
Perasaan hampa menyergap sanubari Bisma begitu menginjakkan kaki ke rumah tempat ia dilahirkan hingga bertumbuh menjadi manusia dewasa. Sudah dua tahunan ia tidak pernah berkunjung ke sana semenjak melanjutkan pendidikan hingga bertugas di tempat yang baru.
Masih ada kenangan dan bayangan Ajeng yang hingga detik ini belum sepenuhnya lepas dari benaknya. Waktu memang berjalan menjauh, tetapi tidak dengan hati dan rasa yang masih tersisa.
Selama ini ia memang menutup informasi tentang Ajeng dengan mengalihkan segala pikiran untuk membuang sosok yang masih bertahta di benaknya. Ia sangat yakin bahwa Ajeng telah bahagia dengan pilihan dan kehidupan barunya.
Ia sendiri belum ada keinginan untuk memulai kembali. Masih banyak hal yang harus ia pertimbangkan untuk mencari pendamping hidup. Walau pun kedekatan ia dan Siska telah banyak menimbulkan asumsi di lingkungan kerja namun tak membuat Bisma mudah untuk membuka diri terhadap pertemanan yang ditawarkan siapa pun termasuk Siska.
Hiruk pikuk pekerja yang mulai memasang tenda untuk pernikahan Mayang begitu kentara menyambut kedatangannya. Dengan tas ransel seadanya Bisma memasuki pekarangan rumah yang mulai ramai.
“Eh nak Bisma ... “ seruan Dini yang baru keluar dari dalam rumah menghentikan langkahnya yang bersisian di pintu masuk.
“Assalamu’alaikum tante .... “ Bisma memberi salam pada adik almarhum papa satu-satunya yang cukup dekat dengannya.
“Wa’alaikumussalam,” senyum cerah terukir di wajah tande Dini yang tampak masih segar di usia senjanya, “Bagaimana kabar cah Bagus?”
“Alhamdulillah tante,” Bisma membalas senyum tante Dini sambil menganggukkan kepala takjim.
“Udah lama gak ketemu, makin sueger aja kamu,” tante Dini terus merecokinya, “Mamamu bilang, setelah Mayang kamu pun akan segera berumah tangga .... “
Bisma tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar perkataan tante Dini yang mulai ngelantur. Ia sendiri belum pernah membicarakan apa pun tentang masa depannya serta perempuan yang akan mendampinginya di masa depan.
“Eh ... kapan kamu tiba Le?” suara pak de Susilo saudara lelaki mamanya menginterupsi keduanya.
“Barusan pak de .... “ dengan cepat Bisma menjawabnya.
Suara riuh rendah semakin terdengar dari ruang keluarga. Melihat keberadaan pak dhe Susilo beserta keluarga serta tante Dini membuat Bisma yakin bahwa keluarga besar mulai meramaikan rumah mamanya yang biasa sepi.
“Saya ke dalam dulu pak de, tante .... “ tanpa mengharap jawaban keduanya Bisma berjalan memasuki rumah yang semakin meriah dengan dekor yang mulai tertata.
Dari kejauhan ia melihat mamanya yang sedang berkoordinasi dengan beberapa perempuan termasuk salah satunya tante Ranti yang sedang duduk di ruang keluarga.
Tak ingin membuang waktu Bisma melesat ke lantai atas menuju kamarnya. Ia ingin membersihkan diri terlebih dahulu. Perjalanan dari Bogor ke Surabaya membuatnya merasa gerah. Apalagi Surabaya belum terguyur hujan dalam sebulan belakangan ini, membuat cuaca panas menyengat.
Ia ingin mandi terlebih dahulu sebelum bercengkrama dengan keluarga besarnya. Tak bisa ia sembunyikan detak jantung mulai berkejaran membuat ia menahan nafas berusaha menetralisir perasaannya.
Ia belum melihat sosok yang ingin ia hindari. Walau semuanya sangat tidak mungkin. Apalagi kedekatan Ajeng dengan keluarganya membuat mereka tidak ingin mengenyampingkan Ajeng dalam kehidupan mereka. Mau tidak mau, kali ini Bisma harus siap jika waktu menemukan mereka kembali.
__ADS_1
“Kapan sampai?” pertanyaan Mayang menyambut kehadirannya begitu duduk di samping mama yang terpana tak menyangka.
“Udah satu jam yang lalu,” jawab Bisma santai.
Matanya terfokus pada sesosok anak perempuan kecil yang duduk manis bermain barbie di samping mamanya.
Kontan saja Nurita terpaku melihat kehadiran Bisma yang diluar dugaannya. Rasa bahagia bercampur kesal mengaduk perasaannya. Bagaimana tidak, Bisma telah mengasingkan diri tanpa pernah mengunjunginya selama menyelesaikan pendidikan di London.
Memang komunikasi mereka sangat lancar dan intens melalui ponsel. Tetapi kerinduan akan kehadiran sang putra membuatnya tak bisa menahan air mata melihat kedatangan putra bungsunya yang hilang dari pandangan mata.
Pada kenyataannya pertemuan mereka di Bogor tidak akan menghilangkan kerinduannya sebagai seorang ibu pada putranya sendiri.
