Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 53 Kepergian Bisma


__ADS_3

“Jadi bapak akan pergi?” siang itu Ibnu sedang membantu Bisma beberes di ruang kerja yang akan ia tinggalkan dalam waktu satu bulan ke depan.


“Benar Nu,” jawab Bisma sekilas.


Ia sudah membicarakan dengan mama dan Mayang seminggu yang lalu. Keduanya pun tidak mampu menahan keinginan Bisma untuk melanjutkan tugas belajar di negeri King Charles.


Segala paspor dan visa tinggal untuk menetap dalam rangka melanjutkan pendidikan sudah diurus semua, tinggal menunggu keberangkatannya yang tidak akan lama lagi.


Karena keinginan rujuk dengan Ajeng tak mungkin terjadi, sudah saatnya ia pamit undur diri. Bukannya ia tak sedih dengan semua yang ada? Tapi Bisma sadar, itu adalah kesalahan yang harus ia bayar atas perbuatan dan sikapnya di masa lalu.


Mengingat ucapan Mayang yang menasehatinya untuk tidak mengganggu Ajeng dan kehidupan yang ia pilih demi kebahagiaannya di masa depan. Terus terang Bisma tidak terima dengan perkataan Mayang  yang merestui hubungan Ajeng dan Hilman.


Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah tidak memiliki hak atas Ajeng. Sudah terlalu banyak kesedihan yang ia berikan.


Ia tau, Ajeng sangat pandai menutupi kondisi rumah tangga mereka. Bahkan mama dan Mayang pun tidak tau, bagaimana sikap dinginnya dalam rumah tangga yang ia bina bersama Ajeng.


Dari ucapan Mayang yang bernada sindiran, akhirnya Bisma harus mengaku kalah. Dan ia siap menjalani konsekuensi atas perbuatannya dan akan memberikan kebahagiaan pada Ajeng dengan membiarkan ia memilih jalan hidupnya sendiri.


“Nu, tolong titip ini pada Ajeng.” Bisma mengulurkan dua berkas pada Ibnu yang memandangnya dengan dahi berkerut.


“Apa ini Pak?” jiwa kepo Ibnu membuatnya tak bisa menutupi rasa ingin tahu yang teramat besar.


“Ada dua map di dalamnya,” Bisma berkata seadanya, “Ku harap kamu langsung memberikan ke tangan Ajeng, jangan dititipi yang lain.”


Mendengar jawaban tegas Bisma membuat Ibnu tak berani melanjutkan rasa ingin tahunya lebih dalam. Ia yakin pasti ini surat penting yang tidak sembarang orang mengetahuinya.


“Apa bapak tidak ingin bertemu mbak Ale, mengucapkan ‘say goodbye’ secara langsung?” Ibnu memandang wajah atasannya yang tampak muram.


“Kamu itu aneh-aneh saja,” Bisma menolak saran Ibnu, walau dalam hati kecilnya ingin bertemu dan melihat wajah Ajeng sebelum keberangkatannya ke London.


Ia ingin mematri wajah ayu itu dan mengukirnya mendalam untuk menemani kesendiriannya di negeri seberang. Karena sampai detik ini, tatapan dengan sorot luka itu masih terbayang kuat di pelupuk matanya.


“Paling tidak, bapak bisa mengucapkan salam dan mendoakan kebahagiaan pada mbak Ale yang akan segera mengakhiri masa lajangnya bersama mas Hilman.” Bibir lemes Ibnu kembali menggores hati Bisma yang harus menelan pil pahit kegetiran akan kisah cinta yang baru saja ia alami tetapi tak berakhir seperti yang ia inginkan.


Cinta yang tak ia pupuk, bahkan jatuh di tempat yang salah. Begitu panah membidik hati, ternyata cintanya telah pergi.


“Rasanya aku tak sanggup menyaksikan mereka duduk bersama di pelaminan,” bibir Bisma bergetar saat mengucapkannya, “Apalagi saat petani itu menyebut nama Ajeng di hadapan semua orang ….”


