Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family


__ADS_3

Sore  itu Ajeng diminta Nurita untuk mengantarkan oleh-oleh teh hijau yang ia bawa dari perkebunan teh saat kunjungan ke Bogor ke tempat Susilo. Ia tidak merasa keberatan, karena mereka semua adalah keluarganya.


Saat memasuki pekarangan, suasana tampak sepi. Ajeng yang saat ini hanya sendirian membawa mobil, karena Lala ingin menginap di rumah omanya. Supir yang biasa menemaninya kebetulan mengantar paket di luar kota.


Ajeng segera memarkirkan mobil di tempat yang lapang di halaman rumah om Susilo yang sangat luas. Setelah mematikan mesin, ia langsung meraih paper bag yang berisi kemasan teh hijau segar yang baru dipetik.


Riyanti sangat menyukai teh hijau, ia pun menjalani program diet yang salah satunya rutin mengonsumsi teh hijau.


Melihat suasana  yang sepi, Ajeng tetap memberanikan diri untuk mendekati rumah megah itu. Dengan cepat ia menekan bell yang berada di samping pintu besar berlapis kaca tebal.


Menunggu beberapa saat tidak ada pergerakan, kembali ia membunyikan bell sedikit lebih lama. Ia sudah berencana, jika tidak ada yang membukakan pintu, paper bag yang ia bawa akan digantungkan di pintu saja.


Pintu besar terbuka, sesosok tinggi berkaca mata berdiri tegak memandang Ajeng dengan serius.


“Assalamu’alaikum ...” Ajeng langsung mengucap salam melihat lelaki yang menatapnya dengan senyum ramah yang terbit di wajahnya.


“Wa’alaikumussalam warahmatullah,”  ia keluar dari pintu dan berdiri tegak di depan Ajeng.


“Saya menyampaikan titipan mama untuk tante Ranti,” Ajeng mengulurkan paper bag yang berada di tangannya.


“Putrinya tante Nurita kan? Saya Fajar.” Lelaki itu menyambut paper bag dari Ajeng dan  memperkenalkan dirinya.


Ajeng tak menjawab hanya tersenyum, “Saya permisi. Salam untuk tante Rianti. Assalamu’alaikum .... “


“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarkatuh....” lelaki muda itu mengangguk dan membiarkan Ajeng berlalu dari hadapannya.


....


Hari ini seluruh keluarga besar Nurita sedang ‘fitting’ baju untuk pernikahan Mayang yang waktunya kurang lebih dua bulanan lagi. Untuk kedua calon mempelai sudah ‘fitting’ seminggu yang lalu, sehingga baju akad dan resepsi yang rencananya akan digelar di kediaman Nurita sudah dalam proses pengerjaaan desainer yang merupakan teman dekat Mayang sendiri.


Kebetulan  keluarga Susilo beserta si kembar turut dalam fitting gaun. Si kembar terus menggoda Lala yang paling heboh diantara semua yang hadir.


“Bagaimana nak Fajar menurutmu?” pertanyaan Ranti menghentikan langkah Ajeng  yang berjalan menghampiri Lala yang sudah jalan di depan digandeng Ghea dan Gina.


“Fajar siapa tante?” Ajeng mengerutkan jidat berusaha mengingat nama yang disebut Ranti barusan.


“Ituu ... yang kemaren berkenalan denganmu saat mampir ke rumah,” Ranti menjelaskan dengan penuh semangat, “Sebelumnya tante kan udah bilang ke kamu, kalau ponakan tante itu masih jomblo....”

__ADS_1


Ajeng  mengerutkan jidat berusaha mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Kini kilas balik saat ke rumah Ranti. Senyum  tipis terbit di wajahnya teringat rupa lelaki muda berkacamata yang sangat ramah.


Akhirnya Ajeng menganggukkan kepala setelah raut berwajah tampan dengan senyum ramah itu hadir dalam benaknya.


“Lho, kok malah senyam-senyum?” Ranti jadi penasaran, “Ganteng kan? Udah cucok buat papanya Lala.”


“Ramah orangnya,” Ajeng menjawab dengan jujur.


“Simpatik kan?” Ranti memandang Ajeng penasaran, “Mau gak tante comblangin? Orangnya baik sama keluarga.”


“Mana ada orang mau sama jendes ....” Ajeng berkata santai sambil tersenyum.


“Eits ... jangan salah, jendes sekarang makin di depan. Apalagi seperti kamu yang ‘high value’,” Ranti memandang Ajeng dengan serius.


“Tante bercandanya kelewatan,” Ajeng  menanggapi perkataan Ranti dengan tertawa lirih.


“Gak masalah Jeng. Fajar juga usianya sudah 37 tahun. Dia masih lajang, belum pernah menikah, tapi mapan lo. Mamanya sama tante sodara....”


“Wuidiiih ... gencar amat promonya mah .... “ Ghea yang datang menggandeng Lala menggoda mamanya yang berupaya membuat Ajeng tertarik dengan omongannya.


“Hei, dari mana dapat es krim?” Ajeng tak menggubris ucapan Ghea karena terkejut melihat pipi gemoy Lala dipenuhi coklat hingga pakaian yang digunakannya terkena noda.


Ajeng membuka tas yang ia bawa untuk mengambil tisu dan membersihkan wajah putrinya dengan cepat.


