Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk


__ADS_3

Mobil Bisma berhenti tepat di depan sekolah taman Kanak-kanak di bawah yayasan yang sangat terkenal di kota Malang.


Dengan cepat ia turun langsung  membuka pintu depan dan samping  agar putrinya dan Ajeng  tidak kesusahan.


“Terima kasih,” Ajeng  menatap Bisma yang berdiri di samping pintu mobil tempat ia keluar.


“Sama-sama Bunda,”  Bisma menjawab dengan tatapan lekatnya.


Ajeng  langsung mengalihkan pandangannya dan meraih jemari  Lala yang kini sudah berdiri di hadapannya.


Bisma tidak ingin ketinggalan dengan momen yang terjadi. Ia meraih jemari Lala sebelah kiri, karena sebelah kanan sudah digandeng Ajeng.


“Ayah ikut masuk juga?” Lala tak percaya dengan yang dilakukan Bisma.


“Tentu saja sayang. Ayah juga ingin berkenalan dengan teman-teman Lala,” ujar Bisma lembut sambil mengusap kepala putrinya.


Rasa hangat mulai menjalari seluruh kalbunya atas perlakuan Bisma pada putrinya. Memang selama ini tidak ada yang kurang, semua kasih sayang telah ia curahkan pada Lala.


Tetapi tetap saja kehadiran seorang ayah  membuat kehidupan putrinya semakin berwarna. Ia dapat melihat  usaha yang Bisma lakukan untuk membayar  kesalahannya di masa lalu, akan sikap tak peduli pada putri kecil mereka.


“Wah  Lala diantar siapa nih?” suara jutek Meri perempuan muda  yang masih sodaraan Dewi terdengar Ajeng dengan jelas, “Om-om rekan mama ya?”


Bukan sekali dua kali, Meri menyindirnya dan menganggapnya belum move on dari Hilman yang kini telah memiliki anak lelaki dari pernikahannya dengan Dewi, tapi Ajeng tak pernah menanggapinya.


Belum lagi putrinya yang benama Dea, sekelas dengan Lala, juga suka  mencari gara-gara dengan putri kecilnya.


“Wuidih, enak dong. Om nya ganti-ganti terus ... “ Meri terus melanjutkan  ucapannya yang sengaja mencemooh Ajeng, “Tapi yang ini beda.”


Bisma yang merasa panas mendengar ucapan perempuan  julid di depannya langsung menghentikan langkah.


“Maaf  bu, apa putri saya pernah melakukan hal yang merugikan anda?” tantang Bisma dingin, “Biar saya ganti. Ibu tinggal sebut berapa nominalnya.”


Meri terkejut melihat laki-laki yang di matanya begitu sempurna itu menatapnya dengan dingin. Rahang tegasnya nampak tegang dengan tatapan tajam menusuk. Ia menelan ludah seketika.


Pandangannya melirik ke kiri dan kanan untuk mencari simpati yang lain. Aida dan Rina yang biasa menjadi konconya saat julid pada Ajeng, kini diam tak bersuara.


Sungguh ia tak menyangka lelaki yang kini bersama perempuan yang paling dibenci sepupunya itu memiliki kharisma yang sangat kuat.


Melihat Bisma yang pasang badan atas perlakuan tidak mengenakkan wali murid teman sekelas Lala membuat Ajeng tidak nyaman. Ia  menyentuh pundak Bisma dan menggelengkan kepala saat tatapan keduanya bertemu.


“Kaka bunda antar ke kelas dulu ya?” Ajeng memberi isyarat pada Bisma bahwa ia akan  membawa putrinya, “Salim ayah dulu sayang ...”


Bisma menyambut salam putrinya sambil mengecup keningnya sekilas. Melihat perlakuan Bisma membuat geng Meri mencibir sinis.


“Apa saya perlu menemui kepala sekolah atas sikap ibu yang telah melakukan pembully-an  pada putri saya dan bundanya?” tatapan Bisma semakin tajam dengan suara tegasnya yang berwibawa begitu Ajeng dan Lala telah hilang dari pandangan matanya.


“Ternyata mantan suaminya ....” bisik-bisik halus tertangkap Bisma diantara ketiga wanita yang dandanannya menor seperti sosialita.


“Atau saya perlu mengetahui tempat lokasi kerja suami anda, agar bisa mendidik istrinya agar tidak berkata dan bersikap semaunya?” tantang Bisma lagi.


Dari tatapan Ajeng ia yakin perlakuan tidak menyenangkan itu sudah menjadi keseharian yang diterima mereka yang ia kasihi.

__ADS_1


“Ada apa ini?” seorang perempuan parobaya  tiba di hadapan mereka yang kini dikerumuni wali murid yang lain, “Pak Bisma ....”


