Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang


__ADS_3

Ajeng baru saja selesai mandi dan berganti pakaian ketika pintu kamarnya di ketuk. Bergegas ia membuka pintu. Tampak Dimas dan Lala sudah berada di depan pintu.


“Kakak kenapa?” Ajeng merasa heran melihat Lala berada dalam gendongan Dimas.


Mukanya  belepotan es krim,  wajahnya masih pucat ketakutan.


“Bunda ... “ ia langsung berpindah ke pelukan Ajeng dan memeluknya erat.


“Apa yang terjadi Dim?” melihat Lala yang menggigil dalam pelukannya membuat Ajeng merasa khawatir.


“Tadi ada mbak-mbak  yang marah karena bajunya terkena tumpahan es krim Lala....” Dimas berkata dengan santai sambil meletakan dua kantong jajanan di atas kasur.


“Kaka gak sengaja bunda .... “ Lala menjawab dengan wajah tertunduk, khawatir akan dimarahi.


“Bunda tau,” Ajeng berkata lembut sambil membelai rambut putrinya yang kini ia dudukkan di atas kasur, “Kaka udah minta maaf?”


Tatapan lembut bundanya membuat Lala mengangkat wajah. Ia melihat senyum teduh yang menghapus segala ketakutan yang masih memenuhi dadanya.


“Aku udah minta maaf mbak. Lala udah ketakutan melihat kemarahan mbak-mba itu,” Dimas menjelaskan.


“Ya udah gak pa-pa.” Ajeng langsung mencium kening putrinya dengan lembut.


Kini pandangannya mengarah pada dua kantong yang nangkring manis di atas tempat tidur.  Tatapan teduhnya langsung tajam meminta penjelasan Dimas yang kini siap mendengar semua ceramahnya.


“Siapkan semua jawaban di rumah. Sekarang kita harus berkemas pulang,” ujar Ajeng cepat.


Ia tidak ingin membuang waktu lebih lama di rumah mantan mertuanya. Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Apalagi dengan percakapan yang terjadi antara ia dan Bisma, membuatnya merasa tidak nyaman.


Bagaimana mungkin ia rujuk setelah sekian lama berpisah. Ia telah nyaman sendiri. Gak ada beban yang harus ia pikul setelah sekian lama menjanda. Karena ia tau konsekuensi yang harus ia tanggung jika kembali mengikat diri dalam sebuah pernikahan. Ajeng pun kini tak peduli. Segala omongan yang memandang miring padanya dapat dengan mudah ia tangkal.


Memang dalam menjalankan bisnisnya yang semakin berkembang dan menjadi salah satu dewan pembina UMKM di kota Malang membuatnya harus selalu berinteraksi dengan lingkungan pejabat yang mayoritas kaum Adam.


Ia tak menafikan banyaknya gosip tak bertanggung jawab yang sampai di indera pendengarannya. Saking banyaknya membuat ia kebal. Apalagi dengan dikipasi Dewi, nyonya Hilman yang mulai aktif dan memantau usaha sang suami.


Ibarat anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Ajeng semakin menunjukan cakarnya. Usaha kecantikan yang dikelola dr. Indira dan suaminya Haris semakin berkembang.


Tiga ruko dua lantai miliknya kini telah beralih menjadi klinik kecantikan terkenal di kota Malang. Banyak yang menjadi klien dr. Dira yang kini telah menambah tenaga medis karena animo perempuan kota Malang yang menjunjung tinggi nilai kecantikan.

__ADS_1


Walau pun ongkang-ongkang kaki di rumah, cuan mengalir dengan lancar di rekeningnya. Tapi itu bukan sifat Ajeng. Ia terlahir sebagai pekerja keras, sehingga Dimas pun memiliki jiwa petarung tangguh seperti saudarinya.


Kini ia sudah tidak memikirkan dirinya sendiri, walau ia tau, rekeningnya semakin gendut dengan nilai yang sudah tak berseri. Dengan materi dan kuasa yang ia miliki sekarang membuat Ajeng nyaman sendiri.


Ia pun tak melupakan keluarga di kampung. Setiap bulan ia selalu mengirimi kedua belah pihak keluarga almarhum ibu dan ayahnya, terutama Suyati bu leknya yang kini menjaga dan merawat sawah dan kebun peninggalan almarhum ayahnya yang tidak seberapa.


Kerinduan akan masa kecil hingga remaja yang ia habiskan di kampung terkadang membuatnya ingin pulang. Tapi tanggung jawab atas semua yang telah ia miliki membuatnya menahan rasa itu.


Semenjak kelahiran Lala hingga sekarang diumur putrinya yang ke lima, ia dan Dimas belum pernah menginjakkan kaki kembali ke kampung halaman tercinta. Hanya komunikasi intens melalui ponsel yang ia lakukan bersama Juwita putri tunggal lek Yati yang kini sudah menikah.


Ajeng tidak tau, kapan ia bisa meluangkan waktu untuk mudik bersama Dimas dan Lala. Tapi untuk waktu dekat, ia belum bisa.


“Mbak juga ikut pulang sekarang?” Dimas terkejut mendengar perkataan Ajeng.


Padahal yang ia dengar kemaren sebelum keberangkatan mereka ke Surabaya, Ajeng sudah memutuskan akan kembali Minggu sore. Padahal ini hari Sabtu, masih ada waktu yang cukup untuk mbaknya dan Lala tinggal.


