
“Maaf mba ... “ suara bu Isma mengejutkan Ajeng yang sedang membereskan sisa-sisa tumpukan sayuran yang tidak ia gunakan saat memasak.
“Kenapa bu?” Ajeng menghentikan kegiatannya setelah memasukkan semua ke dalam keranjang sampah.
“Apa benar bapak tadi ayahnya Lala?” bu Isma bertanya dengan perasaan tak nyaman.
Rasa penasaran sekaligus ingin tau keberadaan ayah kandung Lala membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Apalagi melihat kedekatan lelaki yang di matanya sangat menarik dengan anak asuhnya, membuat ia tak bisa menahan diri untuk mencari kebenarannya.
“Benar bu,” Ajeng berkata dengan santai.
Ia langsung duduk berhadapan dengan bu Isma di meja makan yang kini telah dipenuhi berbagai hidangan istimewa untuk menjamu tamu siang ini.
Bu Isma terdiam kembali. Ingin rasanya ia mengetahui lebih lanjut penyebab keduanya berpisah. Tapi rasanya tidak pantas ia melakukan semuanya. Dalam hati kecilnya sangat menyayangkan perpisahan yang terjadi.
Di matanya Ajeng dan ayah Lala tampak sempurna. Keduanya begitu ideal, pasangan yang elok dipandang.
“Prinsip kami berbeda bu,” Ajeng berkata pelan, “Ayahnya Lala menginginkan perempuan yang setara dengan dirinya. Apalah saya yang hanya seorang gadis kampung ....”
Bu Isma dapat mendengar kegetiran dalam ucapan Ajeng. Ia pun melihat sorot kesedihan ketika Ajeng mengakhiri perkataannya. Tak ingin mengetahui lebih banyak, bu Isma segera bangkit dari kursi.
“Ibu ke atas dulu. Beresin mainan Lala,” bu Isma pamit dan berlalu menuju lantai atas dibalas Ajeng dengan anggukan.
Sementara itu di sebuah taman bermain anak dalam kawasan mall, Bisma sedang duduk menemani Lala bersama Ibnu yang baru datang karena ia telpon. Celotehan Lala yang asyik bermain dengan beberapa boneka barbie yang baru ia belikan tadi saat jalan berdua di mall, membuat senyum tak lekang dari wajah tampannya.
Ibnu memandang wajah Bisma dengan raut bingung. Ia tak bisa menutupi rasa heran atas kehadiran si mungil cantik putri pengusaha kuliner yang sangat ia kenal kini bersama dengan atasannya.
“Wajahmu kenapa?” Bisma memandang Ibnu yang menatap Lala tak berkedip.
“He he ... heran aja kok si cantik ini bisa bersama bapak,” Ibnu berkata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Wajarlah seorang ayah bersama putrinya,” jawab Bisma santai.
Tangannya membelai rambut Lala yang dikepang dua. Perasaan sayangnya semakin besar melihat tumbuh kembang sang putri yang semakin menggemaskan.
“Bapak gak salah minum obat?” Ibnu menatapnya dengan wajah cengo mendengar ucapan Bisma yang sangat di luar dugaannya.
__ADS_1
Bisma merasa kesal mendengar perkataan bawahannya yang gak ada akhlak. Ia harus memperjelasnya sekarang.
“Dengar Ibnu Budiman Pangestu! Andhara Salshabilla Dirgantara adalah putri dari Bisma Dirgantara Permadi,” tekan Bisma membuat mata Ibnu langsung membulat.
“Bapak gak ngarang khan?” Ibnu masih ngeyel mendengar ucapan Bisma dan masih menyangsikan perkataannya.
“Aku dan Ajeng pernah menikah. Lala putri kandungku!” tegas Bisma yang jadi geram melihat Ibnu yang kini terperangah mendengar ucapannya.
Matanya memandang Lala dengan takjub, kemudian beralih pada Bisma yang menatapnya dengan kesal atas sikap Ibnu yang masih berusaha mencari kebenaran.
“Apa perlu aku menunjukkan buku nikah dan kartu keluarga padamu sehingga kamu percaya?” Bisma masih dongkol atas sikap bawahannyan yang cengar-cengir.
“Maafkan saya pak. Ini benar-benar kejutan buat saya,” Ibnu akhirnya tersenyum setelah yakin dengan semua perkataan Bisma dan pemandangan di depannya.
Bagaimana ia tidak percaya, Lala begitu lengket dan tidak mau lepas dari pangkuan atasannya. Saat ia ingin menggendongnya, Lala menolak tangannya, membuat senyum terbit di wajah Bisma.
