
Ia terkejut melihat lelaki muda yang tampak sangat akrab dengan Ranti dan kini menggendong Lala dengan Ajeng yang berdiri di sampingnya.
Cucu kesayangannya adem bahkan tertawa mendengar ucapan lelaki muda itu yang bercanda dengan si kembar.
“Siapa dia?” Nurita memelankan suara nyaris berbisik saat bertanya pada Ranti, tapi matanya tak beralih dari pemandangan luar biasa yang tertangkap matanya saat ini.
“Pak dosen ingat dengan nyonya ini?” Ranti tersenyum melirik Fajar yang kini menatap Nurita yang menjauhkan diri darinya.
“Mama Noei .... ?” ucap Fajar sambil memandang Nurita dengan mengulas senyum.
“Masya Allah ... “ senyum terbit di wajah Nurita begitu Fajar menyapanya, “Nak Fajar, udah segede ini kamu....”
Ia langsung teringat bocah cilik yang biasa dibawa Ranti saat keduanya baru menikah. Bahkan sering menginap di rumahnya. Nurita pun tertawa mendengar ceritanya tentang Fajar yang gak mau memanggilnya mama sebagai pancingan agar ia dan Susilo segera memiliki momongan. Tetapi begitu seharian masak bersama di kediaman Nurita, dengan polosnya Fajar memanggilnya mama Noei, karena bibirnya belum bisa menyebut huruf R.
“Tentu saja tante, makannya aja kuat. Bisa 2 kali nambah lagi,” ceplos Ghea terkikik di belakang Fajar.
“Masakan mamamu itu ‘numero uno’ seperti masakan mama Noei,” jawab Fajar santai.
Ajeng melihat keakraban yang terjadi. Fajar tidak ada jaim-jaimnya menanggapi candaan si kembar yang menjadikannya bahan guyonan. Ia malah nimbrung membuat keduanya semakin semangat mengerjai sepupunya itu.
“Canda kalian itu kelewatan ... “ Ranti mengingatkan si kembar agar berhenti mem’bully’ Fajar.
“Mumpung di sini mah, kalo di kampus bisa dapet nilai E kita .... “ Gina menyikut lengan Ghea untuk mendukung ucapannya.
“Benar mah! Kalo di kampus ‘killer’ banget,” Ghea membenarkan ucapan kembarannya.
“Bekerja di mana sekarang nak?” Nurita bertanya penuh perhatian.
“Pasti jawabannya nguli di ITS,” sebelum Fajar menjawab Gina langsung berkata sambil tertawa.
“Huss!” Ranti langsung mencubit Gina yang kini meringis akibat capitan kuku tajamnya, “Maafkan si kembar mbakyu .... “
Nurita tertawa sambil menggelengkan kepala melihat kehebohan keluarga adiknya itu. Mereka memang kompak dan selalu membuat suasana lebih rame di mana pun mereka berada.
“Tante, pak dosen ini masih jomblo. Mungkin ada kandidat yang tepat untuknya ... “ Ghea berkata dengan santainya.
“Yang benar?” Nurita tak percaya dengan perkataan Ghea yang kini memasang mimik serius.
“Sius tan,” jawab Ghea cepat, “Makanya kita berdua ngebantuin biar nominal yang ada di rekeningnya gak gendut terus.
Nurita tertawa lirih memandang Ghea dan Gina yang masih saja mencandai Fajar yang tak terprovokasi dengan ucapan keduanya.
“Maaf pak, biar Lala sama saya,” akhirnya Ajeng bersuara saat melihat Lala yang kini mulai mengantuk dalam gendongan Fajar.
Ia tidak nyaman dengan Fajar yang masih santai menggendong Lala, sedangkan mereka tidak ada hubungan apa pun.
__ADS_1
“Gak pa-pa mbak,” jawab Fajar sopan.
Melihat interaksi yang terjadi antara Fajar dan Ajeng membuat Ranti senyam-senyum, sedangkan Nurita merasa ada sesuatu yang tiba-tiba ngilu di sudut hatinya.
“Ma, kapan ukur bajunya. Kami masih ada jam kuliah siang ini,” Gina menginterupsi suasana hening yang terjadi tiba-tiba.
