
“Saya minta kamu jauhi pak Bisma,” Deby berkata penuh ancaman.
“Itu bukan urusan saya,” jawab Ajeng enteng sambil mengangkat bahu.
“Apa belum cukup kamu menguras harta kekasih saya dan orang tuanya?” Deby semakin tak terkendali melihat sikap santai Ajeng yang tidak terprovokasi dengan ucapannya.
“Maaf sepertinya nona salah alamat,” Ajeng masih santai dengan tuduhan Deby yang tidak berdasar.
Toh, yang ia kelola adalah uangnya sendiri. Walau tak dipungkiri semuanya adalah pemberian Bisma sebagai mahar dan uang bulanan yang masih rutin ia terima dari transferan sang mantan.
“Apa katamu?” Deby tak terima dengan ucapan Ajeng yang membalikkan semua ucapannya.
“Lawan Deb!” Gita terus mengompori Deby yang semakin meledak.
“Dasar perempuan kampungan,” maki Deby.
Dengan cepat Ajeng menghindar. Dadanya terasa panas menahan emosi atas segala tuduhan tak berdasar yang dilontarkan Deby.
“Walau saya kampungan, tapi tidak pernah merugikan sampeyan,” cetus Ajeng kesal karena Deby terus menghadang jalannya.
“Wajah sok alim. Ternyata hasil morotin harta orang …. “ Deby semakin menjadi.
Ajeng semakin terkejut dengan makian Deby yang tak berhenti. Ia tak menyangka, dibalik wajah lembut dan anggun dengan busana tertutup ternyata mulutnya hanya comberan karena mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak pantas. Bahkan telah menjatuhkan harga dirinya yang telah susah payah ia bangun selama ini.
Inikah wajah asli perempuan yang bakal menjadi pendamping ayah nya Lala di masa depan? Ia menggelengkan kepala dengan senyum sinis yang tersungging di bibirnya.
“Kalian memang sepadan mas. Kamu dan dia seperti gelas dan tutup. Klop! Satu frekuensi. Kalian benar-benar cocok berada dalam bahtera yang sama. Semoga kalian berdua segera berjodoh,” batin Ajeng menahan kekesalan yang masih menggelegak di dada akibat perbuatan Deby yang hampir membuatnya malu di depan keramaian.
Sesampainya di rumah, kejutan lain sudah menunggu. Tampak Bisma sedang menemani Lala bermain di pekarangan luas yang teduh. Putri kecilnya begitu antusias mengejar bola-bola kecil warna-warni yang bertebaran di rumput hijau.
Emosi Ajeng yang mulai stabil kini meningkat kembali. Ia saat ini tidak ingin bertemu siapa pun. Apa lagi wajah sok ramah Bisma yang sudah menebar senyum dari jauh begitu ia turun dari mobil.
Ia mempercepat langkah, tak ingin berpapasan dengan lelaki yang kini kembali melukai hatinya yang baru saja sembuh. Bagaimana ia tidak terluka, perkataan perempuan tak beretika yang mengaku sebagai pacar ayahnya Lala telah membuatnya merasa kehilangan harga diri.
Dari mana perempuan itu dengan lancang menyebutnya ‘ndeso’ dan matre kalau tidak dari bibir lamis lelaki yang pernah ia damba dan ia doakan di sepertiga malamnya.
“Bunda …. “ Bisma berusaha memanggilnya dan menahan langkahnya.
__ADS_1
Tapi mana Ajeng peduli. Hatinya terlanjur sakit. Saat melewati pintu, dengan keras ia menghempasnya.
Brakkk!!!
“Astagfirullahaladjim …. “ bu Isma yang kebetulan membawakan kopi pesanan Bisma terkejut melihat sikap Ajeng yang tidak pernah kasar seumur-umur ia ikut dengannya.
Ia mengelus dadanya. Ajeng tidak mempedulikan keberadaan bu Isma yang berdiri mematung. Dengan cepat ia berjalan menuju kamar dan kembali membanting pintu begitu memasukinya.
“Ya Allah, apa yang terjadi dengan mbak Ajeng?” bu Isma bertanya-tanya dalam hati melihat sikap Ajeng yang begitu berbeda.
“Ada apa bu?” Dimas yang baru turun dari kamarnya terkejut mendengar bantingan pintu yang begitu keras.
“Ibu gak tau mas Dim. Mungkin mbakyu mu lagi kesel ….” Bu Isma mengangkat bahu tak mengerti apa pun.
“Ya udah. Biar aja bu. Nanti mbak pasti akan cerita sama saya atau ibu,” Dimas tersenyum santai.
Ia hafal sifat Ajeng. Jika telah berhasil mengatasi permasalahan yang ia hadapi walau sesakit apa pun, baru ia bercerita. Dan ia sudah yakin akan kemampuan saudari perempuannya itu dalam menghadapi permasalahan hidup. Satu-satunya perempuan tangguh yang ia kenal.
“Silakan kopinya pak,” bu Isma segera menawari Bisma kopi hangat begitu Bisma duduk memangku Lala yang kecapean setelah sepagian ini bermain ditemani sang ayah.
“Ya Allah, baik dan gantengnya ayahnya Lala. Kenapa mereka sampai berpisah ya Allah? Tidak adakah jalan untuk keduanya kembali?” batin bu Isma di dalam hati.
