
Belum sempat Ajeng bangkit dari kursinya, samar-samar ia mendengar suara yang begitu ia kenal dan sangat akrab dengannya. Ia belum memalingkan muka untuk memastikan suara yang ia dengar, masih melanjutkan komunikasi via aplikasi hijau dengan Sari. Jus mangga yang ia pesan pun baru ia icip sedikit.
“Pa, aku maunya duduk di sana,” suara bocah perempuan akhirnya membuat Ajeng memalingkan wajah.
Raut keterkejutan kembali nampak di wajah Hilman saat tatapan matanya bersirobak dengan Ajeng.
Dewi yang melihat keberadaan Ajeng langsung memasang wajah sinis. Ia tidak menyangka keinginannya makan di restoran terkenal di kota Malang membuat mereka harus bertemu perempuan yang menjadi saingannya untuk merebut hati Hilman kembali.
“Selamat siang pak Hilman,” Ajeng berkata sewajarnya melihat Hilman yang terpaku, bibirnya seperti terkunci hanya untuk sekadar menyapa dan menjawab Ajeng yang tersenyum tipis di hadapan mereka.
“Pah, aku sudah lapar ... “ suara Hilda meninggi melihat Hilman yang terpaku seperti patung.
“Mas, kita kemari mau makan. Kasian Hilda .... “ nada Dewi yang meninggi dengan tatapan tajamnya mengarah pada Ajeng yang belum bergerak dari kursi di samping mereka.
Ajeng merasa kehadirannya mengganggu keluarga kecil yang tampaknya memang sengaja datang untuk makan siang.
“Harusnya kita di ruangan VIP, bukan di sini. Kasian Hilda .... “ Dewi mengaitkan tangannya pada lengan Hilman yang tersadar dari kebekuannya.
Dengan cepat Ajeng meraih ponsel dan tasnya langsung beranjak meninggalkan suasana yang mulai tidak kondusif ia rasakan.
Hilman tidak berkata apa pun. Belum kelar urusannya dengan Ajeng untuk mengklarifikasi masalah dan solusi yang bakal ia tawarkan, kini keinginan Hilda dan Dewi untuk makan di luar menambah runyam permasalahan yang sedang ia cari jalan keluarnya.
“Aku maunya makan di sini mamah .... “ Hilda tidak beranjak dari kursi yang sudah ia duduki begitu masuk di restoran tersebut.
Dewi menatap Hilman yang masih berdiam memandang ke arah bayangan Ajeng hingga menghilang di balik pintu restoran.
“Mas .... “ Dewi mencengkeram pergelangan tangan Hilman dengan kuat.
Ia merasa geram, sudah dua kali ia bertemu dengan perempuan yang telah merampas tempatnya di hati Hilman.
Hilman tersadar. Tanpa mempedulikan Dewi ia langsung menatap Hilda yang memandangnya dengan sayu.
“Maafkan papa ya. Hilda mau pesan yang mana?” tanya Hilman lembut sambil mengulurkan buku menu pada Hilda yang langsung tersenyum senang.
Dengan sigap Hilda menunjuk menu-menu andalan yang berada di dalam buku dan menyerahkan pada Hilman yang menunggu dengan sabar.
Dewi hanya terdiam melihat pemandangan di depannya. Kini ia menyadari betapa Hilman adalah lelaki terbaik yang pernah ia kenal. Dari dulu bahkan sekarang. Kebaikannya begitu tulus, walau pun ia tak merasakan sendiri saat ini, tapi perhatiannya pada Hilda putri kecilnya bersama almarhum Ridwan telah membuktikan semuanya.
Perlakuannya pada Hilda seolah-olah darah dagingnya sendiri. Tiada waktu yang terlewati tanpa perhatian akan kondisi kesehatan putri kecilnya yang tidak menentu. Keakraban yang terjadi antara Hilman dan Hilda sangat menyentuh hati Dewi.
Ia dapat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Hilda saat bersama Hilman. Bagaimana mungkin ia membiarkan orang asing merampas kebahagiaan putri kecilnya yang kini mendapat spirit baru dalam kehidupannya.
__ADS_1
Ia bertekad akan menjaga apa yang sudah menjadi miliknya. Apalagi ini menyangkut kebahagiaan putri satu-satunya, yang selama ini sangat jauh dari belaian dan kasih sayang ayahnya.
Apa lagi ia yakin, perempuan yang baru saja mereka temui seperti kebanyakan perempuan lain. Hanya memanfaatkan lelaki kaya untuk kepentingan diri sendiri.
Ia mencibir. Perempuan itu hanya tunangan Hilman, sedangkan ia istrinya walau pun hanya secara siri tetapi sah di mata agama. Secara perlahan namun pasti ia akan memperjuangkan pernikahan mereka agar diakui secara kenegaraan.
Ia tidak rela perempuan itu mengambil kasih sayang yang telah dimiliki putrinya seutuhnya. Sepeser pun ia tidak rela Hilman mengeluarkan uang untuk perempuan yang telah merebut namanya di hati mantannya yang kini sudah berganti status menjadi suaminya.
Sudah kewajibannya untuk menjaga keutuhan rumah tangga yang baru saja tercipta. Apa pun alasannya, tidak akan ia biarkan orang lain mengganggu bahtera yang baru saja berlayar apalagi orang ketiga yang tidak ada ikatan apa pun dengannya.
“Pak Hilman .... “ seorang lelaki muda beserta rombongan sebanyak 4 orang menyapa mereka yang masih menikmati hidangan yang tersedia.
