
Ajeng menunggu kedatangan Hilman di kafe resto tertutup tempat yang sudah mereka sepakati untuk bertemu. Ia sudah memikirkan dengan matang keputusan yang akan ia ambil.
Dengan pernikahan yang terjadi antara Hilman dan Dewi atas nama wasiat, dan perhatian Hilman pada Hilda menjadi pertimbangan Ajeng untuk melangkah agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.
“Maafkan mas Diajeng .... “ Hilman sudah tiba di hadapannya dengan keadaan terburu-buru.
“Santai aja to mas....” Ajeng tersenyum tipis, “Toh, aku juga mengosongkan jadwal ke pak Dibyo.”
Memang hari ini jadwal ia mengunjungi home industri milik pak Dibyo di pengolahan keripik nangka dan apel yang cukup terkenal di kota Malang.
Ia pun berencana mengunjungi Asih dan Hendra di kediaman mereka setelah pertemuan dengan Hilman, untuk menemui dr. Andira yang ingin mengelola satu ruko miliknya yang masih kosong. Andira yang berprofesi sebagai dokter estetika ingin membuka klinik kecantikan dengan menyewa ruko yang baru saja ia bangun dari tabungan serta uang jajan milik Lala pemberian Nurita.
Sekarang ini ia sedang giat-giatnya mengembangkan usaha dari keuntungan yang telah ia dapat selama 4 tahun menggeluti berbagai UMKM yang telah menambah pundi-pundi tabungan.
“Waktu mas sangat berharga dan terbatas sekarang,” ujar Hilman dengan nafas yang masih memburu.
Ajeng mengerutkan jidat sambil menatap Hilman tanpa berkedip. Padahal selama ini lelaki gagah itu selalu menyediakan waktu untuknya. Hampir tiap jam selalu ada chat masuk hanya untuk mengabarkan aktivitas kesehariannya.
“Jika Diajeng siap, pernikahan kita adakan dua bulan yang akan datang ....“ Hilman langsung ke pokok bahasan.
Ia tidak ingin menundanya lebih lama lagi. Perbincangan yang terjadi dengan Dewi tadi malam telah membuatnya mengambil keputusan. Ia pun sudah mengunjungi kedua orangtuanya sepagi ini.
Memang ada suara penolakan Dewi atas keinginannya untuk mempercepat proses pernikahannya dengan Ajeng, perempuan yang begitu ia damba dan ia harapkan menemaninya hingga akhir.
Ia yakin legalitas perceraian Ajeng dan suaminya sudah berjalan dalam jangka waktu yang berjalan hampir tiga bulan sejak keberangkatannya ke Makasar. Ia akan mempersiapkan diri untuk menjalani pernikahannya impiannya kali ini.
“Apa ini tidak terlalu mendadak mas?” Ajeng belum meyakini sepenuhnya keinginan Hilman.
“Tidak Diajeng. Mas sudah membicarakan semuanya bersama mama dan papa serta Dewi,” Hilman berkata penuh keyakinan.
Sebagai lelaki normal tak selamanya ia sanggup menahan hasra* biologis yang ia yakini sengaja di pancing Dewi saat mereka bersama di rumah. Keinginannya hanya bersama Ajeng dan menjadikannya satu-satunya perempuan yang bakal menjadi ibu untuk keturunannya kelak.
“Bagaimana dengan Dewi dan Hilda?” pancing Ajeng.
“Bukankah kita sudah membahas ini sebelumnya?” Hilman merasa Ajeng tidak serius akan keinginannya untuk segera membina rumah tangga.
__ADS_1
“Apa mas akan memprioritaskan aku sebagai istri?” kejar Ajeng lagi.
“Tentu saja Diajeng. Jangan pernah menyangsikan mas akan hal itu,” Hilman berkata sambil menatap Ajeng lekat.
Ajeng tersenyum sinis. Ia sudah mengakumulasikan bagaimana perhatian Hilman yang terpecah saat mereka sedang bersama. Dan itu bukan satu dua kali. Ia merasa Dewi seperti cenayang yang selalu mengetahui kebersamaan mereka.
Baru satu jam ia dan Hilman duduk berbincang tentang masa depan yang akan mereka lalui, sudah empat kali ponsel Hilman berdering tanpa ada keinginannya untuk meng-off-kan atau sekedar silent.
Inikah yang dibilang Hilman akan memprioritaskan dirinya?
“Bagaimana dengan Hilda dan kondisinya .... ?” Ajeng menatap Hilman dengan serius.
“Kecuali Hilda. Untuknya mas akan berjuang. Ini sudah janji mas pada almarhum Ridwan,” Hilman berkata dengan serius.
Ajeng menghela nafas panjang. Ia sudah yakin Hilman akan mengungkapkan kepeduliannya yang begitu mendalam pada Hilda anak sambungnya.Sebagai seorang perempuan, ia pun sangat yakin bahwa Dewi keberatan akan pernikahan yang bakal digelar suaminya.
Perempuan mana yang rela berbagi disaat menikmati manisnya madu pernikahan. Apalagi keduanya saling mencintai dan pernah dekat di masa lalu. Ajeng menggelengkan kepala membayangkan kedekatan keduanya, hingga kini berakhir di pelaminan.
Ia pun akan berpikiran yang sama jika berada di posisi Dewi. Tak semudah itu menerima keinginan suami untuk berpoligami, karena ia sendiri tak sanggup untuk berbagi kasih sayang dan perhatian.
