Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
51 Kesedihan Bisma


__ADS_3

Ajeng masih terpekur di teras rumah. ia belum beranjak sedikitpun dari kursi yang ia duduki. Rasa sakit masih tersisa di hatinya mengingat semua perkataan Deby atas tuduhan terhadap dirinya.


Tetapi  rasa sakit itu tak sebesar kecewanya pada Bisma. Bagaimana tidak, lelaki yang membersamainya bahkan menjadi imamnya, dan telah memberinya seorang putri begitu tega mengatakan hal-hal yang tidak baik tentang dirinya pada orang lain. Tentu menjadi kekecewaan terbesarnya, karena sang mantan telah menceritakan aib rumah tangga mereka pada orang lain.


Rasa sakit atas perlakuan dingin Bisma selama pernikahan yang mereka lalui tak separah yang  ia alami. Kini Ajeng kembali terluka. Tekadnya telah bulat, tak akan ia membiarkan Bisma merusak rencana yang telah ia susun untuk masa depan bersama Hilman dan Lala putrinya.


Beberapa hari telah berlalu, Ajeng kembali beraktivitas seperti biasa. Perlahan ia mulai melupakan semua perkataan Deby serta pertemuan terakhirnya bersama Bisma. Ia tidak ingin mengingatnya lagi. Ia sudah berprinsip akan melupakan segala sesuatu yang membuatnya terluka. Ia sekarang hanya ingin fokus bekerja dan berjuang untuk meraih kebahagiaan bagi keluarga kecilnya.


Di tempat yang berbeda dalam ruangan kantornya Bisma masih terpekur mengingat semua percakapan yang terjadi antara ia dan Ajeng. Tatapan dengan linangan air mata yang mengalir begitu deras menggambarkan betapa terlukanya perempuan yang telah memberinya seorang anak perempuan cantik yang kini semakin ia sayangi.


Ia menekan dadanya yang terasa nyeri. Ia tak tau, seberapa dalam luka akibat perkataan yang ia anggap sepele pada Deby yang ia yakini akan menjadi pendampingnya dalam mengarungi hidup.


Bahkan tanpa berdosa, ia menganggap bahwa Ajeng hanya menghamburkan uangnya untuk kesenangan semata tanpa memikirkan bagaimana susahnya ia mencari uang.


Mata Bisma mengembun. Mengingat semua yang pernah ia ucapkan dengan enteng bahkan  tanpa pikir panjang akibatnya akan separah ini. Bermalam-malam ia tak bisa tidur, terus terbayang wajah Ajeng yang berurai air mata dan menatapnya penuh luka.


Selama ikatan pernikahan yang terjadi, tak pernah ia sekali pun melihat Ajeng meneteskan air mata, kecuali di hari pernikahan mereka. Ia tau, tangis kebahagiaan yang terpancar di wajah istrinya.


Mata bening dan sayu itu terlihat bersinar, membuatnya begitu cantik dan mempesona di hari telah dihalalkannya bagi mereka berdua untuk bersama. Bahkan banyak saudara lelaki dan sepupu jauhnya yang mengatakan ia lelaki yang beruntung, karena memiliki seorang istri yang cantik serta soleha.


Bisma tak terlalu menanggapi pujian serta sanjungan dari sanak keluarganya. Walau tak ia pungkiri, rasa bangga sebagai seorang lelaki begitu menyeruak di dada membuat wajah tampannya semakin bersinar dihari jadi mereka.


Ingatannya terus berputas akan kebersamaan yang pernah terbina dan terjalin dalam pernikahan mereka. Kini ia sadar dan sangat menyadari, bahwa Ajeng seorang perempuan yang sangat sempurna di matanya.


Pelayanannya saat masih berstatus istrinya membuat Bisma memijit kepalanya berkali-kali. Semua tipe perempuan yang pintar dalam tiga hal untuk keharmonisan rumah tangga ada pada diri Ajeng.

__ADS_1


Setiap masakan ia buat begitu memanjakan lidahnya, sehingga ia tak  pernah berkeinginan untuk makan di luar saat berada  di rumah. Mama telah mewariskan ilmu memasaknya pada Ajeng, atau memang selera keduanya sama. Ia sudah tidak bisa membedakan masakan mama dan Ajeng, karena rasanya sama.


Begitu pun urusan pakaiannya. Semua tertata apik dan wangi seperti di laundry langganannya semasa masih lajang. Semua keperluannya dari ujung rambut hingga kaki dipersiapkan Ajeng sendiri. Tidak pernah ada rasa lelah yang diperlihatkan Ajeng dalam melayani semua keperluannya.


Bisma tak ingin mengingat bagaimana urusan ranjangnya bersama Ajeng. Itu hanya membuat kepalanya semakin berdenyut. Kesalahan terbesar memang ada padanya.


Ketukan di pintu menghentikan sesaat lamunan Bisma. Ia tau, hari ini akan ada rapat terbatas dengan kepala dinas.


“Assalamu’alaikum … “ Ibnu memasuki ruangannya dengan wajah cerah karena tanggal muda habis gajian.


