
Bisma meraih ponsel di saku celananya langsung menghubungi nomor Ajeng yang kini ia ganti menjadi ‘bunda sayang’ dan urutan teratas dalam ponselnya.
“Maaf,” Ia mundur sambil menjauhi keberadaan Wirya dan yang lainnya.
Lebih baik ia berpura-pura menerima telpon dari pada berada di lingkungan yang membuatnya tidak nyaman. Ia langsung keluar dari ballroom dan berjalan menuju lobi.
“Assalamu’alaikum, “ Ajeng menjawab panggilan Bisma saat ia baru selesai makan malam bersama Dimas dan Lala, “Kakak telpon dari ayah ....”
Bisma tersenyum mendengar suara yang kini selalu ia rindukan di kesunyian malam. Tanpa berkedip ia menatap wajah ayu yang memandangnya sekilas dengan tatapan datarnya.
Sebelum mata terpejam ia kini memiliki hobi baru, menatap foto lama pernikahan mereka yang sempat ia rekam ulang di ponsel. Ia berharap suatu saat foto pernikahan mereka kembali menghiasi rumah yang sudah lama tidak ditempati.
“Ayah kapan datang?” suara kenes Lala membuat perasaannya terharu.
“Sabtu ini ayah pasti datang. Ayah jemput, kita main lagi ya ...” Bisma berkata dengan penuh semangat.
Ia tidak tau kapan masanya akan tiba, tapi ia yakin suatu saat Ajeng akan kembali dalam pelukan. Ia akan memberikan kebahagiaan yang utuh pada keluarga kecilnya.
“Mas, ngapain sendirian di sini?” suara Siska kembali mengganggu kebersamaan Bisma dan putrinya Lala.
“Kangen sama Lala,” jawab Bisma tetap melanjutkan percakapannya.
“Hallo Lala sayang ....” tanpa permisi Siska meraih ponsel yang berada dalam genggaman Bisma.
Bisma merasa heran sekaligus kesal atas perbuatan Siska yang baginya tidak sopan, dan kurang etika.
Melihat wajah Siska yang sok ramah, Lala terkejut. Ia langsung menyerahkan ponsel pada mamanya.
Jidat Ajeng berkerut saat melihat dr. Siska berada di layar ponsel Bisma. Ia langsung mengakhiri panggilan melihat wajah sedih putrinya.
“Kakak kenapa?” Ajeng meraih Lala ke dalam pangkuan.
“Kakak gak suka sama tante itu,” ujar Lala murung.
“Memangnya kenapa?” Ajeng penasaran karena wajah cerah putrinya langsung hilang.
“Siapa mbak?” Dimas yang baru menyelesaikan minumnya heran dengan perubahan sikap ponakannya yang selalu riang saat betelponan dengan sang ayah.
“Temannya ayahnya ikutan bicara sama Lala,” jawab Ajeng dengan tatapan tetap mengarah pada putrinya.
“Oh, calonnya mas Bisma .... “ Dimas menyandarkan diri di sofa ruang keluarga ikut menikmati acara di televisi.
“Iya kali,” Ajeng berkata sambil mengangkat bahu.
__ADS_1
“Perempuan sombong yang bakal jadi ibu sambung Lala,” cerocos Dimas sambil tertawa kecil, “Saingan mbak ....”
“Huss!” Ajeng membulatkan mata mendengar ucapan adiknya.
Dimas tertawa kecil melihat pelototan mata Ajeng saat ia mengungkapkan apa yang terlintas di benaknya.
“Kakak gak suka sama tante itu,” suara lirih Lala terdengar Ajeng membuatnya semakin heran dengan putrinya yang kini mendadak berubah tidak seceria tadi.
“Memangnya kenapa sayang? Tante itu kan baik, cantik lagi.... “ Ajeng membelai rambut putrinya dengan penuh kasih.
“Kemarin saat kita di rumah mama Nurita, Lala gak sengaja menabrak perempuan itu,” Dimas menceritakan kembali kejadian tidak mengenakkan yang membuat ponakannya ketakutan, “Padahal aku tu udah minta maaf.”
“Kakak gak mau bertemu tante itu lagi,” ceplos Lala dengan mata mulai berembun. Rasa takut dan khawatir mulai datang menghinggapinya, “Sama kakek itu juga ....”
Selama ini ia selalu dilimpahi kasih sayang dan kelembutan dari sekelilingnya. Bunda selalu melindungi dari segala hal-hal yang membuatnya terluka. Saat pertama kali dibentak dan dimarahi menjadikan ia trauma untuk bertemu dengan orang yang sama.
Ajeng tertegun mendengar pengakuan putrinya. Bagaimana ia sampai lengah dan tidak mengetahui perlakuan perempuan muda itu pada putri kesayangannya.
Jangankan orang, nyamuk saja ia tidak rela jika menyentuh kulit putri kecil yang ia besarkan dengan segala duka dan kebahagiaan yang seiring sejalan dalam perjalanan hidupnya.
“Lelaki tua yang bersama perempuan itu juga memarahi Lala dan membentak kami berdua,” Dimas berkata sambil menyandarkan tubuh di sofa, “Apa semua kelakuan orang penting seperti itu tho, mbak?”
Ajeng menahan kegeraman atas pengakuan Lala dan cerita Dimas. Ia langsung memeluk putrinya dengan perasaan kesal bercampur sedih.
“Kapan kejadiannya?” Ajeng tak bisa menahan rasa ingin tau.
“Apa gak ada yang lihat, ayahnya Lala atau siapa pun?” Ajeng masih penasaran.
