
“Sini sama oma .... “ ujar Nurita lembut seraya meraih tangan Lala yang kuat memagut lutut ayahnya.
Ia merasa heran melihat kelakuan cucunya. Tak biasanya Lala ketakutan seperti itu. Apalagi wajahnya tertunduk tidak diangkat.
“Udah sama ayah saja ya,” Bisma kembali menggendong putrinya.
“Wah, ini putri tunggalnya toh. Cantik sekali kamu cah ayu ....” suara bass Wirya yang penuh tekanan membuat Lala memeluk leher ayahnya dengan kencang.
“Putri cantik, kenalan yok ....” Siska pun tidak mau kalah.
Ia berjalan menghampiri Bisma yang masih menggendong Lala yang memalingkan wajah saat menatapnya.
“Maaf dr. Siska, pak Wirya silakan dilanjutkan makannya,” Bisma merasakan pelukan Lala yang begitu kuat karena tidak nyaman berada di ruangan bersama orang asing yang tak pernah ia lihat.
Ia pun melangkah meninggalkan ruang makan. Walau dalam hati ada rasa penasaran, dengan tingkah putrinya itu, sehingga tidak ingin berada di ruang makan bersama kedua tamu yang diuandang mamanya untuk makan siang bersama.
“Wah masakannya enak sekali,” Wirya merasa senang atas undangan makan siang Nurita.
“Benar pa,” Siska tak mau kalah, “Mamah memang pandai memanjakan lidah kita. Pengen belajar masak sama mamah ....”
Nurita tersenyum menanggapi omongan Siska dan Wirya yang merasa puas dengan jamuan makan siangnya. Walau dalam hati sebenarnya ia tidak nyaman atas kedatangan keduanya di waktu yang tidak tepat.
“Rawonnya mantap!” Wirya tanpa rasa malu menyendok nasi untuk yang kedua kalinya.
“Mah, ini masakan kesukaan aku sama papa. Nanti aku mau dong diajarin bikinnya,” nada manja Siska membuat Nurita tersenyum.
“Ini bukan mama yang masak. Semuanya Ajeng yang bikin,” Nurita berkata dengan terus terang.
Ajeng yang sudah bersiap kini turun mau berpamitan. Tapi ia terkejut ketika melihat dua ‘tamu istimewa’ yang jadi pembicaraan kedua belah pihak keluarga berada di ruang makan rumah mantan mertuanya.
Senyum sinis terbit di wajahnya. Sedikit pun ia tidak mempercayai dan menanggapi semua perkataan Bisma tentang tawaran untuk rujuk.
Nyatanya perempuan yang digadang-gadang bakal menjadi pendampingnya kini sudah ada di ruang makan keluarga mereka bersama papanya yang ‘orang penting’ itu dengan suasana penuh keakraban.
“Permisi ... “ terlanjur melangkah, Ajeng tidak gentar ia hanya ingin pamit pulang.
Ia harus pergi sekarang. Pak Naryo sudah berada di depan. Ia tidak ingin lebih lama tinggal di hadapan kedua orang yang gayanya selangit itu.
Bagaimana tidak ia mengatakan gaya dr. Siska dan papanya selangit. Saat kedatangan mereka tadi malam, keduanya tidak menghiraukan sapaan keluarga tante Dini yang memang sederhana.
Tetapi saat bersama om Susilo dan istrinya, mereka begitu ramah dan penuh kehangatan. Dari matanya, Ajeng melihat bahwa perempuan muda itu tidak pernah menjauh dari laki-laki yang baru saja menawarinya untuk rujuk kembali.
“Sini Jeng, kita makan bersama.... “ Nurita bersemangat memanggilnya untuk menemani tamu mereka makan.
“Maaf, jemputan saya sudah datang,” Ajeng menolak dengan halus.
Dr. Siska menatap Ajeng dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rasanya ia pernah melihat sosok perempuan ayu dengan penampilan sederhana itu. Tidak ada yang istimewa dalam pandangan matanya.
“Siapa dia mbakyu?” Wirya langsung bertanya melihat kehadiran orang lain yang tidak dia inginkan saat makan siang penuh keakraban ini terjadi.
Nurita terdiam. Bagaimana ia menjawab pertanyaan Wirya yang menuntut untuk diberi jawaban sebenarnya.
__ADS_1
“Saya famili jauh keluarga ini,” jawab Ajeng singkat dengan mengulas senyum tipisnya.
