
Bisma berdiri di depan seorang lelaki dengan usia yang sudah jauh di atasnya. Tetapi kharisma dan wibawanya membuat lelaki itu kelihatan awet muda.
“Pah, kenalin mas Bisma,” dengan semangat Siska memperkenalkan Bisma di hadapan lelaki yang ia akui sebagai papanya.
“Selamat siang pak,” Bisma menyambut uluran tangan lelaki gagah itu sambil menganggukkan kepala.
“Panggil papa saja seperti putri kesayanganku ini,” ujar pak Wirya Dinata ramah.
Ia tau, dari gestur putrinya betapa lelaki yang ia perkenalkan ini sangat berarti baginya. Walau secara kasat mata dapat ia lihat sikap dingin Bisma pada perlakuan sang putri.
“Jadi ini lelaki beruntung yang dekat dengan putri papa?” Wirya Dinata berusaha mencairkan sikap kaku Bisma yang bersikap biasa saja saat bertemu dengan dirinya.
“Pah, kapan-kapan Papa main ke apartemen mas Bisma ya .... “ pinta Siska sambil bergayut di lengan papanya.
“Kalau untuk beberapa hari ini agenda kerja papa sangat padat. Tetapi sebelum kembali ke Indonesia papa usahakan,” Wirya Dinata berkata lembut pada putrinya.
“Maaf pak, saya dan Siska belum sedekat itu,” Bisma berkata sejujurnya.
Ia tidak ingin lelaki dewasa itu menganggap hubungan mereka telah seakrab itu. Ia harus tegas agar tidak disetir siapa pun. Ia memang belum siap dengan konsekuensi jika dekat dengan seorang perempuan.
“Anggap aja silaturahmi nak Bisma. Kita ini orang Timur, masih menjaga adat tradisi .... “ Wirya Dinata merasa tidak nyaman atas ketegasan Bisma mengingkari kedekatan dirinya dan putri bungsunya itu.
“Mas Bisma ih .... “ Siska cemberut dengan ucapannya.
“Jalani saja dulu. Papa gak masalah. Apalagi Siska ini memang manja, perlu seseorang yang menjaganya,” Wirya Dinata menatap Bisma tajam.
Ia ingin melihat sampai di mana Bisma mampu menolak putrinya yang banyak diminati lelaki lain. Kolega maupun relasi bisnisnya sudah banyak yang ingin melamar putrinya yang kini mengambil dokter spesialis anak.
“Saya telah memiliki seorang putri,” ujar Bisma terus terang, “Masih banyak lelaki lajang di luaran sana yang lebih baik dari saya .... “
Wirya Dinata terkejut mendengar pengakuan Bisma. Dalam komunikasi yang terjadi selama ini Siska tidak pernah menceritakan latar belakang lelaki yang telah mencuri hatinya dan membuatnya mulai berangan untuk membangun rumah tangga.
__ADS_1
“Apa benar itu sayang?” Wirya Dinata menatap Siska dengan kening berkerut.
Ia tidak menyangka status Bisma yang duda dengan seorang anak telah membuat putri kesayangannya jatuh hati. Padahal sebelum mengenal Bisma, ia telah mengetahui kedekatan Siska dengan seorang dokter muda rekan satu profesinya saat mereka baru selesai magang di sebuah rumah sakit di kota Bandung.
Siska terdiam. Ia belum siap untuk mengakui kebenaran status Bisma pada papanya. Walau pun setiap komunikasi yang terjadi, tak lupa ia menceritakan segala kebaikan dan perhatian yang lelaki matang itu berikan padanya.
Siska hanya menatap papanya dengan ‘puppy eyes’nya, membuat lelaki itu menghela nafasnya perlahan. Sedikit pun ia tak pernah membayangkan akan memiliki mantu seorang duda.
Biar waktu yang akan menjawab semua. Wirya Dinata berharap perasaan suka yang tengah dirasakan sang putri akan lenyap dengan berjalannya waktu. Apalagi Bisma hanya seorang ASN yang melanjutkan studi dengan modal beasiswa negara.
Sudah sepantasnya seorang ayah berharap yang terbaik untuk masa depan putrinya. Selama ini ia telah memberikan segala fasilitas dan kemudahan bagi putrinya.
“Permisi pak, dr. Siska .... “ Bisma undur diri dari hadapan keduanya yang masih berdiam dengan pikiran masing-masing.
Ia tidak ingin mengganggu Siska dan papanya. Dengan cepat ia melangkah mencari keberadaan rekannya yang lain. Ia berharap dengan perkenalan yang terjadi dengan Wirya Dinata dan sikap yang barusan ia lihat akan membuat Siska menjauhinya dan tidak mengganggu dengan segala alasan tak berdasar yang ia buat.
“Wah, pak Bisma sudah bertemu camer?” dr. Idham langsung memberondongnya begitu ia tiba di hadapan keempat rekannya yang kini duduk berjejer di kursi tamu yang telah disediakan.
“Pikiran dokter ketinggian,” jawab Bisma santai langsung menghenyakkan tubuhnya di kursi kosong samping dr. Idham.
“Apa ditolak karena status?” Ruslan menebak yang langsung dijawab Bisma dengan anggukan.
“Miris sekali .... “ dr. Idham menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang terjadi.
