Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 47 Keinginan Rujuk


__ADS_3

Saat Bisma tiba di gazebo, semua makanan seafood telah terhidang mengundang selera. Ia dapat melihat semua mata memandangnya dengan curiga, kecuali Deby yang berubah muram. Ia yakin, sikap Deby telah membuat pemikiran yang berbeda pada yang lain.


Ia hanya menghela nafas tanpa ingin mengomentari semua yang ia lihat. Dengan santai ia menghenyakkan tubuh di samping Ibnu.


“Makanannya enak pak,” Alim mengangkat piringnya yang kosong, “Udah boleh kan pak? Dah laper ni ….”


“Silakan,” jawab Bisma enteng.


Belum sempat ia mengambil piring, dengan cekatan Deby telah mengisi separo nasi dan beberapa lauk yang memanjakan selera, baik itu udang goreng tepung maupun cumi crispi yang mengundang untuk segera menikmati.


“Terima kasih Deb,” Bisma akhirnya menerima piring yang telah diarahkan Deby padanya.


Tak mungkin ia menolak semua perlakuan Deby di hadapan yang lain. Ia juga harus menjaga perasaannya walau pun hanya sekedar menghargai.


“Wah, udah cocok ni,” Gita mengomentari perbuatan Deby, “Kapan resminya pak?”


Bisma memandang Gita dengan tajam. Ia paling tidak suka hubungan  pribadinya diumbar di depan orang ramai, walau pun hanya stafnya.


“Maafkan Gita mas, dia hanya bercanda …. “ dengan cepat Deby mengerjapkan mata pada Gita untuk menghentikan guyonan recehnya.


“I … iya pak, maaf!” dengan cepat Gita memandang Bisma dengan sorot khawatir.


Tidak pernah ia melihat raut memerah di wajah atasannya dengan ucapannya yang bermaksud bergurau tapi malah memancing di air keruh. Bisma tidak menyukai gurauannya.


“Pak, minum dulu,” Ibnu meletakkan air putih di hadapan Bisma yang tampak masih kesal dengan ucapan Gita.


“Terima kasih Nu,” dengan cepat Bisma meraih air putih itu dan meminumnya hingga ludes tak bersisa.


Tiada banyak percakapan yang terjadi saat makan siang. Masing-masing sibuk dengan pemikirannya. Hingga menu bersih, semuanya masih terdiam tak banyak bicara.


Gita masih khawatir dengan sikap dingin yang ditunjukkan Bisma padanya hingga mereka kembali ke kantor. Alim hanya terdiam tak berani menanggapi. Ia takut kemarahan Bisma menular padanya yang tidak tau menau, walau pun berusaha mencari tau.


Jam kantor telah berakhir. Melihat sikap Bisma yang dingin membuat Deby belum berani untuk mendekat. Tapi ia yakin, tak lama lagi akan mencair sendirinya. Hanya ia perlu momen yang membuat Bisma kembali dan berubah seperti awal kedekatan mereka.


Ia hanya perlu membuktikan  bahwa perubahannya bukan isapan jempol. Ia harus benar-benar berubah dan meyakinkan Bisma bahwa mereka bisa menjadi pasangan ideal dan membuat iri yang lain. Tak mungkin ia mengalah hanya untuk janda ‘ndeso’ dan matre seperti ucapan Gita.


“Nu, temani saya ….” Bisma segera mematikan laptopnya dan mengemasi semua peralatannya di atas meja kerja.

__ADS_1


“Baik pak. Saya akan temani bapak kemana pun. Kebetulan hari ini istri saya lagi mudik  bawa anak liburan di Surabaya,” Ibnu berkata terus terang.


“Gak perlu panjang lebar,” Bisma berkata ketus.


Ia masih belum bisa melupakan gaya Hilman yang ‘sok’ jadi tuan rumah di kediaman Ajeng. Dan itu masih membuatnya kesal dan uring-uringan sepanjang hari.


“Siap pak!” dengan gaya militer Ibnu mengacungkan tangan dengan sikap hormat sempurna.


Melihat  kelakuan Ibnu tak ayal membuat senyum tipis terulas di wajah Bisma.


“Gayamu Nu, Nu ….” ia menggeleng-gelengkan kepala dengan tingkah konyol bawahannya yang cukup menghibur kekalutannya.


Kini keduanya telah memasuki sebuah pusat perbelanjaan besar di kota Malang. Suasana sore yang tenang dan teduh membuat suasana ramai di salah satu mall besar di tengah kota.


Ibnu yang membawakan troli belanjaan atasannya geleng-geleng kepala melihat belanjaan Bisma yang begitu banyak.


“Biasanya siapa yang belanjain keperluan bapak?” Ibnu tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


“Semenjak saya pindah ke mari, pak Wisnu memiliki asisten rumah tangga dan supir pribadi yang nganggur. Jadi beliau merekomendasikan keduanya yang kebetulan suami istri. Mereka lah yang selama ini membantu saya di rumah dinas,” Bisma menjelaskan  semuanya pada Ibnu.


Ia memang sangat terbantu atas keberadaan pak Ishak dan istrinya bu Darmi yang usianya sudah parobaya. Semua keperluan sehari-harinya sudah disiapkan bu Darmi.


