Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 83 Sarapan di Pagi Hari


__ADS_3

Suasana pagi begitu dingin apalagi di tengah malam hujan lebat datang menerpa, sehingga penghuni rumah banyak yang enggan keluar dari peraduaannya.  Memang cuaca begitu memanjakan mata untuk terus terpejam.


Nurita pun enggan untuk keluar kamar setelah melaksanakan salat Subuh. Ia hanya meminum segelas air putih hangat yang selalu tersedia di kamarnya. Kembali ia membaringkan tubuhnya di peraduan. Rasa lelah luar biasa setelah minggu-minggu terakhir hingga hari H berjibaku dengan pernikahan hingga resepsi putrinya.


Kini ia merasa lega, putri sulungnya kembali menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, dan ia harapkan putra bungsunya pun segera memulai kembali. Siapa  pun jodohnya doa yang terbaiklah ia panjatkan. Tak menunggu waktu lama, ia pun kembali dalam buaian.


 Sementara itu di kamar atas, setelah menunaikan salat Subuh, Ajeng langsung ke dapur. Padahal hari masih gelap. Ia menuruti keinginan Lala yang pengen makan nasi goreng telor ceplok.


Ajeng tersenyum saat tiba di dapur melihat suasana masih sepi. Ia yakin semua kelelahan setelah seharian membantu acara pernikahan hingga resepsi Mayang.


“Kakak mau yang banyak telurnya bunda ....” suara Lala membuat senyum Ajeng terbit.


“Siap kakak sayang .... “ Ajeng mencium kepala putrinya dengan penuh kasih.


Dengan cekatan ia mengeluarkan bahan-bahan yang akan ia pergunakan sebagai kelengkapan nasi goreng permintaan putrinya. Sebenarnya ia pun merasakan kelelahan luar biasa, tapi keinginan sang putri tidak bisa ia abaikan begitu saja.


“Kakak pengen bantu juga bunda ... “ seru Lala begitu melihat Ajeng sudah meletakkan wortel dan beberapa sayur di atas meja.


Sementara itu di kamar bawah, Bisma baru menyimpan sajadah setelah melaksanakan kewajiban 2 rakaatnya. Sebenarnya rasa lelah dan kantuk masih hinggap membuat Bisma hanya salat Subuh di rumah. Apa lagi saat azan berkumandang, air seperti jatuh dari langit saking lebatnya, membuatnya terlelap hingga tersadar sudah menunjukkan jam 5 tepat.


Saat hendak menghempaskan diri di pembaringan, aroma wangi nasi goreng menyelinap memasuki indera penciumannya. Rasa lapar ternyata mengalahkan kantuk yang sempat menyerangnya.


Kerinduan akan  nasi goreng buatan mamanya membuat Bisma melawan rasa kantuk dan bangkit dari peraduan menuju dapur. Saat memasuki area dapur, matanya terpaku pada sosok yang semalaman ia pikirkan.


Dari percakapan yang terjadi antara ia dan Dimas, Bisma sudah meyakini keinginannya sekarang. Tekadnya telah bulat, ingin rujuk kembali bersama Ajeng. Ia yakin, perjuangannya kali ini tidak mudah, terlalu banyak kerikil dan celah yang bakal ia temui.


Yang harus ia lakukan adalah mulai menyingkirkan kerikil serta menutupi celah sekecil apa pun yang akan merintangi perjuangannya.


Senyumnya terbit melihat pemandangan indah di pagi hari ini. Seorang istri sholeha yang memiliki paras rupa sempurna dan seorang putri kecil cantik adalah karunia istimewa yang ia miliki.


Tapi itu dulu ...


Rasa getir hadir di lubuk hati Bisma. Kenapa harus ada kata talak disaat kesempurnaan itu telah dianugerahkan Yang Kuasa padanya? Bisma langsung membuang kegetiran yang ada.


Terlalu banyak waktu ia sia-siakan hanya untuk mengedepankan ke-ego-an yang ia miliki saat itu. Kini ia masih memiliki waktu. Semoga saja Yang Kuasa mengizinkan ia untuk bersama kembali dengan keluarga kecilnya.


Ia tidak akan lelah berjuang untuk mendapatkan kembali kepercayaan  sang mantan yang kini semakin sempurna dan matang di matanya.


