi, dapat melihat semua tamu yang datang.
Ia telah menguatkan hati untuk tidak menoleh ke belakang. Ajeng sangat paham dengan sikap yang ditunjukkan perempuan yang bersama Bisma. Binar kebahagiaan dapat ia lihat dari wajah cantik perempuan itu.
__ADS_1
Ia pun telah siap untuk memulai, walau pun belum dalam jangka waktu dekat ini. Pertemuan dengan kedua orang tua Hilman membuat pikirannya lebih terbuka. Ia tidak mungkin selamanya sendiri.
Apa lagi dengan status janda yang ia sandang, membuat orang memandang sebelah mata padanya. Para perempuan kebanyakan nyinyir, khawatir suami mereka akan tergoda.
“Apa mbak menerima jika mas Bisma ingin rujuk kembali?” pertanyaan Dimas membuat Ajeng langsung memandang wajah adiknya.
“Ha?” Ajeng mengerutkan kening tak yakin dengan pertanyaan yang Dimas ajukan, “Dari mana kamu membuat kesimpulan seperti itu?”
“Buktinya mas Bisma sudah sebulanan ini hampir 3 kali sehari makan di sini. Apa namanya coba, kalau bukan ingin balikan.... “
“Heh!” Ajeng tersenyum sinis, “Dia hanya pengen liat, apakah perempuan matre pengeruk duitnya masih gila harta.”
“Kok mbak negatif thingking gitu sih? Ku lihat mas Bisma tulus. Dan ia figur ayah yang ideal buat Lala,” Dimas berusaha menyanggah ucapan Ajeng.
“Dek, dia itu hanya manifulatif. Biar dipandang orang lelaki yang bertanggung jawab. Wajar sih, dia ayahnya Lala,” Ajeng masih mempertahankan argumennya, “Coba kamu pikir dan ingat-ingat, sejak Lala masih orok, hingga sekarang hampir dua tahun apa dia sedekat ini sama Lala. Nggak khan?”
Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Iya sih. Tapi melihat sikapnya sekarang, aku yakin ada sesuatu yang direncanakan mas Bisma.”
“Mbak gak peduli,” potong Ajeng cepat, “Nanti kalau dia menemui Lala, bilang aja agar proses perceraikan kami diurus segera. Lihat aja perempuan yang bersamanya. Itulah yang dia banggakan dan digadang-gadang bakal jadi pendamping idealnya.”
“Mbak cemburu?” pancing Dimas penasaran melihat Ajeng yang mulai terbawa emosi.
“Pantes aja mbak nerima tawaran makan malam pak Hilman. Berarti sius nie ... ?” gelak Dimas seketika.
“Mulutmu tak ulek,” kesal Ajeng karena terus digoda Dimas, “Udah malem, besok kerjaan banyak.”
“Ah mbak. Besok kan Sabtu, rehat lah ya?” pinta Dimas memelas.
“Gak ada rehat. Besok pergi dengan mas Hilman untuk bayar lahan lele yang mbak datangi kemaren.”
“Ya deh ... “ akhirnya Dimas mengalah.
Bagaimana ia mau menolak, jika kerjanya bagus dan tidak mengecewakan motor trail baru yang sudah lama ia idamkan akan segera jadi miliknya.. Dan ia tau, mbaknya tidak pernah ingkar janji. Walau pun semua berproses, tapi ia tidak ingin mengecewakan saudara perempuan satu-satunya yang ia miliki.
Sebenarnya Dimas kecewa saat mendengar perpisahan yang terjadi antara Ajeng dan Bisma. Kakak iparnya di matanya adalah lelaki sempurna yang ia kenal. Postur menjulang, tegap, wajah enak dipandang, pekerjaan mapan dan tak kalah penting adalah keturunan orang berada.
__ADS_1
Tidak banyak yang ia ketahui penyebab perpisahan kakaknya. Ajeng tipe perempuan yang tidak mau mengumbar masalah pribadi. Yang Dimas tau, mereka berdua hanya beda prinsip.
Semenjak pernikahan Ajeng dan Bisma hampir tiga tahun yang lalu, Dimas tetap tinggal dengan lek Yati dan lek Tarjo, sepupu almarhum ayahnya yang yang berada di desa.
Ia ingin mandiri dan tidak menumpang hidup pada kakaknya yang telah bercukupan karena menikah dengan lelaki mapan. Apalagi ia melihat Bisma juga tipe tertutup, perfeksionis dan tidak suka keramaian.
Selama pernikahan masih terbina, dapat dihitung dengan jari komunikasi yang terjadi antara Dimas dan Bisma. Ajeng pun telah mewanti-wantinya agar tidak terlalu sok akrab dengan Bisma yang selalu memandang rendah orang yang tidak selevel dengan mereka.
“Pagi Dim .... “ suara bariton mengejutkan Dimas yang sedang melakukan kegiatan bersih-bersih bersama Wawan teman sekelasnya sambil mencabut rumput di sekitar taman samping kediaman mereka.
“Mas Bisma .... “ Dimas terkejut melihat lelaki yang tadi malam mereka perbincangkan kini hadir di hadapannya.
“Dim, aku pindah ke sana .... “ ujar Wawan sambil menunjuk arah parkiran yang dibalas Dimas dengan anggukan.
Ia memandang Bisma sambil mengerutkan kening. Kelihatan bahwa Bisma masih mengenakan celana kain serta kaos biru donker yang ia pakai tadi malam.
Sayup-sayup terdengar musik reggea dari samping tempat keduanya berada saat ini. Bisma memandang pintu kecil yang menjadi penghubung dengan ruangan yang ia dengar suara musik yang semakin rancak.
“Mana Lala?” tanya Bisma seketika tanpa mengalihkan pandangan dari pintu yang tertutup rapat.
“Biasa, Sabtu pagi gini ikut bundanya senam di halaman samping dengan rekannya mbak Ajeng.”
“Aku ingin bertemu Lala,” tanpa permisi dengan Dimas, Bisma langsung melangkah menuju pintu kecil yang tidak terkunci.
“Mas .... “ Dimas berusaha menahan langkah Bisma yang tergesa-gesa tapi tak berhasil.
Dengan cepat Bisma menyelinap di balik pintu. Keinginannya bertemu dengan Lala hanya alibinya untuk melihat wajah Ajeng yang begitu menyiksanya semalaman.
“Atu, wa, iga .... “ suara kenes Lala mendominasi senam Zumba yang diikuti Ajeng beserta Ina dan Resta.
Pandangan mata Bisma terpaku pada seorang lelaki muda berbadan atletis yang menjadi instruktur ketiganya. Ia melihat Ajeng yang menggunakan training press body dengan kaos oversize menutupi tubuhnya yang semakin proporsional.
Glek! Bisma menelan ludah.
“Cobaan apa lagi ini.... “ batinnya semakin nelangsa melihat pemandangan indah yang menjadi sarapannya di pagi hari yang sangat cerah.
__ADS_1
“Yayah .... “ melihat Bisma yang berdiri tegak di dekat pintu, Lala yang hanya berputar-putar mengelilingi Ajeng dan teman-temannya langsung memanggil dan menghampirinya.
Ajeng terkejut menyaksikan keberadaan Bisma di area pribadi keluarganya. Matanya memandang Bisma sinis. Ia tidak tau apa yang dilakukan lelaki yang membuat moodnya langsung down. Akhirnya ia berhenti mengikuti gerakan senam yang sudah memasuki sesi akhir.