“Mungkin semuanya masih di dalam,” Dimas berkata sambil mengangkat bahu, “Padahal aku tu udah minta maaf, tapi mereka tidak peduli.”
Ajeng mendengarkan semua cerita Dimas dari awal hingga akhir dengan kegeraman yang masih bersarang di otaknya.
“Udah gitu ia bilang cecunguk lagi,” Dimas pun tak bisa menahan kesal saat membayangkan kejadian itu, “Mentang-mentang kita tidak selevel mereka ....”
Ajeng menggeleng-gelengkan kepala tak percaya setelah Dimas mengakhiri ceritanya.
“Kakak gak mau ketemu tante itu lagi Bunda,” Lala berkata sambil matanya menatap Ajeng penuh harap.
Senyum menenangkan terbit di sudut bibir Ajeng. Ia mencium kening putrinya sesaat, dan merengkuhnya ke dalam pelukan, berusaha meredam emosinya yang naik atas perlakuan kasar dr. Siska dan papanya pada Lala.
“Bunda gak akan biarkan siapa pun berkata kasar dan menyakiti kakak. Tenang aja, kakak aman bersama bunda....”
Lala merasa tenang berada dalam pelukan bundanya. Ia tidak akan takut menghadapi siapa pun lagi selama bundanya berada di sisi.
__ADS_1
....
“Maaf mas mengganggu obrolan kalian....” wajah sesal penuh drama Siska tampilkan saat Bisma menyimpan ponsel di saku celananya sambil menghela nafas.
Keheningan terjadi beberapa detik berikutnya. Suasana lobi yang cukup lengang karena semua tamu masih berada di pesta yang belum berakhir.
Bisma menghembuskan nafas beberapa kali. Ia masih memikirkan kata yang tepat agar dr. Siska tidak menaruh harapan padanya. Dari gelagat dan tingkah laku yang ditunjukkan pak Wirya dan putrinya itu membuat ia tak nyaman.
Ia harus membuat batasan yang tegas agar semua orang tidak menyalah artikan sikap diamnya.
“Maaf dr. Siska .... “ Bisma mulai menatap perempuan yang kini juga memandangnya penuh harap.
“Eh iya .... “ dr. Siska gelagapan dengan pandangan tajam Bisma yang mengarah padanya tanpa berkedip.
“Saya harap dr. Siska dan pak Wirya tidak menyalah artikan sikap saya selama ini.”
“Maksud mas?” Siska mulai merasa tidak nyaman dengan aura dingin yang ditunjukkan Bisma saat berbicara dengannya saat ini.
“Saya duda dengan seorang anak. Saya pun tidak berkeinginan untuk dekat dengan seseorang dalam waktu dekat ini,” Bisma berkata dengan serius.
“Aku hanya ingin kita bersahabat, karena aku nyaman dekat dengan mas Bisma. Tidak lebih .... “ Siska berdalih.
Ia tidak ingin Bisma menutup akses yang ia tawarkan. Walau dalam proses ke depan, telah banyak rencana yang akan ia siapkan untuk menjerat Bisma hingga membawanya ke dalam kehidupan lelaki mapan yang sangat ia kagumi itu.
“Maaf dr. Siska, saya baru ingin memperbaiki pernikahan kami yang pernah gagal. Putri saya masih sangat membutuhkan saya,” tegas Bisma.
Ia tidak ingin membuat dr. Siska salah mengartikan kebaikan dan perhatian yang ia berikan selama ini. Hal itu ia lakukan semata-mata mengingat dirinya mempunyai kakak perempuan dan tentu saja putri kecilnya yang sedang bertumbuh.
“Nak Bisma,” suara bass Wirya mengejutkan Siska dan Bisma yang masih duduk di sofa lobi hotel.
“Papa .... “ Siska bangkit dengan cepat melihat kehadiran papanya.
Ia yakin tidak bisa berjuang sendiri. Ia sangat memerlukan dukungan papanya atas apa yang barusan dikatakan Bisma.
“Permisi pak Wirya, dokter Siska. Saya belum mengucapkan selamat pada kedua mempelai.”
Tanpa menunggu jawaban keduanya Bisma melangkah dengan cepat. Ia tidak bisa terus berada di lingkaran kedua orang yang memberikan tekanan dalam kehidupan dan lingkungan kerjanya.
Ada rasa menyesal yang hingga di otaknya karena mutasi kerja yang menyebabkan ia harus bertemu dengan orang seperti Wirya, dewan terhormat yang sangat arogan, serta dr. Siska, perempuan manja yang ingin menang sendiri.
Wirya Dinata menahan geram atas sikap yang ditunjukkan lelaki mapan yang sudah masuk tergetnya itu. Tapi ia tidak bisa melakukan pemaksaan dengan jalan kekerasan walau pun ia memiliki kuasa atas itu.
Bisma bukanlah orang yang mudah diintimidasi, apalagi ia dan keluarganya bukan keturunan abal-abal. Ia harus lebih berhati-hati untuk menghadapi laki-laki yang tetap ia pilih untuk menjadi pendamping putrinya.
__ADS_1
Masa depan keluarga serta usaha yang mereka miliki akan semakin maju jika berhasil menyatukan Bisma dan putrinya. Ia akan berjuang untuk itu, walau pun harus mengerahkan semua kekuatan dan kekuasaan yang ada.
“Kita tidak akan menyerah apa pun yang terjadi,” ujar Wirya menyemangati putrinya yang lesu tak bersemangat.