Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 50 Penyesalan Bisma


__ADS_3

Bisma masih duduk sendiri di teras. Ia baru saja berbicara dengan Dimas yang kini telah kembali ke sekolah untuk melanjutkan tugasnya membantu rekan lain.


Ia  berusaha mendekatkan diri dengan Dimas, dan menanyakan hal receh lainnya agar mantan adik iparnya lengket seperti Lala. Tapi seperti Ajeng, Dimas tidak pernah menuntut apa pun dari dirinya yang kini telah menjadi mantan ipar.


Dimas hanya mengucapkan terima kasih saat ia menawari segala fasilitas yang tidak dimiliki adik lelaki Ajeng tersebut.


Kini Bisma semakin menyadari bahwa bukan hanya Ajeng yang membuat benteng yang sukar ia tembus. Dimas pun sama. Tidak ada kesempatan baginya untuk menarik simpati lebih pada lelaki tanggung yang kini semakin dewasa itu.


“Apa ada yang ingin bunda bicarakan padaku?” tanya Bisma lembut saat Ajeng sudah duduk di kursi sampingnya.


Ada meja kecil yang jadi penghalang keduanya, sehingga jarak yang terentang tidak bisa membuat Bisma memandang wajah ayu yang kini selalu menemaninya di pelukan malam.


“Hm,” Ajeng hanya mengguman kecil.


Terus terang, bukannya  senang ia mendengar panggilan sok akrab Bisma. Malah dirinya semakin muak, dan ingin munt*h langsung di wajah sok ganteng itu.


Tatapannya memandang bunga Mawar yang sedang bermekaran, menambah cerah di pagi menjelang siang itu.  Tetapi tak secerah hatinya yang masih berjelaga, atas tuduhan Deby perempuan masa depan yang bakal menjadi ibu sambung putrinya.


Ia masih memilah kata-kata yang tepat untuk  mengungkapkan semua kekesalan yang masih bersarang di otaknya saat melihat wajah  tanpa dosa Bisma yang memandangnya dengan sorot entahlah …


Ajeng enggan mengartikannya. Seperti keengganannya saat ini untuk melihat wajah Bisma. Rasanya pengen ia cakar-cakar. Rambutnya ia jambak, kemudian kepalanya ia hanta* ke tembok.


“Wuidiw ….” Ajeng jadi geleng kepala mengingat percakapan receh di ruang makan antara ia dan Dimas.


“Bunda kenapa?” suara lembut Bisma kembali memutus pikiran nyeleneh yang bermain benaknya.


“Apa akta cerai kita sudah ada?” dengan datar Ajeng langsung menanyakannya sambil memandang Bisma sekilas.


Pertanyaan spontan Ajeng sontak membuat Bisma terkejut, apalagi Ajeng langsung memutus tatapannya dengan membuang wajah kembali ke taman.


Bagaimana mungkin Ajeng menanyakan hal yang kini sudah tidak menjadi prioritasnya. Keinginannya hanya kembali dan bersama mengulang dari awal. Cintanya kini telah tumbuh, dan semakin mekar setiap hari.


Ia harap semua bisa berjalan seperti apa yang ia inginkan. Dengan kedekatannya dengan Lala, Ajeng akan mulai membuka diri dan akhirnya kembali membuka hati padanya.


“Aku tidak akan mengurus perceraian kita. Keinginanku hanya kembali bersama bunda dan Lala,” jawab Bisma seketika.


Ajeng mendelik mendengar jawaban Bisma. Ia tak percaya apa yang dikatakan Dimas tempo hari menjadi nyata.

__ADS_1


“Huh,” Ajeng tersenyum sinis, “Gak salah?”


Bisma melihat sikap sinis yang ditampilkan Ajeng saat menanggapi keinginannya untuk kembali bersama.


“Aku serius untuk rujuk dengan bunda,” Bisma berkata penuh harap, “Ini demi tumbuh kembang Lala. Aku tidak ingin ia kekurangan kasih sayang kita berdua.”


“Hm …. “ Ajeng mendengus sambil membuang muka dari tatapan Bisma yang begitu lekat mengarah padanya.


“Siapa bilang Lala kekurangan kasih sayang?” Ajeng bertanya dengan enteng, “Selama ini Lala baik-baik saja.”


“Jeng, cobalah kamu pikirkan dari sudut pandang psikologis Lala …. “ Bisma berusaha memberi pengertian pada Ajeng.


“Maaf,” Ajeng memandang Bisma dengan sorot tajam, “Selama ini kami sudah terbiasa berdua. Saya pun tidak akan membatasi kapan pun ayah nya Lala datang berkunjung. Silakan.  Pintu rumah selalu terbuka ….”


Bisma menggelengkan kepala atas kekeras kepalaan Ajeng dalam menanggapi niat baiknya untuk kembali bersama. Ia harus mengakui semua yang ia rasakan. Berharap Ajeng masih memiliki setitik rasa cinta yang pernah ia lihat di matanya saat masih bersama.


“Jeng ... “ Bisma menatap lekat mata perempuan yang telah memberinya seorang anak, dan masih menatapnya dengan sorot tajam, “Aku minta maaf atas semua perbuatanku di masa lalu ….”


Dengan cepat Ajeng melengos.  Luka itu kembali berdarah. Sekuat tenaga ia berusaha menahan air mata yang ingin meluncur bebas. Tidak mungkin ia menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Bisma, lelaki tak berhati yang penah manjadi imamnya.


Setiap mengingat masa lalu, saat itu juga perasaannya seperti diremas-remas. Dirinya seperti perempuan yang tak memiliki harga diri. Ia tak sudi kembali ke masa itu.


