Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 52 Keputusan Bisma


__ADS_3

“Siapa yang menyuruhmu berada di ruangan ini?” tatapan tajam sekaligus suara tegas Bisma membuat Deby terkejut.


“Mas, aku sudah cape menunggu. Masa tanggapanmu sedingin itu?” suara manja Deby membuat Bisma menghela nafas kesal.


Perempuan yang satu ini memang tidak memiliki etika. Kesalahan yang ia perbuat dalam menjatuhkan hati pada pertemuan yang membuatnya tak bisa lena di malam hari, akibat penyesalan yang terus menghantui.


“Bukankah aku sudah mengatakan padamu. Kita harus mengakhiri semua sampai di sini,” tegas Bisma.


Ia tidak ingin jatuh terlalu dalam pada pilihan yang akan ia sesali seumur hidup. Deby bukan perempuan terbaik yang ia temui dalam hidupnya. Kemahirannya dalam kinerja ternyata tak seimbang dalam kehidupan pribadi yang ia jalani.


Ia sudah membuktikan sekarang, bahwa pandangan dan pikirannya tentang seorang perempuan telah membuatnya jatuh di tempat yang salah.


“Tidak mas. Aku tidak ingin berakhir seperti ini,” Deby dengan tegas menolak keinginan Bisma.


“Aku sudah mempertimbangkan banyak hal,” Bisma menatap Deby datar.


Pesona yang selama ini terpancar di wajah cantik dengan bibir menyala itu memudar begitu saja di matanya.


“Mama dan papa selalu menanyakan keseriusan mas pada hubungan kita ….” Suara Deby yang seperti rengekan manja membuat Bisma muak.


Padahal di awal kedekatan mereka, ia sangat menyukai perhatian serta kemanjaan sikap yang ditampilkan perempuan cantik itu. Dirinya merasa menjadi lelaki seutuhnya.


Deby sangat tau menyanjung dan membuatnya berharga atas setiap perhatian dan kata-kata manja, merdu merayu.


“Aku bukan lelaki yang tepat untukmu. Carilah lelaki yang sesuai dengan keinginanmu,” Bisma sudah memutuskan semuanya.


“Tapi cintaku hanya kamu mas …. “ Deby mulai mengeluarkan senjata air mata.


Ia tau, Bisma akan luluh dengan air mata yang selalu jadi andalannya ketika terdesak untuk mencari alibi.


“Aku telah memutuskan untuk menerima tawaran mengambil S3 di London,” Bisma menatap Deby tanpa makna, “Itu akan menghabiskan tiga tahun bahkan lebih waktuku di sana.”


Deby terkejut mendengar ucapan Bisma. Bagaimana mungkin ia sanggup menunggu selama tiga tahun atau lebih malah …


“Bagaimana kalau kita langsung menikah? Aku siap mendampingi mas selama di sana.” Deby berkata dengan penuh keyakinan.


Ia berharap Bisma mengabulkan keinginannya. Dengan mendampingi Bisma di London maka akan menaikkan statusnya di mata orang yang suka memandang sebelah mata padanya.


“Itu belum ada dalam rencanaku dalam waktu dekat ini,” potong Bisma.


Ia heran se-cetek apa otak perempuan yang penah begitu ia damba untuk menjadi pendamping dan menua bersamanya. Padahal ia sudah berulangkali mengatakan tentang mengakhiri hubungan yang tak bertujuan, tetapi perempuan itu tak pernah mendengar dan memahami apa yang ia katakan


“Aku rela walau hanya menikah siri,” ucap Deby penuh harap.

__ADS_1


Ia yakin Bisma kali ini akan setuju. Pernikahan siri tidaklah seribet pernikahan pada umumnya, walau pun akan merugikan pihak perempuan. Tapi Deby sudah memastikan bahwa dirinya tak akan rugi walau hanya berstatus istri siri.


Ia sudah tau watak Bisma semenjak kedekatan mereka, walau kini ia menyangsikan sendiri hubungan yang telah terjalin atas dinginnya sikap Bisma. Bukannya ia tak paham dengan keinginan dan semua ucapan  Bisma akan berakhirnya hubungan yang terjalin tanpa makna.


