Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 78 Pernikahan Mayang


__ADS_3

Dengan perasaan haru Bisma mengucapkan ijab untuk kembali melepas kakak kandungnya  untuk memulai kembali bersama Ardi Gunawan, teman kampusnya yang kini sudah duda.


Penuh keyakinan Ardi akhirnya mengakhiri masa kesendiriannya dan Mayang untuk memulai kembali kisah terputus di masa kuliah. Dengan harapan keduanya bakal menua bersama.


Mayang menerima segala kekurangan Ardi yang ditinggal istrinya karena ketidak mampuannya untuk memberikan keturunan. Keduanya sudah yakin untuk menjalani kehidupan bersama hingga akhir dengan segala kekurangan dan kelebihan yang diberikan sang Maha Pemilik alam semesta.


Setelah mengucap ijab dan kabul dan diyatakan syah di depan penghulu dan petugas KUA setempat, Ardi segera bangkit untuk menjemput mempelai perempuan yang baru saja keluar dari kamar pengantin.


Ia menunggu di ujung tangga begitu Mayang yang sudah memakai kebaya pengantin berwarna putih turun dengan senyum bahagia yang terukir di wajahnya yang sangat cantik pagi itu.


Kesedihan dan terluka akibat pengkhianatan Rudi kini telah terobati dengan kehadiran Ardi Gunawan  yang memberikan setetes embun di kembang yang hampir layu. Senyum keduanya mekar seperti taman bunga yang begitu semarak dan indah.


Tatapan Bisma tak berkedip memandang Ajeng yang mengiringi Mayang untuk menghampiri Ardi yang kini mengulurkan tangan menyambut pengantin wanitanya.


Senyum tipis Ajeng begitu sempurna dengan riasan wajah natural membuatnya  sangat mempesona di mata Bisma. Ia tak menyadari sorot yang terus mengikuti pergerakannya tanpa berkedip.


Ia turut bahagia di hari istimewa mantan kakak ipar yang begitu baik dan sudah seperti saudari perempuannya sendiri. Mayang yang begitu perhatian padanya maupun Lala. Putri kecilnya menjadi curahan kasih sayang di rumah megah mantan mertua yang sudah menganggapnya seperti putri sendiri.


Dengan cepat cepat Bisma memalingkan muka. Sudah tidak pantas baginya memandang yang bukan muhrim, apalagi Ajeng kini sudah dimiliki seseorang. Ia mengusap dadanya yang terasa hampa dan kosong. Matanya terus mencari-cari keberadaan seseorang.


Sudah tiga hari ia di rumah mamanya dengan segala kesibukan dan aktivitas yang silih berganti selama persiapan pernikahan hingga resepsi Mayang yang akan digelar.


Ia agak heran karena tidak melihat kehadiran suami Ajeng dari hari pertama hingga pernikahan Mayang.  Seharusnya di momen seperti ini, apalagi Ajeng sudah dianggap keluarga sendiri, harusnya ia pun ada bersama keluarga besar mereka.


Ia pun mendengar perbincangan mamanya yang mengatakan bahwa Ajeng masih di luar kota, dan akan kembali satu hari sebelum hari ‘H’ pernikahan Mayang.


Ia yakin perempuan yang telah memberinya putri cantik itu sedang mendampingi suaminya ke luar kota mengurus bisnis yang sudah menggurita.


Dengan cepat Bisma mengenyahkan pikiran itu. Untuk apa ia mencari keberadaan petani itu. Toh, ia tidak ada kaitan sama sekali dengannya. Harusnya seperti kata mama, ia mulai fokus dengan diri sendiri untuk mencari kebahagiaan dan kenyamanan untuk masa depannya.


Acara pernikahan dan resepsi sengaja digelar di rumah Nurita. Mayang ingin merasakan kesakralan pernikahan mereka dengan membuat suasana rumah menjadi pesta yang lebih intim dan penuh kekeluargaan.

__ADS_1


Halaman yang luas kini dipenuhi tenda dengan ornamen bunga-bunga indah seperti taman surgawi membuat kediaman Nurita sangat indah dan memanjakan mata.


Setelah Mayang disambut dan digandeng Ardi ke pelaminan, Ajeng akhirnya menempatkan diri bersama tante Ranti. Ia merasa tidak nyaman mendekati Nurita karena ada Bisma di samping mamanya.


“Jeng, dipanggil  mbak Nur,” ucapan Ranti membuat Ajeng bangkit dari kursi yang  ia tempati.


Padahal ia sudah nyaman bersama Ranti dan kedua putri kembarnya Ghea  dan  Gina. Percakapan mereka mengalir lancar disertai gurauan ringan Dina  yang periang.


“Saye permisi tante,” dengan berat hati  Ajeng melangkahkan kaki mendekati  Nurita yang duduk bersama pak de Susilo dan Bisma juga Lala yang duduk  anteng di samping ayahnya.


Ajeng berdiri di samping Nurita. Ia merasa tidak nyaman karena tidak ada kursi kosong, semua sudah terisi.


“Lala disini sama ayah saja,” dengan cepat Bisma meraih Lala ke dalam pangkuannya.


Dengan perasaan tak nyaman Ajeng menghenyakkan tubuhnya di samping Bisma, karena sudah tidak ada kursi lain yang tersisa.


“Ih, bunda cuantik deh!” Lala memandang bundanya dengan takjub.


“Putri bunda yang paling cantik,” ujar Ajeng dengan senyumnya yang semakin lebar.


Tanpa sengaja tatapannya bersirobak dengan Bisma yang jaraknya begitu dekat. Ajeng menganggukkan kepala, langsung mengalihkan pandangan.


