
Siang itu Hilman sengaja datang ke rumah Ajeng untuk menyampaikan keinginannya sesuai dengan permintaan kedua orang tuanya.
Karena tidak memiliki orang tua sebagai wali, Ajeng meminta Dimas mendampinginya berbicara dengan Hilman. Ia tidak ingin para pegawai membicarakan dirinya yang hanya berdua-duaan denga Hilman, walau pun di siang menjelang.
Secangkir kopi dan snack ringan telah menemani ketiganya yang sudah terlibat percakapan ringan.
“Jadi Diajeng, mas hanya ingin memastikan waktu yang tepat bagi kita untuk memulai semuanya …. “ nada Hilman mulai serius begitu waktu yang tepat telah ia yakini untuk membicarakannya bersama Ajeng dan Dimas.
Ajeng memandang Dimas sekilas. Banyak hal yang belum ia bicarakan dengan adiknya apalagi Hilman lelaki yang sudah siap untuk berbagi hidup dengannya.
“Saya sebagai seorang lelaki percaya dengan ketulusan mas Hilman,” ujar Dimas, “Tetapi semuanya saya kembalikan pada mbak Ajeng. Karena mbak lah yang bakal menjalani semua.”
Hilman manggut-manggut dan menatap Ajeng dengan lekat. Susah payah ia berusaha untuk melakukan pendekatan dengan perempuan yang di matanya sangat menjaga kehormatan dan marwahnya sebagai seorang perempuan.
Bagaimana mungkin ia akan melepasnya, apalagi setelah lampu hijau telah menyala. Dan kini persiapan menuju lampu kuning. Ia semakin yakin masa itu akan tiba.
“Maaf mas, Dim …. “ Ajeng menatap keduanya bergantian, “Sebenarnya ada hal mendasar yang membuat saya berat untuk memulai kehidupan baru.”
“Diajeng masih trauma dengan pernikahan dengan pak Bisma?” tebak Hilman seketika.
Ajeng menggelengkan kepala cepat, “Bukan itu permasalahannya.”
Ia terpaku. Bagaimana harus mengatakan kebenaran pada keduanya bahwa mereka berdua belum memproses perceraian secara kenegaraan. Tentu hal itu akan mempersulit untuk melanjutkan pernikahan mereka di KUA dalam waktu dekat.
Selama ini ia tidak pernah mempermasalahkan urusan akta cerai. Karena ia tidak pernah berpikir, apalagi bermimpi bakal menikah lagi setelah kegagalannya dalam pernikahan antara ia dan Bisma.
“Apa ada masalah lain yang tidak mbak ceritakan padaku?” Dimas menatapnya dengan jidat berkerut.
Ia tau, Ajeng memang menutupi semua permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya dan Bisma. Hanya ia terlalu sering melihat Ajeng menangis di kesendirian malam, dan keesokan harinya bangun dalam keadaan wajah dan mata merah membengkak.
Tidak ada keinginan Dimas untuk mengetahui dan bertanya langsung. Ia tau, mbak nya seorang perempuan yang kuat dan mampu menghadapi semuanya. Ia pun menyadari, mungkin dirinya masih dianggap muda sehingga sungkan bagi Ajeng untuk curhat padanya.
Dimas hanya mampu meminta dan berdo’a kepada Yang Kuasa untuk memberikan kekuatan dan ketabahan pada saudari perempuan satu-satunya yang ia miliki untuk sabar dalam menjalani dan melalui permasalahannya.
Hingga akhirnya Ajeng mengajaknya pindah dan memulai usaha, Dimas tidak pernah mengetahui penyebab pasti perpisahan Ajeng dan Bisma lelaki kaya dari kota yang jadi buah bibir di kampungnya.
“Saya dan ayahnya Lala belum bercerai secara resmi,” tandas Ajeng seketika.
Hilman menatap Ajeng tak percaya. Bagaimana mungkin, selama hampir dua tahun Ajeng berjuang sendirian mengelola kafe resto dan usaha kecil lainnya dengan membawa seorang balita kecil masih terikat pernikahan dengan Bisma yang sangat ahli dan berkompeten di bidangnya.
