
Keduanya kini duduk santai di teras rumah Ajeng yang begitu nyaman dan teduh. Bisma beberapa kali menghela nafas menyadari betapa jauhnya jarak antara ia dan keluarga kecilnya. Apalagi Ajeng telah membuang benteng yang begitu tinggi, susah baginya untuk menerobos masuk.
“Di sini tempatnya nyaman ... “ suara tenang Hilman memangkas lamunan Bisma.
Ia hanya menganggukkan kepala enggan mengeluarkan suara menanggapi ucapan Hilman. Ia akan mengikuti setiap gerak-gerik lelaki yang tampaknya telah menggeser posisi dirinya di hati Ajeng.
“Saya benar-benar tidak menyangka kalau pak Bisma mantan suami Diajeng ....” kembali suara Hilman membuat pandangan Bisma mengarah padanya.
“Diajeng?” batin Bisma tidak senang.
Entah seperti apa lelaki itu bersikap, sehingga Ajeng begitu mudah menjatuhkan hati padanya. Bisma terus merutuk dalam hati melihat tindak-tanduk Hilman yang tidak ada cela sedikit pun di matanya.
“Terus terang pak Bisma, selama saya mengenal perempuan ...” Hilman berkata terus terang melihat sikap Bisma yang santai di hadapannya, “Saya telah jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengannya.”
Senyum tipis terbit di bibir Hilman saat mengatakannya. Ia tidak tau, seberapa kekesalan menyergap dada lelaki yang duduk di sampingnya.
“Sudah berapa lama kedekatan pak Hilman dengan bundanya Lala?” Bisma tak ingin menyembunyikan rasa penasarannya.
Hilman tersenyum memandang kejauhan sambil menyeruput kopi yang ia bawa dari ruang makan tadi.
“Saya mengenalnya sudah hampir dua tahun, semenjak Diajeng mulai rutin mengunjungi usahanya di sini .... “ tutur Hilman pelan, “Rasanya sejak saat itu saya mulai memikirkannya.”
Bisma mengepal tangannya mendengar ucapan Hilman yang dengan santai berkata terus terang.
“Harus saya akui, mungkin telah jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatnya,” Hilman mengakui apa yang ia rasakan saat perjumpaan dengan Ajeng.
Bisma terdiam. Tak bisa ia pungkiri rasa cemburu dan marah langsung menyergap di dadanya. Ia merasa diremehkan saat lelaki lain mengungkapkan perasaannya pada Ajeng yang sekarang menjadi targetnya untuk kembali.
“Saya tidak pernah menyangka bahwa Diajeng sudah menikah dan hamil ...” cerita Hilman terus berlanjut.
Semilir angin disertai kicauan burung membuat suasana begitu tenang dan nyaman, tapi 9berkebalikan dengan Bisma. Hatinya merasa panas, dan jantungnya ingin meledak mendengar puja-puji Hilman pada Ajeng.
“... saya tidak ingin tau permasalahan yang terjadi antara pak Bisma dan Diajeng. Tapi saya bersyukur kini Diajeng mulai membuka hatinya pada saya,” Hilman berkata dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
Melihat Bisma yang terdiam tanpa mengomentari ucapannya membuat Hilman menatap Bisma seketika.
Deringan ponsel Bisma membuatnya mengalihkan pandangan dari Hilman. Ia melirik ponsel dan melihat nomor baru yang terpampang di sana. Dengan perasaan enggan Bisma langsung menon-aktifkan ponselnya.
Hilman melirik nomornya sekilas. Tapi ia tidak ingin mengomentari perbuatan Bisma, karena itu bukan ranahnya.
“Baiklah pak Hilman... saya pamit,” Bisma bangkit dari kursi.
Baginya duduk bersama lelaki yang dekat dengan Ajeng hanya membuang waktu dan bukan bagian dari rencananya.
“Saya juga akan pulang,” Hilman pun melakukan hal yang sama dengannya.
Ajeng muncul di hadapan keduanya saat mereka ingin berpamitan. Hilman tersenyum lega melihat kedatangannya, karena ia pun masih ada keperluan lain yang telah menunggunya.
Bertemu dan bersama dengan Ajeng hingga makan siang di rumahnya merupakan kemajuan luar biasa dalam hubungan mereka. Apalagi ia telah mengetahui siapa mantan suami Ajeng, walau pun ia tidak ingin tau permasalahan yang terjadi hingga keduanya sepakat mengakhiri rumah tangga mereka.
Walau harus ia akui, ada sorot tak rela dari mantan suami Ajeng ketika mereka terlibat percakapan serius. Tapi ia yakin, perlakuan Ajeng pada Bisma menunjukkan bahwa tidak ada lagi hubungan serius yang terjalin diantara keduanya. Dan Hilman merasa lega melihatnya.