Ia dapat melihat ketulusan dan perhatian yang diberikan Bisma belakangan ini. Apa lagi lelaki gagah yang berada di hadapannya sekarang adalah ayah kandungnya Lala. Bagaimana mungkin ia tidak mendoakan yang terbaik untuk majikannya yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.
Memang ia tau kedekatan Ajeng dan Hilman, laki-laki baik hati yang selalu memberikan perhatian lebih pada majikannya. Tapi hati nuraninya berkata lain. Ia merasa bahwa Bisma lah jodoh terbaik buat Ajeng.
“Bundanya Lala mana bu?” Bisma tak bisa menutupi rasa rindu yang sejak pagi sudah ia tahan.
Memang sudah dua minggu lebih ia tidak mengunjungi Lala dan tentu saja bundanya. Perjalanan dinas selama sepuluh hari membuatnya disibukkan dengan segala aktivitas hingga ia melewatkan momen bersama buat hati dan tentu saja bundanya yang ingin ia pepet sampai dapat.
“Mungkin kecapaian pak. Tadi buru-buru masuk kamar,” bu Isma berkata dengan perasaan tidak nyaman.
“Oh ….” Bisma berkata dengan nada kecewa.
Hasratnya yang ingin melepas kerinduan, walau hanya memandang wajah Ajeng yang selalu menatapnya dan berbicara dengan sinis. Tapi semua itu mampu menjadi obat untuk membayangkan semua peristiwa yang pernah terlewati bersama.
Kini keinginannya tidak kesampaian. Bisma menghembuskan nafas berat, membuang segala kegundahan yang begitu menyesakkan dada. Ia tidak tau, kapan menemukan jalan untuk kembali pulang ke dalam pelukan yang pernah memberikan kehangatan.
__ADS_1
Dimas menikmati sarapan yang sudah kesiangan. Pagi selepas Subuh ia sudah turun ke sekolah untuk mempersiapkan tenda-tenda yang bakal di pasang dalam kegiatan pelepasan siswa-siswi kelas XII.
Begitu selesai dengan tugasnya Dimas langsung pulang. Perutnya sudah keroncongan minta diisi. Akan ada tim dari kelas lain yang akan memasang dan mendirikan tenda yang akan dipakai dalam kegiatan esok harinya.
Ajeng yang sudah menenangkan diri selama beberapa saat di kamar akhirnya keluar dan menghampiri Dimas yang masih menghabiskan nasi goreng yang sudah disediakan mak Sani, art yang sudah bersamanya sejak awal.
“Mbak, di depan ada mas Bisma. Gak diajak sarapan sekalian?” tanya Dimas seketika.
Karena ia tau, kebiasaan Bisma yang akhir-akhir ini suka ikut nimbrung sarapan, bahkan makan siang bersama dengan alasan Lala yang menginginkannya.
“Biar aja!” ketus Ajeng.
Dimas menatap mbak nya dengan raut bingung. Gak biasanya Ajeng judes seperti itu. Walau pun tidak ada hubungan diantara mereka, tapi sikap Ajeng selalu ramah walau pun terkesan datar saat ada Bisma di antara mereka.
“Mbak kan masih ada perlu dengan ayah nya Lala,” Dimas berusaha mengingatkan percakapan mereka tempo hari bersama Hilman.
“Mbak belum siap berbicara sekarang. Pengennya mau makan orang!” cetus Ajeng masih bernada kesal.
“Wuidiw, serem amat mbakyu?” Dimas nyengir mendengar ucapan Ajeng yang penuh kekesalan.
“Ya, kalau perlu tak potong-potong tubuhnya. Masukin karung, buang ke bawah jembatan Suramadu,” tegas Ajeng lagi.
“Aku gak ikut campur lho ya... Tapi kalau terpaksa, bagian buangnya aja. Dengan syarat, motornya baru yang sesuai perjanjian kemarin ….” Dimas berusaha mencandai Ajeng yang masih kumat dengan kekesalannya.
“Ya. Itu pasti. Jangan lupa, bagian ngarungnya itu sekalian. Mbak gak kuat liat darah ….” ucap Ajeng lagi.
“Lha, bagian mana yang mau dimakan itu? Katanya mau makan orang?” Dimas tak bisa menahan senyum karena Ajeng terus menjawab ucapannya.
“Setelah dibuang di bawah jembatan, yang ngarungin dan ngebuang itu yang bakal ku makan,” jawab Ajeng dengan menatap Dimas dongkol, merasa dikerjai adiknya.
“Ha ha ha …. “ sontak Dimas tertawa ngakak, “Jadi penasaran, siapa yang mau dimutilasi itu mbak?”
“Gundulmu!” Ajeng akhirnya tersenyum mendengar tawa Dimas yang membahana atas perbincangan receh mereka yang telah mengangkat segumpal rasa kesal di hatinya.
Akhirnya keduanya terlibat percakapan ringan lainnya. Tapi Ajeng tidak membahas permasalahan yang membuatnya kesal.
Ia menyetujui saran Dimas untuk menemui Bisma dan membicarakan tentang hubungan mereka yang telah berakhir. Saatnya untuk melegalkan perpisahan yang terjadi. Karena jika tiba saatnya untuk memulai kehidupan baru, tentu akta cerai itu yang menjadi dokumen penting dalam mempermudah urusan mereka masing-masing.
__ADS_1