
Setelah jam kantor selesai di Jum’at sore, ia diantar mang Toyo langsung ke Jakarta untuk mengejar penerbangan malam. Dengan mengenakan jaket yang menutupi baju batik kantor ia bersemangat untuk bertemu pujaan hati.
Sudah satu minggu ini ia mengganti nomor ponsel untuk menghindari panggilan atau sekedar chat dari dr. Siska atau pun Wirya yang selalu merasa ada kepentingan untuk bertemu dirinya.
Baru kali ini ia bertemu dengan lelaki arogan dan selalu memaksakan kehendak. Walau pun ia sedikit lega, semenjak pertemuan mereka di resepsi ponakan rekan kerjanya, Siska mulai menjaga jarak. Ia harap itu untuk selamanya.
Sedapat mungkin ia memang harus menghindari berinteraksi dengan Wirya. Ia tidak tau apa yang masih bercokol di otak lelaki itu sehingga terus mengikuti setiap aktivitasnya.
Senyum Bisma terkembang ketika pagi itu sudah standby di depan rumah Ajeng. Ia sudah mengatur jadwal kunjungan tetap pada putrinya dalam rangka pdkt pada sang bunda.
“Ayah ....” Lala merasa senang begitu membuka pintu sudah melihat postur tegap itu menyambutnya.
Bisma merentangkan tangan dan mendekap erat putri kecilnya yang sudah berpakaian sekolah TK kebanggaannya. Rasa haru bercampur sedih menggayut di benaknya.
Masa tumbuh kembang Lala yang seharusnya mereka berada di dalam satu atap yang sama untuk mencurahi kasih sayang yang lengkap, tapi karena keegoisannya membuat mereka terpisah.
Memang ia telah salah melangkah di awal pernikahan hingga saat kelahiran Lala. Kini rasa sayangnya terlalu dalam hingga tak ingin terpisahkan dengan menyaksikan perteumbuhan putri kecil mereka. Keinginan rujuk nya pun semakin kuat, untuk memperbaiki bahtera yang pernah ia karamkan.
Apa lagi saat ia mendengar cerita Tobing yang sangat dekat dengan anak perempuannya yang kini sudah beranjak remaja. Berteman dengan Tobing membuat pikirannya semakin terbuka.
Ia tidak segan menceritakan masalah pribadinya serta keinginannya untuk kembali bersama sang mantan. Di luar dugaannya rekan kerja yang membersamainya sekitar empat bulan itu turut mendukung keinginannya.
Begitu pun mamanya yang sangat terkejut setelah ia mengakui keinginannya untuk kembali. Memang banyak pertanyaan yang harus ia jawab akan kedekatannya dengan dr. Siska. Tapi ia telah berhasil meyakinkan perempuan yang telah melahirkannya bahwa keinginannya telah bulat untuk rujuk.
“Kaka belum sarapan,” suara lembut Ajeng hinggap di indera pendengarannya dengan tatapan yang meneduhkan saat matanya bersirobak.
Ajeng tak habis pikir dengan kelakuan mantan suaminya itu. Belum jam 6 pagi sudah menelpon memberitahunya akan mengantar Lala ke sekolah taman kanak-kanak tempat putri kecil mereka mulai belajar bersosialisasi dengan teman seusianya.
Tentu saja Lala merasa senang. Ini untuk pertama kalinya diantar dan ditemani sang ayah ke sekolahnya. Selama ini a selalu diantar jemput bunda atau om Dimas yang selalu setia.
“Ayah juga belum sarapan. Di rumah oma masih terlalu pagi belum disiapin sarapan,” Bisma berkata dengan tampang sedih untuk meraih simpati kedua orang yang ia sayangi.
Ajeng mendelik ke arahnya menyadari maksud dari ucapan lelaki yang terus mengirimnya kata-kata manis melalui chat yang tidak pernah ia hiraukan hingga saat ini.
“Bunda udah bikin nasi goreng enak ayah. Ayo sarapan sama kakak,” dengan semangat Lala menggenggam jemari Bisma dan membawanya masuk ke dalam rumah mereka.
Perasaan hangat menyergap langsung memenuhi rongga dada Bisma. Sudah hampir tiga tahun ia tidak pernah menginjakkan kaki semenjak kepergiannya dan memutus komunikasi dengan perempuan yang telah memberinya seorang puteri itu.
“Eh, ada tamu ... “ Dimas cengengesan melihat kemunculan mantan kakak iparnya di ruang makan keluarga mereka, “Pagi mas ....”
Bisma tersenyum sambil menganggukkan kepala atas sikap ramah yang ditunjukkan lelaki tanggung itu, sedangkan saudarinya masih bersikap datar tanpa perasaan.
