
Setelah tugasnya bersama Fajar dan Audina selesai, Ajeng dan rekannya kembali ke ruangan waka kurikulum untuk berpamitan dengan Seno yang juga sudah mengakhiri percakapan panjangnya dengan Bisma.
“Kalau ke Surabaya mampir ke rumah Bim,” ujar Seno ketika semuanya berpamitan untuk pulang.
“Akan ku usahakan,” Bisma mengangguk, “Terima kasih atas waktunya No.”
“Sama-sama,” Seno menganggukkan kepala pada semuanya.
Tanpa banyak bicara keempatnya berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Hanya Ajeng dan Audina yang masih membahas proyek penanganan sampah untuk dibuat kerajinan dan cindera mata yang budgetnya ekonomis tetapi menjanjikan.
“Mas, kita langsung makan siang bersama?” Fajar menahan langkah Bisma yang hendak berjalan memutar menuju mobilnya.
Melihat sikap Bisma yang tak memberi kesempatan padanya untuk berjalan beriringan bahkan berbicara dengan Ajeng membuat Fajar yakin, bahwa ia harus mundur sekarang. Ia tidak akan merajut angan yang sudah pasti tak akan kesampaian.
Ia tidak memiliki apa pun untuk berjuang, sementara yang ingin ia perjuangkan sampai detik ini tidak ada respon sama sekali.
Beda sama Bisma. Ada anak yang membuat mereka tetap terikat. Apalagi melihat kedekatan dan perlakuannya pada Lala, membuat Fajar yakin bahwa lambat laun Ajeng akan melihat kesungguhan dan ketulusan dari mantan suaminya itu.
Mendengar ajakan Fajar, Bisma langsung melirik jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia menatap Ajeng kemudian.
“Kami akan menjemput Lala dan membawanya makan siang bersama,” jawab Bisma seketika, “Maaf tidak bisa memenuhi undangan makan siangnya.”
“Tidak apa-apa mas,” Fajar berkata dengan santun.
Pandangannya kini beralih pada Ajeng yang masih sibuk membalas chat dari Asih yang akan berkunjung sore ini di rumahnya.
“Mbak, saya dan Audina jalan duluan .... “ pamitnya sambil menganggukkan kepala.
“Kami duluan mbak Ale, pak Bisma .... “ Audina menatap Ajeng yang menganggukkan kepala padanya.
“Besok pagi kita ke tempat pak Warsono,” ujar Ajeng mengingatkan Audina dengan agenda rutinnya.
“Baik mbak. Assalamu’alaikum ....”
“Wa’alaikumussalam .... “ Ajeng dan Bisma menjawab serentak dan memandang kepergian keduanya.
“Terima kasih... “ tanpa memandang wajah Bisma Ajeng mengucapkan kata itu saat pintu mobil sudah terbuka.
Ia pun naik dengan cepat, duduk dengan tenang di samping kursi kemudi, hingga pintu ditutup. Bisma memutar untuk naik melewati pintu dan duduk di di belakang kemudi.
“Ku harap hanya kali ini ayahnya Lala merepotkan diri untuk mengantar jemputku,” suara Ajeng terdengar dingin di indera pendengarannya saat mengatakan itu.
“Aku akan tetap melakukannya,” ujar Bisma.
“Kaya gak ada kerjaan,” sinis Ajeng.
“Anggap saja membayar waktu yang pernah ku lewatkan dulu,” Bisma mengulas senyum saat tatapan keduanya bersirobak.
Tidak ada senyum yang tergambar di wajah itu. Hanya tampang jutek dengan sorot sinis yang tampak dalam pandangan matanya. Bisma tak mengalihkan tatapannya dari wajah jutek tetapi semakin menarik di matanya.
“Ternyata perpisahan ini telah membuat bunda berubah,” Bisma berkata berusaha mencurahkan apa yang ada di benaknya dengan sikap cuek Ajeng.
__ADS_1
Ajeng melirik sekilas dan melihat tatapan lekat yang tertuju padanya. Ia enggan untuk mengomentari. Pandangannya beralih melihat jalanan. Mobil sudah memasuki kompleks sekolahan Lala.
Belum sempat ia turun, Bisma dengan sigap sudah membukakan pintu untuknya. Wajah datar Ajeng tak membuatnya ragu untuk melemparkan senyum terbaiknya.
“Silakan bunda,” ujar Bisma dengan pandangan mata yang tak lepas dari wajah jutek itu.
