
“Jadikan itu pembelajaran buat ayahnya Lala jika ingin memulai kembali,” Ajeng berkata dengan bijak.
“Karena itu tidak ada salahnya kita coba memulai kembali,” Bisma menatap Ajeng dengan lekat.
“Pernikahan itu bukan untuk coba-coba,” Ajeng memangkas ucapan Bisma, “Ayahnya dan aku sudah pernah menjalani, tapi ternyata jodoh kita tidak panjang. Dan aku menyerah untuk itu.”
“Ayolah bunda ...” Bisma berkata pelan, berusaha mengubah keputusan Ajeng yang tidak terlalu menanggapi perkataannya.
Ajeng tersenyum santai sambil menatap kejauhan. Ia agak heran dengan perubahan sikap lelaki yang kini berusaha memancingnya dan berbicara panjang lebar padanya, apa lagi membahas hubungan masa lalu yang baginya sudah terkubur dan tidak perlu diungkit lagi.
Hal yang sangat jarang bahkan tidak pernah terjadi selama kehidupan pernikahan mereka. Kecuali ...
“Ku rasa kita tidak pernah terlibat pembicaraan seserius ini ... “ Ajeng kembali melayangkan pandangan pada Bisma yang masih menatapnya.
Bisma menghela nafas perlahan. Ajeng sama sekali tidak tertarik dengan ajakannya untuk rujuk. Ia mengalihkan pandangan, berusaha membuang perasaan kecewa yang kini hadir mengisi relung terdalam.
“Apakah perbuatanku di masa lalu membuat bunda enggan untuk memulai kembali?” Bisma tidak bisa menahan perasaan untuk mengetahui isi hati perempuan di hadapannya yang tetap keukeuh dengan pendiriannya.
“Mengapa hal remeh yang sudah lama berlalu itu ditanyakan kembali?” Ajeng menatap Bisma santai tanpa beban.
“Atau pernikahan Hilman membuat bunda trauma?” Bisma masih ingin menyelami isi hati Ajeng yang terdalam.
Ia harus tau jawaban Ajeng. Dengan demikian ia bisa memikirkan jalan lain untuk menemukan cara meraih kembali hati perempuan yang akan ia perjuangkan itu.
Ajeng menggelengkan kepala atas pertanyaan Bisma yang menurutnya ‘kepo banget’ atas semua kehidupan yang ia jalani.
“Atau bunda tidak ingin menikah, karena merasa nyaman dengan laki-laki yang selalu ada di sekitaran bunda .... “ tebak Bisma seketika membuat Ajeng langsung mendelik ke arahnya.
“Perkataan ayahnya Lala semakin ngelantur,” Ajeng berkata sinis mendengar tuduhan Bisma.
“Ayolah bunda ... “ Bisma tak patah semangat.
Sebenarnya Ajeng enggan mengomentari ucapan Bisma yang kini benar-benar berubah 180 derajat. Sedikitpun ia tidak tertarik. Tapi perkataan yang diucapkan Bisma seperti tuduhan yang baginya sangat menyudutkan.
__ADS_1
Memangnya ia perempuan murahan, ‘janda gatel’ seperti tuduhan istri Hilman, sehingga menyukai berada di tengah laki-laki yang tidak ada hubungan apa pun dengannya.
“Jika papanya Lala sudah punya calon, kenapa tidak diresmikan sekalian?” kini Ajeng mengalihkan pembicaraan mereka.
“Calon yang mana?” Bisma membalikkan pertanyaan Ajeng.
Ia ingin mendengar pernyataan Ajeng dan tanggapannya tentang gosip murahan seperti yang disampaikan Dimas dalam pembicaraan mereka kemaren malam.
“Dokter cantik itu,” Ajeng berkata dengan santai, “Kelihatan orangnya baik dan masih sangat muda.”
“Kami tidak ada hubungan spesial,” Bisma berkata apa adanya, “Dan sejujurnya aku tidak memiliki perasaan apa pun padanya.”
“Perasaan suka bisa tercipta kapan saja,” Ajeng menjawab dengan enteng, “Apalagi ayahnya Lala dan dia sudah bersama selama menempuh pendidikan di sana.”
Bisma berusaha mencerna ucapan Ajeng. Tapi ia tidak menemukan ‘sesuatu’ di sana. Atau mungkin saja Ajeng telah hilang rasa hingga bisa berkata sesantai itu padanya.
“Tidakkah bunda menginginkan kita rujuk demi Lala? Aku tidak ingin memberikan putri kita ibu sambung, jika kita berdua bersama kembali,” Bisma menegaskan keinginannya, “Ku rasa ini akan sangat baik bagi tumbuh kembang Lala jika kita bersama ....”
Ajeng geleng-geleng kepala mendengarkan perkataan Bisma yang selalu membahas untuk rujuk. Rasanya ia hanya membuang waktu duduk bersama lelaki batu yang sudah mencair menjadi pasir ini.
