Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 66 Prahara Duka Dewi


__ADS_3

Sudah tiga jam Dewi mondar-mandir di ruang tamu. Hilda sudah anteng menonton kartun kegemarannya di televisi kabel. Ia tidak bisa menahan geram atas sikap Hilman yang sejak tadi tidak mengangkat telpon.


Sejak tadi pagi Hilda pengen diajak jalan-jalan ke luar menikmati suasana kota Malang yang asri dan nyaman.  Dewi sangat menyetujui  keinginan putri kecilnya. Ia ingin menunjukkan pada orang-orang yang pernah meremehkannya karena telah meninggalkan Hilman demi Ridwan yang lebih mapan.


Ia tak peduli meski Hilman masih bersikap acuh tak acuh padanya, serta raut dingin, dan tak pernah memandangnya lebih dari satu detik.  Tapi hal itu membuatnya tertantang untuk menaklukkan sebagaimana kisah mereka di masa lalu.


Ia yakin dengan tinggal serumah membuatnya bisa berjuang lebih, demi kisah baru yang akan ia lukis di masa depan. Ia akan buktikan bahwa  dirinyalah pendamping terbaik bagi Hilman, bukan perempuan yang telah ia akui sebagai tunangan dan akan menjadi  istri sah yang akan segera ia nikahi.


Seujung kuku Dewi tak rela jika Ajeng turut menikmati jerih payah Hilman dengan menjadi istrinya. Sedapat mungkin ia akan membatalkan rencana pernikahan yang telah mereka buat. Setidaknya ia akan mengulur waktu dan membuka mata Hilman bahwa Ajeng hanya menginginkan materi darinya.


Senyum terbit di wajah Dewi mendengar suara Pajer* memasuki pekarangan rumah. Tak sia-sia ia menghubungi Kardi untuk berbicara pada suaminya agar segera kembali ke rumah. Rasa syukur kini baru ia ucap karena memiliki Hilda yang menjadi jembatan baginya menarik kembali Hilman ke pelukan, walau pun prosesnya masih jalan di tempat.


Padahal ia sempat protes pada sang Kuasa, kenapa harus memberinya seorang putri yang memiliki penyakit bawaan, sehingga Ridwan sendiri enggan untuk bercengkrama, apa lagi memberikan perhatian lebih pada putri kecil mereka.


Sekarang baru ia menyadari bahwa kehadiran Hilda menjadi anugerah terbesar karena mengembalikan cinta pertamanya, dan akan ia perjuangkan hingga titik akhir. Ia yakin dunia akan mendukung semua perjuangannya  sebagai seorang istri yang terdzolimi jika pernikahan antara Hilman dan Ajeng masih terjadi.


Hilman berlalu di hadapannya tanpa mengucap salam seperti kebiasaannya saat baru kembali dari luar rumah. Tak ada sapaan atau basa-basi yang terucap padanya atau pun pada Hilda yang tetap fokus pada layar kaca.


Langkah Hilman seperti tak bertenaga memasuki ruang kerja dan menguncinya dari dalam. Ia hanya ingin menikmati kesendirian dan mengenang semua yang pernah ia lalui bersama Ajeng sebelum ia siap melepas dan merelakan Ajeng dengan pilihannya.


Tatapan Dewi tak beralih dari ruang kerja Hilman yang berjarak  kurang lebih lima meter dari tempatnya duduk saat ini. Ia yakin ada sesuatu yang mengganggu pemikiran lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya itu.


Walau rasa ingin taunya begitu besar  akan diamnya Hilman, namun rasa lega akan kembalinya ia ke rumah mengalahkan segalanya. Ia sangat khawatir jika di luar sana mereka bertemu untuk membahas masa depan yang tertunda karena kehadirannya.


Dewi telah memberi tips pada Kardi untuk menjadi spionnya dalam mengawasi gerak-gerik Hilman. Dan sepagi itu tensinya sudah diambang batas mengetahui pertemuan Hilman dan tunangannya di sebuah kafe dalam ruangan tertutup.


Tak bosan ia menghubungi Hilman untuk mengingatkan janjinya membawa Hilda ke luar. Ia terus menunggu  mengharap lelaki itu segera mengangkat ponselnya.