Ia sadar, kehadirannya sangat tidak diharapkan di ruang makan ini. Tanpa menunggu lebih lama ia membalik badan. Ia pun tau diri, tidak mungkin Nurita menceritakan siapa dirinya dengan calon besan mereka yang mungkin sengaja diundang untuk makan siang.
Dibantu pak Naryo Ajeng membawa tas pakaian miliknya dan Lala yang kini sudah disimpan di bagasi mobil. Tinggal menunggu Lala yang sampai saat ini masih belum kelihatan.
Ajeng berdiri di samping mobil yang sudah dipanaskan pak Naryo. Matanya memandang chat dari Audina yang mengirim jadwalnya siang besok.
“Bapak jalan saja. Ajeng dan Lala ikut saya,” suara bariton Bisma mengejutkan Ajeng yang sudah berdiri menunggu kehadiran putrinya.
Mata tajam Ajeng yang protes atas perkataannya tak Bisma pedulikan. Ia berdiri mengawasi pak Naryo yang sudah menutup bagasi mobil.
“Hati-hati di jalan pak,” dengan santai Bisma menepuk pundak pak Naryo yang memandang Ajeng dengan bingung.
Ia harus memulai dengan waktu yang telah ia tetapkan sejak saat ini. Kalau tidak sekarang, kapan lagi ....
“Lala mau kan diantar ayah. Kita sekalian mampir main dulu di Kidz Zone ....” rayu Bisma pada putri kecilnya yang langsung mengangguk dengan senang.
“Bunda, kaka mau main sama ayah!” seru Lala kegirangan.
Tatapan Ajeng seperti silet tajam mengiris tak ia pedulikan. Mulai sekarang ia harus memegang kendali agar ‘Singa betina’ yang berdiri di depannya menjadi ‘kucing manis’.
“Bu ... “ pak Naryo menunggu Ajeng yang masih menahan kekesalan atas perintah Bisma yang mengubah jadwal yang sudah ia atur.
“Tidak apa-apa pak,” Ajeng berusaha tersenyum di hadapan pak Naryo walau hatinya dongkol setengah mati, “Lala juga masih ingin bersama ayahnya. Mumpung beliau belum kembali ke Bogor.”
Senyum kemenangan terbit di sudut bibir Bisma mendengar ucapan Ajeng yang menyetujui keinginannya. Pandangan tajam Ajeng
“Wah, nak Bisma ditunggu gak ikut makan, nyatanya di sini .... “ tegur Wirya yang baru keluar rumah berbarengan dengan Siska dan Nurita.
Keduanya kebetulan sudah berpamitan. Sore ini Wirya harus sudah kembali ke Bandung. Siska yang sebelumnya masih ingin tinggal, terpaksa membatalkan niatnya, karena keinginannya untuk menikmati kuliner bersama lelaki impiannya harus kandas.
Pandangan Siska terfokus pada Bisma yang berdiri di samping Ajeng. Ia dapat melihat dengan jelas raut tegang di wajah perempuan ayu itu, sedangkan lelaki yang jadi targetnya tampak memamerkan senyum yang membuatnya jadi gerah.
“Pak Wirya, dr. Siska ... “ Bisma memandang keduanya dengan santai.
“Ayah, kaka mau pulang sekarang,” Lala menarik tangan Bisma untuk menjauh dari keduanya.
“Sebentar sayang,” bujuk Bisma, “Tamu oma sudah mau pamit. Nanti kita akan kembali ke rumah bunda.”
Siska merasa kesal melihat perlakuan Bisma yang begitu perhatian pada perempuan yang memandangnya dengan wajah datar. Ia jadi penasaran, siapa perempuan yang bersamanya. Atau jangan-jangan ...
“Kamu akan mengantar Ajeng dan Lala pulang?” Nurita tak percaya melihat putranya itu tampak bersemangat.
Wirya dapat melihat wajah putrinya memerah melihat perlakuan Bisma pada perempuan yang mengaku kerabat jauh mereka itu. Ia pun mulai berpikir yang sama, bahwa ada sesuatu yang terjadi di hadapan mereka.
“Benar ma. Aku pun masih ada beberapa urusan di sana,” jawab Bisma santai.
“Nak Bisma kapan kembali ke Bogor?” Wirya tidak bisa melihat perlakuan Bisma yang dingin pada putrinya.
“Secepatnya pak Wirya.”
__ADS_1
“Nanti saya akan mengundang nak Bisma untuk makan siang di rumah. Banyak prospek kerja yang bisa kita bahas.”
