Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 71 Lamaran Mayang


__ADS_3

Ajeng terkejut melihat mantan mertuanya santai menemani Lala bermain di ruang keluarga saat ia baru tiba dari salah satu unit usahanya di pinggiran kota Malang. Ia tak menyangka akan dikunjungi omanya Lala di hari Sabtu yang sangat cerah ini.


“Assalamu’alaikum mama, mbak Mayang....”  Ajeng langsung menyalami mertuanya dan Mayang yang masih asyik duduk lesehan bersama Lala di ruang keluarga rumahnya.


“Wah, makin berkembang saja usahamu,” Mayang menatapnya dengan senyum mengembang.


Nurita memeluk mantan menantunya dengan penuh sayang. Ia melihat cucunya semakin cantik dan sehat walau pun jauh dari sang ayah.


“Alhamdulillah berkat dukungan mama dan mbak Mayang,” jawab Ajeng merendah.


Kini mereka duduk bersama di sofa membiarkan Lala yang masih asyik dengan dunia ‘barbie’-nya. Dimas yang baru datang dari kampus menghampiri mereka dan menyalami Nurita dan Mayang sebelum naik ke kamarnya.


“Bagaimana kabarnya setelah jadi mahasiswa?” Mayang menatap Dimas yang masih berdiri di hadapan mereka.


“Lebih banyak capenya Mbak ... “ Dimas menjawab terus terang. “Permisi ....”


Ketiganya menganggukkan kepala serempak. Dimas pun melanjutkan langkahnya ke lantai atas. Tak h terlalu lama mengganggu mereka yang nampaknya akan membicarakan  sesuatu yang penting.


“Udah lama gak main ke mari,” Mayang memandang sekeliling dan melihat tidak banyak yang berubah, kecuali ruko-ruko yang tadinya kosong sudah banyak terisi, “Rumahmu gak banyak berubah. Apa gak pengen diperbesar?”


Ajeng tersenyu tipis, “Gak Mbak. Udah nyaman juga, tenang pastinya....”


Nurita menganggukkan kepala menyetujui ucapan Ajeng, “Mama pun merasakan kesejukan saat masuk ke mari. Suasananya nyaman.”


“Terima kasih Ma. Saya, Lala dan Dimas tenang dengan suasana di sini.”


“Kamu gak ingin menikah lagi?” Nurita memandang mantan mantunya dengan lekat, “Carilah kebahagiaanmu. Mama  gak akan tenang kalau kamu masih sendiri hingga saat ini ....”


“Saya nyaman sendiri Ma. Pengen fokus membesarkan Lala dan mengantarkan Dimas meraih cita-citanya,” Ajeng menjawab dengan pasti.


“Mama turut kecewa mengetahui kandasnya hubunganmu dan Hilman,” Nurita berkata dengan raut sedih.


“Mungkin memang bukan jodoh saya Ma,” Ajeng tersenyum ringan tanpa beban.


Sekelumit rasa sesak hadir menghinggapi batin Nurita. Baginya Ajeng bukanlah mantan mantu, tapi putrinya sendiri. Karena itulah ia selalu mengunjungi dan meminta Ajeng dan Lala untuk rutin menginap setiap akhir pekan, walau pun kadang hanya dua kali dalam satu bulan.


“Mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Lala dan juga Dimas. Kalian adalah keluarga mama sampai kapan pun,” lirih Nurita sambil menyeka air mata yang tanpa kompromi menetes di pipinya yang tirus semakin di makan usia.


“Lho kok jadi melo sih,” Mayang menginterupsi melihat mamanya yang kelihatan sedih sambil mengusap air matanya yang masih menetes, “Padahal kita datang mau kasi kabar bahagia buat Ajeng.”


“Wah, kabar apa tho Mbak?”  Ajeng penasaran mendengar ucapan Mayang.

__ADS_1


Ia melihat wajah mantan iparnya tampak berseri-seri sehingga kecantikannya pun terpancar dengan sempurna. Tiada lagi kesedihan di wajahnya yang pernah terluka karena ditinggal suaminya menikah.


“Mbakmu sudah menemukan jodohnya kembali,” Nurita berkata sambil mengalihkan tatapan pada Mayang yang mengangguk meng-iya-kan ucapan mamanya.


“Alhamdulillah, syukurlah Mbak sudah bisa bangkit dari keterpurukan,” ucap Ajeng tulus.


Ia turut  berbahagia atas kabar yang dibawa Nurita dan Mayang. Baginya, Nurita dan Mayang tetap keluarga yang harus ia hormati sampai kapan pun. Apalagi Nurita yang terus menghujani putrinya dengan uang jajan yang tidak sedikit jumlahnya setiap bulan.


