Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 40 Keisengan Bisma


__ADS_3

Merasa tidak ada urusan lagi, Ajeng membiarkan Bisma tanpa ada keinginan untuk mengajaknya berbicara, apa lagi sekedar berbasa-basi.


Bisma mengambil kursi dan duduk melihat aktivitas Ajeng yang masih menyelesaikan masakannya. Ia jadi merindukan saat-saat ini. Tatapannya lekat memandang Ajeng yang tetap menyibukkan diri tanpa peduli padanya.


Ajeng tau bahwa Bisma masih ada di dapurnya. Ia hanya menghela nafas menyelesaikan beberapa masakan lagi yang akan ia buat. Ia sudah merencanakan mengundang Hilman sepulangnya dari bepergian dengan Dimas untuk makan siang bersama di rumahnya.


“Jeng, aku akan membawa Lala jalan-jalan bersamaku,” akhirnya Bisma memulai membuka suara, karena melihat Ajeng yang diam menganggapnya seolah tak ada.


“Silakan,” jawab Ajeng singkat.


Ia segera menyusun menu di atas meja yang berada di hadapan Bisma. Wajahnya tetap datar tak bersahabat. Ia tak ingin membuang waktunya yang begitu berharga hanya untuk menemani Bisma berbincang.


Aroma makanan begitu menggoda selera Bisma. Sudah lama ia tak menikmati masakan rumahan. Pingin rasanya ia mencicipi semua menu yang dulu biasa Ajeng buat untuknya.


Dalam hati ia mengakui bahwa masakan Ajeng sangat cocok di lidahnya, seperti masakan mama yang selalu membuatnya rindu untuk pulang. Tapi kini ia harus memulai dari awal. Ajeng sedikit pun tidak peduli padanya. Tapi Bisma tak berkecil hati, apalagi talak yang ia ucap belum diproses dan dilegasi pihak terkait.


“Apa aku boleh numpang ke kamar mandi?” Bisma kembali membuka percakapan.


Kini tatapan keduanya bertemu. Kening Ajeng berkerut menyadari bahwa penampilan Bisma kusut, dengan kaos dan celana panjang yang ia pakai tadi malam. Ia pun melihat paper bag yang dibawa Dimas berada di tangan Bisma.


“Silakan ke kamar Dimas di lantai atas,” sahut Ajeng cepat tanpa memandang Bisma.


Melihat Ajeng yang bersikap kaku dan enggan memandangnya membuat hati Bisma mencelos. Dengan langkah lunglai ia menuju lantai atas.  Pandangannya mengitari keadaan rumah yang ditinggali sang mantan.


Rumah ini sederhana dibanding rumah mereka yang kini sepi tak berpenghuni. Tapi perasaan Bisma merasa tenang dan nyaman saat berada di dalamnya. Ia melihat sebuah ruangan yang cukup lapang.


Tanpa berpikir panjang ia memasukinya. Ruangan yang tertata rapi. Mainan banyak tersusun di dalam beberapa rak. Ia yakin, di sinilah tempat keseharian putri kecilnya bermain. Matanya nanar melihat foto-foto di dinding. Tidak ada gambar dirinya di dalam beberapa figura besar yang menempel di dinding. Semua didominasi foto putri mereka sejak masih bayi hingga usianya yang kini hampir dua tahun.

__ADS_1


Mata Bisma berkabut saat memandang foto perayaan ulang tahun  putrinya. Berdasarkan tanggal yang tertera, ia melihat perayaan itu berlangsung 3 bulan yang lalu. Mama dan Mayang tampak hadir dan ada dalam frame yang sama dengan Ajeng dan Lala.


Ia terlalu jauh mengasingkan diri dari kehidupan putrinya. Malahan Hilman turut serta dalam foto walau pun jaraknya tidak berdampingan dengan Ajeng.  Ia berjanji mulai saat ini akan memegang kendali agar semua bisa kembali seperti dulu.


Ia mempercepat mandi agar putrinya tidak menunggu terlalu lama. Dalam hati  ia bersyukur karena beberapa bulan terakhir ini semakin dekat dengan Lala, sehingga tak ada kesempatan pada Hilman untuk merapat pada putrinya. Apalagi ia jarang bertemu  Hilman di tempat Ajeng saat sedang sarapan pagi bersama Lala.


Ia memandang kamar Dimas yang cukup sederhana dengan laptop jadul yang tersedia di atas meja belajarnya. Ia merasa miris, karena menganggap pernikahan yang mereka jalani hanya akan menguntungkan pihak Ajeng.