Nurita dan Siska serta Ajeng hanya diam mendengar percakapan yang terjadi. Saat tatapan Siska dan Ajeng bersirobak, senyum sinis Siska menghiasai wajahnya. Ajeng hanya menganggukkan kepala dan mengalihkan tatapan pada Lala yang kini berdiri di belakangnya.
“Terima kasih atas kunjungannya pak Wirya, dr. Siska. Semoga lancar di perjalananan,” ujar Nurita begitu Wirya mulai memasuki mobilnya.
Bisma tersenyum ramah sambil melambaikan tangan begitu mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah.
“Ayo sayang, ikut papa ambil mobil di garasi,” Bisma mengajak Lala yang kini ceria kembali.
Ayah dan anak itu berjalan penuh semangat. Hingga terdengar senandung kecil dari mulut Lala membuat Ajeng dan Nurita saling melempar senyum.
“Mama gak ikut ke Malang?” Ajeng menatap Nurita yang masih setia menunggu di depan rumahnya.
“Maunya gitu. Di rumah akan sunyi. Tapi mama masih capek,” Nurita berkata pelan dengan raut sendu.
“Mama istirahat ya,” Ajeng mengusap lengan mantan mertuanya itu pelan, “Minggu depan saya usahakan nginap di sini lagi.”
“Harus itu,” Nurita menjawab penuh harap.
Mobil Pajer* yang dikendarai Bisma sudah tiba di hadapan keduanya. Dengan cepat ia turun dan membukakan pintu samping buat Ajeng. Lala sudah duduk dengan santai di depan sambil melambaikan tangan pada omanya.
Perlakuan Bisma membuat Ajeng dan Nurita saling berpandangan. Dengan cepat Ajeng meraih tangan Nurita dan menciumnya.
“Ma, saya pamit pulang dulu. Jaga kesehatan mama....”
Nurita langsung meraih mantan mantunya ke dalam pelukan. Melihat perlakuan Bisma, ia yakin putranya itu memiliki rencana lain. Sebagai orang tua, batinnya merasa yakin. Tapi ia belum bisa memastikan. Hanya menunggu waktu.
“Terima kasih Jeng. Mama akan selalu merindukanmu dan Lala.”
Akhirnya mobil Pajer* Sport itu mulai meninggalkan kediaman rumah megah Nurita yang kini kembali sunyi.
Selama dalam perjalanan Ajeng memejamkan mata dengan menyandarkan tubuh di jok. Senyum tak bisa ia sembunyikan saat mendengar Lala bernyanyi yang sesekali diikuti Bisma. Perasaannya tiba-tiba menghangat dengan kebahagiaan yang dirasakan putrinya setelah bertahun-tahun kehilangan sosok seorang ayah.
Dari posisinya saat ini, Bisma dapat melihat tingkah laku Ajeng. Ia yakin, perempuan yang duduk di belakangnya itu tidak tidur walau matanya terpejam. Berulang kali ia memandang dari kaca dashboard untuk menikmati senyum yang sesekali terbit di wajah ayu itu.
Ia tau, Ajeng enggan berbicara dengannya. Baginya tak masalah. Kesabarannya akan seluas samudera untuk menunggu sang mantan kembali membuka hati. Ia tetap akan berusaha, tak ada istilah berhenti di tengah jalan. Sekali mendayung, dua tiga kali harus sampai ke tujuan, tekadnya kuat.
....
“Pah, apa perasaanku yang salah?” selama perjalanan menuju bandara, Siska masih merecoki papanya dengan selintas kekhawatiran yang tiba-tiba hadir di benaknya.
“Maksudmu?” Wirya memandang wajah putrinya yang lesu tak bersemangat.
“Apa perempuan yang bersama mas Bisma mantan istrinya?”
“Kan hanya mantan,” Wirya menjawab dengan nada meremehkan, “Pantas saja kalau nak Bisma berpisah dengannya, penampilannya terlalu sederhana. Tidak cocok untuk mendampingi nak Bisma dipandang dari segi apa pun.”
“Tapi pah ....” Siska meragukan ucapan papanya.
Dari pandangan pribadi, ia dapat melihat tatapan penuh arti yang ditujukan Bisma pada perempuan yang di mata ayahnya terlalu sederhana itu.
__ADS_1
“Tenang aja! Apa pun yang kamu lakukan untuk merebut perhatian Bisma, akan papa dukung,” ujar Wirya sambil menggenggam jemari putrinya untuk menyemangatinya kembali.