Ia langsung menghenyakkan tubuhnya di kursi berdampingan dengan Lala yang begitu semangat dengan kehadirannya.
“Bunda, sarapan buat ayah mana?” Lala melihat hanya satu piring dengan segelas susu yang tersedia di meja makan.
“Sebentar sayang .... “ kilatan kesal tertangkap Bisma saat pandangan keduanya bersirobak.
Aroma wangi kopi menguar dengan sepiring nasi goreng yang sangat menggoda selera terhidang di hadapan Bisma.
“Terima kasih bunda .... “ perasaan hangat hadir di sanubari Bisma melihat suguhan lengkap dengan dua telur ceplok menghiasi nasi goreng yang masih berasap.
Senyum tipis sekilas Bisma lihat ketika Ajeng memandangnya sambil mengangguk.
“Bunda gak ikut sarapan?” Bisma kembali bertanya saat melihat Ajeng masih menyibukkan diri dengan mengisi toples berisi kerupuk ikan olahan salah satu UKM yang ia bina.
__ADS_1
Ia ingin merasakan kembali kehangatan keluarga kecilnya saat menikmati sarapan pagi bersama.
“Bunda sini .... “ Lala pun memanggilnya.
“Bunda sarapannya nanti aja sayang. Masih ada yang harus bunda kerjakan ....” Ajeng berkata dengan lembut.
Ia berjalan menghampiri Lala dan mengecup kepalanya sekilas. Dengan cepat ia berjalan menuju ke kamar.
Pagi ini ia memang ada janji bersama Audina pergi ke salah satu SMK untuk sharing mengelola sampah pada pelajar di sekolah kejuruan yang berada di kota Malang.
“Mbakmu kelihatan sibuk sekali?” Bisma tidak bisa menutupi rasa ingin taunya pada Dimas yang asyik menyesap kopi hitamnya.
“Benar mas. Mbak sekarang ada jadwal untuk sharing di beberapa sekolah tentang pengelolaan sampah. Mereka pun bekerja sama dengan pihak ITS yang sedang menguji coba alat untuk mendaur ulang sampah plastik,” jawab Dimas serius.
Bisma manggut-manggut mendengar penjelasan Dimas yang kini mulai bangkit dari duduknya. Dengan cekatan ia melihat sosok jangkung itu mengangkat piring dan gelas yang sudah kosong langsung mencucinya di wastafel.
Bisma pun beranjak dari kursi yang ia duduki untuk membersihkan meja yang menyisakan piring serta gelas yang ia gunakan bersama Lala.
“Biar aku saja mas .... “ suara Dimas menghentikan aktivitasnya.
Dimas menahan tangan Bisma yang hendak menyatukan piring untuk mengangkatnya ke wastafel.
“Mas mau antar Lala ke sekolah kan?”
Bisma mengangguk seketika.
“Ayah, kaka mau berangkat sekarang. Udah janjian sama Putri mau maen bareng ....” seruan Lala membuat Bisma mengalihkan pandangannya pada Lala yang sudah menarik tas Barbie-nya.
“Baik sayang. Lets’ go!” tatapan Bisma kembali pada Dimas, “Mas berangkat dulu Dim. Ntar malam mas nginap di sini.”
“Uang jajan yang kemaren masih?” Bisma menatap Dimas dengan serius.
Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana ia harus mengatakan pada mantan iparnya bahwa uangnya telah disita 90% untuk keperluan kuliahnya.
“Jangan katakan uangmu telah berada di tempat yang tidak semestinya,” dari raut Dimas, Bisma yakin bahwa Ajeng telah melakukan sesuatu pada uang saku yang ia berikan pada Dimas, “Tenang saja, mulai sekarang mas akan memberi jajan-mu. Kirim aja nomor rekening, akan mas kirim rutin.”
“Jangan mas,” dengan cepat Dimas menolak, “Saya tidak berhak menerima uang saku dari mas Bisma.”
Ia tidak ingin Ajeng mengamuk karena ia menerima uang dalam jumlah besar untuk pekerjaan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
“Anggap saja itu hutang masa lalu yang seharusnya mas berikan sejak dulu,” Bisma tidak ingin penolakan dari mantan ipar yang akan ia rangkul kembali.
“Tidak mas!” Dimas berkata dengan serius, “Aku takut tidak ada keberkahan di dalamnya.”
Bisma tercenung mendengar ucapan Dimas yang cukup menyentil perasaannya.
“Ayah cepetan!” Lala sudah tidak sabar menggoyang-goyang tangan Bisma.
“Baiklah Dim, nanti kita bicarakan lagi.”
