
Tepat satu bulan tidak ada kabar dari Hilman dari hari terakhir Ajeng menghubunginya. Ia pun sudah bisa menerima dengan ikhlas takdir yang bakal ia jalani ke depannya. Tiada lagi rasa sedih dan kecewa atas perbuatan Hilman yang telah menghancurkan rencana masa depan yang baru saja akan ia susun.
Dimas pun sudah bisa berdamai dengan kehidupan yang dijalani saudarinya. Yang dapat ia lakukan hanya mendukung apa pun keputusan yang dibuat Ajeng, asal itu mendatangkan kebaikan untuk mereka semua.
“Mbak tau pak Hilman baru menikah?” suara Asih mengejutkan Ajeng yang baru selesai memeriksa laporan keuangan.
Ia terkejut dengan kedatangan Asih di pagi menjelang siang itu. Memang sudah lama mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.
“Wa’alaikumussalam .... “ Ajeng menjawab pertanyaan Asih membuatnya tertawa ringan.
“Udah ngucap salam juga di depan,” jawab Asih santai langsung duduk di sampingnya.
Ajeng menutup buku laporan dan menarik tangan Asih membawanya ke ruang kerja. Ia tidak ingin pegawainya yang lain mendengar pembicaraan yang akan mereka lakukan berdua.
“Mbak dapat kabar dari mana?” Ajeng menatap A sih dengan jidat berkerut begitu keduanya sudah duduk di sofa yang berada dalam ruangan.
“Ingrid sepupunya mas Ilham teman sekolahku di SMA yang cerita saat kami bertemu di pasar dan ia mampir di toko kita,” Asih menjelaskan dengan seksama.
Ia dapat melihat tidak ada keterkejutan di wajah Ajeng. Padahal ia sangat yakin belum ada yang mengetahui pernikahan rahasia yang dilakukan Ilham dan mantannya di Makasar.
“Kok bisa?” pancing Ajeng.
“Kami sangat dekat. Ia pun sudah berpesan agar tidak membocorkan pernikahan yang terjadi pada siapa pun,” Asih berkata pelan khawatir ada yang mendengar perkataannya, “Karena mereka menikah pun karena dipaksa keadaan.”
“Aku hanya ingin tau perempuan yang dinikahi mas Hilman,” ujar Ajeng pasrah, “Mungkin sudah takdir yang harus ia jalani hingga pernikahan itu terjadi. Terpaksa atau tidak, pernikahan itu sah di mata agama.”
“Mbak Ajeng tak pernah tau kehidupan masa lalu mas Hilman?”
Ajeng menggelengkan kepala, “Untuk apa? Setiap orang pasti punya masa lalu. Aku pun sama.”
“Perempuan yang dinikahi pak Hilman mantan tunangannya,” lugas Asih.
Ajeng tertegun mendengar ucapan Asih. Pikirannya bekerja cepat. Tapi apa yang dapat ia lakukan, semua telah terjadi. Dan ia pun tidak ingin berasumsi dengan pemikiran sendiri.
“Aku sudah mengetahuinya bertepatan hari pernikahan mereka,” ujar Ajeng pelan.
Tiada lagi rasa sedih dan kecewa dalam ucapannya. Ia sudah menerima takdirnya dengan ikhlas. Ia tidak ingin menyalahkan siapa pun. Bukankah segala sesuatu yang terjadi sudah menjadi ketetapan Allah?
“Mbak Ajeng dapat info dari mana?” rasa penasaran membuat Asih memegang tangan Ajeng.
Ia tidak menyangka ternyata Ajeng telah mendapat informasi yang sengaja disembunyikan pihak keluarga Hilman. Ia sendiri terkejut saat Ingrid dengan lugas menceritakan semua kebenaran tentang pernikahan yang terjadi.
Ketukan di pintu menghentikan pembicaraan mereka. Dengan cepat Asih bangkit menuju pintu dan membukanya.
“Permisi mbak, ada pak Sigit ingin bertemu ....” Monik salah satu pegawai kafe restonya berjalan menghampiri keduanya.
Ajeng mengerutkan jidatnya berpikir tentang keberadaan Sigit. Dalam rangka apa mantan atasannya berkunjung di jam sibuk seperti ini. Tak ingin membuatnya menunggu lebih lama, Ajeng bangkit dari kursinya.