Tetapi semenjak anak bungsu pak Ishak dan bu Darmi yang menjadi TKW telah  kembali dari Hongkong dan memutuskan menetap untuk memulai usaha sendiri, akhirnya mereka berdua di boyong  ke Madiun.


Jadi hampir dua minggu ini ia berjibaku mengerjakan semua urusan rumah tangga sendiri, hingga membuatnya memutuskan  untuk bersama Ajeng dan putri kecil mereka Lala.


“Menurutmu bagaimana Nu, jika aku ingin kembali bersama Ajeng?” ujar Bisma tiba-tiba saat keduanya sedang menikmati makan malam, setelah selesai berbelanja dan mampir ke mushola yang tersedia di mall besar tersebut.


“Glek!” Ibnu tersedak air putih hingga menyembur ke depannya.


Untung saja tidak mengenai hidangan bahkan wajah Bisma yang duduk berhadapan dengannya.


“Jorok kamu Nu,” kecam Bisma.


“Maaf pak,” Ibnu berkata penuh penyesalan, “Habis bapak ngomongnya gak dipikir dulu.”


“Astaga Nu...” Bisma tak habis pikir dengan keberanian bawahannya yang ngomong terlalu jujur dan apa adanya,” Aku sudah memikirkannya sebulan belakangan ini. Dan semuanya membuat kepalaku hampir meledak.”

__ADS_1


Ibnu memandang wajah Bisma dengan prihatin. Ia tidak menyangka bahwa hal ini lah yang membuat sikap atasannya begitu sensitif. Tidak boleh sedikit pun mereka melakukan kelalaian dalam pekerjaan, apalagi membuat laporan yang keliru, maka satu ruangan akan dapat teguran tanpa pandang bulu.


“Maksud bapak ingin rujuk dengan mbak Ale?” Ibnu hanya  ingin memastikan kebenarannya.


“Benar,” jawab Bisma cepat, “Aku ingin kembali padanya, memperbaiki rumah tangga kami dari awal.”


“Tapi pak …. “ Ibnu memotong ucapannya dengan ragu.


“Tapi kenapa?” kejar Bisma.


“Mas Hilman dan mbak Ale kan sudah resmi. Yang saya dengar terakhir, gak sampai satu tahunan lagi keduanya akan ke pelaminan. Semuanya tinggal menunggu kesiapan mbak Ale. Dari pihak mas Hilman udah 100 persen.”


Bisma terkejut mendengar cerita Ibnu. Bagaimana mungkin ia melewatkan berita ini. Dimas pun tidak pernah bercerita hal penting  tentang rencana Ajeng dan Hilman padanya.


“Kamu tahu itu dari mana Nu?” kejar Bisma cepat.


Tidak mungkin pernikahan Ajeng dan Hilman dilaksanakan dalam waktu dekat. Perceraian mereka saja belum diurus. Otomatis Ajeng belum bisa untuk memulai rumah tangga baru dengan siapa pun. Dan ia sedapat mungkin tidak akan mempermudah semuanya.


“Ya tau lah pak. Istri saya  Arma masih ponakan ibunya mas Hilman,” Ibnu menjawab seketika.


“Pantas saja kamu begitu membela petani itu,” Bisma menatap Ibnu tajam, “Nu, kamu harus jawab jujur.”


Ibnu memandang Bisma serba salah. Bagaimana mungkin ia memihak salah satunya. Keduanya orang yang penting bagi diri dan keluarganya. Makanya ia berusaha netral selama ini, agar suasananya tetap aman terkendali.


“Jangan yang berat pak, saya ini otaknya kecil, jadi daya pikirnya  lemot …. “ Ibnu berkata dengan mimik lucu sambil menggaruk kepalanya.


“Saya serius Nu, ini bukan main-main!” Bisma jadi tidak sabar menghadapi tingkah Ibnu yang selenge’an.


“Ya deh pak. Saya akan serius,” Ibnu kini duduk dengan tegak, berusaha menyimak  keinginan bosnya.


“Aku ingin rujuk dengan Ajeng,”  Bisma berkata dengan serius, “Dan ini bukan hanya demi Lala. Tapi ku akui sekarang, bahwa Ajeng memang perempuan terbaik yang pilihan mama.”


“Tapi  mbak Ale dan mas Hilman kan hubungan mereka serius dan udah hampir ke pelaminan. Bapak pun sudah menceraikan mbak Ale ….” potong Ibnu cepat.


“Tanpa akta cerai mana mungkin mereka bisa menikah,” Bisma menjawab cepat, “Dan aku sampai kapan pun tidak akan menceraikan Ajeng. Karena niatku sudah bulat untuk rujuk.”


Mendengar kekeras kepalaan Bisma, Ibnu terdiam. Ia tau, atasannya yang satu ini memang tak pernah kalah dalam berargumen dengan siapa pun termasuk kepala dinas selaku atasan langsungnya.

__ADS_1


Karena pengalaman kerja dan jam terbangnya yang tinggi, membuat semua perkataan Bisma dan keputusan yang ia berikan selalu jadi rujukan di mana pun ia berada. Dan Ibnu sangat paham akan hal itu.


Jadi ia sangat mengerti, jika keinginan kuat Bisma untuk kembali pada mantan istrinya tak mungkin ia patahkan. Cukup ia mendengar dan mengikuti alurnya saja. Maka ia akan selamat dunia dan pekerjaannya.


__ADS_2