Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 39 Semakin Mendekat


__ADS_3

“Dek .... “ ia memberi isyarat agar temannya tetap melanjutkan senam sedangkan ia berjalan mendekati pintu tepat di samping Bisma dan Lala yang kini sudah nangkring dalam gendongan sang ayah.


“Ya mbak,” dengan sigap Dimas sudah berada di hadapannya.


“Kenapa kamu membiarkan orang asing dalam pekarangan kita?” ucapan sinis Ajeng yang bertanya pada Dimas tapi menyindir dirinya hanya dibalas Bisma dengan senyuman.


Melihat Ajeng yang bermandi keringat, dengan kaos oversize yang kini lengket di tubuhnya membuat pikiran Bisma semakin melanglang buana. Rambutnya yang ditutupi dengan hijab khusus untuk senam tak mengurangi keindahan yang Bisma lihat.


“Menggairahkan .... “ batinnya tak bisa menyembunyikan kekaguman akan sosok mantan yang masih memandangnya dengan tajam.


“Mas Bisma ingin bertemu Lala,” Dimas berusaha membela Bisma yang kini menyibukkan diri dengan Lala yang kini mengajaknya ke luar.


“Permisi. Aku akan membawa Lala sarapan di depan,” ujar Bisma santai tanpa mempedulikan delikan tajam Ajeng.


Senyum kemenangan terbit di wajah tampannya begitu berlalu dari kedua saudara yang masih bersitegang karena kehadiriannya.


“Lala pagi ini mau jalan sama ayah?” Bisma bertanya pada putrinya yang kini mulai berjalan sendiri saat ia turunkan dari gendongan.


“Yayan?” mata bening putrinya membuat Bisma menyadari bahwa Lala perpaduan sempurna antara dirinya dan Ajeng.


Kontur wajah, hidung dan bibir serta rambut turunan darinya. Sedangkan mata bulat bening itu adalah milik Ajeng.


“Sayang ayah dulu .... “ Bisma membungkukan  dirinya sejajar  Lala.


“Cup .... “ kcupan ringan Lala membuat hatin Bisma menghangat.


Ia langsung memberikan kecupan-kecupan ringan di wajah imut dan menggemaskan putrinya. Mata Lala menjadi sasaran keisengan Bisma. Ia membayangkan mencium wajah Ajeng dengan matanya yang masih menunjukkan kekesalan saat ia berlalu membawa putrinya.


“Cudah yayah. Ade mahu main  .... “ tangan mungil Lala menahan wajahnya yang masih enggan menjauh dari putri kecilnya.


“Baiklah sayang .... “ akhirnya Bisma melepas Lala dan mengikuti langkah kecilnya yang membawa keduanya menuju kolam ikan.


Melihat  tumbuh kembang Lala dalam sebulanan ini membuat Bisma semakin yakin tidak akan melepas keduanya pada siapa pun. Ia akan berjuang demi keutuhan keluarga kecilnya.


“Kenapa kamu biarkan lelaki itu ada di sini?” Ajeng masih tidak  puas pada Dimas karena kehadiran Bisma.


“Feeling ku mengatakan mas Bisma ingin rujuk,” Dimas menjawab santai, “Liat aja caranya memandang mbak, dalem banget .... “


“Ngawur kamu,” Ajeng tak senang dengan ucapan Dimas, “Cepat berkemas sana. Ntar mas Hilman akan datang menjemputmu.”


“Mbak gak percaya .... “ ujar Dimas santai sambil ngeloyor pergi meninggalkannya langsung masuk rumah.


Tak lama Dimas berlalu dari pandangannya, Ajeng kembali menghampiri teman senamnya.


“Siapa lelaki ganteng tadi?”  Resta penasaran melihat sikap Bisma yang membawa Lala tanpa penolakan darinya, karena yang ia tau, si mungil itu tidak mudah dekat dengan orang asing.


