Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 95 Tetangga Baru


__ADS_3

Hilman menatap Dewi dengan tajam. Kesabarannya benar-benar hilang menghadapi tingkah  perempuan yang telah memberinya seorang anak laki-laki itu.


“Sudah dua  tahun aku bersabar dengan segala perlakuanmu pada Ajeng, hanya untuk menjaga keutuhan rumah tangga kita,” dengus Hilman sudah tak bisa menahan emosi.


“Aku hanya ingin memberinya pelajaran agar tidak berada di lingkungan kita,” Dewi masih ngotot dengan argumennya.


“Harus ku katakan berapa kali, Ajeng tidak akan pernah mengganggu rumah tangga kita begitu ia memutuskan pertunangan kami.”


“Karena aku selalu mengingatkan dia untuk menjauh dari mu,” Dewi tetap tidak mau kalah, “Buktinya sampe sekarang dia belum menikah. Apa namanya kalau tidak mengharapkan mas!”


Hilman menggelengkan kepala atas kekeras kepalaan  perempuan  yang telah ia nikahi bahkan memberinya seorang  putra.


“Mama benar. Keputusanku menikahimu adalah suatu kesalahan,” Hilman berkata dengan tatapan menusuk pada  Dewi yang terkejut dengan apa yang ia katakan.


“Apa maksud mas mengatakan itu?”


“Ku pikir dengan kepergian Ridwan membuatmu lebih baik,” Hilman menggelengkan kepala, “Ternyata aku salah. Kamu masih  Dewi yang ku kenal dulu. Egois!”


“Aku hanya menjaga apa yang telah  menjadi milikku,”  tegas  Dewi.


“Baiklah, tetap saja merasa benar dengan semua yang telah kau lakukan. Harusnya kamu tau, bukan orang lain yang mengganggu keutuhan rumah tangga kita. Tapi kamu sendiri yang mengacaukannya. Aku akan mundur dari pernikahan ini,” Hilman berkata pelan sambil mengusap wajahnya kasar, “Aku  akan membawa Hilda dan  Fathan  ke rumah  mama.”


“Mas tidak bisa melakukan ini padaku!” Dewi tidak percaya  bahwa Hilman  benar-benar akan melakukannya.


Bukan sekali dua, Hilman mengingatkannya untuk tidak mengganggu kehidupan Ajeng dan mengaitkannya dalam persoalan rumah tangga mereka, Tetapi  Dewi menganggap Hilman hanya mengancam dan tidak mungkin akan melakukan hal itu, apa lagi mereka telah memiliki seorang putra yang baru berusia 3 bulan.


“Selama ini aku telah bersabar menghadapi sikap mu,” Hilman memandangnya tajam, “Maaf, kini kesabaranku telah habis.”


Begitu keduanya sudah sampai di kediaman, dengan cepat Hilman turun. Ia tidak ingin terus mengikuti keegoisan Dewi yang selalu ingin menang sendiri.


“Mbak Rani ....” Hilman memanggil babby sitter Fathan yang sedang menggendong putranya yang baru berumur .


“Ya Pak,” perempuan muda yang berseragam itu dengan cepat datang ke hadapannya.


“Panggil mbak Ana kemari secepatnya,”  Hilman segera meraih putra kecilnya yang tampak anteng begitu dalam gendongannya.

__ADS_1


Sore itu juga Hilman membawa putranya dan Hilda ke rumah mamanya beserta kedua pengasuh yang menemani anak-anaknya.


Dewi tercenung menyadari kepergian Hilman yang ingin menepikan diri dari pernikahan yang membuatnya sesak. Ia ingin Dewi menyadari kesalahannya dan merubah sikap yang lebih baik.


Tapi jika kesempatan yang ia berikan tak membuat Dewi belajar dan memperbaiki diri, maka jalan terakhir adalah berpisah, walau pun ia tau itu sangat dibenci Allah.


...


Bisma menatap Ajeng yang santai menikmati makannya sambil bercanda dengan Lala. Ia tak habis, bagaimana Ajeng menghadapi istri Hilman yang memakinya di tengah keramaian.


Tidak ada rasa sedih atau kesal, sikapnya begitu tenang saat berhadapan dengan perempuan yang berusaha menjatuhkan harga dirinya.


Ia sendiri merasa geram atas perbuatan Dewi. Ingin rasanya ia menghajar Hilman karena membiarkan istrinya membuat kekacauan di tengah keramaian. Kalau saja ia tidak ada, entah apa yang akan terjadi.


“Apa perempuan itu masih mengganggu bunda?” Bisma tak bisa menahan rasa ingin taunya lebih lama.


“Siapa?” Ajeng memandang Bisma begitu selesai membersihkan mulut putrinya yang belepotan es krim.


