
“Aku akan berubah demi Lala,” tegas Bisma, “Ku harap Ajeng bisa memahamiku seperti dulu.”
“Maaf pak, bukannya saya membela mbak Ale dan tidak menghormati bapak sebagai atasan saya. Apa mungkin pernikahan yang telah bapak lepas ikatannya akan bisa sama setelah semua yang terjadi, walau pun secara kenegaraan belum sah, tapi di mata agama sudah tidak ada ikatan apapun antara bapak dan mbak Ale,“ Ibnu kali ini menyampaikan pendapatnya secara logika.
“Saya sudah bertanya dengan orang yang ahli agama. Selama perceraian belum diproses pengadilan agama masih bisa rujuk. Dan aku tau apa yang harus ku lakukan untuk menyelamatkan pernikahan kami,” Bisma berkata dengan penuh percaya diri.
“Apa yakin mbak Ale akan menerima semua keinginan sepihak bapak?” ibnu tak percaya dengan optimisme yang ditunjukkan Bisma.
“Kamu benar. Sikap Ajeng berubah padaku. Ia menganggapku sebagai orang asing dan memperlakukanku seperti orang lain,” keluh Bisma.
“Bagi saya itu wajar. Karena bapak telah memilih dan menjalani kehidupan sendiri dengan tidak melibatkan mbak Ale dan Lala di dalamnya.”
“Aku merasa tersiksa sekarang .... “ Bisma tak bisa menyembunyikan rasa sesak yang ia rasakan.
“Cobalah untuk mencintai mbak Deby secara tulus. Mungkin masih terdapat kebaikan dalam dirinya,” saran Ibnu, “Biarkan mbak Ale menjalani kehidupan yang ia rasa nyaman.”
“Rasanya sekarang aku tak bisa menjauh dari Lala dan Ajeng,” Bisma menatap lekat putri kecilnya yang kini telah terlelap dalam pangkuannya.
“Saya hanya berharap bapak dan mbak Ale menemukan kebahagiaan masing-masing dan tidak ada keegoisan lagi di dalamnya. Dan semoga Allah menunjukkan jalan terbaik untuk bapak dan mbak Ale ke depannya.”
Bisma memandang Ibnu seketika. Ia tau, Ibnu lah bawahan yang paling jujur yang ia kenal. Selalu berbicara apa adanya dan tidak pernah cari muka hanya untuk keuntungan pribadinya.
“Apa menurutmu ada jalan untuk kami berdua?” Bisma kembali mengajukan pertanyaan pada Ibnu yang tampak berpikir keras atas kerumitan hubungan yang ia jalani saat ini.
“Bapak tentu lebih tau apa yang terbaik,” ujar Ibnu diplomatis.
“Terima kasih atas waktunya Nu. Aku tidak akan mengingkari janji padamu,” Bisma menepuk pundak Ibnu begitu keduanya memutuskan berpisah.
Dengan menggendong Lala ia kembali ke mobil. Jam telah menunjukkan pukul dua belas siang. Sinar Matahari begitu garangnya membuat suasana panas menyengat.
Perjalanan Dimas dan Hilman ke tempat pak Tejo ternyata tidak membuahkan hasil. Saat bertemu dengan si pemilik lahan, nyatanya sudah ada pembeli yang membayarnya tanpa menawar sama sekali.
“Maafkan bapak nak .... “ berkali-kali pak Tejo menyampaikan permohonan maaf karena tidak memberikan informasi bahwa lahan yang berisi kolam lele miliknya telah terjual.
“Apa kami boleh tau siapa yang telah membelinya pak?” rasa penasaran membuat Hilman ingin tau orang yang telah mendahuluinya membayar lahan yang berisi beberapa kolam lele yang begitu diinginkan Ajeng.
“Kelihatannya bukan orang sini. Dari penampilannya orang luar kota,” pak Tejo berkata perlahan.
Dalam hati Hilman menahan kekesalan. Bagaimana tidak, mereka sudah melakukan tawar menawar dan menyepakati harga. Tapi kembali lagi ia hanya bisa menahan diri.
__ADS_1
Dimas terdiam memandang keduanya yang saling berdiam dengan pikiran masing-masing. Ia pun tidak tau harus berkata apa. Hanya jadi pendengar dan pengamat melihat semua yang terjadi.
“Kebetulan dua hari setelah kedatangan nak Hilman, putri sulung saya memerlukan modal untuk perpanjangan sewa rukonya,” Pak Tejo berkata dengan wajah penuh penyesalan, “Hingga esok harinya seorang dari kota datang dan menawarkan sejumlah uang untuk membayar empang bapak.”
Hilman menghembuskan nafas berusaha membuang kekesalan yang hinggap di kepalanya. Mau bagaimana lagi, berarti memang belum rezeki Ajeng untuk memiliki lahan yang tersedia kolam lele yang sebagian telah siap panen.
“Baiklah pak. Saya bisa memakluminya,” senyum tipis terbit di bibir Hilman membuat pak Tejo merasa lega.
“Terima kasih nak,” pak Tejo berkata dengan pelan, “Semoga mbak Ajeng gak kecewa ....”
“Baiklah pak, kami permisi dulu.”
Dengan menahan kekesalan akhirnya Hilman pamit meninggalkan kediaman pak Tejo yang diikuti Dimas yang diam tak bergeming. Kepergian keduanya membuat pak Tejo menghela nafas lega.
“Jadi lahan seluas itu sudah dibayar orang lain ya mas?” akhirnya Dimas memberanikan diri bertanya pada Hilman begitu keduanya sudah di dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang.