__ADS_1
Dan alasan apa yang mendasari hingga saat ini belum ada kertas resmi yang dilegalkan pemerintahan dalam bentuk ‘akta cerai’ untuk pernikahan mereka yang telah berakhir.
“Jadi selama ini Diajeng dan pak Bisma belum bercerai secara resmi?” Hilman menatap Ajeng dengan lekat untuk memastikan kebenaran dari apa yang ia dengar dari ucapan Ajeng.
“Benar mas,” Ajeng berkata lirih, “Saya pikir, ayah nya Lala akan segera mengurus semuanya begitu saya dan Lala memulai hidup baru di sini.”
Hilman menghela nafas berat. Ia menggelengkan kepala menyadari betapa rumitnya hidup Ajeng. Wajar saja selama ini ia menutup diri, dan menjauhi setiap lelaki yang mulai menampakkan hasrat mereka untuk dekat dengannya.
Bukannya ia tak tau, banyak pengusaha, bahkan anggota dewan yang kebetulan dekat dengannya ingin berkenalan dengan Ajeng. Tapi satu pun tidak ada yang berhasil.
Perempuan yang ia kagumi karena kematangan dalam bersikap serta kemandiriannya dalam berusaha membangun karier, hingga mampu membantu orang lain membuatnya tak berhenti memikirkan hingga sampai ke detik ini. Hanya beberapa langkah lagi, ia akan memiliki seutuhnya. Mana mungkin ia melepas begitu saja.
“Apa Diajeng pernah membicarakan ini dengan pak Bisma?” Hilman bertanya dengan penuh kehati-hatian.
Ia tau pertanyaan yang ia ajukan sangat sensitif, dan khawatir menyinggung perasaan Ajeng. Ia sangat menjaga hal itu. Bagaimana mungkin ia melukai perempuan yang mampu membuatnya merasakan jatuh cinta kembali, setelah sekian lama terkubur karena kebencian di masa lalu.
“Saya memasrahkan semuanya pada ayah nya Lala,” Ajeng memandang kejauhan, “Karena saya pun tidak menyangka akan bertemu mas Hilman, dan akan secepatnya melangkah ke jenjang yang lebih serius.”
“Maksud Diajeng?” Hilman menatap wajah Ajeng dengan seksama.
Ia dapat menangkap rona kesedihan di wajah Ajeng saat mengungkapkan apa yang ia rasa. Memang bagi seorang wanita tidak semudah itu melupakan dan melepas apa yang pernah dekat dan membersamai selama bertahun-tahun.
Tapi dengan pertemuan dan penerimaan tulus Ajeng dalam bulan-bulan belakangan ini, perlahan telah menyembuhkan luka yang berusaha ia sembunyikan selama ini. Dan ia yakin, bersama Ajeng akan saling menguatkan untuk masa depan yang lebih baik.
“Apa mas perlu mengatur waktu dengan pak Bisma untuk membicarakan semua ini?” kembali Hilman bertanya dengan hati-hati.
Mendengar pertanyaan Hilman membuat Ajeng berpikir. Tidak mungkin rasanya jika Hilman yang menemui Bisma. Harusnya ini sudah ia dan Bisma selesaikan sejak setahun yang lalu, begitu ia meninggalkan rumah.
“Rasanya tidak perlu mas,” Ajeng berkata dengan cepat, “Ini permasalahan antara saya dan ayah Lala. Biar saya yang menyelesaikan sendiri.”
“Diajeng yakin?” Hilman berusaha memastikan.
“Mas gak usah khawatir. Saya tau berhadapan dengan siapa,” Ajeng berkata dengan pasti.
“Mas percaya sama Diajeng,” Hilman tersenyum dengan tatapan lembutnya.
Dimas hanya menyimak pembicaraan keduanya tanpa bermaksud menyela. Karena ia pun tidak terlalu paham dengan apa yang mereka berdua bicarakan. Jika keduanya sepakat, ia pun akan menyetujui saja, dan ikut arus.
Inginnya Dimas, kakaknya kembali menemukan kebahagiaan yang sempat hilang. Ia berharap sinar kebahagiaan kembali menyinari kehidupan Ajeng dan Lala. Hanya itu yang ia inginkan sekarang, karena semua telah mereka miliki dengan segala perjuangan berat yang telah dilalui bersama.
