Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 67 Dendam Kesumat Dewi


__ADS_3

Ajeng memenuhi undangan sebuah pondok pesantren yang rutin ia santuni dalam perayaan bulan Muharam. Sudah menjadi agenda tahunan ponpes tersebut mengundang para pemuka masyarakat serta dinas terkait yang berada di kabupaten Malang untuk berbagi bersama anak yatim di ponpes tersebut.


Ditemani Audina sekretaris sekaligus tangan kanannya yang membantu segala urusan mengelola usahanya yang semakin berkembang. Ia berangkat bersama pak Kirno supir yang khusus mobilitas kerjanya sehari-hari.


Tamu undangan yang menghadiri kegiatan Muharam di ponpes  Nur-Ilahi yang dipimpin ustadz Zakri sudah banyak berdatangan. Kelihatan dari mobil-mobil yang terparkir rapi di area halaman pondok yang sangat luas.


Ajeng berjalan berdampingan dengan Audina memasuki kawasan pondok  yang sudah sepi karena para tamu berkumpul di aula  bersama semua penghuni pondok yang lain.


“Dasar perempuan kampungan!” sebuah suara perempuan bernada sinis menghentikan langkah Ajeng dan Audina.


Ia membalik badan.  Betapa terkejutnya Ajeng melihat perempuan cantik yang berpakaian modis menatapnya dengan wajah emosi.


“Mbak!” Audina menatap Ajeng dengan raut khawatir.


Ajeng hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala berusaha menenangkan Audina yang sudah siap untuk menghadapi perempuan yang di matanya akan mendatangkan  bahaya bagi atasannya.


Ajeng berdiri tepat di hadapan Dewi yang kini tiba di hadapannya. Tampak nafasnya ngos-ngosan dengan wajah memerah menahan emosi.


“Apa kamu tidak merasa malu terus mengikuti suami orang?” Dewi berkata penuh emosi hingga dadanya turun naik.


Bayangan ‘malam itu’ saat Hilman menyebut nama perempuan yang kini berdiri di hadapannya membuat amarahnya tak terbendung. Walau pun semua ‘kebutuhan’nya sebagai seorang istri telah dipenuhi,  tapi tak mengurangi rasa bencinya pada sosok perempuan yang kini berada di hadapannya.


Ia yakin, Ajeng masih berusaha mendekati  Hilman. Buktinya saat ini mereka berada pada acara yang sama. Dan ia tidak akan berhenti hingga perempuan ‘ndeso’ ini tidak membayangi bahkan menjauhi suaminya untuk selamanya.


“Mungkin nyonya salah alamat menuduh saya seperti itu,” Ajeng menjawab dengan sopan semua yang dilontarkan Dewi padanya.


Melihat  Ajeng yang  santai tak terprovokasi dengan apa yang ia katakan membuat emosi Dewi semakin memuncak.


“Dasar pelakor!” ketus Dewi dengan telunjuknya mengarah tepat di wajah Ajeng.


Dengan sigap Ajeng menangkap telunjuk Dewi dan memutarnya cepat membuat Dewi meringis menahan sakit.


“Kurang ajar!” maki Dewi semakin emosi dan menarik jemarinya yang berada dalam genggaman Ajeng, “Dasar pelakor tak tau diri!”


“Yang pelakor itu nyonya! Udah tau tunangan orang diembat juga,” balas Audina geram.

__ADS_1


Ia tak bisa menahan diri melihat atasannya dimaki-maki oleh perempuan  di hadapannya. Chasingnya aja bagus, tapi tidak ada adab.


Mendengar ucapan Audina membuat mata Dewi melotot seperti ingin keluar dari tempatnya. Ia tidak terima dengan apa yang dikatakan perempuan yang datang bersama ‘musuh bebuyutan’nya.


“Ala gak usah bela perempuan ‘ndeso’ itu,” kejar Dewi kesal.


Ia melihat penampilan necis Audina yang di matanya berkelas, dibandingkan Ajeng yang hanya mengenakan gamis sederhana tanpa barang bermerk yang ia pakai.


“Aku tau, dia hanya ingin pansos dengan mendekati suamiku yang tajir,” Dewi berkata semaunya, “Jala*g mana yang tidak tergiur dengan kekayaan yang dimiliki  ....”


“Dewi .... “ suara bass Hilman menghentikan perkataan Dewi.


Hilman merasa tidak enak hati saat  supirnya membisiki-nya  yang  sedang berbicara dengan ustadz Fikri rekan ustadz Zakri tentang  keributan  yang terjadi antara istrinya dengan Ajeng.


“Mas .... “ suara mendayu Dewi  membuat Audina mencibir.


Dengan cepat Dewi merangkul lengan Hilman untuk memamerkan kemesraan mereka di hadapan lawannya. Ia harus bersandiwara untuk mendapatkan simpati sang suami.


Hilman berusaha melepaskan tangan Dewi yang bergantung di lengannya. Ia melihat Ajeng yang tak peduli dan menganggapnya tak ada, malah berbicara serius pada Audina.


Ia merasa cengkeraman jari Dewi begitu kuat di tangannya. Ia yakin Dewi tak suka dengan apa yang ia katakan barusan. Ia tidak ingin Dewi mempermalukan dirinya di kawasan pondok pesantren yang sedang dihadiri para tamu undangan, yang sebagian juga adalah relasinya yang biasa berdonasi di tempat tersebut.