Mendengar keterus terangan Bisma membuat Ibnu tau, bahwa Bisma tidak siap dan belum rela melepas Ajeng bersama lelaki lain. Ia langsung terdiam tidak berani bersuara lagi. Hanya tinggal suara kertas yang menemani keduanya dalam keheningan di meja kerja Bisma.


….

__ADS_1


Ajeng sedang menyiapkan sarapan ketika Dimas datang menghampirinya di pagi Minggu yang cerah itu.


“Mbak, ada temannya mas Bisma menunggu di luar,” ujar Damar sambil menyeruput jus Alpukat yang terhidang di meja makan.


“Siapa?” Ajeng mengerutkan jidatnya dengan perasaan heran.


Memang ia akui, sejak percakapan terakhir mereka sebulan yang lalu, ia tidak pernah bertemu Bisma lagi. Kalau pun datang, mereka tidak pernah bersua, karena Bisma hanya menemui Lala. Ajeng pun tak ada keinginan untuk menghalangi pertemuan ayah dan anaknya.


Ia belum siap untuk berhadapan langsung dengan Bisma, bayangan Deby dengan kata-kata merendahkan dan tuduhan kejinya membuat Ajeng enggan bertemu bahkan berbicara dengannya.


Ia tidak tau kapan waktunya tiba, yang pasti sekarang ia lebih nyaman tidak bertemu dengannya sama sekali. Mendengar namanya saja Ajeng malas, apalagi bertemu orangnya.


“Gak tau juga. Kayaknya sih sopir yang biasa bersama mas Bisma,” Dimas berkata sambil mengangkat bahu.


“Kamu aja gih, mbak males.” Ajeng tetap sibuk mempersiapkan sarapan Lala yang pengen makan sosis serta nugget ayam.


“Katanya penting mbak. Gak boleh diwakilkan,” Dimas berusaha meyakinkan Ajeng untuk menemui tamunya.


“Kenapa mesti ribet,” Ajeng ngomel di hadapan Dimas karena kesibukannya jadi terganggu.


Bertambah umurnya yang kedua tahun Lala semakin pintar. Makannya selalu pilih-pilih dan harus bernilai estetik. Ia tidak akan mau makan yang tampilannya biasa-biasa aja. Semua harus ditata ber-tema.


“Mbak lagi ngapain?” Dimas jadi penasaran dengan Ajeng yang masih menata  sarapan estetis bagi Lala, “Wuidih, cantik amat menunya. Jadi pengen coba.”


“Hus!” Ajeng langsung memukul tangan Dimas yang mencomot nugget yang sudah ia susun dengan telur puyuh bermata.


“Sakit mbak,” Dimas meringis karena keinginannya untuk mencicipi makanan cantik itu terhalang capitan tajam jemari Ajeng.


“Ponakanmu itu kalo gak ditata begini gak mau makan. Heran mbak dengan seleranya sekarang,” Ajeng menggelengkan kepala setelah tatanan nasinya sempurna.


“Gak usah heran, siapa dulu dong ayahnya?” Dimas berkata dengan santai, “Gak mungkinlah ayahnya pejabat, selera anaknya tiwul. Apa kata dunia?”


Ajeng tercengang mendengar ucapan Dimas. Bagaimana ia melupakan gen Lala. Sedikit banyak itu akan mempengaruhi tumbuh kembang putrinya.


“Lumayan ….” Dengan cepat Dimas memasukkan nugget yang masih tersedia di wadah lain.


Ia tidak berani mengganggu hasil karya Ajeng. Khawatir capitan Kala jengking mampir di lengannya yang masih membekas merah.


“Mbak, cepetan! Tamunya kelamaan nunggu,” Dimas kembali mengingatkan Ajeng yang masih sesempatnya membersihkan meja kompor.


Dengan terpaksa Ajeng melangkah meninggalkan dapur berjalan keluar untuk menemui sosok yang ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


“Selamat siang mbak Ale….” Senyum Ibnu terkembang begitu ia tiba di hadapannya yang masih berdiri tegak di teras rumah.