“Baiklah mbak, saya juga ke belakang aja. Setelahnya langsung pulang.”
Asih pun mengikuti langkah Ajeng sekalian berpamitan. Ia merasa lega sudah menyampaikan berita penting yang dirahasiakan pihak keluarga Hilman.
__ADS_1
Memang ia dan suaminya sangat menyetujui jika akhirnya Ajeng menerima lamaran Hilman. Mereka mengetahui dengan baik latar belakang keluarga Hilman serta kepribadiannya dan kehidupannya di masa lalu.
Tapi dengan pernikahan Hilman yang dirahasiakan apa pun alasannya, membuat mereka menyayangkan kejadian tersebut.
Ajeng mengangguk menatap kepergian Asih yang dengan cepat berjalan menuju ruangan belakang. Ia berjalan ke depan menuju kafe restonya yang sedang ramai di jam makan siang ini.
“Selamat siang pak,” sapa Ajeng begitu tiba di hadapan Sigit yang duduk sendiri menikmati minuman dingin yang sudah tersedia.
Sigit tersenyum sambil menganggukkan kepala begitu melihat kemunculan Ajeng di hadapannya. Perempuan itu tampak tegar dengan kemalangan yang ia hadapi. Kekaguman Sigit semakin meningkat.
“Duduk sini aja Jeng. Temani saya makan siang. Gak usah terlalu formil juga, saya bukan lagi atasanmu ... “ suara Sigit disertai senyum lebarnya membuat Ajeng pun tertawa lirih.
Ia pun menghenyakkan tubuh di hadapan Sigit untuk menghargai keberadaannya di tempat usahanya yang semakin berkembang. Ajeng pun ikut menikmati makan siang yang telah dipesan Sigit untuknya. Keduanya terlibat percakapan ringan disela-sela makan siang itu.
Karyawan kafe resto pun langsung membereskan segala menu yang tersedia hingga meja bersih seperti sedia kala.
“Bagaimana perasaanmu saat ini .... “ pertanyaan Sigit kembali mengusik Ajeng begitu keduanya menyelesaikan makan siang.
“Biasa aja pak,” tegas Ajeng.
Sigit tertegun. Perempuan yang satu ini memang tidak pernah menampakkan ekspresi yang berlebihan. Kecewa atau bahagia yang ia lalui hanya senyum ramah yang ia tampilkan di hadapan siapa pun.
Melihat tatapan lekat Sigit membuat Ajeng jadi jengah. Ia paling tidak suka dikasihani siapa pun. Toh, semuanya tidak membuat dunia berakhir.
“Ya, saya percaya padamu,” akhirnya Sigit menyadari bahwa sikapnya terlalu berlebihan hingga perempuan di hadapannya menjadi tidak nyaman.
“Terima kasih pak,” Ajeng merasa lega karena Sigit kembali bersikap tenang dan santai.
“Semua ini hanya perlu dibicarakan secara baik-baik. Kami pun belum terlanjur memulai.”
“So ... “
Ajeng tersenyum melihat Sigit yang menatapnya dengan jidat berkerut. Ia tidak akan bercerita apa pun langkah yang akan ia tempuh. Semua ini adalah permasalahannya. Hanya dirinya dan keluarga yang paling tau apa yang harus ia lakukan.
“Baiklah .... “ Sigit mengangkat bahu karena Ajeng tidak mengomentari ucapannya, “Semoga kamu bisa melalui semuanya.”
“Aamiin ya Allah ....”
Ajeng memandang sosok yang kini berjalan meninggalkan pekarangan kafe restonya. Ia tersenyum sendiri mengingat perilaku Sigit yang terlalu berlebihan padanya. Bukannya ke-pd-an. Tapi sebagai wanita dewasa yang pernah mengalami ruamah tangga ia memahami maksud tersirat dari semua perhatian yang diberikan mantan atasannya itu.
......
“Mbak, Lala badannya anget ....” suara bu Isma mengejutkan Ajeng yang sedang memasak makan siang untuk putri kecilnya.
Dengan sigap ia berjalan menuju kamar bermain putrinya. Wajah lesu dan pucat tergambar di raut imut Lala.
“Bunda .... “ suara Lala terdengar lemah.