Hilman mencari arah suara. Ia terkejut melihat Ibnu datang bersama 3 orang yang berseragam dinas pemerintahan.
“O mas Ibnu,” Hilman menyudahi makannya dan berdiri menghampiri Ibnu yang memandang Dewi dan Hilda dengan jidat berkerut.
Hilman menjabat tangan Ibnu dan tidak menjelaskan apa pun. Ia belum berpikir untuk menceritakan pernikahan yang ia jalani bersama Dewi.
“Mbak Dewi .... “ Ibnu akhirnya menyapa Dewi yang memandangnya sambil tersenyum mengangguk.
Walau bagaimana pun istri Ibnu adalah tetangganya saat mereka belum memutuskan pindah ke Makassar mengikuti Ridwan. Tidak mungkin ia bersikap acuh pada Ibnu yang sudah ramah padanya.
“Permisi pak Hilman, mbak Dewi .... “ Ibnu kembali pada temannya, “Ada apa?”
Ia melihat Indra yang membolak-balik berkas yang berada di dalam map plastik sambil berbicara dengan Husni dan Alim. Ia segera meraihnya dan membuka dengan cepat.
Matanya tertegun saat membaca sekilas surat permohonan pengajuan berkas perceraian atas nama Ajeng dan Bisma. Dengan cepat ia menutup kembali.
“Oh, ini punya temanku,” Ibnu buru-buru memasukkan ke dalam tas yang ia cantel ke mana pun.
“Yang benar?” Indra menatapnya tak percaya.
“Ya iyalah,” jawab Ibnu tegas, “Mau pesan apa, aku udah lapar.”
Ia buru-buru mengalihkan pembicaraan agar Indra tidak bertanya berkepanjangan tentang isi map yang menurutnya sangat rahasia itu.
Walau bagaimana pun ketiga rekannya mengenal Ajeng dan Bisma dengan sangat baik.
Ibnu memandang sekilas ketika Hilman bersama Dewi dan anak perempuan yang bersama mereka berlalu dari hadapan dan Hilman mengangkat tangan padanya.
Genggaman tangan Dewi pada pergelangan Hilman membuat Ibnu mulai berpikiran aneh.
__ADS_1
“Apa mungkin?” batinnya.
Jika hal itu sampai terjadi, rasanya ia tak terima karena sudah mengenal watak Dewi sejak awal. Bagaimana mungkin Hilman melepas Ajeng yang sudah terkenal kebaikannya dibanding Dewi yang suka memanfaatkan orang lain hanya untuk keuntungan pribadi.
“Hah ....” Ibnu menggelengkan kepala dan tidak ingin membebani otaknya yang kecil dengan urusan orang lain.
“Ada apa? Kamu jadi gelisah seperti ini?” Alim memandangnya dengan raut ingin tau.
“Udah laper. Cacing di usus pada demo minta diisi,” Ibnu menjawab sekenanya untuk menghindari pertanyaan yang berkepanjangan.
Ia bersyukur, karena hidangan yang mereka pesan sudah tiba di hadapan lengkap dengan minuman dingin. Di saat jam makan siang begini, salah satu restoran terbesar di kota Malang ini akan rame di penuhi pengunjung.
....
Semenjak keputusannya membawa Dewi dan Hilda ikut bersamanya, Hilman terpaksa membawa keduanya ke rumah pribadi yang ia tinggali selama ini.
Ada kebanggaan terbesar di hati Dewi, karena rumah yang mereka impikan di usia muda kini telah ia tempati dengan segala fasilitas yang serba lux. Kamar pribadi sekelas hotel bintang lima dengan kemewahan yang membuatnya merasa dimanjakan dan menjadi seorang ratu.
“Alangkah beruntungnya aku menikmati semua ini sebelum wanita sialan itu,” batinnya membayangkan wajah Ajeng dan tatapan mendalam yang ditujukan Hilman padanya.
“Ku harap kamu menjaga sikap dan perkataanmu pada siapa pun sebelum permasalahanku dan Ajeng selesai,” tegas Bisma ketika keduanya sudah tiba di dalam rumah.
“Papa mau kemana?” Hilda menatap Hilman yang sudah berbalik dan berjalan menuju pintu.
“Papa masih ada urusan sebentar,” Hilman mengusap kepala Hilda dengan penuh kasih sayang.
“Jangan lama-lama ya pa. Hilda pengen diajar berenang sama papa,” gadis kecil itu berbicara dengan manja.
“Bagus sayang .... “ Dewi merasa bangga karena putri kecilnya akan menjadi sekutu untuk membuat Hilman tetap di sampingnya.
...
Ajeng baru saja menyelesaikan salat Ashar ketika bu Isma mengetuk pintu kamarnya. Dengan segera ia melipat mukena dan menyimpan di tempatnya kembali.
“Ada apa bu?” Ajeng keluar dari kamar dan menghampiri bu Isma yang masih menunggunya di depan kamar.
“Ada pak Hilman menunggu mbak di depan,” bu Isma menatap Ajeng dengan perasaan khawatir.
Ia belum mengetahui permasalahan yang menimpa majikannya, karena Ajeng sangat tertutup dalam kehidupan pribadinya. Tetapi ia merasa ada kejanggalan dengan sikap Ajeng yang menjadi dingin dan selalu memandang ponselnya setiap saat.
***Moga bisa up lebih banyak\, dan kisah keluarga Ajeng bisa berakhir dengan hepi. Sayang untuk readerku semua ....***
__ADS_1