Bu Aminatus yang merupakan kepala sekolah  terkejut melihat kehadiran  putra Nurita yang merupakan salah satu donatur terbesar  Taman Kanak-kanak di bawah yayasan Insan Cendeki* tersebut. Ia langsung menganggukkan kepala dengan penuh hormat


Sontak mata Meri cs membulat melihat perlakuan kepala sekolah yang sangat mereka segani pada lelaki berkharisma di depannya.


“Sudah lama anda tidak berkunjung kemari, mari pak ke ruangan saya,” bu Aminatus menatap Bisma dengan takjim, “Bu Meri dan rekan-rekan, ada yang ingin disampaikan, mari ke ruangan saya.”


“Oo ... maaf  bu ... pak ... saya mohon agar masalah ini tidak diperpanjang ....” buru-buru Meri meraih tangan  bu  Aminatus.


Ia menundukkan  kepala saat tatapan tajam Bisma mengarah padanya. Tidak berani mengangkat wajah., walau ia belum tau posisi lelaki yang membuat bu Aminatus tampak segan dan penuh hormat padanya.


“Kita bisa berangkat sekarang?” suara Ajeng membuat Bisma memalingkan wajah.


“Baik Bunda .... “ suara Bisma yang tegas langsung mencair begitu Ajeng sudah berdiri di sampingnya.


“Permisi bu,” Bisma memandang bu Aminatus dengan hormat, “Jika ada sesuatu yang diperlukan, saya siap datang.”


“Terima kasih pak,” bu Aminatus tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Begitu keduanya berlalu dari  halaman sekolah, Meri cs langsung mendekati bu Aminatus.


“Siapa laki-laki yang bersama bu Ale tadi?” Meri tak bisa menahan rasa ingin taunya, pandangannya pun masih mengikuti mobil yang perlahan menjauh.


“Putranya bu Nurita, salah satu pendiri yayasan ini,” jawab bu Aminatus dengan senyum penuh wibawa.


“Astaga .... “ Meri memandang bu Aminatus dengan perasaan tidak nyaman, “Apa benar ia ayahnya Lala? Jadi mereka sudah berpisah?”


Bu Aminatus menggelengkan kepala mendengar ke-kepo-an Meri. Ia tidak ingin menanggapi pertanyaan yang bukan kapasitasnya untuk menjawab. Tapi sebagai teman dekat Nurita, ia pun sangat berharap Ajeng dan Bisma bersatu lagi.


Kini Bisma menyadari bahwa karakter Ajeng memang sesuai dengan penggambaran Dimas. Sudah hampir setengah jam mereka bersama, tapi tidak ada sedikit pun basa-basinya untuk memulai percakapan.


“Apa selama ini bunda dan Lala sering diganggu perempuan tadi?” Bisma tidak tahan dengan suasana sepi seperti di kuburan saat mereka berada dalam satu mobil.


Apalagi ia melihat tatapan meremehkan perempuan yang berpakaian seperti sosialita itu, dengan segala barang ‘branded’ yang melekat di badannya.


“Kami sudah kebal menghadapinya,” Ajeng menjawab tanpa memandang Bisma yang mengarahkan tatapan padanya.


Citttt....


Dengan tiba-tiba Bisma ngerem mendadak dan menghentikan mobil di pinggir jalan. Untung saja lalu lintas masih sepi, karena sekolah yang akan mereka kunjungi berada di pinggiran kota.


“Kenapa berhenti?” akhirnya Ajeng menatap wajah Bisma dengan mengerutkan jidatnya.


“Hal ini tidak bisa dibiarkan!” geram Bisma, “Aku akan menuntut perbuatan perempuan itu.”


Ajeng menghela nafas, “Janganlah mempersulit diri sendiri,” gumam Ajeng sambil menatap Bisma yang kini menatapnya dengan lekat.


“Aku tidak ingin siapa pun memandang remeh Lala dan bunda. Apalagi menjadikan bahan bully-an di sekolah!” tegas Bisma.


Ia dapat melihat senyum tipis di wajah Ajeng yang mengalihkan pandangan darinya. Wajahnya yang ayu dengan  bibir merah bata membuatnya ingin...

__ADS_1


“Hah!” Bisma memalingkan wajah dari pemandangan indah di hadapannya.


Ia tidak bisa terus seperti ini. Keinginannya untuk rujuk sudah tidak bisa ditunda. Melihat dan berdekatan dengan perempuan yang telah membuatnya mengunci hati pada yang lain benar-benar menguji keimanannya, apalagi ia lelaki dewasa yang sudah pernah merasakan berumah tangga. Walau pun dengan perempuan yang sama, tetapi rasa yang kini berbeda.


“Bunda, kita rujuk ya .... “ Bisma tak bisa menahan perasaannya.