“Saya gak nyangka aja mbak Ale pernah menikah dan telah bercerai dengan pak Bisma,” celetuk Ibnu seketika.
Mendengar ucapan Ibnu telinga Bisma sontak berdiri,”Aku belum bercerai dengan Ajeng.”
“Ayah, mimi syusu .... “ suara kenes Lala membuat Bisma tersentak.
“Nu, tolong ambilkan perlengkapan Lala di dalam mobil,” perintah Bisma cepat membuat Ibnu langsung bangkit dengan sigap.
Keduanya saling bekerja sama menyiapkan susu yang diinginkan Lala. Kini Lala anteng dalam pelukan Bisma. Tubuh mungilnya mulai bersandar di dada sang ayah dan menyelonjorkan kakinya berbaring santai.
Terbit rasa kagum di benak Ibnu melihat segala perlakuan Bisma yang menunjukkan sikap telaten seorang ayah pada putri kecilnya. Tapi dalam hati kecilnya rasa ingin tau begitu besar penyebab perpisahan atasannya dengan sang istri yang di matanya seorang perempuan nyaris sempurna.
“Kamu mungkin penasaran penyebab aku dan Ajeng berpisah,” ucapan Bisma membuat Ibnu nyengir karena ketauan apa yang berada dalam otak kecilnya.
“I iya sih .... “ Ibnu senyum cengengesan.
Bisma menghirup udara dan membuangnya secara perlahan. Tatapan sinis dan jutek yang ditampilkan Ajeng membuatnya kini merindukan wajah manis perempuan yang telah ia lepas.
“Aku dan Ajeng menikah karena dijodohkan. Dia perempuan pilihan mama .... “ mengalirlah cerita Bisma tentang kehidupan rumah tangga yang pernah terbina antara dirinya dan Ajeng.
__ADS_1
Ibnu mendengar dengan seksama. Matanya tak berkedip saking antusiasnya mendengar perjalanan rumah tangga atasannya.
“Aku terlalu dini mengakui perasaan pada Deby, yang akhirnya ku sesali sekarang ....” Bisma mengakhiri ceritanya dengan raut sesal bercampur emosi.
“Kalau saya jadi mbak Ale, mendingan sama mas Hilman yang udah tau setianya .... “ Ibnu berkata terus terang menyampaikan apa yang terbersit di hatinya.
Kontan saja mendengar jawaban Ibnu membuat kekesalan Bisma meningkat. Bagaimana mungkin Ibnu orang yang paling ia percaya berkata yang di luar dugaannya.
“Kamu itu mau dukung saya apa petani sok keren itu?” Bisma tidak bisa mengendalikan emosinya.
“Ya yah .... “ Lala yang sudah hampir terlelap terkejut mendengar intonasinya yang rada tinggi.
“Maafkan ayah sayang... ade mau bobo ya .... “ nadanya yang tinggi langsung melunak melihat putrinya yang terbangun mendengar suaranya yang bernada kesal.
“Bobo yayah .... “ mata Lala kembali terpejam setelah kepalanya dielus Bisma dengan penuh kasih.
“Apa kamu gak punya omongan lain yang membuat atasanmu senang?” kecam Bisma atas sikap nyeleneh Ibnu yang membuat kekesalannya memuncak.
“Maaf ya pak,” Ibnu menyela ucapan Bisma, “Saya pikir sikap mbak Ale sudah sangat tepat. Bapak kan udah kadung dekat dengan mbak Deby. Biarkan mbakAle memulai hidup baru bersama mas Hilman. Orangnya bertanggung jawah lho pak .... “
Ibnu tidak menyadari kemarahan yang menyeruak di dada Bisma mendengar perkataannya. Dengan santainya ia menyeruput espresso yang sudah dipesan Bisma untuknya.
“Ternyata aku salah memilih bawahan yang gak ada akhlak sama atasan,” kecam Bisma langsung membuat Ibnu tersedak seketika.
“Ma ... maaf pak,” Ibnu buru-buru mengambil tisu.
Ia kini menyadari kemarahan Bisma atas ucapannya yang membuat atasannya tersinggung.
“Apa gak ada perkataan lain yang membuatku senang?” Bisma menatap Ibnu tajam.
“He he .... “ Ibnu cengengesan mendengar ucapan Bisma.
Ia memandang atasannya dengan kening berkerut berusaha memahami keinginan si bos yang tampak galau dengan masa depannya.
“Bapak maunya gimana ke depannya?” akhirnya Ibnu mulai menunjukkan sikap seriusnya.
__ADS_1
“Aku ragu untuk memulai bersama Deby. Hati kecilku menginginkan kembali bersama Ajeng dan Lala,“ tandas Bisma seketika.