“Bagaimana hubunganmu dan dr. Siska?” pertanyaan Susilo membuat Bisma memutus pandangannya pada Ajeng.


“Setelah pernikahan mbak Mayang, saya akan memikirkannya kembali pak dhe,” jawab Bisma pelan namun cukup jelas di pendengaran Ajeng.


“Pak Wirya papanya Siska itu teman kuliah om. Mereka sangat berharap kamu menjadi mantu mereka,” Susilo bersemangat menceritakan keinginan kedua orang tua dr. Fransiska yang menginginkan Bisma mendampingi putri bungsu mereka yang kini bertugas satu kota dengan Bisma.


“Hem .... “ Nurita berdehem mendengar percakapan lelaki beda generasi yang bercakap dengan serius di sampingnya.


Ia memandang Ajeng yang dengan santai kini berbincang dengan Dini adik iparnya  yang duduk tak jauh dari mereka.

__ADS_1


Keinginan Nurita hanya ingin mempersatukan Bisma dan Ajeng kembali dalam ikatan rumah tangga. Ia tau, rasa sesal Bisma masih tersisa hingga kini. Tapi kekeraskepalaan-nya membuatnya menutup semua informasi berharga tentang kehidupan Ajeng.


Dan di luar dugaannya putra bungsunya itu telah dekat dengan Siska dokter muda yang bertugas di kota yang sama dengannya. Melihat interaksi keduanya di rumah mereka di Bogor membuat Nurita yakin, sudah tidak ada jalan bagi Ajeng dan Bisma untuk rujuk kembali. Bisma sudah mempunyai pilihan sendiri.


Dari sisi mantan menantunya yang sudah seperti putri kandung sendiri, ia melihat tidak ada keinginan Ajeng untuk memulai kembali dalam waktu dekat setelah kegagalan yang terjadi antara ia dan Hilman.


Tetapi melihat gencarnya usaha Ranti dalam menyatukan Fajar dan Ajeng, bisa jadi waktu akan merubah keputusan Ajeng. Apalagi Ia mendengar cerita adik iparnya itu bahwa kampus tempat Fajar bekerja telah menjalin beberapa proyak kerjasama yang diprakarsai  Dr. Wiryawan sebagai  ketua jurusan juga melibatkan beberapa usaha milik  Ajeng.


Jadi ia mengetahui bahwa keduanya sudah mulai dekat karena hubungan pekerjaan. Dan ia menyadari, Fajar memang memiliki kepribadian yang baik. Tentu akan mudah bagi Ajeng untuk simpati bahkan jatuh hati  padanya.


Ia pun beberapa kali melihat Fajar menjemput Ajeng yang sedang berkunjung ke rumahnya dalam bulan-bulan terakhir sebelum pernikahan Mayang di gelar.


“Ya Allah, semoga putra-putri hamba menemukan kebahagiaan sejati dalam hidupnya.... “ doa digumankan Nurita dalam hati, saat melihat Mayang dan Ardi sudah duduk di pelaminan dengan senyum kebahagiaan terpancar di wajah keduanya.


Para tamu sudah mulai menikmati hidangan yang tersedia pada meja prasmanan yang berjejer. Tema pernikahan Nusantara yang diusung, membuat hidangan yang disediakan pun 100 persen adalah menu Nusantara yang sudah terkenal karena digemari semua kalangan.


Nurita kini sedang berbincang bersama kedua orang tua Ardi di meja bundar yang memang disediakan untuk kedua belah pihak orangtua mempelai.  Mereka tampak akrab dan penuh kehangatan.


Ajeng masih mengontrol beberapa menu yang hampir kosong. Ia tidak bisa lepas tangan, karena permintaan Mayang membuatnya harus mengerahkan beberapa UMKM yang ia kelola dalam menyediakan menu yang dihidangkah pada para tamu.


Untuk resepsi yang dimulai sore hingga ke malam hari, hidangan yang disediakan akan berbeda lagi. Mayang sudah menyarankan agar Ajeng bisa menggandeng beberapa pihak hotel bintang lima dalam menyediakan menunya.


Tentu saja Ajeng tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan Mayang padanya setelah kesepakatan akhir antara kedua belah pihak keluarga mempelai.


Ia menyeka keringat yang terus menganak sungai. Dimas turut membantunya dengan membawa semua pegawai di kafe resto milik mereka yang sengaja diliburkan selama tiga hari dalam rangka menyukseskan acara pernikahan Mayang dan Ardi Gunawan.


“Mbak, sudah jam sebelas. Saatnya mengisi perut. Ntar mag-nya kambuh lagi,” Dimas berdiri di sampingnya begitu melihat tamu undangan sudah tidak sepadat beberapa jam yang lalu.


Ajeng tersadar. Dimas benar. Ia tidak boleh meremehkan penyakit mag yang ia derita, bahkan sempat membuatnya di opname enam bulan yang lalu. Untung saja Lala tidak rewel, dan mau menginap di tempat omanya. Saat ini ia harus menjaga kesehatan. Bukan hanya untuk orang lain, khususnya dirinya sendiri yang masih ingin berbuat banyak bagi orang lain.


*** Otor ingin membuat cerita senatural mungkin\, seperti yang kita jalani hari-hari. Banyak orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita\, tetapi yang dekat dan menetap kemungkinan hanya dua\, dan satu selamanya. Begitulah yang ingin otor tulis dalam kisah kehidupan Ajeng. Terima kasih atas vote\, komen\, kopi\, bunga dan sebagainya. Sayang selalu .... ***

__ADS_1


__ADS_2