“Eh, iya... “ Nurita baru tersadar kalau mereka udah janjian dengan pemilik butik, “Mari kita masuk ...”
Semuanya mengikuti langkah Nurita memasuki ruang kerja Saskia, sang desainer pemilik butik terkenal di Surabaya, dan sudah sangat direkomendasikan dalam membuat pakaian pengantin maupun keluarganya.
“Saya di luar aja,” Fajar berkata pelan, khawatir Lala terbangun dengan pembicaraan Ghea dan Gina yang masih tak selesai, selalu aja topik pembicaraan yang menarik untuk keduanya bahas.
“Jangan!” Nurita berkata cepat, “Nak Fajar juga bagian dari keluarga. Kita akan memakai seragam yang sama.”
“Tante kan tadi bilangnya begitu,” Ranti memandang Fajar dengan raut puas.
“Baiklah tante, mama Noei.” Fajar mengangguk menyetujui ucapan perempuan yang menurutnya sangat mirip dari rupa, perilaku mau pun suaranya itu dengan mamanya di Semarang.
Para pegawai butik mulai mengukur satu demi satu dari klien bosnya yang telah menunggu dengan sabar.
Ponsel Nurita berbunyi saat ia mulai berdiri dengan seorang asisten yang ber-name tag’ Lina mengukur lingkar pinggang dan mencatat di notes yang berada di tangannya.
“Maaf dek, boleh ukur putri saya dan cucu saya dulu .... “ ia mengisyaratkan Ajeng untuk mendekat.
“Assalamu’alaikum mama ....” Bisma langsung mengucap salam begitu wajah mamanya terpampang dalam ponselnya.
“Wa’alaikumussalam,” Nurita menjawab dengan mengulas senyum melihat putranya yang masih berseragam ASN, tampak begitu gagah di matanya seperti almarhum suaminya yang sudah mendahului mereka.
“Mama lagi di mall belanja?” tanya Bisma ketika melihat lokasi keberadaan mamanya yang penuh pajangan gaun pengantin serta suara-suara ramai yang berada di sekitarnya.
“Mama sedang fitting baju bersama Ranti dan si kembar. Ajeng dan Lala juga ada,” Nurita menjelaskan sambil mengarahkan ponselnya ke setiap sisi.
“Lala mana?” Bisma sudah satu minggu tidak melakukan vc-an dengan putrinya.
“Kecapaian dia bermain dengan Ghea dan Gina. Sekarang tertidur .... “ Nurita mengarahkan ponselnya pada Fajar yang tetap menggendong Lala tanpa merasakan lelah sedikit pun.
“Ya sudah ma,” suara Bisma terdengar kesal, “Aku tutup dulu. Assalamu’alaikum ....”
Ia merasa kecewa melihat putri kecilnya dekat dengan lelaki yang ia kira Hilman. Ia belum bisa merelakan bahwa lelaki lain telah mengambil tanggung jawabnya dengan menjadi ayah sambung Lala.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” Nurita mengerutkan jidat melihat Bisma yang buru-buru mengakhiri panggilannya.
Tapi ia tak terlalu mengambil pusing, Nurita yakin Bisma sedang kelelahan dengan tugas-tugasnya di tempat yang baru, menyebabkan ia harus sering dinas luar mendampingi kadis atau mengikuti diklat di luar daerah.
“Sudah Jeng?” Nurita menatap Ajeng yang kini duduk di sofa untuk mengambil alih Lala, karena Fajar pun juga akan melakukan pengukuran.
__ADS_1
“Terima kasih mas,” Ajeng berkata pelan begitu Lala sudah berbaring dalam pangkuannya.
“Gak pa-pa mbak,” Fajar mengangguk santai.
Reaksi Ajeng yang datar pada Fajar membuat Ranti jadi geregetan sendiri. Ia semakin tertarik untuk menjodohkan keduanya.
“Bagaimana menurutmu Yu?” ia mencolek lengan Nurita yang juga melihat interaksi keduanya.
“Apanya?” Nurita malah belum paham dengan pertanyaan adik iparnya itu.