“Jangan-jangan ia ayahnya?” tebak Ina seketika.


Tanpa membuka mulut Ajeng hanya menganggukkan kepala, sambil meletakkan minuman dingin dan snack di hadapan ketiganya.

__ADS_1


“Ah, masa sih?” Amir instruktur senam mereka tak percaya.


“Pantas aja wajahnya mirip banget sama ade. Ganteng nek!” tukas Resta, “Ngapain lu pisah ma ayah Lala?”


“Mungkin jodoh kami pendek,” ujar Ajeng dengan senyum datarnya.


“Mantanmu itu kerja di Diskopindag Malang kan?” kejar Ina lagi.


Kembali Ajeng menganggukkan kepala. Ia sebenarnya malas untuk membahas masalah pribadi. Ia tidak ingin mengingat luka lama yang masih menyisakan bekas  hingga saat ini.


Ketiganya masih melanjutkan perbincangan ringan. Tapi Ajeng berusaha menghindari percakapan tentang kehidupan pribadinya. Ngobrol ngalor ngidul sebentar, akhirnya ketiga rekan senam Ajeng pamit undur diri.


Bisma sudah selesai sarapan bersama putri kecilnya. Tubuhnya mulai gerah karena belum berganti pakaian. Padahal ia tipe super pembersih, tapi karena keinginannya untuk dekat dengan Ajeng dan putrinya, ia terpaksa menggunakan pakaian semalaman.


“Dim, “panggilnya pada Dimas yang sudah kelihatan rapi dan wangi.


Dimas yang sudah bersiap menunggu kedatangan Hilman di teras kafe resto segera menghampiri Bisma yang kini berdiri menemani Lala bermain di taman samping.


“Ada apa mas?” tanya Dimas santai.


“Mas gak bawa baju ganti. Pinjam punyamu,” pinta Bisma penuh harap.


“Emang mas gak pulang ke rumah? Kemaren nginap di mana?”  Dimas langsung memberondong dengan pertanyaan  membuat Bisma tersenyum tipis.


Ia tau, Dimas memang dapat diharapkan bantuannya. Dan Dimas lah yang masih menganggapnya  selain putri kecilnya Lala tentunya.


Dimas terdiam. Selama ini yang ia tau, mantan iparnya ini tipe  pecinta kerapian dan kebersihan. Ia tidak suka jika orang lain memakai barang pribadinya. Hal-hal sepele akan membuatnya marah dan mendiamkan berhari-hari jika  ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Itu sekilas yang ia tau dari cerita Ajeng.


“Maaf mas, bukannya aku gak mau pinjamin ....” Dimas berkata dengan nada sangsi.


“Gak masalah. Ku kira ukuran kita sama,” Bisma bersikeras, “Mas juga mau bawa Lala mutar-mutar. Kalau harus pulang ke rumah, kelamaan lagi.”


Bisma berusaha mencari alasan yang masuk akal. Apa lagi melihat sikap bimbang Dimas yang pastinya memberikan peluang untuknya kembali masuk dalam lingkungan keluarga kecilnya.


“Baiklah!” setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Dimas memutuskan menuruti keinginan Bisma.


Ia kembali ke rumah untuk mengambil beberapa potong pakaian untuk Bisma membuat Ajeng memandangnya sekilas.


Ketika keluar dari kamar membawa pakaian di dalam paper bag, langkahnya dihadang Ajeng.


“Ngapain bawa baju? Emang mau nginap?” Ajeng tak bisa menahan rasa heran melihat gelagat Dimas yang tergesa-gesa.


“Itu, ayahnya Lala mau pinjam baju,” jawab Dimas terus terang.


“Haaa .... “ Ajeng sampai mangap saking tidak percaya dengan yang diucapkan adiknya.


“Gak usah lebar kali. Ntar masuk laler .... “ Dimas menggoda Ajeng.