“Wah, aromanya sedap sekali. Mengganggu penciuman ayah ....” suara Bisma tiba-tiba menginterupsi keduanya.


“Ayah sudah bangun?” suara kenes Lala membuat Bisma mendekati putrinya itu dan mencium rambutnya yang wangi dan masih nampak lembab karena habis keramas dengan Ajeng.

__ADS_1


Ajeng pun menoleh ke samping melihat keberadaan Bisma yang berdiri tepat di sampingnya dengan jarak yang begitu dekat. Terpaksa ia mengulas senyum tipis pada lelaki yang saat ini  rutin menafkahi putrinya.


Aroma wangi shampo walau tertutupi jilbab yang membungkus kepalanya, masih terhirup Bisma. Senyum tipis terbit di bibirnya.


Ajeng bergeser hingga jaraknya menjauh dari Bisma. Ia tidak bisa mengenyampingkan keberadaan lelaki itu, karena mama Nurita dan Mayang begitu baik. Jadi sewajarnya ia bersikap sebagai kesopanan antar makhluk sosial.


“Tentu dong! Putri cantik ayah juga udah bangun sepagi ini,” Bisma berkata santai sambil mengedipkan mata ke arah putrinya.


Dengan cepat Bisma meraih Lala dalam gendongan. Merasakan hatinya yang menghangat karena kebahagiaan yang tiba-tiba hadir, walau belum sempurna.


“Putri ayah sudah makin berat,” ujar Bisma sambil tertawa kecil saat Lala melingkarkan lengan di lehernya.


“Kakak gak gendut ayah .... “ Lala protes atas ucapan ayah.


“Siapa bilang putri ayah gendut? Sekarang udah tambah gede .... “ Bisma membalas dan menghujani putrinya dengan ciuman-ciuman kecil membuat Lala tertawa.


Ajeng tersenyum mendengar percakapan antara ayah dan anak itu. Ia tidak ingin mengganggu keakraban yang begitu menyejukkan mata dan telinganya, bahkan tidak pernah terjadi selama ini. Ia pun turut bahagia atas sikap Bisma pada putri mereka.


Hal yang tidak pernah lelaki itu lakukan saat Lala  masih kecil. Jadi ia berpikir positif, bahwa Bisma akan menjadi ayah yang baik bagi tumbuh kembang putri mereka di usianya yang semakin matang.


Semoga saja siapa pun pendampingnya kelak, tidak akan membuat perhatian Bisma berkurang pada putri kecil mereka. Hanya itu yang jadi harapan Ajeng ke depannya.


“Selamat pagi bunda,” sapaan Bisma membuat Ajeng tertegun tak menyangka lelaki yang di matanya masih sedingin es itu menyapanya dengan hangat.


Ajeng tak menjawab sapaan Bisma. Ia menoleh sejenak dan tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala. Fokusnya kembali pada telur ceplok yang sudah masak. Dengan cepat ia memindahkan nasi goreng ke dalam piring  yang sudah ia sediakan di atas meja.


Bisma segera menurunkan Lala dan mendudukkannya di kursi yang tersedia. Keduanya kini duduk berdampingan.


“Kok cuma dua bunda, buat ayah mana?” pertanyaan Lala membuat Ajeng memandang putrinya dengan lembut.


“Silakan kakak dan ayah yang sarapan. Bunda masih kenyang,” ujarnya pelan sambil tersenyum manis.


“Boleh ayah minta kopinya bunda?” Bisma langsung menyampaikan keinginannya mencicipi kopi hangat buatan Ajeng.


Tanpa menjawab Ajeng langsung menghidupkan kompor untuk memanaskan air pada teko kecil yang berada di samping  meja kompor.


Senyum bahagia tak bisa Bisma sembunyikan melihat kesigapan Ajeng mengerjakan semua yang ia inginkan, hingga tiga menit kemudian secangkir kopi hitam sudah tersedia di atas meja menemani sarapan mereka.


“Wah, pada sarapan .... “ suara Dimas membuat Ajeng membalikkan badan ketika sedang mencuci peralatan masak yang baru saja ia gunakan.


Ia terkejut mendapati adiknya masih tinggal dan menginap di rumah mantan mertuanya itu.

__ADS_1


“Lho katanya langsung pulang tadi malam,” Ajeng tak bisa menyembunyikan rasa heran melihat keberadaan Dimas yang kini duduk santai di hadapannya.