Ia mendengar semua yang dikatakan Dewi pada Ajeng, karena suaranya begitu nyaring hingga jarak 4 meter  masih tertangkap di pendengarannya.


Perasaan dongkol melingkupi Dewi. Ia tidak terima suaminya berkata santun pada musuhnya. Tapi ia harus menjaga image di hadapan lelaki yang kini telah menerima dan  mencukupi semua kebutuhannya.


“Tak ada yang perlu dimaafkan. Istri anda benar. Bukankah sudah tugas seorang istri menjaga keutuhan rumah tangganya?” Ajeng berkata santai tanpa beban, “Permisi pak Hilman, nyonya ....”


Hilman menghela nafas dengan berat ketika Ajeng berlalu begitu saja diikuti Audina tanpa memandang padanya.


“Mas harus dengar saat ia  berkata yang tidak baik tentangku .... “ Dewi berusaha mengompori Hilman agar merubah sikapnya pada Ajeng.


Ia tidak terima pandangan Hilman yang terus mengikuti bayangan Ajeng dan Audina hingga menghilang di persimpangan pondok.


“Sudahlah Wi,” Hilman tidak ingin mendengar perkataannya.

__ADS_1


Pikirannya jadi kacau setelah pertemuan dengan Ajeng setelah sekian lama ia berusaha menghubunginya untuk berbicara. Ajeng telah menutup komunikasi dan memblokir nomornya.


Dan harapannya untuk bertemu dalam undangan yang diberikan ustadz Zakri memang sesuai dengan kenyataan. Kerinduannya akan sosok ayu dan menawan walau pun kini telah terlepas dari genggaman.


“Mas harus membuka mata kalau dia hanya memperalat mas.  Perempuan jaman sekarang hanya mau enaknya saja. Giliran lelaki tajir sibuk  mencari perhatian, dan menghalalkan segala cara ...”


“Cukup Dewi!”  Hilman berkata dengan menahan emosi dan berjalan cepat  meninggalkan Dewi yang tertegun atas sikapnya yang berubah dingin.


“Mas, masss .... “ Dewi kelabakan sendiri berusaha mengejar langkah Hilman yang cepat dan telah jauh meninggalkannya.


“Awas saja perempuan  ‘ndeso’ itu. Aku tidak akan segan untuk mempermalukannya,” batinnya dalam hati.


Amarahnya sudah berubah menjadi dendam yang membara. Ia tidak terima atas sikap sang suami yang kentara membela musuhnya. Apalagi dengan gaya santai Ajeng yang tak peduli bahkan acuh dengan semua yang ia katakan untuk memancing emosinya.


Dengan dada membusun* Dewi berjalan menyusul  Hilman. Untung saja begitu memasuki aula langkah Hilman melambat.  Cepat tangannya merangkul lengan Hilman dan merapatkan tubuhnya pada sang suami.


“Wah pengantin baru, kapan undangannya ini?”  Sunardi seorang pengusaha peternakan menyapa Hilman yang  berjalan melewatinya.


Rasa bangga langsung membuncah di dada Dewi mendengar sapaan relasi suaminya. Ia melihat Ajeng duduk di barisan nomor 3 dari para tamu penting yang menghadiri acara Bulan Muharam Bersama Pondok Pesantren Nur Ilahi pimpinan Ustadz Zakri.


Ia tidak peduli beberapa komentar negatif tentang pernikahan yang terjadi antara dirinya dan Hilman. Telinganya kebal mendengar selentingan yang menyebutnya sebagai pelaku yang membuat Ajeng memutuskan pertunangannya dengan Hilman, yang digadang-gadang sebagai pernikahan termewah karena melibatkan nama besar Hilman yang sudah dikenal semua orang.


Senyum ramah ia tunjukkan saat relasi Hilman berjalan mendekat untuk berkenalan dengannya. Dengan percaya diri ia mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan para kyai serta pengasuh pondok yang menyambut kehadiran Hilman.


Dewi jadi kesal sendiri melihat beberapa orang lelaki yang tidak menerima uluran tangannya, tetapi menangkupkan kedua tangan di dada mereka dengan menundukkan kepala mereka.


“Dasar sombong! Apa tidak pernah melihat perempuan cantik?” Dewi ngedumel dalam hati melihat sikap para  lelaki yang ramah pada suaminya tetapi mengacuhkan dirinya.


“Apa mereka tidak pernah melihat perempuan?” Dewi berbisik pada Hilman yang masih asyik berbincang dengan ustadz Zakri.


“Bukankah aku sudah bilang, kalau mau ikut harus berpakaian tertutup ....” jawab Hilman tegas.


Ia merasa kesal dengan Dewi yang selalu mengikuti setiap undangan yang ia dapat dari relasi maupun pejabat kota Malang. Ia merasa tidak bebas sekarang.


Dewi mencibir tak senang mendengar ucapan suaminya. Pandangannya mengarah ke seisi aula. Memang harus ia akui, semua perempuan yang datang berpakaian tertutup. Bahkan perempuan yang bersama musuh bebuyutannya juga membawa selendang yang ia tutupkan ke kepala walau tidak seperti perempuan kebanyakan yang sudah memakai gamis dan jilbab.

__ADS_1


__ADS_2