Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman


__ADS_3

Ajeng menemui Hilman yang sudah duduk di teras.  Ia melihat lelaki itu duduk memandang kejauhan dengan nafas terhela dengan berat.


“Assalamu’alaikum .... “  Ajeng menyapanya pelan dan duduk di kursi tunggal yang di pisahkan meja tempat ia dan Hilman berada.


“Wa’alaikumussalam,” Hilman memandang Ajeng dengan perasaan berkecamuk.


Ajeng berdiam diri menunggu perkataan Hilman. Ia ingin lelaki yang telah datang melamarnya itu berterus terang dan tidak menyembunyikan apa pun, sehingga ia bisa menentukan pilihan untuk maju atau bertahan.


“Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan Diajeng .... “ suara Hilman yang biasanya terdengar menenangkan hati kini rasanya hambar.


Ajeng menatap Hilman datar.  Memang rasa kecewa itu masih ada, tapi ia pun harus mendengar kisah sebenarnya.


“Mungkin  kamu sudah mendengar info dari  luar. Tapi tak semuanya benar,” Hilman berkata pelan.


“Apa itu?”  Ajeng  memandang Hilman yang juga menatapnya.


“Mas telah menikahi Dewi untuk memenuhi wasiat Ridwan sepupu mas,” ujar Hilman dengan tatapan lekatnya.


Ajeng memalingkan muka. Ia enggan menatap wajah lelaki yang kini telah mematahkan hatinya.


“Jika semua persyaratan telah siap, kita akan menikah,” Hilman berkata dengan yakin.


Ajeng kembali menatap Hilman dengan wajah tertegun. Ia tidak menyangka masih ada keberaniannya untuk mengajak menikah.


“Bagaimana mungkin kita menikah, setelah mas menikahi perempuan itu!” tegas Ajeng.


“Pernikahan kami hanya sementara. Pernikahan kita lah yang akan selamanya.” Hilman menatap Ajeng lekat.


Ajeng tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala, “Bagaimana mungkin mas mengatakan hal seperti ini?”


“Mas sudah membicarakan ini dengan Dewi  Diajeng. Dia pun memahami itu,” tatapan Hilman begitu dalam membuat Ajeng menjadi jengah.


“Saya tidak yakin istri mas sepaham dengan keinginan kita,” Ajeng menolak keyakinan Hilman.


Dari tatapan matanya saat ketemu, Ajeng yakin ada ke-tidaksukaan akan perhatian yang ditujukan Hilman padanya.


Sementara itu di kediaman Hilman, Dewi dan  Hilda sedang menikmati acara televisi dari ruang keluarga. Ia merasa menjadi ratu di  rumah mewah itu. Hilman sudah mempersiapkan semua keperluannya sebagaimana saat ia menjadi nyonya Ridwan.

__ADS_1


Tidak ada kekurangan sedikit pun selama hampir dua minggu menjadi istri Hilman, walau pun baru dinikahi secara siri. Memang harus ia akui, sampai detik ini Hilman belum menuntut haknya sebagai seorang suami. Pada hal ia sangat menginginkan hal itu.


Memang selama menjadi istri  Ridwan, hanya satu tahun pertama ia merasakan indahnya menjadi pasangan halal. Begitu Ridwan kembali ke karakter ‘Don Juan’nya Dewi hanya mampu meratapi nasib.


Penyesalan yang tak pernah berujung akan cintanya yang masih utuh pada Hilman.. Dan kini masa itu telah datang. Ia  resmi kembali ke pelukan Hilman walau pun sebatas istri siri.


“Mah, papa kemana gak kelihatan?” suara Hilda memangkas lamunan Dewi.


Dewi menatap putri semata wayangnya sambil membelai rambutnya yang tipis karena terus mengonsumsi obat dalam dua tahun terakhir. Ia ingat Hilman mengatakan akan  menemui tunangannya untuk membahas  kelanjutan hubungan mereka.


“Aku ingin main sama papa,” Hilda memandang  Dewi dengan penuh harap.


Dewi tercenung. Bagaimana mungkin ia mengganggu Hilman  yang sedang merancang masa depannya. Apa lagi lelaki itu sudah memberikan  kebebasan  padanya untuk memilih karena ia akan melepas untuk menata masa depannya sendiri.


“Mah, papa .... “ mata Hilda mulai berkaca-kaca karena keinginannya tidak dipenuhi mamanya.


Senyum tipis terbit di sudut bibir Dewi. Jika Hilda yang menginginkan, maka ia tak bisa menolak. Hilman pun sangat paham  itu.


.....


Ajeng merasa bimbang setelah mendengar alasan yang dikemukakan Hilman. Ia  merasa iba atas kondisi yang dialami Dewi hingga memerlukan perlindungan Hilman dalam mempertahankan aset almarhum suaminya.


Begitu pun dengan kondisi Hilda yang tidak seperti anak kebanyakan. Sejak kecil ia rentan terhadap penyakit. Imunnya tidak kuat. Hal itu lah yang membuat Ajeng memikirkan kembali segala ucapan Hilman untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.