“Masih ada kerjaan dikit mbak,” ujarnya sambil memandang Bisma yang tersenyum sambil menganggukkan kepala padanya.


“Mau sarapan apa?” pertanyaan Ajeng membuat hati Bisma tersentuh.


Begitu sayangnya Ajeng pada orang-orang terdekatnya. Pantas saja mama dan Mayang tak bisa mengenyampingkan Ajeng walau pun bukan bagian dari keluarga besar mereka.


Sikapnya yang tulus dan penuh perhatian membuat  mamanya selalu menyebut nama Ajeng jika habis liburan ke mana pun untuk memberinya oleh-oleh tanpa membandingkan  dengan saudaranya yang lain.


“Minta kopi aja mbak. Nanti sarapannya di jalan saja,” jawab Dimas santai sambil membuka ponsel.


Ia tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama. Cucian di rumah sudah menumpuk habis kegiatan magang selama satu minggu kemaren. Ia sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Jadi tidak nyaman jika pakaian pribadinya dicuci oleh orang lain, walau pun art di rumah.


Ajeng telah mendidiknya mandiri sejak awal, apalagi dari kehidupan mereka yang memang terbiasa sederhana dari desa.


“Jangan pulang dulu, tunggu sebentar... “ Bisma berjalan dengan cepat meninggalkan ketiganya untuk berlalu ke kamar.


“Pekerjaan apa yang membuatmu gak jadi pulang?” Ajeng tak bisa membuang rasa penasaran yang tiba-tiba mengganggunya.


“He he ... “ Dimas tertawa, “Bantu WO berkemas sampe jam 12 an .... “


“Ditanya kok cengengesan .... “ Ajeng menggelengkan kepala tak percaya mendengar jawaban Dimas yang tidak meyakinkan sama sekali, “Mereka itu sudah dibayar dengan mahal.”


Dimas garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Gak mungkin ia terus teras dengan Ajeng tentang apa yang ia bicarakan tadi malam  bersama Bisma. Ia pun tidak akan mencampuri urusan keduanya.


Sudah banyak kaum Adam yang meminta ia mencomblangi dengan Ajeng, tentu saja dengan ‘reward’ yang gak kaleng-kaleng jika tawaran mereka diterima mbak-nya.


Jangankan ‘reward’, malah telinganya penuh dengan tausiyah yang didapat atas semua penolakan yang diberikan Ajeng dengan tawaran kerjasama seumur hidup yang relasinya berikan.


Dimas angkat tangan jika masih ada yang nekat untuk mendekat dan berusaha menjalin  hubungan yang lebih dengan saudari perempuannya itu. Ia ingin indera pendengarannya sehat dan tidak ada polusi suara dari Ajeng.


Tak lama kemudian Bisma kembali ke hadapan mereka dengan sebuah amplop yang berada di tangannya.  Dengan cepat ia mengepalkan amplop itu ke dalam genggaman tangan Dimas yang masih duduk santai menikmati kopi.


“Lho, apa ini mas?” Dimas terkejut dengan perbuatan Bisma yang tidak ia sangka sebelumnya.


Ajeng menatap  Bisma dan Dimas tajam. Ia tidak tau apa yang dilakukan keduanya tadi malam. Tapi melihat amplop yang berada di tangan Dimas, ia yakin isinya tidak sedikit.


“Terima kasih atas bantuanmu tadi malam,” Bisma menjawab sambil mengedipkan mata memberi isyarat yang akhirnya dibalas Dimas dengan anggukan, “Tolong bawa Lala jalan sebentar. Ada yang harus mas bicarakan dengan mbakmu.”


***Senang otor baca komennya. Makin semangat untuk 'up' dan mengakhiri kisah Ajeng  dan kebahagiaan yang bakal ia pilih untuk kemaslahatan (hi hi ...\, serius amat Neng!). Tentu saja tidak bisa memenuhi semua keinginan readerku tersayang. Ikuti alurnya saja ya.

__ADS_1


Nanti otor di-bully seperti kisah "BIDADARI SURGA YANG DIRINDUKAN" sekuel 1. Ha ha ha ....Walau akhirnya happy end dengan ke'puas'an masing-masing di sekuel 2. Sayang selalu untuk reader yang selalu menunggu kisah Ajeng dan orang-orang terdekatnya. Love\, love\, love always ........... ***


__ADS_2