“Eh, ada nak Fajar .... “ mata Ranti bersinar cerah melihat ponakannya sudah berada di antara mereka.


“Tante ... “ Fajar menghampiri Ranti  yang langsung dirangkulnya dengan erat.


“Ikut sekalian fitting baju ya?” Ranti menawari ponakannya itu.


“Tapi saya bukan anggota keluarga calon mempelai,” Fajar berkata dengan perasaan tak nyaman saat Ajeng memandang sekilas padanya.


“Tante udah bilang sama mbak Nurita, kamu juga ikut membantu menyukseskan acaranya Mayang....” Ranti berusaha meyakinkan Fajar yang masih nampak ragu.


Senyum ramah Ajeng tunjukkan pada lelaki berkaca mata itu, yang kini menganggukkan kepala padanya.


“Ini milik Lala ketinggalan mbak,” Gina mengulurkan paper bag yang padat berisi ke tangan Ajeng.

__ADS_1


“Tapi mbak gak ngerasa bawain Lala ... “ Ajeng tidak serta merta menerima paper bag itu.


“Tadi aku sama Ghea tu bawa Lala ke mini market depan. Eh kebetulan ada mas Fajar sekalian aja ditraktirin .... “ Gina menjelaskan sambil tangannya menoel pipi Lala yang kini sudah bersih.


“Terima kasih kakak .... “ Lala menyambut paper bag dengan perasaan senang, “Bunda, camilanku banyak sekali.”


“Bukan kakak yang belanjain semuanya, tapi  om Fajar.” Gina tersenyum manis pada Lala yang menatapnya dengan raut bingung.


Mata bulat dengan bulu lentiknya langsung beralih memandang Fajar yang tinggi menjulang.


“Terima kasih om,” dengan cepat Lala menyunggingkan senyumnya pada Fajar yang akhirnya berjongkok di hadapannya.


“Sama-sama putri .... “ Fajar menatap bocah mungil itu dengan raut bahagia.


Ia memang menyukai anak kecil. Adik bungsunya yang di Semarang sudah menikah dan memiliki sepasang anak kembar yang seusia Lala. Memandang gadis kecil yang kini menatapnya dengan polos membuat kerinduannya dengan Reihan dan Meila terobati.


“Bilang aja kalian berdua nodong mas mu,” Ranti tidak percaya dengan si kembar yang suka mengganggu sepupunya itu.


Ia udah tau bagaimana Fajar memanjakan kedua sepupunya seperti adik sendiri dan menuruti  kemauan mereka untuk jajan setiap awal bulan dengan mendatangi kafe baru yang semakin menjamur.


“Mas Fajar kan udah gajian ma. Sudah waktunya berbagi dengan sepupunya yang fakir ini ....” Ghea turut menguatkan perkataan saudarinya tak memperdulikan Fajar yang masih berbicara dengan Lala.


“Eh gak boleh bilang gitu!” Ranti langsung menegur Ghea.


“He he ... iya deh mamaku sayang. Mas Fajar kan berbagi kebahagiaan dengan adik-adiknya yang super kece ini,” Ghea tersenyum dengan tanda ‘peace’ di jarinya membuat Ranti hanya geleng-geleng kepala.


“Kita doain deh, moga jodohnya pak dosen ini orangnya seperti malaikat. Cantik, baik hati, tidak sombong ....”


“Omonganmu itu mulai ngelantur,” Ranti menoel hidung bangir Gina yang masih merapalkan doa untuk Fajar yang kini menggendong Lala yang sudah kecapean.


Semenjak mutasinya di ITS sebagai dosen, Ranti langsung menawarkan ponakannya itu untuk tinggal bersama. Ia tau bahwa Fajar seorang yang anak yang sangat penyayang dan sangat peduli dengan keluarga. Ia menyayangi adik perempuannya yang kini sudah menikah dengan seorang dokter dan pindah ke Yogya.


Saat ia dan Susilo belum memiliki anak,  Fajar yang masih bayi sudah biasa ia bawa kemana pun, karena kesibukan mama dan papanya yang bekerja sebagai ASN di pusat pemerintahan kota Semarang.


Fajar tidak menolak keinginan tantenya itu. Ia pun merasa akrab dengan si kembar yang kini sudah menjadi mahasiswinya. Tentu saja tugasnya tidak ringan, selain mengajar, ia pun harus menjaga sepupunya dari godaan mata-mata liar tak bertanggung jawab di kampus.


“Udah pantas kamu punya anak sekarang le .... “ Ranti kembali berkomentar membuat Ajeng merasa tidak nyaman.

__ADS_1


“Udah lama nunggunya?” suara ramah Nurita menghentikan ucapan Ranti.


***Mohon maaf atas gaya menulis otor yang mungkin terlalu bertele-tele bagi sebagian readerku tersayang. Tapi perlu otor sampaikan\, dalam membuat  kisah terkadang feel itu yang otor cari\, sehingga ceritanya lebih mengena\, dan kesannya tidak terlalu terburu-buru. Tapi otor sangat berterima kasih atas saran\, ide serta komen yang disampaikan.  Otor lebih semangat untuk melanjutkan kisah Ajeng hingga tamat dengan akhir yang membahagiakan ... Lup yu .... ***


__ADS_2