“Mas membutuhkan kamu Diajeng ...“ Hilman berkata penuh harap, “Seperti  Lala yang membutuhkan kasih sayang seorang ayah, begitu pun Hilda. Hanya mas yang ia miliki saat ini....”


Ajeng tercenung mendengan ucapan Hilman. Ia sangat paham dengan perkataannya.


“Saya akan memikirkan semuanya mas,” suara lirih Ajeng membuat Hilman sedikit lega.


Ponsel yang berada di saku celananya berdering. Dengan cepat Hilman meraihnya. Ia melihat nama Dewi tertera di sana. Ada perasaan enggan untuk menjawab. Ia menyimpan ponsel di atas meja.


Deringan terus berbunyi. Ajeng melirik meja melihat ponsel yang bergetar. Sekilas ia melihat nama Dewi dengan pandangan Hilman yang tidak nyaman mengarah padanya.


“Angkat saja mas, mungkin penting,” Ajeng memberi saran pada Hilman yang masih berpikir untuk menjawab panggilan Dewi.


‘Assalamu’alaikum ....’ Hilman langsung menjawab panggilan telepon  Dewi yang tak berhenti berdering.

__ADS_1


‘Papa janjinya mau ajarin aku berenang. Kenapa belum  pulang?’  suara cempreng Hilda yang di speaker-kan Hilman terdengar di telinga Ajeng.


Hilman terkejut mendengar suara anak sambungnya.  Ia terlalu mengkhawatirkan kondisi Hilda yang belum stabil.


‘Baiklah, papa akan segera pulang,’ Hilman segera memutus kontak dan menyimpan ponsel kembali ke saku celananya.


Melihat Ajeng yang terus memperhatikan gerak-geriknya membuat Hilman tersadar bahwa ia tidak sendiri.


“Diajeng .... “ Hilman terpaku  menyadari bahwa ia masih bersama Ajeng.


“Pulanglah mas ... “ Ajeng berusaha berbesar hati melihat Hilman yang tampak sigap mendengar suara Hilda.


Ia melihat gambaran Lala pada Hilda yang begitu merindukan figur seorang ayah. Walau tak dapat ia pungkiri, kesedihan selalu ia rasakan saat  putri kecilnya menanyakan keberadaan sang ayah yang kini jauh diperantauan.


Setiap akhir pekan ia rutin membawa Lala menginap di kediaman mantan mertua yang sudah menganggapnya sebagai putri sendiri. Ia melakukan itu karena permintaan Nurita. Bagaimana mungkin ia mengabaikan keinginan Nurita yang selalu melimpahi putri kecilnya dengan kasih sayang dan materi.


Ponsel Hilman kembali berdering. Ia yang masih berpikir untuk melangkah pulang memenuhi keinginan Hilda kini kembali menyandarkan punggung di kursi tempatnya duduk saat ini.


Di tempat yang berbeda Dewi merasa gelisah karena sudah hampir 10 menit ponselnya tidak diangkat. Ia mencoba berpikiran positif bahwa Hilman dalam perjalanan pulang kembali ke rumah.


“Mah, papa kok lama sampainya?” pertanyaan Hilda kini kembali mengusik Dewi.


Keduanya  gelisah menunggu di teras rumah. Dewi menggelengkan kepala membayangkan prasangka negatif yang muncul di benaknya. Ia tersenyum sinis membayangkan wajah perempuan yang ia yakini telah menggoda Hilman sehingga takluk dan berencana untuk memulai hidup bersama kembali.


Ia yakin, perempuan yang bernama Ajeng hanya memanfaatkan harta Hilman. Namanya saja kampungan, penampilannya juga gak bagus-bagus amat.


“Huh!” Dewi mendengus tak senang mengingat tatapan Hilman yang begitu perhatian pada perempuan sederhana berhijab yang mereka temui di restoran kemaren.


Ia merasa dirinya lebih banyak kelebihan dibanding perempuan ‘ndeso’ yang diakui Hilman sebagai tunangannya.  Bagaimana mungkin ia membiarkan Hilman dimanfaatkan ‘wong ndeso’ yang hanya ingin pansos dengan menjadi tunangan bahkan istri suaminya di masa depan.


Dewi berpikir keras untuk mencegah terlaksananya keinginan Hilman untuk menikahi perempuan yang levelnya di bawah mereka. Jangankan di bawah, untuk yang selevel dengan mereka pun, mana mungkin ia setuju. Ia tidak sudi untuk berbagi suami.


Ia akan mengatur strategi sendiri. Di hadapan Hilman ia akan menjadi figur seorang istri yang akan mendukung apa pun keinginan sang suami yang akan mulai ia perjuangkan.


Tetapi disebalik itu, ia akan berusaha menjadi garda terdepan dalam menghalangi pernikahan yang menurutnya menjadi impian ‘wong ndeso’ yang akan morotin kekayaan suaminya.


***Dukung terus ya ... ***

__ADS_1


__ADS_2