“Makasih,” Ajeng menjawab dengan wajah datarnya.
Ia tak habis pikir dengan sikap dan kelakuan lelaki yang masih mengharap untuk rujuk dengannnya. Kalau boleh jujur, ia malas untuk memulai kembali, apalagi dengan orang yang sama.
Ia terlanjur nyaman dengan kesendirian. Pekerjaannya bisa dipantau 100 persen. Waktunya buat Lala pun tidak terbagi. Setiap akhir pekan, ia dapat mengistirahatkan diri atau sekedar menginap di rumah omanya Lala. Hidupnya fokus untuk anak dan pekerjaan saja.
“Bunda .... “ seruan Lala membuat wajah juteknya berganti senyum.
Bisma mengul*m senyum melihat perubahan raut ayu di sampingnya yang kini langsung memeluk Lala yang berlari ke arahnya.
“Kaka seneng ada ayah sama bunda yang jemput,” wajah Lala berbinar saat mengatakannya, “ Udah gak ada yang ganggu kakak lagi.”
“Siapa yang suka ganggu Lala?” Bisma tak bisa menahan rasa ingin tau.
Ia harus memberi pelajaran pada siapa pun yang mengganggu putri kesayangannya. Saat pandangannya bertemu, ia melihat Ajeng menggelengkan kepala keberatan atas apa yang ia tanyakan pada putri kecil mereka.
“Tadi udah pada minta maaf sama kakak di kelas,” ujar Lala dengan riang, “Kakak maafin semua. Bu Shinta bilang gak boleh dendam, harus saling memaafkan.”
“Pintar putri bunda .... “ Ajeng mencium pipi Lala dengan perasaan senang.
Genk Meri cs melewati mereka dengan menundukkan wajah. Putri mereka memanggil Lala.
“Besok main lagi ya, La .... “ Dea berdiri sebentar saat di hadapan mereka.
Melihat pemandangan di depannya membuat kehangatan mengalir di segenap raga Bisma. Ia sangat menginginkan keluarga kecilnya kembali. Haruskah ia meminta putri kecilnya agar membujuk bundanya agar menerima kehadiran dirinya dalam kehidupan mereka?
....
Ajeng terpaksa mengikuti keinginan Bisma dan Lala mampir di mall untuk makan siang sekalian membawa putri kecil mereka main di Kids Zone. Ia tak sampai hati melihat kegembiraan di wajah Lala saat ayahnya mengatakan untuk mampir. Menolak pun percuma, kalau melihat anak dan ayah itu sangat kompak.
“Lala pengen beli apa?” tanya Bisma saat mobil mulai memasuki salah satu mall megah di kota Malang.
“Kaka mau beli .... “ Lala meletakkan telunjuknya di kepala seolah-olah mikir, membuat Bisma tertawa kecil melihat kelakuan putrinya.
Ia memandang dashboard melihat Ajeng yang tersenyum dengan tingkah Lala yang belum menemukan ide tentang barang yang ingin ia beli. Senyum itu langsung pudar saat pandangan mereka bersirobak.
“Semua keperluan kaka udah tersedia di rumah,” Ajeng berkata lembut, tapi tatapan matanya mematikan bagi Bisma yang akhirnya hanya mengangkat bahu.
“Tapi, ayah pengen ajak kaka belanja .... “ kini Lala memiringkan badan menatapnya penuh harap.
“Please bunda .... “ Bisma berkata ikut memiringkan badannya menghadapi Ajeng yang masih terdiam.
“Gak usah berlebihan,” tegas Ajeng, “Jangan membiasakan Lala membeli barang yang tidak bermanfaat.”
“Siap Bunda,” senyum puas terbit di wajah Bisma saat Ajeng sudah meng-ultimatumnya agar tidak boros dalam membelanjakan putri mereka.
__ADS_1
Ajeng sengaja tidak mengikuti Bisma dan Lala yang langsung memasuki pusat perbelanjaan. Ia menunggu di kafetaria dan memesan jus mangga untuk menghilangkan dahaga di hari yang mulai beranjak siang.
Setelah menghabiskan minuman, Ajeng bangkit untuk membayar minuman. Janji Bisma hanya sekitar 30 menit ia dan Lala shopping. Ajeng akan menyusul untuk bertemu di restoran yang ada di lantai dua mall megah itu.
Saat memasuki restoran, sebuah suara yang sangat ia hindari menghentikan langkahnya.