“Pak Wirya Dinata memang seperti itu. Dua kakak perempuan dr. Siska, semuanya pengusaha top di Jakarta. Mana mungkin ia memilih mantu dari kalangan biasa, apalagi hanya seorang pegawai biasa,” Ruslan berkata terus terang.
Bisma tersenyum mendengar perkataan Ruslan. Ia tak terlalu menanggapi komentar-komentar yang terjadi berikutnya dari rekan-rekan yang lain. Toh, ia tidak merasa rugi sedikit pun. Malahan ia akan tenang mengakhiri studi yang tidak lama lagi akan selesai, dan kembali ke negara asal dengan kisah dan cerita baru.
Penampilan para diaspora serta peserta pengisi acara yang didatangkan dari Indonesia membuat acara begitu semarak dan heboh.
Ruslan dan Edi ikut berjoget di bawah panggung utama mengikuti para tamu undangan yang sebagian bule saat salah satu artis dangdut terkenal ibukota yang turut memeriahkan perayaan HUT RI di negara King Charles itu.
__ADS_1
Malam itu di apartemen tempat dr. Fransiska menginap, ia masih terlibat percakapan serius dengan papanya. Ia tidak akan berhenti untuk menyukai Bisma, ia benar-benar jatuh hati akan sikap dinginnya yang begitu menarik untuk ditaklukkan.
Ia merasa tertantang untuk mendapatkan hati Bisma. Selama ini telah banyak lelaki yang mengungkapkan perasaan padanya, tapi tidak ada satu pun yang mampu menyentuh hatinya.
Ia memang telah memiliki seseorang yang spesial dan selalu ada saat ia butuhkan. Tapi pertemuan pertama dengan Bisma ketika memenuhi undangan di kedutaan beberapa bulan yang lalu telah melunturkan rasa sukanya dengan lelaki yang telah membersamainya sejak mulai kuliah di fakultas kedokteran salah satu kampus di Jakarta.
Jiwa muda serta fasilitas yang ia miliki membuat dr. Fransiska menjadi sosok yang gemar berpesta. Uang yang tidak berseri di dalam rekening serta kartu kredit un-limited miliknya membuat ia bebas memilih berteman dengan siapa pun.
Sosok dewasa yang ia lihat dalam diri Bisma, membuat jiwa petualangnya meronta ingin merasakan kehangatan seperti apa yang ia dapatkan dengan mudah dari lelaki lain.
“Apa yang kamu harapkan dari Bisma? Ia hanya seorang pegawai biasa bahkan seorang duda yang menanggung seorang anak?” Wirya Dinata berkata dengan ucapan meremehkan saat keduanya sedang duduk bersantai di sofa setelah makan malam.
Besok siang Wirya Dinata akan kembali ke Indonesia. Ia ingin membuka pikiran putri kesayangannya agar tidak sembarangan menjatuhkan hati pada lelaki yang levelnya di bawah mereka.
Kalau perlu ia akan turun tangan untuk mencarikan sosok yang tepat untuk putrinya, tentunya level mereka harus sama, atau kalau bisa di atas mereka. Wirya khawatir putrinya menderita jika memilih bersama dengan pegawai rendahan itu.
“Tetapi mas Bisma beda dengan yang pernah dekat denganku papa,” Siska bersikeras mempertahankan pendapatnya.
“Memangnya apa yang telah ia berikan sehingga kamu begitu keukueh untuk bersamanya,” Wirya Dinata menatap wajah putrinya dengan lekat.
“Dia tidak pernah memanfaatkan apa pun selama kedekatan kami,” Siska berusaha meyakinkan papanya agar menerima kedekatan dirinya dan Bisma.
“Apa kamu yakin bahagia jika hidup dengan lelaki yang gajinya hanya pas-pasan?” Wirya Dinata berusaha meyakinkan Siska bahwa Bisma bukan yang terbaik untuknya.
“Bukannya dengan kekuasaan dan kenalan yang papa miliki bisa melobi pejabat terkait agar bisa membantu mas Bisma menduduki posisi yang lebih prestisius?” Siska berusaha melakukan tawar menawar dengan papanya untuk memuluskan ijin agar keinginannya mendekati Bisma mendapat restu.
Wirya Dinata terdiam. Permintaan putrinya itu hanya perkara kecil. Tapi ia tidak yakin dengan sikap dingin yang ditunjukkan lelaki yang di matanya tidak ada apa-apanya. Mudah baginya menempatkan Bisma serta menaikkan derajat lelaki yang angkuh itu, jika sikapnya lebih familiar pada putri kesayangannya.
“Kita lihat saja nanti,” Wirya Dinata tidak langsung menyanggupi keinginan putri kecilnya yang kini sudah semakin matang dan mempesona.
Mana mungkin ia sembarangan memilih mantu untuk putri kesayangannya. Apa kata orang jika ia menikahkan putrinya dengan lelaki yang dari kalangan rakyat jelata, bisa jatuh pamornya.
__ADS_1
Perasaan Siska cukup lega mendengar ucapan papanya. Ia akan terus berusaha membujuk papanya agar menyetujui keinginannya memilih Bisma sebagai pasangan hidupnya.
Mamanya pasti akan mendukung keinginannya bersama lelaki yang tidak banyak gaya, tapi telah membuat dirinya terpesona dan jatuh cinta.