“Begitulah Dim,” ujar Hilman sambil menghela nafas berat.
Rasanya ia tak mempunyai muka untuk membicarakan kegagalannya pada Ajeng. Tapi semua sudah terjadi. Ia berharap Ajeng tidak kecewa karena keinginannya untuk menambah usaha kolam lele gagal total.
“Ku harap mbakyu mu tidak marah,” Hilman berkata dengan nada khawatir.
Mendengar ucapan Dimas, sedikit banyak membuat Hilman tenang walau pun masih kurang yakin karena belum bertemu Ajeng. Perjalanan terlewati tanpa banyak percakapan didalamnya.
Sementara itu di kediamannya Ajeng sudah mempersiapkan makanan untuk menjamu Hilman yang telah menelponnya beberapa menit yang lalu. Ia belum mengetahui bahwa kepergian Hilman dan Dimas tidak membawa hasil, karena belum ada pembicaraan yang mengarah ke sana.
Sambil menunggu kedatangan keduanya, mata Ajeng tak berhenti melirik ke arah jam dinding. Sudah hampir tiga jam Bisma membawa Lala main di luar. Ia agak khawatir terjadi sesuatu pada putrinya. Tetapi ia berusaha menepiskan pikiran negatif yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Ia yakin Bisma akan menjaga putri mereka dengan baik. Secara perlahan rasa khawatir mulai hilang dari benaknya. Sedikit pun ia tidak pernah memikirkan perkataan Dimas tentang sikap Bisma akhir-akhir ini.
Ajeng telah membuang jauh-jauh rasa yang pernah hadir di hatinya saat Bisma kedua kalinya mengungkapkan keinginan untuk berpisah. Ia sadar diri, bahwa dirinya bukanlah pilihan Bisma untuk bersama hingga menua.
Biar pun perceraian mereka belum ketuk palu, tapi Ajeng telah membiasakan diri hidup tanpa kehadiran Bisma dan ia telah mampu menjalaninya. Jadi ia menjauhkan segala perkataan Dimas dari benaknya, dan menganggapnya hanya omong kosong yang tidak perlu ditanggapi.
“Assalamu’alaikum ....” suara nyaring Dimas menghentikan aktivitas Ajeng.
“Wa’alaikumussalam .... “ dengan cepat Ajeng menyambut kedatangan keduanya.
Perasaan Hilman tidak nyaman karena kembali ke rumah dengan tangan kosong. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri, datang dengan kabar yang tidak mengenakkan.
__ADS_1
“Kenapa tidak bersemangat?” Ajeng mengerutkan jidat melihat wajah tak bersemangat Hilman, sedangkan Dimas biasa saja.
“Mendingan makan dulu aja deh. Udah laper nih ....” Dimas ngeloyor pergi meninggalkan keduanya.
“Benar mas,” ujar Ajeng cepat, “Nanti kita lanjutkan.”
Hilman hanya mengangguk mendengar ajakan Ajeng. Ia belum menyiapkan jawaban yang menenangkan jika Ajeng mengetahui kegagalan kepergiannya dan Dimas.
“Makan yang banyak mas, biar kuat menghadapi kenyataan ... “ sesempatnya Damar berkelakar saat ketiganya sudah menghadapi menu yang terhidang di meja makan.
“Makasih Dim,” Hilman mengangguk dengan senyum tipisnya.
Melihat makan siang yang sangat menggugah selera membuat Hilman melupakan sejenak rasa kecewa yang masih bertahta di benaknya. Ia makan dengan sangat lahap.
Kebetulan baru kali ini Ajeng dengan kemurahan hati mengundangnya makan siang bersama setelah kedekatan yang terjadi setahun belakangan ini.
Dimas masih melanjutkan makan siang ketika Hilman menyudahi dengan meminum air putih yang sudah tersedia di hadapannya.
“Jeng, aku minta maaf .... “ akhirnya Hilman mulai bersuara setelah terdiam beberapa saat.
“Untuk .... “ Ajeng menatap Hilman dengan jidat berkerut.
“Ternyata pak Tejo telah melepasnya pada orang lain lima hari hari setelah kedatangan kita,” Hilman berkata dengan perasaan bersalah.
Ajeng tertegun mendengar perkataan Hilman. Padahal ia sudah berharap banyak dengan kolam lele siap panen yang mereka datangi beberapa waktu yang lalu.
“Apa pak Tejo memberitahu siapa yang membelinya?” Ajeng tak habis pikir dengan ucapan Hilman.
“Kebetulan putrinya kehabisan modal. Pak Tejo tidak sempat menghubungi kita, bertepatan dengan pembeli dari kota yang langsung membayarnya,” ujar Hilman lesu tak bersemangat.
Melihat wajah Hilman yang merasa bersalah membuat Ajeng tak tega. Ia langsung mengulas senyum.
“Ya gak pa-pa to mas. Berarti memang belum jodoh saya .... “ dengan santai Ajeng berkata untuk mengurangi rasa bersalah lelaki yang begitu baik padanya dan mulai mengisi hari-harinya belakangan ini.
“Aku akan berusaha mencari lahan lain yang akan menunjang usaha kafe resto-mu,” Hilman berkata dengan sungguh-sungguh.
“Santai aja mas,” sela Dimas cepat, “Kan saya sudah bilang, mbak gak terlalu ngoyo untuk memperluas usahanya.”
“Ya, aku yakin itu.”
__ADS_1
Ketiganya akhirnya terlibat percakapan ringan dengan Dimas yang masih melanjutkan makan siangnya yang belum kelar-kelar.