Dimas terdiam, tak ingin bertanya lebih lanjut. Ia tau, apa pun keputusan yang telah diambil dan diucapkan saudarinya itu tidak akan berubah begitu saja.


“Ya,” Ajeng menjawab sambil mengeluarkan dua tas besar untuk menyimpan pakaiannya dan Lala yang sudah ia siapkan.


Sebelum membersihkan diri, ia sudah merapikan semua pernak-pernik miliknya dan Lala agar mempermudah urusannya saat  bersiap pulang. Kini ia langsung mengangkat satu demi satu tas dan meletakkan di depan pintu kamar.


“Pak Naryo udah dalam perjalanan dari rumah. Mungkin dalam lima belas menitan udah tiba,” jawab Ajeng cepat.


Pandangannya kini mengarah pada Lala yang masih belepotan es krim dengan bajunya yang juga terkena noda coklat yang ia jatuhkan tadi.


“Kakak ganti baju dulu ya. Kita akan pulang ke rumah sekarang,” tutur Ajeng lembut pada putrinya.


“Iya bunda,” jawab Lala sambil menganggukkan kepala.


“Mbak, aku pulang duluan saja. Masih ada kegiatan kampus yang harus ku ikuti,” Dimas langsung mengutarakan keinginannya, “Sekalian pamit juga sama mama Nurita dan mas Bisma.”


Ajeng hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab perkataan Dimas. Ia tau, adiknya itu terburu-buru. Dan ia tidak akan mengganggunya lagi dengan urusan sepele.


Sementara itu di ruang tamu, Nurita sedang menemani kedua tamu yang sangat tak ia harapkan kedatangan mereka. Padahal ia masih ingin merehatkan tubuh dan pikirannya dengan berbaring seharian di kamar.


Ia sudah memiliki rencana di sore ini untuk mengajak Ajeng dan Lala serta Bisma makan di luar sekalian refresing sejenak.

__ADS_1


Tapi dengan kehadiran kedua ‘tamu tak diundang’ itu menggagalkan keinginannya untuk memanjakan diri di pembaringan.


“Maaf mbakyu, kedatangan saya dan Siska ... mungkin tidak tepat waktunya,” suara Wirya santai saat mengatakannya.


Nurita yang terbiasa santun menghadapi tamu hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala.


“Gak pa-pa to pak Wirya. Namanya silaturahmi itu sudah jadi tradisi kita,” ia berkata sambil menyunggingkan senyum ramah.


“Bener mah,” Siska menyela percakapan keduanya.


Nurita terkejut mendengar sapaan Siska padanya. Tapi ia berusaha menyembunyikan. Keyakinannya semakin kuat, karena dengan percaya diri yang dimiliki perempuan muda di depannya yang sudah memanggil ‘mah’ padanya.


“Karena mas Bisma esok sudah kembali ke Bogor, aku pengen jalan sekalian menagih janji mas yang akan mengajakku keliling Surabaya jika mampir kemari,” Siska berkata penuh percaya diri.


“Wah, baguslah ....” Nurita tersenyum mendengar ucapan Siska.


Kalau memang gadis muda di depannya menjadi pilihan Bisma, ia akan mendukungnya. Apalagi di usia Bisma yang semakin matang, sudah pasti ia memerlukan seorang pendamping. Jika ia bisa memberikan kebahagiaan pada putranya, kenapa ia harus menolak.


Bisma keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri. Percakapan dengan Ajeng memang belum memberi titik terang. Ibarat pepatah ‘Jauh Api Dari Panggang’ keinginannya untuk rujuk dan hidup bersama dalam satu ikatan tak bisa dipenuhi Ajeng.


Tapi ia tak ingin berhenti. Saatnya ia memperjuangkan kembali apa yang pernah ia lepas. Ia tau, Dimas pasti akan mendukung keinginannya walau pun tidak secara langsung ia ucapkan.


Keterus terangannya saat menceritakan semua yang saudarinya itu jalani memberi keyakinan Bisma, bahwa masih ada harapan untuk memulai kembali walau harus menyingkirkan segala onak dan duri.


Lala putri kecil mereka adalah salah satu jalan baginya untuk terus mendekat. Ia yakin, kehadiran putri kecil mereka akan membuat Ajeng mempertimbangkan semuanya.


Ia yakin,  perlu waktu  lebih untuk merobohkan kerasnya hati Ajeng. Tetapi sekecil apa pun kesempatan mereka untuk bersama tak akan ia sia-siakan.


Bisma sudah memiliki trik untuk memulai pendekatan dengan Ajeng. Senyumnya terbit saat membayangkan rencana yang sudah ia susun dengan matang.


Ia sudah bertekad untuk melangkah, tak akan ia berhenti hanya karena onak dan duri. Sekali melangkah, pantang baginya berhenti sebelum sampai ke tujuan.


Wajahnya kelihatan semakin cerah, apalagi membayangkan suatu saat cita-citanya untuk merengkuh kembali kebahagiaan yang akan ia buat sempurna dengan perempuan yang mulai ia perjuangkan.


Sayup-sayup ia mendengar percakapan di ruang tamu. Ia pikir mama dan Dimas serta Ajeng lah yang terlibat obrolan di pagi menjelang siang itu.


Dengan cepat ia berjalan ke depan tak ingin melewati kebersamaan yang terjadi dengan keluarga yang sudah lama ia lewatkan.

__ADS_1


“Wah, sudah siap nak Bisma?” suara Wirya menghentikan langkahnya yang kini terpaku mengamati seisi ruang tamu.


__ADS_2