__ADS_1
…
Pagi Minggu ini suasana di pusat perbelanjaan kota Malang sangat ramai. Ajeng menyempatkan diri untuk berbelanja keperluan rumah tangganya sehari-hari. Ia pergi bersama dengan Andika dan Aryani, staff kepercayaannya yang mengurus kafe resto serta usaha lain yang ia miliki.
Keduanya menggunakan mobil box untuk mengangkut semua bahan pangan dan keperluan lain. Setelah semuanya telah dimuat dan mobil telah berjalan bersama staf kepercayaannya Ajeng melanjutkan belanjanya.
Masih banyak yang perlu ia beli, khususnya barang pribadi miliknya dan Lala. Ajeng tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melangkah ke gerai yang menawarkan aneka produk kewanitaan.
Ia masih melihat-lihat produk skin-care yang tertata dengan apik. Senyumnya mengembang melihat produk yang ia cari ada di antara barisan produk sejenis yang dipajang di etalase. Pandangannya teralihkan pada dua orang perempuan yang sedang melangkah ke arah tempatnya berrdiri saat ini.
Senyum tipis tersungging di wajah Ajeng saat menyadari bahwa perempuan yang kini berdiri tepat di hadapannya adalah orang yang dekat dengan mantan suaminya.
“Jadi mantannya pacarmu itu wong ‘ndeso’ dan matre?” Gita yang memang julid berkata dengan lantang dan langsung menyenggol bahu Deby saat keduanya bersisian dengan Ajeng.
Keduanya memang sudah janjian untuk shopping, karena Deby berhasil menarik Gita menjadi teman curhatnya dan selalu men-suportnya dalam berhubungan dengan Bisma. Tanpa perhitungan, ia selalu menuruti semua keinginan Gita. Hingga ia tidak menyadari bahwa sebenarnya Gita hanya memanfaatkan kedekatan mereka.
Deby yang memang sudah iri dengan keberhasilan Ajeng semakin terpancing mendengar ucapan Gita. Apalagi dengan sikap Bisma yang semakin dingin terhadapnya.
“Karena itu aku kasihan sama mas-ku. Harta dan uangnya habis diporotin mantannya. Udah gitu ratu drama lagi,” suara Deby begitu jelas di indera pendengaran Ajeng.
Ia sampai mengernyitkan dahi mendengar pembicaraan dua perempuan yang ga jelas ujung pokoknya. Merasa tidak berkepentingan Ajeng mengangkat bahu dan meneruskan aktivitasnya mencari beberapa produk lagi.
Ternyata keduanya belum berhenti mengganggu Ajeng yang tidak mau ikut campur dengan percakapan gak penting mereka.
“Kok kamu tau mantannya itu ratu drama?” Gita kembali lagi mengeluarkan suara dengan tatapan sinisnya pada Ajeng yang tak mempedulikan dirinya dan Deby.
“Ya iyalah. Mas ku itu selalu cerita,” sambung Deby cepat, “Calon mertuaku selalu membela mantannya mas ku itu lho, hingga terkadang mas ku itu bingung … yang anaknya itu siapa, dirinya atau perempuan ‘ndeso’ yang matre itu?”
Ajeng menghentikan langkah ketika Deby berdiri tepat di hadapannya. Ia berusaha menghindar untuk mencari jalan lain.
“Maaf …. “ Ajeng tersenyum berusaha menampilkan wajah ramah.
“Senyumnya palsu,” Gita menyeletuk, “Emang pantesan kamu yang jadi pendamping pak Bisma dari pada perempuan ‘ndeso’ ini.”
“Tentu saja. Wajahnya juga palsu. Penuh kemunafikan,” balas Deby ketus.
“Saya rasa kita tidak saling mengenal. Jadi gak ada masalah kan?” Ajeng masih menanggapi dengan kepala dingin.
Beberapa orang mulai mendekat mendengar suara Deby dan Gita yang bersahutan dengan keras. Ia tidak ingin terlibat dengan masalah sepele yang bisa jadi tontonan orang ramai. Apalagi sedikit banyak orang mengenalnya. Ia khawatir ada yang merekam kemudian jadi viral. Bukan itu yang ia inginkan sekarang ….
__ADS_1