Berulangkali Dewi terus  menghubungi nomornya, hingga ia sadar bahwa Hilman tidak menjawab panggilannya. Dengan kesal Dewi melempar ponselnya ke sembarang arah.


Tapi kekesalannya kini telah hilang melihat Hilman sudah kembali ke rumah walau dengan wajah datar tak bersahabat. Ia punya rencana tersendiri untuk menghabiskan malam ini bersama lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.

__ADS_1


Ia tak peduli apa pun pendapat orang luar, yang pasti ia akan berjuang untuk mendapatkan hati Hilman kembali dan menjaga keutuhan rumah tangga yang baru saja mereka mulai.


Sementara itu didalam ruangannya Hilman terpekur menghadapi laptop yang baru saja ia buka. Ia bersyukur telah berhasil mengendalikan perusahaan Ridwan dan mengamankan saham miliknya hingga tetap menjadi aset yang menjamin masa depan Dewi dan Hilda.


Informasi dari Beni yang dikirim melalui email telah mengembalikan senyumnya yang sempat hilang karena masalah perusahaan yang ditinggal Ridwan.


Kini matanya nanar menatap background laptop yang menampilkan profil Ajeng saat menjadi narsum di kegiatan UMKM kota Malang. Dirinya belum menerima kenyataan bahwa hubungan mereka telah diakhiri Ajeng secara sepihak.


Perasaan Hilman begitu gamang dengan berakhirnya kisah asmara yang sudah ia bayangkan menjadi kebahagiaan bahkan ladang amal hingga saatnya ia kembali ke pangkuan ilahi. Kini ia harus menerima fakta bahwa mereka sudah menjadi orang lain kembali. Ada Dewi dan Hilda yang kini menjadi bagian dari dirinya, karena mereka telah menjadi satu keluarga.


Walau hati kecilnya berontak atas semua yang terjadi, tapi ia tak bisa mengelak. Semua sudah jadi pilihannya, dan ia harus bertanggung jawab untuk semuanya.


Entah kenapa sejak pertemuan dengan Ajeng siang tadi dan mendengar keputusan  sepihak yang telah dibuat perempuan yang telah mengisi segenap relung hatinya  membuatnya Hilman kini merasa tak bersemangat untuk melakukan aktivitas apa pun. Hatinya serasa terbang jauh, dan enggan untuk kembali.


Malam  mulai beranjak dengan rembulan yang keluar malu-malu di kegelapan yang semakin merayap. Jam dinding berdentang dengan perlahan memberikan penanda bahwa telah menunjukkan pukul delapan malam.


Dewi telah mempersiapkan nampan berisi minuman serta makan malam spesial yang ia buat khusus untuk sang suami. Seharian ini ia tau, Hilman tidak keluar dari ruang kerjanya.


Dari bocoran supir pribadinya ia paham kalau suasana hati suaminya sedang tidak baik-baik saja. Dewi ingin menghiburnya dengan menyajikan menu spesial agar mood sang suami kembali bangkit.


Kembali ia mengetuk pintu karena tidak mendengar suara apa pun dari dalam ruangan. Hening tidak ada suara apa pun yang terdengar dari dalam ruangan. Dewi tidak putus asa.


“Mas ... “ perlahan Dewi mulai memanggil Hilman.


Ia berharap kesabarannya menunggu kali ini mendapat hasil. Dan ia tidak akan menyia-nyiakannya, saatnya ia memegang kendali sekarang. Ia seorang istri yang sah walau pun baru sebatas agama. Tapi dengan status Hilman, tidak salah jika ia memperjuangkan pernikahan mereka hingga diakui oleh negara.


Perasaan Dewi lega mendengar suara kunci dengan terbukanya pintu yang menampakkan wajah kusut Hilman yang kini memandangnya tak bersemangat.


“Mas udah dua kali melewatkan jam makan .... “ Dewi berkata pelan sambil mengikuti langkah Hilman yang kembali duduk di kursi kerjanya.


“Heh .... “ Hilman menghela nafas berat, berusaha membuang resah  yang kini membuat hatinya berdarah kembali.

__ADS_1


Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan tangan menutup kedua mata. Kalimat tegas Ajeng kembali terngiang dalam pendengarannya.


