Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 56 Perhatian Sigit


__ADS_3

Sebuah pesan gambar masuk ditandai dengan bergetarnya ponsel di atas meja kerja Ajeng saat ia baru saja meletakkannya.


“Ngapain nikah jauh bener hingga di Makasar .... “ chat Sigit disertai sebuah foto yang menampakkan seorang lelaki sedang bersalaman dalam pakaian serba putih.


Deg ....


Mata Ajeng membulat ketika melihat lelaki yang ia tunggu kabarnya berada di dalam frame dengan wajah yang kelihatan serius sedang dalam kondisi mengucap ikrar ijab.


Ia tidak tau harus berkata apa, tapi wajah Hilman yang terpampang jelas bersalaman dengan seorang yang ia yakini sebagai penghulu begitu nyata di layar ponselnya.


“Ya Allah ... apalagi ini?” gumam Ajeng lirih.


Rasanya ia tidak mempercayai apa yang ia lihat. Bagaimana mungkin lelaki yang baru saja mengikat dirinya dengan cincin yang kini melingkar di jemari telah mengukir janji suci dengan perempuan yang tidak ia ketahui.


Ia melihat dengan seksama jam yang tertera pada gambar yang dikirim Sigit. Tampak tertulis 10.00 Wita. Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 09.00 Wib.


Detakan jantung Ajeng melaju cepat. Bagaimana mungkin Hilman melakukan pernikahan sementara mereka telah berjanji untuk memulai bersama dalam jangka waktu yang tidak lama lagi.


Ia tidak tau harus berkata apa. Pikirannya buntu sesaat. Matanya nanar menatap wajah Hilman pada ponsel yang ia pegang. Ia harus mencari kebenaran dari gambar yang telah dikirim Sigit.


Dengan cepat ia menghubungi nomor Hilman. Ia tidak ingin terombang ambing dengan ketidak pastian.  Beberapa saat berlalu, panggilan videonya belum terjawab. Tapi Ajeng terus menerus mengulang menghubungi nomor  yang sampai saat ini masih belum menjawab panggilannya.


Ajeng tidak putus asa, ia terus menghubungi ponsel Hilman. Pikirannya semakin tidak tenang, karena belum ada berita darinya. Percuma ia mengeluarkan beberapa buku laporan dari pegawai kafe resto untuk ia cek, jika pikirannya dalam kondisi kacau.


Panggilannya  kali ini terjawab. Dengan perasaan berdebar Ajeng melihat wajah yang berada di layar ponsel.


“Maaf, suami saya sedang sibuk .... “ seorang perempuan cantik dengan mengenakan gaun putih lengkap dengan siger di kepalanya berbicara pada Ajeng dengan raut tidak suka.


Ajeng terhenyak. Bibirnya terkunci, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.


“Tolong jangan hubungi suami saya lagi .... “ perempuan cantik itu langsung mematikan sambungan telponnya.


“Astagfirullahaladjim .... “ Ajeng bergumam dalam hati.


Ia menekan dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Baru saja ia mulai merajut asa untuk merenda masa depan yang bakal ia jalani, tiba-tiba berita dari Sigit serta kenyataan yang ia terima barusan membuatnya tak bisa  bernafas dengan benar.


Panggilan masuk dari Sigit membuat Ajeng langsung tersadar dari  kegundahan hatinya.


“Assalamu’alaikum .... “ Ajeng menjawab vc-an Sigit dengan lemah.


“Jeng, kamu baik-baik saja?” nada khawatir begitu kentara saat Sigit melihat perempuan yang pernah menjadi bawahannya.


“Iya pak,” lirih Ajeng hampir tak terdengar.


“Maafkan aku, foto itu dikirim Andro temanku yang berada di Makasar ....” suara Sigit terdengar kesal.


“Tidak apa-apa pak. Terima kasih,” Ajeng menjawab dengan lesu.

__ADS_1


“Perempuan yang dinikahi Hilman adalah ponakannya,” terdengar suara Sigit disertai helaan nafasnya.


“Berarti saya memang belum berjodoh dengan beliau,” sela Ajeng cepat.


Ia tidak ingin Sigit iba atas apa yang ia hadapi saat ini. Ia sudah terbiasa kecewa dan mengobati luka seorang diri. Air mata sudah menjadi temannya dalam menjalani kehidupan.


Panggilan Sigit berubah ke video. Sebenarnya Ajeng enggan untuk mengalihkan, tapi ia menghargai perhatian yang diberikan mantan atasannya itu.


Tatapan empati terlihat saat Ajeng melihat layar ponsel yang menampakkan wajah Sigit yang memandangnya dengan lekat.


“Sedih amat pak?” tak tahan Ajeng langsung mengatakan apa yang ada dipikirannya.


Sigit mengangkat bahu tanpa mengucapkan apa pun. Walau pun Ajeng berusaha ceria, tapi tak bisa disangkal, mendung tetap saja mengiasi  wajahnya.


“Andai saya bisa merubah dukamu menjadi bahagia .... “


Sigit tak terasa berucap dengan pelan membuat Ajeng mengerutkan dahi atas perkataan yang keluar dari bibirnya.


“Bapak apaan si .... ?”


“Saya serius Jeng,” akhirnya Sigit langsung mengungkapkan apa yang ia simpan di hatinya.


Memang hanya enam bulan mereka bekerja satu atap. Selama mereka satu tim, banyak nilai plus yang ia lihat dari teller seniornya. Kinerja Ajeng serta kepribadian yang menyenangkan tergambar dari kesehariannya, membuat Sigit menemukan sosok yang memenuhi kriteria untuk menjadi pendamping.