Kini ia menyadari, bahwa kehidupan Dimas sangat sederhana. Padahal jika dilihat dari usaha yang digeluti kakaknya, harusnya ia pun menikmati kesuksesan yang telah diraih Ajeng.


Mulai sekarang tidak hanya Lala yang akan ia cukupi semua keperluannya, Dimas pun akan mendapatkan hak yang selama ini tak pernah ia beri. Dengan perasaan berkecamuk, Bisma keluar dari kamar Dimas. Segala rencana telah ia susun di kepala untuk memulai segala sesuatu sebelum terlambat.


Lala sudah cantik dengan rambut kepangnya menunggu Bisma yang baru turun dari kamar Dimas. Ajeng berdiri menggandeng tangan Lala yang sudah siap diajak jalan.


“Bunda ikut juga kan?” Bisma berbasa-basi.


Ia pingin merasakan bagaimana serunya berjalan dengan keluarga kecilnya. Seperti yang ia lihat selama ini jika sedang makan di luar bersama dengan rekan kerja. Pikirannya baru terbuka sekarang. Masa yang ingin ia ulang dan manfaatkan sebaik-baiknya dengan Lala dan Ajeng tentunya.


“Ade pergi dengan ayah sekarang ya .... “


“Ya bunda .... “ Lala menjawab dengan mimik lucu.


“Sayang Bunda dulu ... “ Ajeng langsung mendekatkan wajahnya ke pipi gemoy putri kecilnya.


“Muah .... “ Lala mencium pipi kanan dan kiri bundanya dengan semangat.


Bisma menyaksikan pemandangan di depannya dengan perasaan yang sukar dilukiskan. Ia menyadari kebodohan  yang telah ia lakukan dengan melepas keluarga kecil yang nyatanya kini memberikan setitik rasa bahagia.

__ADS_1


“Ayah gak disayang?” Bisma pun kini ikut berjongkok di samping Ajeng.


“Emuah .... “ Lala mencium pipinya sambil tertawa.


Pandangan Ajeng dan Bisma bertemu sesaat yang langsung diputus Ajeng dengan menatap Lala kembali.


“Ade jangan nakal ya .... “ pesannya lembut.


“Ayah disayang unda?” suara polos Lala membuat Ajeng terpaku.


Ia menatap Bisma dengan kesal. Bagaimana lelaki batu itu bisa berkata iseng dan ditanggapi putri kecilnya yang masih polos.


Tidak mungkin ia melakukan hal yang sudah terlarang baginya? Apalagi dengan perlakuan dingin Bisma selama ini terhadapnya. Ajeng berusaha tersenyum di depan putri kecilnya walau ada rasa nyeri yang hinggap di hatinya.


Terus terang rasanya ia  kehilangan muka saat bertatapan dengan Bisma. Ia malu mengingat semua keagresifannya saat masih terikat pernikahan dengan lelaki batu yang kini menatapnya dengan lekat.


“Ade jalannya gak usah jauh-jauh ya. Dan pulangnya jangan terlalu sore, ade kan harus bobo siang, nanti kecapean ... “ ujar  Ajeng lembut sambil memeluk putrinya sebelum berdiri kembali.


Bisma tau perkataan itu sebenarnya ditujukan padanya. Tapi ia tau, Ajeng enggan memandang wajahnya.


“Mari princess  cantik ayah .... “ Bisma langsung meraih Lala dalam gendongannya, “Bunda gak usah khawatir, sebelum makan siang ayah dan ade sudah kembali.”


Ajeng mengangguk pelan. Tatapannya hanya fokus pada putrinya yang kini sudah berlalu dari hadapannya menuju pintu.


Mendengar celoteh Lala sepanjang perjalanan membuat hati Bisma menghangat. Baru kali ini ia meluangkan waktu untuk membawa putri kecilnya menikmati hari.


Berhubung ini hari Sabtu, banyak kantor-kantor yang libur. Jalanan tidak padat seperti hari kerja biasa. Bisma membawa Lala  ke Malang Town Square. Padahal inginnya ia menghabiskan waktu bersama Lala dan sang mantan.

__ADS_1


Ia serius ingin mengulang dari awal. Kini ia menyadari arti penting sebuah keluarga. Seperti yang diucapkan kepala dinasnya tempo hari, bahwa keluargalah tempat ternyaman untuk kembali.


Selelah apa pun, jika melihat wajah ceria buah hati, semuanya akan hilang berganti keceriaan. Apalagi dengan pelayanan istri yang selalu sedia, walau ia pun terkadang lelah dengan segala aktivitas kesehariannya.


__ADS_2