Tatapan teduh Ajeng kini sinis lagi saat pandangan keduanya bersirobak. Hal itu membuat kecantikannya semakin berlipat di mata Bisma.


“Apa tidak ada hal lain lagi selain itu?” suara Ajeng terdengar ketus di telinganya.


Bisma tidak peduli. Sepuluh bahkan seribu kali Ajeng menolak, ia tak peduli. Sampai Ajeng menjawab ya, maka selama itu lah ia terus berjuang.


“Ayo lah Jeng ... “ Bisma berusaha membujuk Ajeng yang masih keras dengan pendiriannya, “Aku ingin melindungi kamu dan Lala ....”


“Melindungi dari apa?” tantang Ajeng dengan mata berkilat.


Keduanya saling bertatapan dalam waktu lama. Bisma dapat melihat sorot kemarahan dari sinar mata Ajeng yang memandangnya sinis.


Bisma menghela nafas dan mengalihkan pandangan dari tatapan membunuh Ajeng yang membuatnya ingin segera meruntuhkan tembok yang dibangun oleh perempuan yang begitu keras kepala ini.


“Aku mengetahui kerasnya kehidupan yang kamu lalui bersama Lala...” Bisma berkata dengan pelan.


Dimas telah menceritakan semua perjuangan Ajeng dalam menjalani hari-hari semenjak berpisah darinya serta dalam membesarkan Lala seorang diri. Penyesalan terbesar yang kini ia alami dan ingin kembali untuk memperbaiki semuanya. Walau tidak mudah, tapi ia tetap berusaha.


Ajeng menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya pada jok. Ia tidak tau lagi, bagaimana cara berbicara pada Bisma bahwa ia menolak semua niat baiknya untuk rujuk, walau pun atas nama Lala.


“Aku sangat menyesal dan ingin memperbaiki semua dari awal,” Bisma berkata dengan tulus, “Aku tidak bisa melihat kalian disakiti ....”


Ajeng memiringkan tubuhnya. Kini posisi keduanya berhadapan. Ia dapat melihat raut ketulusan yang tergambar di mata kelam  Bisma yang menatapnya lekat penuh harap.


“Apa ayahnya Lala pernah mengingat ... “ Ajeng menghentikan ucapannya. Suaranya bergetar mengingat awal kelukaan yang ditorehkan lelaki yang kini memintanya untuk kembali.


“Sebelum kita berakhir, berapa kali ayahnya menginginkan perpisahan ....?”


Bisma tertegun. Ia melihat mendung sudah memenuhi raut ayu di hadapannya. Rasanya ia ingin meraih perempuan yang kini berusaha menahan diri agar tidak mengeluarkan air mata di hadapannya.


Jika pun mendung itu turun, maka ia akan menghapus segala kesakitan yang pernah ia buat. Tatapan Bisma mengikat mata bening yang kini berkaca-kaca, tapi tidak ada setetes pun air yang jatuh.


“Aku sangat mengingat kata talak yang telah ayahnya ucapkan .... “ suara Ajeng terdengar parau.


Bisma tak bisa mengalihkan tatapannya dari wajah Ajeng yang tampak tegar di hadapannya. Ia terkejut, hal yang sudah lama ia lupakan ternyata masih mengakar dalam benak perempuan yang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.


Ajeng mengalihkan pandangannya. Ia muak dengan tatapan pasrah yang diperlihatkan Bisma padanya. Walau pun sudah lama berlalu, tetap saja sakitnya masih terasa.


“Ku rasa dengan segala perhatian yang ku berikan akan membuat ayahnya bisa menghargai .... “ Ajeng tertawa lirih mengingat kebodohan yang ia lakukan, “Kalau orang sudah tidak menginginkan kita, untuk apa bertahan?”


Ia melihat jemari Ajeng bergetar saat berkata padanya.


“Jeng... aku sudah menyadari semua kekhilafan yang telah ku lakukan dan ingin memperbaiki semuanya ....” ujar Bisma tulus, “Jika kamu menerimaku, aku akan membayar semua kesalahan yang ku perbuat di masa lalu.”


Ajeng tertawa lirih, “Aku tidak mengingat sudah berapa kali ayahnya berkata untuk rujuk, seperti juga talak yang telah terucap. Bagiku tidak ada yang istimewa. Basi ....”

__ADS_1


Bisma terkejut mendengar ucapan Ajeng yang sangat pedas. Ego-nya semakin ditantang. Tangannya mengepal menahan emosi. Ia tidak akan mundur. Harus ia buktikan bahwa ia layak untuk diterima.


***Jangan emosi readerku tercinta. Otor sayang pada kalian semua. Tetap semangat ya dukung karya otor\, hingga happy end... Love semua ....***


__ADS_2