Banyak kasus rumah tangga yang sudah berpisah, tapi karena memikirkan tumbuh kembang anak-anak mereka akhirnya bersatu kembali. Dan Hilman berharap itu tidak terjadi pada Ajeng dan mantan suaminya.
...
Siang itu di kantor Kopindag menjelang istirahat. Melihat sikap dingin Bisma yang mulai tidak peduli padanya membuat Debi kesal. Ia mulai membuka galeri untuk melihat foto-foto kebersamaannya dengan Bisma yang sempat ia abadikan.
Beberapa tempat wisata serta hotel yang jadi tempat penginapan saat mereka melakukan perjalanan dinas menjadi background yang cukup menarik sebagai spot foto saat ia ingin mengambil foto bersama Bisma. Telah banyak tempat yang mereka singgahi bersama, tapi belum membuatnya berhasil untuk membawa Bisma mengarungi lautan asmara.
Kadang-kadang ia berpikir, apakah Bisma memiliki kelainan atau penyimpangan se**ual sehingga tidak mudah terjerat dalam pesona yang ia miliki? Deby jadi bergidik sendiri membayangkan kalau apa yang ia pikirkan memang nyata adanya.
Tapi bersama perempuan yang ia akui sebagai mantan istri, Bisma telah memiliki seorang putri cantik. Jadi tidak mungkin lelaki yang begitu ia damba memiliki fantasi yang berbeda dengannya.
“Hei, apa itu foto pak Bisma?” Gita yang julid tiba-tiba sudah duduk di samping meja kerjanya.
“Ha ....?” Deby jadi gelagapan.
__ADS_1
Ia tak bisa menyembunyikan lagi, apalagi Gita langsung merampas ponselnya. Dengan lincah jemari Gita menggeser foto-foto yang menampilkan kemesraan keduanya saat melakukan perjalanan dinas.
“Ih, gak nyangka ya ... rupanya kamu ada ‘maen’ dengan bapak,” Gita menatapnya dengan raut kesal.
“Sst....!” Deby mengkode dengan jari telunjuknya.
“Uang tutup mulutnya mana?” Gita memanyunkan bibir dengan matanya yang terus memandang foto dengan penuh kekaguman.
Bagaimana tidak, foto Bisma yang hanya mengenakan baju kasual atau kaos polos dibalut jas sangat memanjakan mata dan nalurinya sebagai perempuan lajang yang pernah memiliki pasangan.
Dengan cepat Deby merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar uang merah dan mengepalkan ke tangan Gita.
“Nih!” ia memandang Gita yang tersenyum kesenangan.
“Lo harus cerita tentang kebenaran semuanya,” Gita tak menerima begitu saja walau pun Deby sudah memberikan upah tutup mulut embernya.
“Aku emang deket dengan bapak,” ujar Deby pelan menghindari rekan satu ruangannya yang memandang mereka berdua dengan tatapan curiga, “Sudah satu tahun resminya.”
“Mantap sis!” Gita mengacungkan jempolnya dengan takjub, “Jadi kamu dan bapak emang janjian pindah kemari?”
Gita tak bisa menutupi rasa ingin taunya. Saat kepindahan Bisma pertama kali ke kantor dan menjadi staf ahli sudah menjadi buah bibir para perempuan lajang di kantornya.
Wajah tampan dengan postur tinggi tegap, apalagi status duren sawit yang ia sandang membuat para lajang merasa kepanasan dan berebut perhatian ingin mendekat.
Tapi kepindahan Deby, staf cantik dari Jakarta satu bulan setelah kedatangan Bisma membuat mereka mati langkah. Bagaimana tidak, setiap ada kegiatan apa pun keduanya selalu terlibat. Deby sudah seperti dayang-dayang bagi atasan baru mereka.
Kini Gita mengetahuinya sendiri, bahwa gosif yang berseliweran itu benar. Deby staf cantik pindahan yang jadi pembicaraan para lelaki lajang maupun yang sudah berkeluarga ternyata memang memiliki hubungan pribadi dengan atasan yang mereka idolakan.
“Ternyata hari ini jadi hari patah hati bagi kami semua ... “ tuturnya sedih tapi tangannya melambaikan uang seratusan dari Deby.
“Ngawur kamu,” Deby memelototinya.
“Tapi, selamat deh. Ternyata kamu orang yang beruntung karena berhasil menggaet hati bapak yang ganteng si duren sawit,” Gita berkata dengan tulus walau pun hatinya tidak ikhlas.
__ADS_1
Ia sadar diri dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Deby memang perempuan sempurna yang begitu didamba kaum pria. Dan ia sadar akan itu.
***Jadi bingung dengan komen reader ku tercinta. Terpaksa alurnya otor rubah untuk memenuhi ekspektasi reader tersayang. Tapi yakinlah\, tetap happy end walau dengan berbagai drama. Sayang reader tercinta....***