“Wa’alaikumussalam,” Bisma menjawab dengan cepat.


“Bapak sudah ditunggu rapat,” dengan enteng Ibnu mengatakannya.


Ia baru menyadari wajah  muram Bisma yang tidak seperti hari biasa. Raut kelelahan tergambar jelas menampakkan kantong matanya yang menjadi gelap.


“Seperti yang kau lihat,” jawab Bisma seketika.


Ia langsung bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan Ibnu yang masih menatap kepergiannya dengan wajah bingung. Tidak biasanya atasannya ini bersikap dingin seperti ini.


Satu ruangan tampak hening begitu Bisma lewat. Deby yang selalu tebar pesona juga tak berani berkutik atas dinginnya Bisma belakangan ini. Ia sudah bertekad untuk mengakhiri semua petualangan yang pernah terjadi baik masa lalu maupun belakangan ini.


Ia ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Karena ia tau, Bisma lelaki yang patut diperjuangkan. Dan ia harus meyakinkan diri bahwa tidak ada siapa pun yang bisa menyaingi Bisma dalam hal apa pun.


Jika Bisma menerima apa yang ia tawarkan, sedapat mungkin ia akan menjadi pribadi yang lebih baik. Ia tidak masalah cicle pergaulannya lebih terbatas, dan hoby shoppingnya terkendala. Karena ia yakin semuanya hanya sementara.

__ADS_1


Kalau hubungannya dan Bisma telah resmi, gunung emas pun akan sanggup ia beli. Deby sangat yakin akan hal itu. Ia telah menyelidiki latar belakang Bisma. Walau pun lelaki-nya tidak pernah menceritakan semuanya, dari sumber terpercaya ia tahu bahwa seperempat perkebunan teh terbesar di Bogor adalah milik keluarga Bisma.


Bagaimana ia tidak berbangga diri jika suatu saat posisi pendamping Bisma, dia lah yang mengisi. Di sanalah ia akan menunjukkan bahwa Deby tidak tertandingi. Hanya ia yang mampu menaklukkan hati atasan dingin dengan kekayaan yang tidak akan habis tujuh turunan.


Deby tersenyum membayangkan saat ia telah berada si posisi itu. Maka, seakan-akan dunia sudah berada di dalam genggaman. Semua keahliannya dalam urusan ranjang yang selama ini dipuji kliennya, semata-mata hanya akan ia persembahkan untuk Bisma, ‘suami masa depannya’.



“Pak Bisma ada hal yang ingin disampaikan?” pertanyaan pak Ginanjar  Kadis Kopindag memangkas lamunan Bisma akan wajah ayu berselimut duka yang terus mengganggu pikirannya.


“Saya sudah mempelajari semua nya pak,” dengan setengah hati Bisma menjawab pertanyaan pak Ginanjar.


Ia belum bisa mengiyakan apa yang telah diputuskan instansi tempatnya mengabdi saat ini. Tetapi ia pun tak bisa menolak seketika, karena semua demi kepentingannya di masa depan.


“Baiklah, pertemuan ini saya akhiri. Dan saya sangat  berharap pak Bisma bisa menjalankan amanah serta tugas yang sudah dibebankan,” pak Ginanjar menepuk bahunya ketika Bisma sudah berdiri di hadapannya.


“Terima kasih atas kepercayaannya pak. Insya Allah saya akan berusaha menjalankan dengan sebaik-baiknya,” ujar Bisma dengan senyum tak nyaman.


“Saya yakin di instansi kita hanya pak Bisma yang mampu. Maklum, semuanya sudah berumur. Jadi khawatir jika berpisah lama dengan keluarga,” pak Ginanjar kembali menyampaikan kata-kata penguat untuk Bisma yang merasa gamang dengan keputusan yang bakal ia ambil.


Bisma keluar dari ruangan kepala dinas dengan kepala mumet. Ia belum yakin dengan langkah yang akan ia ambil. Tapi semuanya bukan lah masalah berat baginya yang sudah terbiasa dengan tekanan lingkungan kerja.


Tapi perkataan Ajeng yang tidak ingin menemuinya dalam waktu dekat membuat hatinya merasa sakit. Saat ia melewati ruangan tempat Ibnu cs mangkal, terasa sepi tak berpenghuni. Ia tidak yakin Ibnu meninggalkannya, palingan bawahan tengil itu berada di kantin.


Ia sudah meminta Ibnu untuk menyupirinya kemana pun dan meminta Ibnu menangani semua urusan yang ia percayakan. Ia sudah yakin dengan ketulusan dan kejujurannya. Walau terkadang perkataannya sering menyakitkan karena mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya sangat bertolak belakang dengan keinginannya.

__ADS_1


Bisma terkejut saat memasuki ruangan, Deby sudah duduk dengan santai menunggu kedatangannya.


***Maafkan otor sedang sibuk dengan dunia kenyataan. Baru sempat upload. Tapi otor janji akan banyak up hari ini."


__ADS_2