“Si pecinta kebersihan itu mau pake bajumu? Apa dunia sudah terbalik?” Ajeng menggelengkan kepala tak percaya.

__ADS_1


“Apa kan ku bilang?” Dimas tersenyum misterius, “Kita tunggu aja tanggal mainnya.”


“Maksudnya?” Ajeng masih lola dengan ucapan ambigu Dimas.


Dengan cepat Dimas meninggalkan Ajeng, tak ingin diinterogasi kakaknya lebih lama. Sebenarnya ia lebih menyukai sosok Bisma yang nyata-nyatanya ayah kandung Lala, ketimbang Ajeng memulai hubungan baru.


Tapi ia hanya ingin jadi pemerhati saja. Mbaknya lebih tau mana yang terbaik untuk dirinya dan masa depan Lala.


“Ini mas,” ia langsung mengulurkan paper bag, “Semuanya masih baru. Tapi udah dicuci, hanya belum kepake .... “


Bisma tersenyum sumringah karena keinginannya mulai terkabul. Ia langsung meraih paper bag dan menggendong Lala bersamanya.


“Kamu mau kemana udah seganteng ini?” tanya Bisma seketika.


“Pergi dengan mas Hilman,” Dimas menjawab singkat.


“Kemana?”  Bisma tak bisa menutupi  rasa penasaran.


Ia harus tau pergerakan sekecil apa pun yang dilakukan rivalnya dalam meraih hati Ajeng. Karena ia akan memulai perjuangannya kembali.


“Rencananya mau  menyelesaikan akad jual beli empang lele,” jawab Dimas santai.


Senyum misterius terbit di sudut bibir Bisma. Tapi ia berusaha menyembunyikan dari Dimas.


“Oo .... “ Bisma mengangguk, “Baiklah, hati-hati di jalan .... “


“Ya mas, terima kasih.”


Sepeninggal Dimas, Bisma segera membawa Lala dalam gendongan. Putri kecilnya sudah mandi keringat. Ia akan mengantarkan langsung pada Ajeng. Jika memungkinkan, ia akan minta izin numpang mandi sekalian. Sambil menyelam minum air.


Senyum terukir di bibirnya mengingat  beberapa rencana sudah terealisasi dengan baik. Ia akan mulai selangkah demi selangkah. Dan jika waktu memungkinkan maka dengan langkah seribu pun ia lakoni untuk mencapai tujuannya.


“Bunda .... “ panggilan Lala menghentikan aktivitas Ajeng yang memasak di dapur.


Ia membalik badan. Matanya langsung membulat melihat kehadiran Bisma di rumahnya apalagi di dapur dengan Lala yang masih dalam gendongannya.


“Ade udah kegerahan pengen mandi,” Bisma berkata santai dan terus mendekat.


Bu Isma  terkejut melihat kehadiran Bisma. Ia dapat merasakan suasana tegang yang terjadi antara majikan dengan lelaki gagah yang berada di hadapannya.


“Mbak .... “ ia memanggil Ajeng yang terpaku seperti patung.


Ajeng tak menyangka Bisma mulai berani datang ke rumah tanpa minta izin darinya. Ia tidak tau apa yang ada di pikiran lelaki yang sudah menjadi mantannya.


“Saya ayahnya Lala, bu .... “ Bisma langsung memperkenalkan diri tanpa meminta persetujuan Ajeng, “Sekarang ade mandi dulu ya, setelah mandi kita akan jalan-jalan.”


Berbagai pertanyaan hadir di benak bu Isma. Tapi ia tidak berani untuk bertanya dengan Ajeng, toh itu bukan urusannya. Hanya ia menyayangkan bahwa majikannya dan lelaki yang mengaku ayahnya Lala adalah pasangan yang sangat serasi.


“Ade mandi sama ibu ya .... “ bujuk bu Isma meraih Lala yang  menganggukkan kepala dan berpindah dalam gendongannya.

__ADS_1


__ADS_2