Ajeng langsung meraih Lala ke dalam gendongannya. Setengah berlari ia menuju halaman samping.
“Mas Iqbal .... “ suara Ajeng mengejutkan koki kafe restonya.
__ADS_1
“Ya mbak .... “ Iqbal yang baru saja memarkirkan motornya, karena baru datang terkejut melihat Ajeng yang sedang menggendong Lala di dekat parkiran yang disediakan khusus untuk pegawainya.
“Tolong antarkan saya dan Lala ke rumah sakit,” pinta Ajeng penuh harap.
“Baik mbak,” dengan cepat Iqbal melepas helmnya dan berjalan ke arah Ajeng.
“Kunci mobil di atas kulkas di dapur,” ujar Ajeng cepat, “Ada bi Ida di sana.”
“Iya mbak.”
Melihat wajah Ajeng yang pias, Iqbal pun jadi tegang. Dengan berlari kecil, dalam waktu tiga menit ia sudah tiba di hadapan atasannya.
Kumandang zikir terus Ajeng lantunkan selama perjalanan menuju rumah sakit ibu dan anak di kota Malang. Jam baru saja menunjukkan pukul 9 pagi. Tidak mungkin ia mengganggu Dimas yang berada di sekolah.
Ia bersyukur Iqbal datang tepat waktu. Allah telah mengirim orang-orang baik yang dapat ia andalkan di saat ia sedang kesusahan.
Dengan perasaan berdebar Ajeng menunggu diagnosis dr. Elvira yang sedang memeriksa Lala yang berbaring lesu.
“Tatit paya Bunda ... “ suara lirih Lala terasa menusuk hati Ajeng.
Ia menahan tumpahan air yang sudah menggantung di pelupuk mata. Matanya terasa memanas. Jemarinya membelai lembut pergelangan tangan mungil Lala.
“Sabar sayang. Periksa bu dokter dulu ya, biar hilang sakit kepalanya ....” Ajeng meraih jemari Lala dan menciumnya dengan lembut.
“Dedek hanya kecapean saja bunda,” ujar dr. Elvira dengan senyum ramahnya setelah menarik stetoskop dari tubuh mungil Lala.
“Apa tidak ada diagnosa lainnya dokter?” Ajeng masih mencecar dr. Elvira dengan wajah cemas.
“Tidak bunda. Kebetulan sekarang sedang peralihan musim, dan kondisi Lala yang memang kurang fit. Untuk yang lain tidak perlu dikhawatirkan,” lugas dr. Elvira meyakinkan Ajeng, “Saya akan meresepkan multivitamin untuk dede ya ... “
“Terima kasih dok,” Ajeng merasa lega mendengar penjelasan dr. Elvira yang langsung membuang kecemasan yang bersemayam di hatinya.
Belum selesai Ajeng mengemasi Lala untuk pulang, tiba-tiba suara yang sangat ia kenal terdengar jelas di indera pendengarannya.
“Dokter tolong putra saya .... “
Ajeng menahan nafas. Ia segera menggendong Lala untuk meninggalkan bed periksa tanpa ada keinginan untuk menatap wajah sang empunya suara.
“Dede Lala udah siap pulang?” dr. Elvira masih menunggu Ajeng di depan pintu.
“Ya dokter. Terima kasih,” Ajeng tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Mau tak mau ia harus bertatapan dengan Hilman yang sedang mengendong seorang anak lelaki dengan perempuan modis yang menggandeng tangannya.
“Diajeng .... “ bibir Hilman bergetar ketika menyebut nama itu.
Tatapannya membeku, karena tidak menyangka akan bertemu perempuan yang sudah ia impikan untuk bersama memulai membangun masa depan.
“Pak Hilman .... “ tanpa tersenyum Ajeng menganggukkan kepala ketika tatapannya bersirobak dengan Hilman.
Dapat ia lihat pergerakan perempuan yang ia yakini sebagai istrinya Hilman langsung menatapnya dengan tajam. Raut permusuhan tergambar jelas di wajah glowingnya.
__ADS_1
Ajeng tersenyum miris. Perempuan itu dari penampilan luarnya memang memiliki daya pikat luar biasa. Tapi ia tidak ingin berasumsi lebih jauh. Mungkin Allah telah mempunyai rencana terbaik untuknya. Dan ia meyakini itu.