Dewi menatap suaminya dengan lekat. Ia melihat pakaian yang sejak tadi melekat di tubuh Hilman belum berganti. Dengan telaten ia menata makanan yang sudah ia siapkan dengan segelas jus jeruk yang sangat menggugah selera.


“Mas harus makan. Aku gak ingin mas masuk angin .... “ ucap Dewi seraya berjalan mendekat pada Hilman.


Hilman masih berdiam diri dengan kedua matanya yang tertutup membayangkan wajah ayu yang telah melepaskan ikatan darinya. Ia merasakan dua pasang lengan memeluknya dari belakang.


“Biarkan aku sendiri .... “ cetus Hilman ketika merasakan jemari lembut Dewi mulai bermain di dadanya.


“Mas, Hilda sejak tadi menanyakan keberadaanmu .... “ Dewi berkata dengan menahan perasaan kecewa atas sikap Hilman padanya, “Pikirkan perasaan Hilda. Ia sangat berharap pada papanya ....”


Hilman membuka matanya cepat. Tanggung jawab pada Hilda membuatnya segera meraih gelas jeruk yang dekat dengan jangkauannya. Rasa dahaga karena seharian tidak dimasuki sesuatu apa pun membuatnya merasa lega setelah menghabiskan jus di dalam gelas tersebut.


Senyum kepuasan terbit di wajah Dewi melihat minuman yang ia suguhkan bersih tanpa sisa. Ia yakin, mulai malam ini dan seterusnya Hilman hanya miliknya seorang.


Tak akan ia biarkan siapa pun merebut kebahagiaannya dan Hilda. Apalagi hanya perempuan ‘ndeso’ seperti Ajeng yang hanya ingin menguasai kekayaan Hilman jika  menjadi istrinya kelak. Dan ia tidak akan membuat impian Ajeng menjadi nyata. Cukup ia yang menjadi istri Hilman, saat ini hingga nanti.


Hilman mulai merasakan hawa panas menyelimuti dirinya. Irama jantungnya bergerak semakin cepat. Tatapan tajam ia arahkan pada Dewi yang menatapnya penuh damba.  Ia menyadari penyebab suhu tubuhnya meningkat. Dan ia tau orang yang telah melakukan itu padanya.


Ia sudah tidak mampu lagi menahan gejolak yang telah naik  hingga kepala. Dan ia pun tau bukan kesalahan Dewi yang telah nekat membuatnya seperti ini. Hanya sebagai seorang suami ia belum siap membagi jiwa dan raganya yang kini telah dibawa pergi perempuan bersahaja bernama Ajeng.


Dengan kasar Hilman menarik Dewi ke dalam pangkuannya. Kecupan liar dan membabi buta ia lakukan pada perempuan masa lalunya yang kini telah sah menjadi istrinya.


Jemarinya merema* dengan kasar apa pun yang dapat ia pegang. Tak ia pedulikan suara lirih Dewi yang memintanya untuk melakukan secara perlahan.


Seperti orang kesurupan Hilman tak mempedulikan Dewi yang kini pasrah dengan semua perilaku br*tal yang diperbuatnya dalam menyalurkan sesuatu yang begitu bergejolak mencari kepuasan.


“Ajeng .... “ desis Hilman begitu pergulatan antara ia dan Dewi telah selesai dan ia terkapar di sofa ruang kerjanya.


Senyum terkembang Dewi langsung memudar mendengar ucapan yang keluar dari bibir sang suami begitu memberikan nafkah batin yang telah ia dambakan selama tiga bulan terakhir begitu menjadi istrinya.

__ADS_1


Dengan hati berkecai ia memungut pakaian yang sudah tak berbentuk akibat perilaku Hilman yang kini sudah terlelap dalam mimpinya. Bukannya kebahagiaan yang ia dapatkan setelah menjalani ritual hubungan suami istri bersama Hilman, tapi luka baru membuat  rasa bencinya pada perempuan yang telah mengalihkan dunia suaminya semakin dalam.


***Mohon maaf untuk readerku tersayang. Otor sebulanan ini disibukkan dengan dunia nyata sehingga belum bisa melanjutkan kisah Ajeng dalam mencari kebahagiaan di hidupnya. Tapi otor usahakan untuk 'up' seperti biasanya hingga kebahagian ditemukan Ajeng untuk semua orang yang membersamainya. Sayang selalu .... ***


__ADS_2