Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 84 Percakapan di Pagi Hari


__ADS_3

Ajeng mengerutkan jidat mendengar ucapan Bisma yang langsung diangguki Dimas. Ia melihat adiknya itu buru-buru menghabiskan kopi dan bangkit dari kursinya.


“Ayo Lala sayang. Kita jalan pagi yuk, om pengen lihat teman main di depan....” Dimas berkata santai di hadapan Lala yang dengan semangat segera menghabiskan sarapannya.


“Asyik .... “ dengan penuh suka cita Lala bangkit dari kursinya.


Ia menghampiri Ajeng yang masih bersandar di dekat wastafel  dan mengamati dengan seksama drama yang sedang terjadi diantara kedua lelaki dewasa itu.


Cup... Kecupan ringan Lala hadiahkan pada bundanya.


Wajah Ajeng yang tadinya dingin melihat Dimas dan Bisma yang saling memandang dengan penuh misteri, kini langsung lenyap dengan senyum cerahnya pada sang putri.


“Ayah gak disayang....” kembali suara Bisma melenyapkan senyumnya.


Tatapan tajam Ajeng kembali mengarah pada Dimas yang tersenyum dengan kode ‘peace’ di kedua tangannya.


“Awas saja kalau kamu menyembunyikan sesuatu dariku,” batin Ajeng dengan menajamkan tatapannya saat bersirobak dengan Dimas yang dibalas adiknya dengan garukan kepala.


Dimas paham tatapan mbak-nya itu. Gak mungkinlah ia menceritakan keinganan ayah Lala untuk rujuk. Banyak alternatif untuk mengamankan amplop yang sudah nongkrong dengan manis di saku celananya.


Walau belum melihat nominal-nya, tapi dari ketebalan yang ia rasa bisa digunakan untuk mentraktir mbak-nya di akhir pekan. Senyum tipis terbit di wajah Dimas membayangkan raut wajah Ajeng jika mengetahui makan dari ‘upeti’ yang ia dapat karena menemani Bisma semalaman.


“Kakak jalan dulu ya .... “ ujar Lala sambil menggandeng tangan Dimas berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.


Ajeng melambaikan tangannya membalas putrinya yang kini sudah hilang di balik pintu dapur. Tanpa mempedulikan keberadaan Bisma, ia memungut piring dan gelas yang sudah kosong dan membawanya ke wastafel.


“Jeng .... “  Bisma memanggil namanya berharap Ajeng mau duduk bersama di kursi makan, “Ada yang ingin ku bicarakan. Biarkan saja semuanya. Nanti ada yang mengerjakan.”


“Maaf ayahnya Lala, aku harus membersihkan semua ini,” Ajeng menolak keinginan Bisma.


Ia tidak tertarik untuk berbicara dengan Bisma, karena merasa tidak ada kepentingan apa pun dengannya. Dengan santai ia menyelesaikan semua cucian piring dan gelas yang sudah mereka gunakan.


Dari sudut matanya, Bisma melihat Ajeng yang tidak terpengaruh sama sekali dengan keberadaan dan keinginannya untuk berbicara. Ia mulai yakin dengan ucapan Dimas tentang karakter perempuan yang telah memberinya seorang putri itu.


Tapi Bisma tak putus harapan. Jalannya masih panjang, onak dan duri yang berada di depannya pun belum sempat ia buang. Tapi paling tidak, ia mulai mencari arah untuk meretas jalan yang bakal ia lalui untuk menemukan jalan kembali.

__ADS_1


Melihat Bisma yang tidak bergerak dari kursinya membuat Ajeng menghela nafas. Ia tidak tau apa yang ingin lelaki itu bicarakan padanya. Tanpa berprasangka apa pun ia menghempaskan tubuh di kursi di hadapan Bisma.


Senyum  mengembang di wajah Bisma melihat Ajeng yang kini dengan kerelaannya duduk walau pun dengan wajah yang datar, tidak ada manis-manisnya.


Belum sempat Ajeng bersuara para art mulai keluar dari kamar masing-masing. Bisma menyadari ketidaknyaman Ajeng. Ia pun yakin, tidak bebas bagi keduanya untuk membicarakan sesuatu yang ‘penting’ di tengah pandangan dan pendengaran beberapa mata dan telinga yang kini mulai wara-wiri di dapur.


“Baiknya kita berbicara di samping saja,” Bisma menyadari kegelisahan yang ditunjukkan Ajeng.


Terpaksa Ajeng menganggukkan kepala menyetujui usul Bisma. Ia mengikuti langkah lebarnya yang berjalan keluar dari pintu samping menuju gazebo yang berada di ujung garasi.


“Apa yang ingin ayahnya  Lala bicarakan?” tembak Ajeng langsung begitu keduanya duduk berdampingan menghadapi taman bunga yang indah dan segar tersiram hujan semalaman.


Ia tidak ingin berbasa-basi terlalu lama. Dalam pikiran positifnya, Ajeng meyakini bahwa Bisma hanya ingin menanyakan perkembangan Lala semenjak kepergiannya ke luar negeri. Ia siap mendengarkan dan memberikan jawaban sesuai yang akan ditanyakan padanya.


Sementara itu  Dimas membawa Lala ke sebuah taman yang berada di dalam kompleks perumahan yang sangat asri. Karena semalaman hujan, banyak kursi yang basah sehingga tidak dapat diduduki.