Bisma tertegun. Pertanyaan Ajeng cukup mengejutkannya. Ia sama sekali tidak membayangkan semua yang Ajeng jalani selama membesarkan putri mereka sejak orok hingga tumbuh sehat dan menggemaskan.
“Dan perlu ayahnya Lala tau ...” Ajeng menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya, “... aku menolak tawaran rujuk bukan berarti aku senang berada di tengah para bujangan, atau suami orang, atau aku belum bisa ‘move on’ dari masa lalu. Bukan itu.”
Bisma tidak menyela percakapan Ajeng. Ia ingin semua unek-unek yang ditahan Ajeng dikeluarkannya. Karena ia berharap bisa menyembuhkan luka lama yang mungkin masih ada sayatan yang tersisa.
“Masalah hati hanya membuat luka dan kecewa berkepanjangan. Dan itu bukannya satu kali ku alami, dua kali bahkan,” kegetiran suara Ajeng mulai terdengar, “Tapi Allah memberikan karunia yang luar biasa, bahkan lebih besar dari luka dan kecewa. Banyak orang baik yang mendukungku serta menyayangi Lala.”
“Apakah bunda menolakku karena gosip tentang hubunganku dengan dokter Siska?” Bisma ingin memastikannya lagi.
“Itu tidak ada hubungannya sama sekali,” tegas Ajeng, “Aku sudah nyaman sendiri. Karena banyak orang yang mengandalkanku. Membuat orang lain bahagia adalah prioritasku saat ini. Jika ayah Lala ingin memulai kembali, silahkan ... Semoga saja siapa pun yang mendampingi ... akan menjadi ibu sambung yang baik bagi putri kita.”
“Jeng, tidak adakah kesempatan untuk kita untuk bersama lagi?” Bisma masih bertanya dengan penuh harap.
__ADS_1
“Aku tidak ingin ayahnya Lala membuang waktu percuma. Jalanilah masa depan bersama perempuan terbaik yang telah ditemui,” ujar Ajeng, “Aku permisi.”
Tanpa meminta persetujuan Bisma ia melangkah sendiri berjalan menuju pintu tempat mereka keluar bersama tadi.
Bisma masih terpekur setelah percakapan panjang antara ia dan Ajeng. Ia kini semakin yakin dengan ucapan Dimas, kalau ternyata inilah karakter sesungguhnya perempuan yang sedang ia perjuangkan.
Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Ternyata ia perlu kesabaran yang lebih untuk mendobrak tembok kokoh yang telah dibangun Ajeng untuk menggembok hatinya agar tidak kembali merasakan luka.
....
Dengan penuh semangat Lala berlari sambil membawa kantong berukuran sedang yang berisi jajanan kaki lima di sebelah kiri dan es krim di tangan kanannya. Di belakangnya Dimas juga membawa satu kantong yang lumayan besar.
Semua permintaan Lala ia turuti, terlanjur dapat rejeki nomplok yang tidak mungkin terjadi dua tiga kali seumur hidup. Walau setumpuk jawaban sudah harus ia siapkan jika ada pertanyaan tentang uang kaget yang ia dapat hari ini.
Bruk!
“Astagaaa .... “ teriakan perempuan cantik yang baru keluar dari mobil menghentikan langkah Dimas.
Wajah panik Lala tergambar dengan jelas saat es krim yang ia pegang mengotori pakaian perempuan yang kini menatapnya dengan tajam.
“Punya mata gak sih?” ucapan kasar Siska yang sengaja datang berkunjung bersama papanya membuat Lala ketakutan dan berlindung di belakang Dimas.
“Maaf mbak, ponakan saya tidak sengaja .... “ Dimas berkata penuh penyesalan.
“Memangnya kamu dan cecunguk kecil ini tau harga gaun yang saya pakai ini?” desis Siska geram dengan mata melotot penuh kemarahan.
Ia dan papanya sengaja datang berkunjung di siang hari ini agar suasananya lebih akrab dan penuh kekeluargaan. Karena, disaat undangan kemaren, ia merasa tersanjung dengan perkataan Susilo yang sangat mendukung kedekatannya dengan Bisma.
Apalagi perkataan Susilo tentang harapan Nurita kalau Bisma akan segera menyusul Mayang mengakhiri kesendiriannya. Ia akan memanfaatkan keberadaan mereka di Surabaya untuk mendekati keluarga besar Bisma.
“Sudah Sis,” Wirya menahan emosi putrinya yang tidak bisa dikontrol kalau sudah marah begini.
Ia khawatir tuan rumah akan keluar dan melihat kekacauan yang ditimbulkan Siska, hingga membuat ‘calon besan’ mereka tidak simpatik. Ia tidak akan melepas begitu saja tangkapan besar yang sudah jadi target mereka di masa depan.
__ADS_1
“Cepat bawa anak itu ke dalam. Dasar !” Wirya langsung menunjuk Dimas yang merasa tidak enak hati atas perlakuan keduanya yang sangat kasar pada ia dan Lala.
***Hayo readerku sayang\, komentarnya yang banyak ya otor tunggu ... Sayang selalu ... ***