Sampai saat ini ia pun tau bahwa Bisma tetap rutin mentransfer kebutuhan putri tunggal mereka yang semakin besar dan mulai memasuki usia sekolah. Ia dan keluarga kecilnya tidak kekurangan materi, bahkan terus bertambah dengan semakin majunya usaha yang ia geluti.


“Minggu depan menginaplah di rumah, ajak Dimas sekalian. Mama ingin kita berkumpul bersama. Ardi teman kuliah Mayang, ingin melamarnya .... “ Nurita langsung menceritakan maksud kedatangan mereka berdua ke tempat Ajeng.


“Wah, ini sungguh sesuatu yang sangat luar biasa. Selamat Mbak .... “ Ajeng tersenyum dan memeluk Mayang turut merasakan kebahagiaan yang kini tergambar di wajah mantan iparnya.


“Terima kasih Jeng. Mbak pun berharap kamu segera menemukan pendamping yang terbaik,” Mayang menepuk pundak Ajeng dengan tulus dan mendoakan yang terbaik buat mantan ipar yang sudah dianggapnya adik sendiri.


“Sementara biar saja seperti ini Mbak. Saya bahagia mama dan mbak Mayang selalu memberi perhatian lebih untuk kami sekeluarga,” Ajeng berkata dengan suara rendah.


Ia tidak ingin mengecewakan orang yang begitu perhatian dan sayang padanya seperti Nurita dan Mayang. Terlepas dari Bisma yang memang sudah jauh dari jangkauannya.


“Padahal mama selalu berdoa suatu saat kamu dan Bisma berjodoh kembali...” Nurita menghentikan ucapannya sambil menghela nafas sesaat.


Saat itu Bisma sedang vc-an dengan mamanya dan Lala. Suara Mayang yang mengomentari perempuan yang duduk di samping Bisma membuatnya menghentikan langkah untuk menghampiri  ketiganya yang sedang bersantai di teras samping rumah menikmati keindahan dan keharuman bunga Mawar yang sedang bermekaran.


Tidak ada sedikit pun kesedihan yang Ajeng rasakan. Ia turut bahagia jika akhirnya Bisma telah menemukan pasangan yang serasi untuknya. Ia sudah tidak memikirkan pendamping hidup lagi.


Dua kali pengalaman dekat dengan kaum Adam yang berakhir nestapa, membuatnya berpikir ulang untuk memulai. Dan ia sudah tidak ambil pusing dengan siapa pun  yang berusaha mendekatkan dan menjodohkannya dengan lelaki yang menaruh hati padanya.


“Gak pa-pa Ma. Semua sudah jalannya. Saya pun berdoa untuk ayahnya Lala, semoga menemukan pendamping yang tepat,” Ajeng meraih tangan Nurita dan menggenggamnya dengan erat.


“Apa kamu gak pengen rujuk dengan kepala batu itu?” Mayang dengan santai mengajukan pertanyaan yang membuat Nurita mencubit lengannya karena menyebut adiknya yang memang terkenal keras kepala itu.


Ajeng tersenyum sambil menggelengkan kepala, “Saya turut bahagia untuk ayah Lala dan mbak Mayang, Ma. Saya telah mengikhlaskan semua yang telah saya jalani. Keinginan saya hanya satu, semoga mama selalu sehat hingga melihat Lala menggapai cita-citanya dan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.”


“Ya Allah nduk ... “ air mata Nurita kembali menetes mendengar permohonan Ajeng yang sesederhana itu, “ ... semoga Allah  memberikan kebaikan padamu.”


“Aamiin .... “ Mayang turut mengaminkan doa mamanya yang kini memeluk Ajeng dengan perasaan terharu, “Mbak berharap kamu mendapatkan jodoh terbaik, jika suatu saat kamu berkeinginan untuk memulai kembali.”


“Terima kasih mbak,” jawab Ajeng sambil menyunggingkan senyum menjawab ucapan Mayang.


“Bisma tidak akan datang, karena studinya sudah hampir selesai.” Nurita melanjutkan ucapannya kembali, “Tetapi ia akan pulang saat pernikahan Mayang, yang diperkirakan hanya tiga bulan dari sekarang.”

__ADS_1


Ajeng hanya manggut-manggut mendengarkan perkataan Nurita. Tidak ada keinginannya untuk menanggapinya. Ia tau, Nurita hanya mengatakan bahwa Bisma kali ini absen pada lamaran sang kakak


Kediaman  Nurita sudah dihias sedemikian rupa karena kedatangan Ardi dan keluarga besarnya yang akan datang melamar Mayang.