“Cucok gak mereka?” Ranti mengarahkan pandangannya pada Ajeng dan Fajar yang masih terlibat perbincangan ringan.
Nurita terdiam. Berat bibirnya untuk mengomentari pemandangan di depannya. Ia terlalu menyayangi Ajeng, dan tidak ingin kesedihan dialami perempuan yang telah memberinya cucu yang cantik.
“Ajeng udah lama juga melajang. Fajar akan menjadi sosok yang tepat buatnya. Cucumu aja baru sehari ini bertemu, langsung nyaman dengannya,” Ranti berkata dengan penuh semangat.
Apa yang dikatakan Ranti memang ada benarnya. Nurita dapat melihat sendiri bagaimana perlakuan Fajar pada cucunya.
“Apa mbakyu keberatan Ajeng memulai lagi?” Ranti penasaran dengan kediaman Nurita, “Gak mungkinkan mbakyu mengharapkan ia dan Bisma rujuk?”
Pertanyaan yang diajukan Ranti barusan membuat Nurita merasa sedih. Untuk rujuk, kemungkinan adalah hal terakhir yang ia impikan. Orang tua mana yang tidak menginginkan kebahagiaan bagi anak cucunya sendiri, apalagi dengan perempuan yang sudah ia ketahui luar dalam.
Tapi melihat gelagat yang ditunjukkan perempuan yang hadir bersama orangtuanya di kediaman mereka di Bogor kemaren, sangat jauh panggang dari api akan rujuknya Bisma dan Ajeng.
Nurita tau bagaimana sikap Bisma pada lawan jenis. Ia tidak akan membiarkan orang asing datang ke kediamannya. Melihat kehadiran dr. Fransiska bahkan hingga berada di dapur rumah mereka, berarti ada sesuatu di antara keduanya.
“Mbak yu .... “ Ranti menepuk lengan Nurita yang termenung mengingat pertemuan pertamanya dengan Wirya Dinata.
Lelaki arogan yang terus membicarakan putrinya dan Bisma sebagai pasangan sepadan, hingga ia sendiri merasa jengah dan lebih menghindari untuk berbasa-basi lebih lama.
“Kenapa Ran?” akhirnya Nurita tersadar dari ingatannya akan kejadian seminggu yang lalu di Bogor.
“Fajar sudah mengakui ketertarikannya pada Ajeng sejak pertemuan pertama mereka,” Ranti berterus terang yang membuat Nurita melongo, “Mbakyu gak keberatan kan? Fajar seorang lelaki mapan yang bertanggung jawab.”
“Aku menyerahkan semua keputusan di tangan Ajeng,” Nurita berkata dengan pasrah, “Semoga ia ditemukan dengan jodoh yang terbaik. Aku sangat menyayanginya.”
Mata Nurita berkaca-kaca membayangkan suatu saat Bisma dan Ajeng memulai kehidupan mereka masing-masing, dan Lala mempunyai dua orang tua serta saudara yang berbeda.
Harapannya hanya satu, semoga saja bersama siapa pun Ajeng dan Bisma memulai suatu saat nanti, keluarga mereka selalu dalam kebahagiaan dan dalam naungan keberkahan.
***Sebelumnya otor minta maaf pada reader kesayangan yang masih menunggu kisah ini. Bukan maksud otor membuat kisahnya bertele-tele\, tetapi kembali lagu otor mencoba dan berusaha untuk menemukan 'feel' agar lebih kerasa\, dan ceritanya gak terlalu tergesa-gesa\, karena proses untuk mendapatkan rasa dari sebuah cerita itu yang bagi otor lumayan sulit.
Karena otor pun biasa membaca cerita dari reader yang lain. Akan terasa bedanya dengan cerita yang terlalu datar sehingga tidak ada kesan yang tersisa saat kisahnya berakhir.
Tetapi yang pasti\, rasa terima kasih atas\, vote\, komen\, like serta hadiah yang reader berikan\, adalah 'sesuatu' yang membuat otor tetap semangat hingga kisah Ajeng tamat. Lope\, lope untuk semua ....***
__ADS_1