“Wah, wah... ku pikir tidak akan bertemu dengan perempuan yang belum bisa move on dari suamiku ....”
Ajeng mengeluh dalam hati. Kenapa ia harus bertemu lagi dengan Dewi yang selalu membuat masalah saat mereka bertemu. Padahal ia sudah berusaha untuk menghindar dalam tahun-tahun terakhir.
“Maaf bu, saya sudah ditunggu ....” Ajeng berpura-pura memandang ke dalam untuk melihat keberadaan orang yang dia kenal untuk mengelabui Dewi yang kini berdiri di sampingnya.
“Ala, gak usah sok penting. Aku tau niat burukmu pada rumah tangga kami....” tuduh Dewi dengan suara sinis membuat para pengunjung yang sudah duduk di tempatnya masing-masing mulai berbisik memandang pada mereka.
“Anda salah besar bu,” Ajeng tidak ingin terlibat konflik dengan perempuan sosialita tapi punya mulut tidak terjaga.
Kalau sudah seperti ini, ia merasa sangat menyesal pernah bertemu bahkan bertunangan dengan Hilman, walau pun di sebalik itu ia merasa beruntung tidak melanjutkan pernikahan yang tinggal menghitung hari itu.
“Salah besarnya di mana?” Dewi menatap Ajeng dengan mata melotot tak senang, “Entah ilmu pelet apa yang kamu gunakan sehingga suamiku masih mengingatmu....”
Ia sampai saat ini masih membenci sosok Ajeng yang tidak bisa dilupakan suaminya dengan mudah. Karena sesekali di hadapannya Hilman memuji Ajeng yang memiliki tutur kata dan perilaku yang santun.
“Dewi .... “ Hilman yang baru selesai membayar makanannya di kasir terkejut melihat istrinya mencak-mencak memarahi Ajeng hingga suaranya kedengaran dari jarak 4 meter.
“Tolong istri anda .... “ suara sindiran Ajeng membuat Hilman tak nyaman.
“Kurang ajar!” emosi Dewi semakin memuncak melihat tatapan Hilman yang berbeda pada Ajeng. Tangannya mulai mengayun.
Ajeng yang tak siap menghela nafas, untung saja sebuah tangan kekar menahan jemari Dewi yang sudah melayang hendak mendarat di wajah Ajeng.
“Apa yang ingin kamu lakukan pada perempuan yang melahirkan putriku?” suara bariton Bisma membuat Dewi terkejut.
Ia merasa tangannya dicekal dan dihempaskan dengan kasar. Matanya membulat melihat sosok gagah menatapnya dengan tajam.
“Seharusnya pak Hilman bisa mendidik istri anda agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain,” Bisma berkata dengan sinis.
Ajeng meraih tangan Bisma hingga menoleh padanya agar berhenti berbicara. Ia tidak nyaman dengan pandangan semua orang yang memenuhi kursi restoran mulai menatap mereka.
“Yang tidak bisa move on itu suami anda,” cetus Bisma. Tatapannya tajam mengarah pada Hilman dan Dewi yang kini mulai tidak nyaman dengan pandangan orang lain, “ Jangan pernah menuduh orang lain, atas kelemahan anda yang tidak bisa menjaga suami.”
“Maaf pak Bisma,” Hilman merasa tertampar dengan perkataan Bisma.
Ia sangat malu atas ucapan Dewi yang membuat mereka menjadi pusat perhatian.
“Ayo Wi,” dengan kasar Hilman menarik tangan Dewi menjauh dari Ajeng dan Bisma menuju pintu keluar restoran.
“Lepas!” dengan kasar Dewi menghempaskan cekalan Hilman begitu keduanya sampai di parkiran, “Kenapa mas memperlakukan ku dengan kasar?”
Hilman menatapnya tajam, “Berhentilah mempermalukan diri sendiri!”
“Aku hanya memberi pelajaran pada perempual gata* itu,” cetus Dewi kesal atas perlakuan Hilman yang menariknya di depan orang ramai yang memenuhi restoran.
__ADS_1
“Aku sudah bersabar dengan sikapmu yang selalu memojokkan Diajeng atas kesalahan yang tidak dia perbuat. Aku pun sudah menuruti keinginanmu agar tidak bekerja sama lagi dengannya,” Hilman berkata dengan emosi, “Jika kelakuan masih seperti ini, lebih baik kita berpisah.”
“Mas .... “ Dewi mendadak ciut mendengar perkataan Hilman.