Tapi sayang, perempuan yang begitu sempurna di matanya telah memiliki kehidupan yang mapan. Kalau saja Ajeng masih sendiri, ia akan berjuang untuk mendapatkannya hingga menjadi pendampingnya.


“Candaan bapak gak lucu,” Ajeng masih santai dengan perkataan Sigit.


“Bagaimana lagi caraku untuk meyakinkanmu?”


Mendengar penolakan halus yang diucapkan Ajeng tak membuat Sigit patah semangat. Ia tau, memang perlu waktu untuk meyakinkan perempuan yang satu ini.


“Gak perlu pak. Lebih nyaman sendiri.”


Ia hanya geleng-geleng kepala dengan tanggapan Ajeng atas perasaan yang sudah ia ungkapkan.  Melihat senyum yang terbit di wajah Ajeng membuatnya merasa lega. Paling tidak ia telah mengurangi kesedihan di wajah manis yang sangat ia kagumi dan akan ia perjuangkan di masa depan.


“Syukurlah,” Sigit akhirnya membalas senyum Ajeng yang begitu teduh dan menenangkan.


Ia akan menunggu kesiapan Ajeng untuk mulai membuka hati kembali. Dan ia berharap, semoga dirinya mampu untuk membuat Ajeng memikirkan masa depan dimana ada dirinya yang akan membersamai.


“Terima kasih atas perhatiannya pak,” Ajeng langsung mematikan ponsel.


Ia ingin menenangkan pikiran sebelum berbicara dengan Dimas. Ia tidak peduli dengan pendapat orang lain. Dan tak kalah penting ia harus membicarakan semuanya dengan Hilman si pelaku utama.


.....


Ajeng baru selesai mengadukan permasalahan hidup yang ia rasa cukup menyita pemikirannya kepada sang Khalik di keheningan malam. Ketenangan menyusupi sanubarinya terdalam.

__ADS_1


Ia sudah siap untuk membicarakan permasalahan yang ia hadapi dengan Dimas. Adiknya harus tau bahwa hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja, bahkan bisa berakhir kapan saja.


“Ada apa mbak memanggil saya?”  Dimas menghampiri Ajeng yang sudah menunggunya sejak 20 menit lalu di ruang keluarga mereka.


Ia baru saja pulang dari sekolah. Untung saja kegiatan belajar sudah tidak full, karena ia sudah menginjak kelas akhir di SMK.


“Ada hal penting yang ingin mbak bicarakan,” ujar Ajeng sambil menghela nafas pelan.


“Apa ini berkaitan dengan mas Hilman?” Dimas langsung menebak yang dibalas anggukan Ajeng.


“Mas Hilman sudah menghubungi?” pertanyaan Dimas kembali memberondongnya.


“Belum,” Ajeng menjawab sambil mengangkat bahu.


“Lalu apa yang ingin mbak ceritakan?” Dimas menatap lekat saudara perempuannya yang kini tampak murung.


“Mungkin aku dan mas Hilman belum jodoh .... “ lirih Ajeng hampir tak terdengar.


“Apa ada hal lain yang ingin mbak katakan?”


Ajeng langsung membuka ponsel dan menunjukkan foto yang dikirim Sigit tiga hari yang lalu.


Mata Dimas langsung membulat begitu melihat gambar di ponsel Ajeng. Wajahnya menegang.


“Jangan-jangan ini hanya editan orang yang tidak suka dengan hubungan mbak dan mas Hilman .... “ Dimas berusaha mengingkari apa yang ia lihat.


“Ini benar. Pak Sigit yang telah mengklarifikasinya,” jawab Ajeng serius.


“Ini tak bisa dibiarkan,” Dimas mengepalkan jemari penuh emosi.


Ia tidak terima jika Hilman hanya mempermainkan kakaknya. Cukup satu kali Ajeng merasakan kegagalan berumah tangga, ia tidak akan membiarkan siapa pun lagi menyakiti hati orang terdekat yang sangat ia sayangi.


“Aku akan menuntut pertanggung jawabannya!” tegas Dimas.


“Gak usah!” potong Ajeng cepat.


“Ini gak bisa dibiarkan!” tegas Dimas berapi-api.


“Mbak gak pa-pa,” Ajeng berusaha menenangkan Dimas, “Lebih baik gagal di awal dari pada udah jadian .... “


Dimas terdiam mendengar ucapan Ajeng yang memang banyak benarnya. Ia memandang lekat saudari perempuannya yang begitu tabah dalam menjalani problematika kehidupan yang hingga detik ini masih samar-samar dalam menemukan kebahagiaan hakiki.


“Lantas apa yang akan mbak lakukan?” akhirnya volume suara Dimas yang sempat naik langsung normal.


“Tentu saja mbak akan minta penjelasan mas Hilman,” Ajeng berkata dengan penuh keyakinan.


Ia tidak akan menyalahkan semua yang telah terjadi. Tentu saja ada sebab dan akibat atas semua peristiwa yang telah terjadi. Dan ia sangat yakin semua sudah menjadi ketetapan Yang Kuasa.

__ADS_1


***Maafkan otor ya curhat dikit\, mungkin ada yang kecewa dengan kelanjutan kisah Ajeng dan Bisma. Karena saat  otor mulai nulis\, udah kebayang endingnya. Walau berproses  tapi sudah terbingkai akhirnya. Jadi jika ada yang kurang suka dengan kisahnya otor harap maklum. Sayang selalu untuk reader semua .... ***


__ADS_2