“Ya mas Ibnu. Ada yang bisa saya bantu?” Ajeng tak ingin berbasa-basi lebih lama.


“Saya ingin menyampaikan amanah dari pak Bisma untuk mbak Ale.” Ibnu langsung mengulurkan amplop besar yang ia keluarkan dari tas kerjanya.


Ajeng mengerutkan jidatnya dan belum memutuskan untuk menerimanya atau tidak. Ia tidak tau apa yang ada di dalam map yang kelihatan tebal itu.


“Tolong diterima mbak,” Ibnu memandangnya penuh harap dengan tangan yang masih bergantung di udara, “Mbak boleh buka langsung di hadapan saya.”


Setelah terdiam beberapa saat, Ajeng meraih amplop besar itu dan membukanya langsung di depan Ibnu.


“Boleh saya duduk mbak? Udah capek juga dirinya ….” Ibnu berterus terang tanpa merasa canggung di hadapan istri atasannya.


Walau bagaimana pun ia menganggap Ajeng istri Bisma, karena belum ada kertas yang melegalkan perpisahan keduanya.


“Maaf mas Ibnu. Iya, silakan.” Ajeng langsung mengiyakan permintaan Ibnu yang kini duduk di kursi santai.


Mata Ajeng terpaku menatap surat persetujuan pengajuan permohonan cerai yang sudah ditanda tangani Bisma. Ia kembali menatap Ibnu yang masih memandangnya.


“Pak Bisma telah meminta saya untuk menemui pihak pengadilan Agama. Beliau berpesan untuk memberikan dokumen ini pada mbak Ale untuk mengurus semuanya,” Ibnu berkata dengan nada sedih, “Bapak mendo’akan semoga mbak Ale menemukan kebahagiaan yang tidak pernah beliau berikan selama kebersamaan bapak dan mbak Ale.”


Saat mengatakan hal itu pada Ajeng, ia terbayang kembali wajah muram Bisma yang menceritakan isi hatinya yang terdalam tanpa menyembunyikan apa pun. Sebagai sesama lelaki, Ibnu turut merasakan kegalauan atasannya tentang hubungan yang sebentar lagi akan berakhir dengan terbitnya sebuah akta cerai.


“Terima kasih mas,” Ajeng tersenyum tipis.


Rasanya ada sesuatu yang tergores di sudut hatinya mendengar cerita Ibnu. Tapi ia tidak ingin membesar-besarkan apa yang sempat terbersit di hatinya atas keputusan Bisma. Kini ia merasa lega. Statusnya akan jelas, dan tidak menggantung lagi. Semua akan mempermudah urusannya di masa depan.


Matanya kembali tertuju pada sebuah map yang berada di bawah dokumen perceraian yang telah dilengkapi tanda tangan Bisma. Ia terkejut begitu membukanya. Sebuah sertifikat tanah yang berisi beberapa kolam lele dengan ukuran yang sangat luas kini telah beralih atas namanya.


“Ini ….?” Tak ayal Ajeng memandang Ibnu dengan raut bingung.


Bagaimana tidak, ini kejutan yang sangat tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bisma telah memberikan kolam lele yang mereka pikir telah dibeli orang dari luar kota. Kini sertifikat itu ada di tangannya bahkan kepemilikan atas namanya.


“Hanya ini yang bisa diberikan pak Bisma untuk mewujudkan keinginan mbak Ale memiliki budidaya lele sendiri,” Ibnu berusaha menjelaskan seperti apa yang dikatakan Bisma padanya.


Ajeng tak mampu berkata-kata. Kejutan demi kejutan diberikan Bisma setelah apa yang terjadi diantara mereka berdua.


“Pak Bisma akan berangkat siang ini ke London,” Ibnu melanjutkan perkataannya, “Beliau akan melanjutkan studi di sana sekitar 3 tahun.”


Ajeng hanya manggut-manggut tak mampu berkata-kata. Ia pun tidak tau apa yang mesti ia katakan untuk menjawab Ibnu yang terus menceritakan keputusan Bisma untuk pergi.

__ADS_1


__ADS_2