Saat melangkahkan kaki menuju mobil, tatapan Bisma langsung mengarah pada sosok berkacamata yang sudah bersandar di depan mobil yang terparkir di halaman rumah Ajeng.
Lelaki jangkung itu terkejut melihat kehadiran Bisma di rumah Ajeng yang masih tetap bersikap datar dan dingin padanya.
Bisma tersenyum sinis saat pandangan keduanya bertemu, walau pun senyum ramah terpancar di wajah lelaki berkacamata itu.
__ADS_1
“Selamat pagi mas,” akhirnya sapaan Fajar ucapkan begitu jarak Bisma mendekat padanya dengan Lala yang berjalan riang di sisinya.
Bisma tidak langsung menjawab. Ia sudah bertekad, selama keberadaannya di Malang ia harus memantau pergerakan Ajeng dan mempersempit jarak yang membuat ia sudah mendekat.
“Om Fajar mau jemput bunda?” pertanyaan Lala membuat Bisma mengepalkan tangan.
“Benar putri,” Fajar menjawab dengan memamerkan senyum khasnya.
Bisma merasa muak melihat Fajar yang masih berusaha mendekati Ajeng, walau pun dari chat yang terjadi antara ia dan Dimas, sikap Ajeng tetap tak berubah.
“Aku yang akan mengantar Ajeng ke SMK Persada,” tegas Bisma tak ingin berbasa-basi lebih lama, “Pergilah, kami akan menyusul.”
Fajar tertegun mendengar ucapan lelaki yang kini ia anggap sebagai rival terkuat untuk menaklukan hati pujaannya. Ia sudah mendengar keinginan Bisma untuk rujuk saat makan malam keluarga di rumah om Susilo.
Walau belum ada kabar yang pasti sehingga membuatnya mundur. Selama janur kuning belum melengkung, ia menganggap masih ada waktu untuk berjuang. Ia pun akan memanfaatkan waktu yang ada untuk memperjuangkan cintanya.
“Aku akan menunggu konfirmasi mbak Ajeng,” Fajar berkata tegas tak ingin kalah di depan Bisma.
Keduanya kini terkejut melihat Ajeng yang sudah siap dengan tas di tangannya.
“Silakan duluan,” Bisma berkata tegas.
Ia harus menunjukkan superiornya di depan lelaki yang dari tatapannya begitu memuja sang mantan.
Ajeng tertegun merasakan hawa tegang melingkupi dua lelaki yang kini berada di hadapannya.
“Bunda dan kaka hari ini akan diantar ayah, asyik!” Lala bersorak gembira mendengar ucapan ayahnya.
“Aku dan bundanya Lala akan menyusulmu,” tegas Bisma lagi tanpa tersenyum.
Fajar menghela nafas mendengar nada bahagia dari putri kecil yang membuatnya bersemangat untuk berjuang mendapatkan keduanya hingga membentuk keluarga bahagia. Tapi kini, masih pantaskah ia berharap?
Ajeng memandang Bisma yang masih teguh dengan ucapannya. Jemari mungil Lala meraih tangannya.
Sebuah mobil Fortune* metalik memasuki pekarangan rumah mereka. Tatapan Bisma teralihkan sejenak.
“Assalamua’alaikum ....” Audina yang baru turun dari mobil langsung mengucap salam pada ketiganya.
“Wa’alaikumusalam,” semua menjawab dengan kompak.
“Kita berangkat sekarang mbak?” Audina menatap Ajeng yang masih berdiam memikirkan kedua lelaki yang tampa tegang di hadapannya.
“Saya yang akan mengantar Ajeng,” pungkas Bisma.
“Din, kamu bersama mas Fajar duluan ya .... “ Ajeng akhirnya mengeluarkan suara setelah berfikir sejenak.
Ia tidak ingin membuat Lala terlambat ke sekolah hanya karena masalah sepele yang ditimbulkan lelaki dewasa yang sedang mengadu kekuatan di depannya.
“Ayo sayang,” dengan perasaan bangga Bisma membuka pintu depan dan samping untuk putrinya dan Ajeng.
Senyum meremehkan timbul di sudut bibirnya ketika pandangannya bersirobak dengan Fajar yang hanya tersenyum menganggukkan kepala.
“Langkah pertama sudah berhasil,” batin Bisma penuh kepuasan begitu mobil mulai meninggalkan pekarangan rumah Ajeng.
***Mohon maaf atas ketidaknyamanan para reader tersayangku yang 'say good bye...' Otor hanya mencurahkan apa yang ada di kepala dalam bentuk tulisan. Karena sperti otor yang menulis berproses\, begitupun kisah Ajeng. Sayang selalu untuk yang tetap setia ...***
__ADS_1