Mendengar suara Ajeng yang lemah membuat Bisma bersemangat. Ia yakin mampu merubah kerasnya sikap yang ditunjukkan Ajeng seperti awal mula mereka berumah tangga.


“Kamu benar,” Bisma masih berkata dengan nada yang begitu lembut dan menenangkan.


Ia berharap Ajeng akan melembutkan hatinya untuk menerima dirinya kembali. Dan ia akan mengungkapkan semua yang ia rasa semenjak kepergian Ajeng dan Lala dari kediaman megah mereka.


Ajeng berusaha mencermati ucapan Bisma. Seumur hidup mereka bersama, tidak pernah nada Bisma begitu pelan dengan kata yang terus berusaha membujuknya bahkan terkesan merayu.


“Kita tidak sepadan,” tegas Ajeng, “Ayahnya Lala keturunan orang berada. Sedangkan saya hanya perempuan kampungan. Jadi jauhkanlah pikiran untuk kita kembali bersama. Saya rasa kembali bersama hanya sia-sia bagi ayah nya Lala.”


Kata-kata ‘sanjungan’ yang ia dengar tadi pagi kini menari-nari di kepalanya. Dan ia akan mempertegas semuanya di hadapan Bisma.


“Bagaimana kamu bisa berkata picik seperti itu?” Bisma terkejut mendengar alasan Ajeng yang menolak niat rujuknya, “Aku dan mama tidak pernah berpikiran seperti itu.”


“Mungkin ayahnya Lala tidak pernah berpikiran picik seperti yang saya katakan. Tapi saya akui hal itu benar,” Ajeng berkata dengan lugas.

__ADS_1


“Kita mempunyai Lala. Jauhkan pikiran negatif yang hanya membuat bunda tersiksa,” Bisma berusaha membujuk Ajeng yang masing kekeuh dengan ucapannya.


“Saya ini perempuan kampung, matre lagi. Bahkan telah memoroti harta mertua dan suami,” Ajeng berkata pelan seolah untuk dirinya sendiri, “Itu memang hal paling benar yang pernah saya lakukan.”


“Jeng …. “ Bisma terkesiap atas semua yang dikatakan Ajeng.


“Dan jangan lupa, saya ini seorang ratu drama ….”


Ia tidak menyangka yang pernah ia tuduhkan dan curhatnya pada Deby telah diketahui Ajeng semuanya tanpa ada satu pun yang terlewati.


“Tidak ada hal yang dapat saya banggakan tentang diri saya. Jadi apa yang dapat ayah Lala harapkan dari perempuan kampung yang matre ini?” Air mata  Ajeng langsung meluncur tak terkendali setelah mengungkap semua yang ia tahan di dadanya.


Ia menepuk dadanya yang terasa sesak. Jemarinya sudah tidak mampu mengusap air mata yang sudah mengalir menganak sungai.


“Maafkan aku, maafkan aku …. “ Bisma tak kuasa melihat Ajeng yang menangis tersedu-sedu.


Ia berjongkok di depan Ajeng yang masih menekan dadanya yang terasa nyeri menahan kesakitan atas pernikahan yang kandas ditambah tuduhan yang telah dilontarkan perempuan pilihan Bisma.


“Jangan mendekat,” Ajeng menahan tangan Bisma yang ingin meraih kedua tangannya.


Kini ia benar berada di posisi terendah dalam hidupnya. Bagaimana tidak, ia yang sudah mengobati luka atas sikap dingin sang suami, kini dihadapkan dengan tuduhan yang sangat keterlaluan yang tidak lain oleh perempuan yang mengaku dekat dengan sang mantan suaminya.


Air mata Bisma tak sadar ikut menetes mendengar semua perkataan Ajeng. Ia benar-benar menyesal pernah mengungkapkan rasa kecewa atas sikap Ajeng yang di matanya begitu loyal dan suka menghamburkan uang.


Deby, perempuan yang ia anggap lebih baik dari istri pilihan mamanya ternyata tak lebih dari seorang musang berbulu Domba.


Padahal kini ia sudah tau dengan pasti, kemana larinya uang yang telah ia gelontorkan selama pernikahan mereka yang tidak sehat itu. Dan ia sangat bangga bahwa Ajeng telah mengelola keuangan mereka dengan sangat baik dan bijak.


Setelah mampu mengontrol emosinya yang sempat meledak, kini Ajeng terdiam. Air matanya pun telah berhenti mengalir. Tinggal menyisakan mata dan hidungnya yang merah dan bengkak.


Bisma masih berjongkok di depan Ajeng dengan rasa penyesalan yang begitu dalam. Ia tidak akan membiarkan Deby menjatuhkan harga diri Ajeng lebih dalam. Ia akan melindunginya mulai detik ini.


“Ayahnya Lala pulanglah,” usir Ajeng pelan, “Saya tidak ingin bertemu untuk sementara waktu.”


Bisma bangkit dan memandang Ajeng dengan lekat. Ada rasa sakit yang teramat dalam mengoyak hatinya melihat kondisi Ajeng yang begitu terluka atas semua perkataan yang pernah terlontar dari bibirnya.


“Baiklah, aku pulang …. “ dengan lesu Bisma meninggalkan kediaman Ajeng.

__ADS_1


Ia tau seberapa dalam luka yang diakibatkan perbuatan dan perkataannya.  Ia pun tidak yakin, apakah waktu bisa menyembuhkan semua kesakitan yang telah ia torehkan dalam hati perempuan yang kini namanya semakin tergores dalam di hatinya.


***Salam sayang readerku sayang. Mohon maaf baru sempat 'up' lagi. Dukungan berupa komen\, like dan vote sangat otor tunggu. Untuk kelanjutkan kisah Bisma dan keluarga.  ... ***


__ADS_2