“Istri mantanmu,” Bisma enggan menyebut nama Hilman.


“Bunda, tadi kakak belanjanya buanyaaaak .... “ Lala menceritakan keseruan bersama sang ayah yang ditanggapi Ajeng dengan senyum.


Ia sendiri melihat kedua tangan putrinya yang membawa beberapa  paper bag, begitu pun Bisma yang kedua tangannya penuh tentengan yang ia sendiri tidak tau apa isinya.


“Jangan dibiasakan memberikan sesuatu yang tidak bermanfaat buat Lala,” ujar Ajeng pelan tapi tajam ketika  mereka berjalan berdampingan menuju mobil.


“Aku hanya ingin membayar semua waktu dengan mendampingi Lala dan memenuhi apa yang ia butuhkan,” Bisma berdiplomasi menjawab  perkataan Ajeng, “Jika bundanya mau, aku akan melakukan yang terbaik.”


Ajeng langsung melengos mendengar ucapan Bisma. Ia tidak tertarik untuk menanggapinya. Karena ujung-ujungnya Bisma akan memintanya kembali bersama.


....


Senyum Bisma terkembang begitu mendengar suara Lala di malam menjelang ia memejamkan mata. Baru saja kemarin ia menghabiskan waktu bersama  keluarga kecilnya, tapi rasanya ia sudah merindukan untuk kembali.


Pagi itu Bisma sedang menikmati sarapan pagi yang telah disiapkan bu Rumlah. Ia sangat bersemangat menjalani hari-harinya. Walau pun ia dan keluarga kecilnya masih terpisah ruang dan waktu, tapi  komunikasi yang lancar bahkan  tak pernah absen bercengkrama dengan putri kecilnya walau pun hanya melalui ponsel.

__ADS_1


Walau pun komunikasi yang tercipta dengan Ajeng masih kaku, tapi ia sudah bersyukur. Wajahnya yang biasa datar kini lebih ramah dari yang sudah-sudah. Bisma yakin, suatu saat ia mampu merobohkan tembok yang masih kokoh antara mereka berdua.


“Wah, aden lebih semangat sekarang,” bu Rumlah turut bahagia menyadari  majikannya yang kini lebih familiar  sudah tidak sekaku dahulu.


“Alhamdulillah bu, hubungan saya dan bundanya Lala semakin baik,” Bisma menjawab terus terang.


“Syukurlah den. Semoga ada titik terangnya,” bu Rumlah turut mendoakan yang terbaik  bagi Bisma, “Bagaimana dengan dokter cantik itu?”


Bisma mengerutkan jidatnya saat bu Rumlah menanyakan dr. Siska padanya, sedangkan ia sendiri sudah menutup komunikasi mereka, walau pun terkadang kegiatan kantor membuatnya harus bertemu dengan dr. Siska dan Wirya Dinata.


“Saya tidak ada hubungan apa pun dengannya bu,” tegas Bisma.


Ia tidak  ingin  art-nya itu menyalah artikan  kedekatan mereka yang hanya kenalan biasa saat bersama menempuh pendidikan di negara King Charles.


Bunyi bell menghentikan percakapan yang terjadi. Dengan cepat Bisma menyelesaikan sarapannya bertepatan dengan jam dinding yang berdentang 7 kali.


Bu Rumlah segera ke depan untuk membukakan pintu.


Bisma masih menikmati kopi yang  tinggal setengah gelas. Suara langkah semakin dekat membuat ia menoleh.


“Selamat pagi mas.... “  suara manja itu membuatnya terkejut.


Ia memandang Siska yang berjalan di belakang bu Rumlah dengan membawa rantang di tangannya.


“Ibu permisi dulu Den, bu dokter ..... “ bu Rumlah menyadari pandangan tajam Bisma ke arahnya melihat tamu yang datang bersamanya.


“Aku kemari karena gak ada teman sarapan di rumah,” Siska berkata dengan nada manja, “Nih, sarapannya udah aku siapkan .... “


“Maaf saya sudah sarapan,” Bisma menolak dengan tegas, “Kenapa dokter Siska harus serepot ini?”


“Aduh mas, kita ini tetanggaan. Apalagi kita dekat saat di luar negeri. Gak pa-pa, kan enak ada temannya?” Siska tidak merespon keberatan Bisma atas sikapnya.


“Tetanggaan?” Bisma tak habis pikir dengan perempuan muda yang telah ia hindari itu.


“Rumah samping itu milikku. Baru pindah Sabtu kemaren. Mas kan udah diundang, tapi gak datang.”

__ADS_1


***Jangan marah sama otor ya\, gak akan masalah berat. Happy end  pasti. Otor takut di-bully secara berjama'ah. Sayang selalu ....Happy Weekend.***


__ADS_2