
“Sudah sejauh apa hubunganmu dan perempuan itu?” tanya Mayang dengan menampakkan raut tak suka ketika melihat keduanya berjalan mendekat dengan wajah Siska yang selalu menunjukkan senyum ramah pada semua yang hadir malam itu.
“Hanya kenalan biasa,” Bisma menjawab dengan enteng, karena sejak awal ia memang tidak pernah menjanjikan apa pun pada perempuan yang dengan getol berusaha mencari perhatiannya.
“Jangan memberi harapan pada anak perawan orang lain. Ntar kamu sendiri yang menanggung akibatnya,” kecam Mayang tegas.
“Selesaikan urusan mbakyu mu dulu, Le. Kalo udah beres, mama akan segera meminang perempuan yang telah cocok buatmu,” Nurita menimpali percakapan keduanya saat Siska berjalan mendekat bersama papanya.
Di tangannya tampak parcel buah cantik sekedar oleh-oleh dari perkenalan dengan orang-orang yang bakal dekat dengannya di masa depan.
“Selamat malam mas, tante, mbak Mayang .... “ Siska menyapa dengan sopan tak lupa senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
“Malam juga dr. Fransiska,” Bisma membalas kesopanan yang ditunjukkan Siska di hadapan papanya serta mama dan Mayang.
“Selamat nak Bisma! Semoga ke depannya kariermu semakin meningkat,” Wirya Dinata menyalami Bisma dengan sebelah tangan yang kiri menepuk pundak Bisma dengan kuat.
“Terima kasih pak Wirya,” Bisma mengangguk dengan tegas.
“Saya telah mendengar potensi serta titelmu. Layak ke depannya untuk dipertimbangkan sebagai Kepala Dinas DPMPTSP kota Bogor,” Wirya Dinata berkata penuh keyakinan.
Mayang langsung berpandangan dengan mamanya. Ia tau maksud terselubung dari perkataan lelaki yang diakui Siska sebagai papanya.
“Silakan menikmati hidangan yang ada pak, dr. Siska .... “ Bisma mengarahkan keduanya pada kursi berjejer yang di depannya telah tersedia hidangan.
“Selamat Bro .... “ suara Jayusman membuat Bisma langsung memutar tubuhnya.
Ternyata Jayusman tidak datang sendiri, ia mengajak Ruslan serta Edi yang kebetulan baru kembali dari London dua hari yang lalu.
“Sampai juga kalian di rumahku,” Bisma segera menyalami ketiganya bergantian.
“Wah, banyak makanan di sini. Tak rugi kita ikut ajakan Jayus. Udah laper juga ini ...” Edi tanpa basa-basi berkata dengan santai.
“Kamu ini, gak bisa nahan dikit.” Jayusman geleng-geleng kepala mendengar kejujuran Edi yang tidak bisa menjaga image di depan Bisma yang hanya tersenyum mendengar perkataan teman-temannya yang pernah merasakan hidup bersama di rantau orang.
“Ada calon mertua juga ya?” Ruslan langsung menembak Bisma saat tatapannya terpaku pada Siska dan papanya yang mengobrol dengan mamanya Bisma.
“Aku jadi curiga, kamu yang memberi alamat ini pada dr. Siska,” Bisma langsung mengarahkan tatapan membunuh pada Ruslan.
“He he ...” Ruslan tertawa cengengesan, “Terpaksa bro. Kakak dr. Siska itu tetanggaku.”
Bisma tinggal geleng-geleng kepala melihat Ruslan yang garuk kepala merasa tidak enak hati padanya.
“Udah, resmikan sekalian. Maka prospek di masa depan semakin cerah,” sela Edi santai.
__ADS_1
“Silakan nikmati hidangan yang ada. Terima kasih juga udah berkenan hadir,” Bisma berkata pelan dan beranjak meninggalkan ketiganya untuk menghampiri tamu yang berdatangan dari tetangga kompleknya.
Nurita kelihatan tidak nyaman saat harus menemani Wirya Dinata yang terus mempromosikan putrinya sebagai perempuan hebat dan sudah siap untuk memulai berumah tangga.
“Saya sih sudah menyerahkan sepenuhnya pada putra saya pak Wirya,” ujar Nurita datar.
Ia merasakan cubitan Mayang di jemari dari bawah meja tempatnya duduk bersisian dengan putrinya itu saat ini.
“Terkadang anak jaman sekarang itu masih memerlukan dorongan kita sebagai orangtuanya juga mbak yu....” Wirya Dinata berusaha berbasa-basi pada perempuan di hadapannya.
Ia tidak bisa sembarangan bersikap, apalagi sampai menunjukkan kearoganannya pada keluarga Bisma yang bukan berasal dari kalangan jelata seperti dugaannya sejak awal.
Dari informan yang berhasil ia bayar, ternyata lelaki yang diinginkan putrinya adalah putra satu-satunya pemilik perkebunan teh terbaik nomor dua di kota Bogor. Tentu ini menjadi daya tarik tersendiri baginya.
Ia sudah tidak memikirkan yang lain. Pilihan putrinya benar-benar sepadan dan harus ia permulus agar hubungan keduanya sampai ke jenjang pernikahan. Ini akan sangat bagus untuk prospek politik dan bisnisnya di masa depan.
“Bisma sudah pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga. Apalagi pernikahan terdahulunya telah memberikan seorang putri bagi keluarga kami. Tentu ini bukan sesuatu yang dapat saya banggakan sebagai orangtua,” Nurita berusaha merendahkan diri pada Wirya Dinata yang sudah menunjukkan superior-nya sejak awal, “Bisa jadi Bisma bukan pasangan yang ideal bagi dr. Siska yang masih lajang.”