Pihak keluarga Mayang akan  diwakili Susilo Darmanto, adik laki-laki Nurita satu-satunya yang berprofesi sebagai seorang Dosen di salah satu kampus terkenal di Surabaya.


Sejak sore ia dan istrinya Ranti Utami dan putri kembarnya Ghea dan Gina yang kini sudah mahasiswa semester V di Yogyakarta sudah memenuhi undangan Nurita.


Keluarga Susilo cukup dekat dengan Ajeng. Mereka pun menyayangkan perpisahan yang terjadi antara ia dan Bisma. Tapi mau bagaimana lagi, siapa pun tidak bisa mengatur dan berkompromi dengan ‘hati’.


“De Ajeng kapan nyusulnya, udah lama juga ‘jomblo’?” seloroh Endah ketika  Ajeng datang membawakan minuman saat sore mereka sedang bercengkrama menunggu malam tiba.


“Belum kepikiran lagi tante,” jawab Ajeng ramah.


“Sayang kami tidak punya anak lanang. Om pun gak ingin cari mantu lain. Ajeng kandidat  terbaik untuk jadi mantu,” Susilo menyambung perkataan sang istri.


“Tante kenalin dengan  Fajar mau gak Jeng?” tanya Ranti tiba-tiba.


Ajeng menatap Nurita yang kini juga memandangnya dengan serius. Tampak ketegangan menyelimuti wajah mantan mertua yang sudah dianggapnya ibu sendiri itu.


“Biarkan saja Ajeng memilih sendiri. Aku khawatir lelaki yang mendekatinya tidak bisa menerima keberadaan cucuku,” Nurita langsung mengeluarkan pendapatnya mendengar keinginan Ranti adik iparnya.


“Tenang aja mbakyu. Fajar itu ponakanku. Mana mungkin ia bersikap seperti itu. Orangnya udah mapan. Ia pun berprofesi  dosen sama dengan mas Susilo,” Ranti berkata dengan penuh semangat, “Umurnya sama dengan Mayang dia masih lajang.”


“Benar mah,” Ghea menimpali perkataan mamanya, “Om Fajar itu baik, gak pelit lagi. Kalo ketemu suka jajanin aku dan Gina ....”


“Mbak Ajeng pasti suka jika bertemu om Fajar,” Gina pun menyela perkataan kembarannya.


Suasana jadi semarak mendengar perkataan satu keluarga yang saling mendukung dan berusaha menjodohkan Ajeng dengan ponakan Ranti yang ternyata juga sedang mencari pendamping hidup, membuat Ajeng tak bisa menahan senyum atas kekonyolan tingkah si kembar yang begitu semangat agar ia mau menerimanya.


Acara lamaran berjalan penuh khidmat dalam suasana kekeluargaan yang begitu terasa. Susilo mewakili pihak perempuan menyambut baik pinangan Ardi Subrata seorang duda tanpa anak dan pengusaha perkebunan teh di kota Bogor.


Sedikit banyak Ajeng mengetahui kedekatan keduanya bermula dengan Mayang yang menggantikan posisi Bisma dalam pengelolaan pabrik teh di Bogor, membuat mereka bertemu dan berinteraksi untuk kerjasama pengolahan teh.


“Alhamdulillah, semoga Allah merahmati dan memberikan kelancaran hingga akad yang insya Allah dilaksanakan empat bulan ke depan... “ Susilo menutup pembicaraan dengan doa yang terbaik untuk ponakannya Mayang yang malam itu tampil anggun dengan kebaya modern.


Ajeng merasa bahagia dengan lamaran Mayang. Ia tau, perceraian Mayang dan dirinya telah menjadi beban tersendiri bagi mantan mertuanya. Bagaimana tidak di usianya yang tak lagi muda, ia harus menanggung kesedihan akan kegagalan rumah tangga kedua buah hatinya. Walau tak dapat dipungkiri, semua memang sudah takdir ilahi.


Kini ia melihat wajah layu itu mulai bersinar kembali. Dan Ajeng selalu mendoakan kebaikan agar Nurita selalu diberikan kesehatan hingga kembali ke pangkuan ilahi dengan membawa kebahagiaan hakiki.


*Dukung terus otor ya. Moga khilaf dan up lagi hingga kisah Ajeng selesai pada waktunya dengan segala kebahagiaan yang ia dapatkan atas kesabarannya menjalani takdir kehidupan. Sayang untuk semua yang membaca problematika Ajeng menemukan cinta sejatinya ...*

__ADS_1


__ADS_2