“Dasar cah gendeng,” pukulan mamanya membuat Bisma tergelak.
Ia langsung memeluk bahu mamanya yang masih kesal karena sikap keras kepalanya yang tidak ingin pulang sebelum pendidikannya yang memakan waktu hampir tiga tahunan selesai.
“Sayang, lihat siapa yang di samping eyang?” suara Nurita memanggil cucu kesayangannya yang masih asyik dengan dunianya.
Lala langsung mengalihkan pandangan pada omanya. Mata indahnya menatap Bisma dengan perasaan bingung.
“Ayah .... “ suara lembutnya terdengar perlahan di telinga Bisma.
Bisma melambai-lambaikan tangannya sambil berdiri berharap putri kecilnya datang mendekat.
Dengan cepat Lala berlari padanya dengan senyum yang berubah menjadi tawa lebar dari wajah imutnya.
Hap ....
Bisma langsung meraih dan merengkuh Lala dengan erat. Rasa bahagia serta kehangatan mengaliri hatinya. Baru kali ini ia merasakan kerinduan yang sangat besar langsung terobati dengan kehadiran bidadari kecilnya yang sudah lama tidak bersua.
Aroma wangi bedak bayi memanjakan indera penciumannya. Ia menghirup kelembutan putrinya dengan perasaan yang sukar dilukiskan. Rasa haru menyeruak memenuhi dada.
Rasa cinta dan sayangnya semakin berlipat melihat tumbuh kembang putrinya yang selama ini hanya dilihat melalui ponsel mamanya.
“Panas ayah .... “ suara lirih Lala membuat Bisma tersadar.
Dengan cepat ia melepaskan pelukan dan membawa Lala duduk di pangkuannya kembali di samping Nurita.
__ADS_1
“Anakmu udah segede ini. Kamu masih saja memikirkan diri sendiri ....” Nurita berkata serius sambil menatap Bisma tajam.
Irma istri pak dhe Susilo bangkit dari duduknya membiarkan keluarga kecil itu bercengkerama saling melepas rindu setelah sekian lama berpisah.
“Benar mah,” sela Mayang cepat.
“Tapi aku tidak melalaikan keperluan hariannya ma ....” bela Bisma seketika.
Jemarinya membelai rambut hitam lebat Lala. Putrinya begitu anteng dalam pangkuannya, karena Bisma memberikan ponselnya sehingga Lala bisa menonton kartun kegemarannya.
“Ayah, Lala mau es krim ....” perhatiannya pada ponsel teralihkan begitu melihat iklan es krim muncul di layar yang ia tonton.
“Kaka gak boleh makan es krim lagi .... “ Mayang menggoyangkan satu jarinya dengan ekspresi tegas.
“Ayo, kita jalan cari es krim .... “ dengan santai Bisma mengangkat putri kecilnya dan menggendong untuk dibawa pergi.
“Ayah, Lala sudah gede....” protes Lala dengan sikap ayahnya yang menggendong dengan erat.
“Kaka, nanti dimarahin bunda lho ... “ Mayang memandang Bisma dengan tajam.
Jantung Bisma berdetak seketika. Padahal belum berjumpa orangnya. Mendengar ucapan Mayang membuatnya memandang putrinya dengan lekat yang kini tertunduk lesu.
“Bunda kan udah bilang. Kaka boleh makan es krim cukup satu kali sehari. Tadi siang kan udah ....” suara Mayang langsung melembut melihat ponakannya yang terpekur menatap lantai.
Ia menyadari bahwa baru kali ini interaksi terjadi antara ayah dan anak tersebut. Bagaimana mungkin ia mematahkan hati ponakannya disaat pertama kali ia berjumpa dengan sang ayah.
“Maafkan mami sayang .... “ melihat wajah sedih di muka cantik Lala yang ia biasakan untuk memanggil mami padanya, membuat Mayang tersadar, “Kaka boleh jalan beli es krim sama ayah. Tapi janji, makannya satu saja. Sisanya bisa disimpan untuk besok lagi ya ....”
Suara Mayang yang langsung melembut, membuat Lala mengangkat wajahnya. Matanya yang tadi berkabut, langsung cerah kembali.
“Terima kasih mami cantik ....” Lala langsung memeluk Mayang dengan erat.
“Pandai merayu sekarang ya....” Mayang terkikik sambil mencium kening ponakannya itu dengan penuh kasih.
“Kalau om Dimas mampir kemari biar tak jewer telinganya,” Nurita berkata penuh canda, “Mosok cucu oma diajarin yang gak bener.”
“Bener sih ma,” Mayang menjawab cepat, “Biar pun sudah berumur, mama itu masih cantik. Tanya aja sama Om Dasuni pensiuman TNI yang rumahnya paling ujung. Sering tuh nanyain mama ....”
__ADS_1
“Ck ck ck .... “ Nurita menggelengkan kepala mendengar ucapan Mayang.
Memang keberadaan Dimas yang biasa main bersama Ajeng dan Lala membuat rumah mereka yang sepi jadi berwarna. Adik lelaki Ajeng itu memang pandai membuat rame suasana, apalagi kalau pas bertemu si kembar, bisa semalaman gak pake tidur, asyik bercerita hingga pagi menjelang.