“Setiap orang punya kekurangan masing-masing mbakyu. Saya yakin, nak Bisma lelaki sempurna, dan kekurangan itu sudahlah pasti datang dari pasangannya. Masalah anak, toh itu bisa dibicarakan secara kekeluargaan. Bagi kami sekeluarga tidak ada masalah ...”
Dalam hati Nurita sangat kesal, karena dengan sok taunya lelaki yang tampak arogan itu merendahkan Ajeng yang sangat ia kasihi. Terpaksa ia menampilkan senyum palsunya di hadapannya.
“Pak Wirya .... “ Jayusman menghampiri mereka.
Wirya Dinata merasa kecewa atas perilaku Nurita sebagai tuan rumah. Tekadnya semakin kuat untuk membantu memuluskan keinginan putrinya menjadi menantu di keluarga Nurita yang sudah menjadi konglomerat turun temurun.
...
Nurita baru saja duduk bersama Mayang di ruang keluarga menghindari Wirya Dinata yang berusaha untuk menghabiskan malam bercengkrama dengannya dan Mayang.
Ponsel yang berada di tangannya kini bergetar. Dengan cepat ia membukanya. Rasa kesalnya langsung hilang melihat wajah Lala, cucu kesayangan yang harusnya malam ini menginap di rumahnya.
Tapi karena memenuhi undangan Bisma, akhirnya ia harus melewati akhir pekan untuk bersama cucu kesayangannya itu.
“Assalamu’alaikum Lala sayang .... “ suara Nurita langsung bersemangat melihat wajah imut cucunya.
“Wa’alaikumsalam oma cantik,” suara Lala yang kenes membuat Nurita tersenyum lebar.
“Hei, udah pandai merayu oma sekarang?” Nurita terkikik geli mendengar suara polos cucunya.
“Om Dimas bilang oma cantikk ....” dengan polosnya Lala mengarahkan ponselnya pada Dimas yang duduk di sampingnya sambil main video game.
Dimas cengengesan ketika melihat Nurita yang tersenyum dengan polahnya yang kini mengulurkan tangan dengan tanda ‘peace’.
__ADS_1
“Dasar cah gendheng!” Nurita tertawa melihat ingkah pemuda tanggung itu.
Tatapannya kembali pada Lala yang kini sudah muncul di layar ponselnya. Kerinduannya untuk menemani sang cucu bermain kini terobati walau hanya berbicara melalui ponsel.
“Siapa Ma?” Mayang yang baru keluar dari toilet heran melihat wajah mamanya yang kembali ceria, tidak seperti beberapa saat lalu setelah terlibat percakapan dengan Wirya.
“Lala dan Dimas,” jawab Nurita santai.
Kini ia berjalan kembali ke ruang tamu. Ia ingin memberikan ponsel pada Bisma untuk berbicara pada putri kecilnya.
Siska yang duduk berdampingan bersama Bisma merasa terganggu melihat Nurita mengulurkan ponselnya. Padahal saat ini mereka sedang berbincang serius dengan papanya tentang prospek di masa depan.
“Ayah .... “ suara Lala yang terdengar dari ponsel yang di-loudspeaker-kan Nurita membuat pembicaraan yang terjadi antara Bisma, Siska, Wirya, dan Jayusan terhenti sejenak.
Saat Lala berbicara dengan sang ayah, Dimas sengaja melihat ponsel yang berada di tangan keponakannya. Ia jadi penasaran dengan penampilan mantan iparnya yang sudah tidak bertemu sekian taun.
“Mbak, apa ayahnya Lala sudah menikah lagi?” ia merasa penasaran dengan perempuan yang duduk di samping Bisma.
Ajeng yang sedang sibuk di depan laptopnya mengangkat bahu. Ia sudah tidak peduli dengan semua yang berkaitan dengan mantannya di masa lalu.
“Orangnya masih muda, cantik lagi.” Dimas menggambarkan apa yang ia lihat barusan.
“Mungkin itu memang calonnya ayah Lala. Mbak kemarin sudah mendengarnya dari mama dan mbak Mayang.”
“Apa mbak gak sedih?” Dimas berusaha mengorek isi hati saudari perempuannya yang betah sendiri.
Ajeng tersenyum, “Untuk apa bersedih. Kita itu udah punya kehidupan masing-masing. Kesedihan akan perilaku ayahnya Lala udah lewat. Bagi mbak biasa aja tuh. Udah gak ngaruh,” jawabnya santai.
Dimas manggut-manggut. Ia kini yakin, saudarinya itu telah menjadi perempuan tangguh yang tidak memerlukan seseorang lagi sebagai sandarannya.
"Aku akan selalu mendukung semua keputusan mbak," ujar Dimas serius, "Mbak harus mendapatkan pendamping yang lebih baik dari semua yang pernah datang dan membuat mbak terluka."
Ajeng tersenyum tipis mendengar ucapan adiknya yang kini semakin dewasa, "Alaa, ngomongmu itu terlalu tinggi Le."
Dimas mengerutan kening melihat Ajeng yang menanggapinya dengan santai, "Maksud mbak .... ?"
"Kenapa juga mikirin pendamping, kalo sekarang mbak udah nyaman bersama Lala dan kamu," Ajeng mengetuk jidat Dimas yang melongo mendengar ucapannya, "Belajar aja yang serius. Kalo suatu saat kamu menemukan perempuan yang membuat hatimu bergetar, perjuangkan lah. Berilah ia kebahagiaan, dan jadikan ia ladang pahala yang akan membawamu ke surga."
"Pasti bu Ustadzah .... mamah dedeh, eh bunda Lala .... "
Dimas cengar-cengir mendengar nasehat Ajeng yang sarat makna, walau pun sebagian adalah lukanya di masa lalu yang kini sudah sembuh terobati waktu.
***Salam sayang untuk semua .... ***
__ADS_1