Tapi ia menulikan diri, dan menganggap itu hanya angin lalu. Ia tidak ingin melepas tambang emas yang tinggal selangkah lagi berada dalam genggaman. Dan ia tak akan menyia-nyiakan jika waktu itu tiba.


“Deb, maafkan saya. Tapi kamu harus tau,” Bisma tidak bisa menahannya lebih lama lagi, “Saya sudah yakin untuk mengakhiri hubungan kita.”


“Mas, aku tidak bisa menerima keputusan sepihakmu,” wajah Deby berubah sendu, “Tidak bisakah mas memberi kesempatan padaku?”


“Maaf  Deb!” kali ini Bisma bersungguh-sungguh, “Saya ternyata melakukan kesalahan  memulai hubungan denganmu saat masih terikat pernikahan.”


“Bukankah mas mengakui sendiri, bahwa perempuan itu hanya memanfaatkan kekayaan keluarga mas,” Deby berusaha mengingatkan ucapan Bisma.


“Itu kesalahan terbesar saya, membuka aib keluarga,” Bisma tak mengalihkan pandangan dari Deby yang terus menolak ucapannya.


Bisma terpaku. Ia mengingat semua ucapan yang dikatakan Ajeng tentang tuduhan yang membuatnya terluka. Ia jadi berpikir, bagaimana mungkin Ajeng mengetahui semua? Dan siapa yang telah memberitahunya hingga Ajeng mengungkap di hadapannya?


“Mas, ayo kita menikah,” melihat Bisma yang terpaku dengan pikirannya membuat Deby mendekatinya dan berjongkok di hadapannya, “Aku rela mendampingimu kemana pun.”


Bisma terkejut dengan perbuatan Deby. Ia bangkit dengan cepat dan berjalan menjauh. Kini ia berdiri bersandar di meja kerja menghadap Deby.


“Saya tidak tau apa yang telah kamu katakan pada Ajeng.”


Deby tidak mengakui secara langsung bahwa ia memang berbicara pada perempuan yang ia yakini telah membuat keputusan Bisma untuk bersamanya goyah.


“Perempuan itu memang harus sadar diri, bahwa ia tidak pantas menjadi pendampingmu,” Deby berkata dengan penuh percaya diri.


“Ternyata saya salah besar,” Bisma menggelengkan kepala tak percaya dengan ucapan Deby, “Kita memang bukan pasangan yang tepat. Beruntung saya mengetahuinya lebih awal. Saya ingin kita mengakhiri semuanya baik-baik.”


“Apa maksud mas mengatakan ini padaku?” Deby berjalan mendekati Bisma. Ia tidak akan menyerah sampai kapan pun.


“Cukup Deb!” Bisma menahan langkah Deby yang terus mendekat.


Ia semakin gusar dengan kekurang ajaran Deby yang tetap ngotot atas penolakan yang ia lakukan.


“Mas tidak bisa meninggalkanku begitu saja,” Deby menggelengkan kepala dengan keras, berusaha melemahkan Bisma yang sudah kuat dengan tekadnya.


Ia sudah berjuang sejauh ini, bahkan mengurus mutasi kerja dengan mengorbankan harga diri pada pihak-pihak terkait bahkan pimpinan terdahulunya. Bagaimana mungkin ia mundur begitu saja?


“Ini tidak adil buatku ….” Deby menggelengkan kepala atas acuhnya Bisma menghadapi dirinya yang sudah menjatuhkan hati terlalu dalam dan berharap Bisma segera melamarnya.


“Ini lebih tidak adil bagi Ajeng,” Bisma memotong ucapan Deby, “Saya sebagai suami yang memiliki dosa besar pada Ajeng.”

__ADS_1


“Bukankah mas sudah berpisah dengannya. Dia pun akan menikah dengan pak Hilman,” Deby berkata dengan cepat, “Sudah saatnya kita melakukan hal yang sama. Mas dan aku sudah berhubungan hampir satu tahun. Sudah lebih dari cukup untuk kita mengenal satu sama lain.”


“Tidak Deb. Keputusan saya sudah final!” tegas Bisma, “Kita sudah berakhir.”