“Aku akan berusaha adil untuk Diajeng dan Hilda,” Hilman berkata dengan tatapannya yang lekat.
“Lalu bagaimana dengan Dewi?” Ajeng akhirnya membalas tatapan Hilman yang masih memandangnya dengan lekat.
“Mas dan Dewi tidak memiliki hubungan apa pun. Jika waktunya tiba, mas akan melepasnya.”
“Entah kapan waktu itu tiba?” Ajeng berkata lirih seolah pada dirinya sendiri.
Ia tidak yakin Hilman mampu melakukan itu. Apalagi keberadaan Hilda yang lengket padanya akan menjadi senjata Dewi dalam mengikat Hilman.
“Diajeng meragukan mas?” Hilman merasa tersudut mendengar ucapan Ajeng yang seolah-olah tidak mempercayai semua yang ia katakan.
Kembali ponsel Hilman berdering diantara percakapan keduanya. Ia membiarkan untuk beberapa saat hingga berhenti dengan sendirinya. Namun tak lama kemudian suara deringan kembali mengusik keheningan yang terjadi.
“Maaf Diajeng, jam 11 ini mas udah janji bawa Hilda makan di luar.” Hilman menatap Ajeng dengan perasaan tak nyaman.
__ADS_1
Senyum Ajeng langsung mengembang mendengar perkataan Hilman. Ia tau lelaki di depannya terus mengotak-atik ponselnya membalas chat yang masuk.
“Baiklah mas,” Ajeng berkata dengan santai tanpa beban.
Mendengar suara Ajeng yang ringan dengan senyum mengembang membuat Hilman yang sudah bangkit dan bersiap melangkah kembali menghenyakkan tubuhnya di kursi menatap Ajeng yang masih bersandar dengan nyaman sambil menyatukan pergelangan tangan di dadanya.
“Apakah Diajeng siap dengan keinginan mas untuk melaksanakan pernikahan kita dalam waktu dua bulan ke depan?” Hilman langsung pada topik permasalahan yang ia katakan saat awal pertemuan.
Ia tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Jika Ajeng setuju, maka persiapan menuju hari ‘H’ bisa dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan. Dengan materi yang ia miliki, tak sulit baginya melengkapi semua persyaratan untuk melaksanakan pernikahan impiannya bersama perempuan yang sampai detik ini masih menempati kasta tertinggi di hatinya.
“Ku rasa sekarang waktu yang tepat bagi kita untuk mengakhirinya,” ujar Ajeng berusaha santai, untuk menghilangkan rasa nyeri yang sempat hadir.
Kekecewaan memang sedang menderanya, karena niatnya menerima uluran hangat Hilman untuk membentuk keluarga dengan ke-samawa-an di dalamnya musnah sebelum waktunya.
“Apa maksud Diajeng?” sontak saja ucapan Ajeng membuat Hilman terperangah tak percaya.
Bagaimana mungkin Ajeng mengambil keputusan disaat dirinya telah merancang masa depan yang bakal ia lalui bersama perempuan yang sudah membuatnya terbangun dari tidur panjang atas nama kekecewaan karena pengkhianatan.
“Inilah yang terbaik buat kita mas,” Ajeng menatap wajah Hilman dengan suaranya yang lirih.
Sakit memang, tapi ia harus mengambil keputusan yang tepat agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari. Ini bukan hanya tentang dirinya dan Hilman, tapi ada Dimas dan Lala, Dewi bahkan Hilda.
“Bagaimana Diajeng menganggap ini yang terbaik buat kita?” Hilman menggelengkan kepala, “Tidak Diajeng, mas tidak meyetujui keputusan Diajeng. Bukankah kita sudah membahas dan sepakat untuk semuanya.”
Ajeng menatap Hilman dengan tatapan hambar tanpa makna. Ia sudah memikirkannya secara mendalam dan membicarakannya bersama Dimas tentang semua yang terjadi dengan hubungannya dan Hilman.
Dimas menyerahkan semua keputusan padanya. Dimas yakin saudara perempuannya itu akan tegar dalam menghadapi semua permasalahan yang menderanya.
“Aku tidak pernah menyepakati apa pun. Mas lah yang membuat semuanya seperti ini,” potong Ajeng cepat.
Rasanya ia sudah ingin berlalu dari hadapan Hilman yang kini mengulur waktu. Baginya sudah tidak mungkin untuk memulai kembali setelah apa yang dilakukan Hilman dan sikapnya yang cenderung pada Hilda dan keluarga barunya.
Hilman tertegun mendengar ucapan Ajeng yang membalikkan semua perkataan dan ucapan yang pernah ia katakan.
“Kita bisa bersama melalui semua ini Diajeng. Ayolah, mas perlu dukunganmu,” Hilman berkata sendu mencoba merubah keputusan Ajeng untuk mengakhiri hubungan yang sudah ia perjungkan setahun belakangan ini.
__ADS_1
***Maaf ya\, mungkin banyak yang kurang suka dengan alur kisah Ajeng bahkan terkesan bertele-tele. Otor hanya berusaha mencari 'feel' dalam menulis. Dan yang kurang setuju dengan plot yang otor buat\, hanya inilah yang mampu otor tuangkan dalam hobi menulis sesuai imajinasi yang ada di dalam kapasitas otak otor yang terbatas ini.
Dan terima kasih serta rasa sayang yang sangat besar pada reader yang selalu mendukung dengan segala kekurangan otor dalam membuat karya. Salam cinta dan sayang serta sehat selalu untuk kita semua. ...***