Dimas kembali menggandeng Lala menuju sebuah gazebo yang berada tidak jauh dari taman tempat mereka berada. Karena hari ini Sabtu dan kebetulan habis hujan, tidak banyak kendaraan yang keluar masuk kompleks seperti hari kerja biasa.


“Om, kakak mau jajanan itu!” jemari mungil Lala menunjuk taman yang berada di luar kompleks yang dipenuhi dengan penjual makanan ringan yang biasa mangkal di akhir pekan.


Dengan menggandeng tangan Lala, ia menyeberangi jalan raya yang memisahkan area taman dengan kompleks perumahan yang di matanya sangat mewah.


Karena berada di luar komplek, taman yang mereka kunjungi sangat ramai saat ini. Ada yang bersepeda, dan yang pasti didominasi anak-anak dan remaja yang bermain bola.


“Lala pengen yang mana?” Dimas berdiri sambil memandang aneka camilan yang hits di kalangan anak sampai dewasa.


Mata Lala berbinar melihat semua jajanan murah meriah yang terbentang sepanjang jalan.


“Tapi satu-satu dulu, jangan terlalu banyak,” pesan Dimas, “Ntar gak di makan bisa dimarahin bunda lho ....”


“Siap om ganteng,” balas Lala tersenyum lebar, hingga giginya yang ompong terlihat lucu.


“Ha ha ....” Dimas tak bisa menahan tawa atas kepolosan ponakannya itu.


Dengan sigap ia meraih amplop yang berada di saku celananya. Matanya melotot melihat lembaran uang merah seratus ribu berdempetan hampir membuat amplop robek. Ia yakin jumlahnya diatas 5 jutaan.

__ADS_1


“Masya Allah ....” mulutnya melongo tidak percaya dengan pemandangan indah dalam genggamannya.


Ia yakin ‘reward’ dari mantan iparnya itu tidak main-main. Apa yang harus ia lakukan dengan uang sebanyak itu.  Bagaimana jika mbak-nya marah dan menyuruhnya mengembalikan uang itu.


“Tapi ini uang halal kan? Aku tidak mencuri dan tidak korupsi.” Dimas jadi bingung dengan pemikirannya sendiri.


Belum pernah ia memegang uang sebanyak itu, bahkan memilikinya. Kini ia termangu tidak tau harus berbuat apa dan memberi jawaban apa jika Ajeng menanyakan asal muasal uang ‘kaget’ yang membuatnya terkaget-kaget bahkan bingung saat ini.


Kita tinggalkan kebingungan Dimas yang masih berpikir keras atas uang yang kini kembali ia simpan di kocek depan celananya. Ia tidak terlalu  khawatir jika hilang walau pun sudah ia simpan dengan hati-hati. Kekhawatiran terbesarnya adalah pertanyaan yang bakal diajukan Ajeng, darimana ia memiliki uang saku sebesar itu.


“Kenapa bunda tidak mengatakan padaku kalau gagal menikah dengan Hilman?” tanya Bisma serius langsung pada topiknya.


Ajeng mengerutkan jidatnya membalas tatapan Bisma. Keduanya saling berpandangan berusaha menguji kekuatan masing-masing.


Dari mata bening itu, Bisma melihat raut ketidaksukaan atas pertanyaan yang ia tujuan padanya.


“Padahal aku turut bahagia, karena bunda telah menemukan seorang lelaki yang lebih baik,” Bisma berterus terang akan  perasaannya saat akan pergi meninggalkan negara tercinta dengan membawa hati yang kecewa.


Ajeng hanya tersenyum menanggapi ucapan Bisma. Ia tidak percaya pertanyaan remeh itu akan keluar dari lelaki ‘batu’ yang pernah ia doakan di malam-malam dingin kebersamaan mereka.


Bisma tidak percaya melihat sikap santai Ajeng dalam menanggapi  pertanyaannya. Ia tidak bisa menahan diri untuk menyampaikan keinginannya rujuk kembali.


“Apa bunda menginginkan kita rujuk kembali?” todong Bisma langsung melihat gelagat Ajeng yang tidak tertarik menjawab perkataannya.


Sontak saja mata Ajeng membulat mendengar pertanyaan Bisma. Tatapannya kini sinis memandang lelaki yang telah memberinya luka sekaligus penawarnya yaitu putri kecil mereka Lala.


“Jangan menanyakan sesuatu yang tak mungkin aku lakukan!” tegas Ajeng tanpa senyum.


Bisma terdiam mendengar nada sinis yang diucapkan Ajeng dengan tegas. Ia memandang raut ayu yang semakin menarik di matanya dalam keadaan emosi seperti ini.


“Setiap orang mempunyai kesalahan. Aku sudah menyesali semua yang terjadi di masa lalu,” Bisma masih berkata dengan nada rendah.


Ia sudah bertekad untuk memulai. Sekecil apa pun kesempatan saat bertemu Ajeng, ia akan  mengemukakan keinginannya untuk bersama. Tak peduli sebesar apa penolakan Ajeng,  toh tidak ada lelaki lain di hati nya sekarang. Dan ia akan berjuang bersungguh-sungguh.


***Ikuti saja alurnya yah. Seperti lagu\, tak segampang itu .......***

__ADS_1


__ADS_2