“Mas tidak tau perjuanganku hingga sampai ke fase ini?” rasanya Deby ingin mengungkapkan semua yang terjadi agar selalu berdampingan dengan Bisma hingga mutasi di tempat yang sama, “Apa perempuan ‘gat*l’ itu yang membuat mas berubah?”


Bisma tidak terima dengan sebutan Deby pada Ajeng yang di matanya tidak memiliki kesalahan apa pun. Beribu kali ia menyesali kedekatan yang terjadi, apalagi dengan entengnya mulut Deby yang mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan penampilannya.


“Mulai sekarang, saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti perempuan yang telah melahirkan putri saya.” Bisma menatap Deby dengan tajam.


Ia benar-benar tidak menyangka perempuan yang kini ia hadapi benar-benar tak tau diri. Harusnya ia lebih keras bersikap agar tidak kalah dengan omongannya yang terus membab* buta.


“Ini sangat menyakitkan buatku … “ Deby berkata lirih.


Tampaknya sudah tidak ada harapan baginya untuk mempertahankan Bisma yang sudah bulat dengan keputusannya.


“Apa yang harus ku katakan pada mama dan papa, bahwa mas tidak serius dan hanya bermain-main denganku?”


Bisma tertawa jijik dengan ucapan Deby. Ia sangat tau keahlian Deby dalam memutar balik fakta dan membuat orang jadi iba dengannnya. Tapi ia tidak akan membiarkan dirinya termakan semua bujuk rayu Deby.


“Apa perlu saya bantu mengirimkan semua video tentang petualanganmu bersama dengan klienmu? Mungkin saja kedua orang tuamu bisa memilih salah satu dari mereka menjadi menantu idaman?” tantang Bisma dengan senyum sinisnya.


Deby terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka Bisma mengatakan hal yang sangat menyakiti hatinya.  Ia telah memblokir semua nomor klien yang biasa memakai jasanya.


Tekadnya untuk berubah telah bulat. Ia ingin setia dan tak ingin berbagi keringat lagi dengan lelaki beja* yang masih menghubunginya. Jiwa dan raganya hanya ia persembahkan pada Bisma  dengan menunggu waktu yang akan mengantarkan dirinya sampai ke fase itu.


“Sudahlah Deb,” Bisma menatapnya dengan tajam, “Saya sudah tidak tau bagaimana cara untuk mengatakan padamu. Tapi kamu harus tau, ternyata saya mencintai  Ajeng. Dan saya sadar, hubungan kita sejak awal  salah. Dan saya bersyukur, tidak pernah mengambil keuntungan dari kedekatan kita selama ini.”


Deby tergugu dengan pengakuan Bisma. Ia tak menyangka dengan teganya Bisma mengakui semua perasaannya yang begitu mendalam pada Ajeng dan terus berjuang untuk keluarga kecil yang telah ia telantarkan selama ini.


Walau Bisma tau bahwa perjuangannya untuk menyatukan kembali keluarganya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi bukan rahasia umum tentang kedekatan Ajeng dengan pengusaha pertanian yang telah melamarnya  untuk menjadikannya istri di masa depan.


“Saya harap kamu mengerti.” Bisma berkata dengan tatapan dingin pada Deby yang  kini sudah tidak mempunyai kekuatan untuk menjawab semua perkataannya, “Silakan kamu keluar  dari ruangan saya.”


Deby sudah merasa tidak punya muka untuk terus bertahan satu ruangan dengan Bisma. Ia menyesali semua kesalahan yang ia perbuat, sehingga Bisma mengetahui dan tidak memberinya kesempatan seperti yang ia harapkan. Padahal selama ini ia yakin, bahwa Bisma tulus dan mau menerima dirinya apa adanya.


Tapi ternyata …


“Semoga kamu menemukan laki-laki yang bisa tulus mencintai dan menyayangimu apa adanya,” gumam Bisma begitu Deby melangkah dengan gontai meninggalkan ia sendiri.


Bisma berdiri memandang ke luar jendela. Ia tau, tidak mungkin ia berusaha kembali pada Ajeng, apalagi dengan luka yang telah ia torehkan.


Tapi tak bolehkah ia berharap dengan Sang Empunya hati, agar Ajeng bisa memaafkan semua yang pernah terjadi di masa lalu mereka?

__ADS_1


__ADS_2