
Pagi itu Hilman menyempatkan diri berkunjung ke kediaman Ajeng. Ia akan melakukan perjalanan ke Sulawesi tepatnya di Manokwari. Ia sudah lama menanam saham pada salah satu tambang batubara milik sepupunya Ridwan yang bekerja sama dengan beberapa rekan lainnya.
Dari neraca perdagangan dan laba yang dilaporkan Ridwan, membuat pundi-pundi kekayaannya meningkat setiap bulan, hingga Hilman terus menambah saham pada perusahaan yang dikelola sepupunya itu.
Sudah lima tahun terakhir ia menanamkan modalnya di sana, tanpa sekali pun ia berkunjung untuk melihat. Padahal PT. Bara Sejahtera, Tbk., sudah berjalan selama 10 tahun dengan kondisi jatuh bangun akibat persaingan, namun masih bertahan dengan keuntungan yang kini semakin meningkat.
Walau pun pernah ada luka dalam hubungan kekeluargaan akibat cinta yang tak berakhir di pelaminan, namun ikatan persaudaraan membuat Hilman tetap membantu usaha Ridwan.
Apalagi kedekatan yang terjalin sejak kanak-kanak membuatnya memaafkan semua perbuatan Ridwan yang telah menghancurkan impiannya untuk membangun bahtera rumah tangga bersama Dewinta.
Ia enggan untuk mengingat masa lalu, apalagi pertemuan dengan Ajeng mampu mengobati semua luka yang pernah ada. Tinggal satu langkah lagi bagi keduanya menapak ke jenjang yang akan membuat mereka menjalani hari bersama.
“Mas udah sarapan?”
Suara lembut pertanyaan Ajeng menghentikan aktivitas Hilman yang masih aktif bermain ponsel.
“Udah, barusan pas mau kemari,” jawab Hilman akhirnya menon-aktifkan ponselnya.
Keduanya duduk berdampingan di teras rumah Ajeng yang begitu tenang dan adem di pagi yang cerah dengan tiupan angin sepoi-sepoi.
“Tumben mas datang pagi segini tanpa kasi kabar .... “ Ajeng memandang lelaki gagah yang duduk di sampingnya dan kini memandangnya dengan lekat.
Hilman langsung tersenyum mendengar ucapan to the point perempuan yang ia targetkan untuk menjadi pendampingnya. Tak lama lagi ia akan mengakhiri masa lajang dengan perempuan ayu yang kini tinggal selangkah lagi mendampinginya dalam merajut masa depan.
Banyak perempuan muda yang ia temui dengan kecantikan mereka yang unik. Walau pun tidak semuanya memiliki kecantikan alami, tetapi dengan bantuan alat atas nama estetik dengan sejumlah uang membuat menjadi cantik semakin mudah di zaman yang serba instan dan permisif.
“Mas akan ke Makasar dalam waktu dekat ini ...” suara Hilman terdengar berat saat mengucapkannya.
Sebenarnya ia enggan untuk memenuhi permintaan Ridwan yang memintanya dengan penuh harap untuk datang ke Makasar. Mengingat profesionalisme sebagai seorang pengusaha yang memiliki saham sepertiga di PT. Bara Sejahtera Tbk, membuatnya tak bisa berlepas tangan begitu saja.
Posisinya sebagai Komisaris mengharuskannya untuk datang kali ini. Ia tau, sampai detik ini belum pernah menginjakkan kaki ke tanah Makasar. Perkenalan dan rapat yang ia ikuti hanya berupa zoom meet setiap bulan.
Walau pun demikian, ia mengenal semua direksi dan petinggi PT. Bara Sejahtera Tbk, yang sering mengunjunginya dan melakukan beberapa kali meeting di Surabaya atau pun Jakarta.
Mendengar ucapan Hilman yang tidak bersemangat membuat senyum tipis terulas di bibir Ajeng. Ia membalas tatapan Hilman dengan penuh kehangatan.
__ADS_1
“Berapa lama di sana?” suara lembut Ajeng membuat Hilman tak mengalihkan pandangannya dari perempuan yang telah membuatnya siap untuk memulai kembali.
“Maunya mas secepatnya,” aura positif yang ditampilkan Ajeng membuat Hilman ketularan semangat, “Ini juga berkaitan dengan perusahaan yang dikelola Ridwan sepupu mas yang tinggal di sana....”
“Moga lancar dan tidak ada kendala,” Ajeng hanya mengungkapkan apa yang terpikir di benaknya.
“Mas harap sepulangnya nanti semua urusan kita dipermudah.... “ nada penuh harap terdengar dari perkataan Hilman.
Senyum mengembang Ajeng membuatnya lebih bersemangat. Rasanya ia sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba.
“Aamiin .... “ Ajeng langsung mengamini ucapan Hilman.
Tidak mungkin ia menceritakan pertemuan terakhirnya dengan Bisma. Rasanya tak tepat ia menceritakan semua permasalahan yang terjadi. Terpenting sekarang ini adalah mempersiapkan proses untuk pengurusan perceraian mereka, karena dokumen-dokumen yang diperlukan telah lengkap.
“Bagaimana proses perceraian Diajeng dengan ayahnya Lala?” rasa penasaran tiba-tiba menyelimuti Hilman.
Bukannya ia tidak tau Bisma selalu mengunjungi kediaman Ajeng. Walau ia yakin kedatangan mantannya Ajeng tidak semata-mata menemui putri tunggal mereka. Ia yakin dari sorot mata Bisma yang masih menginginkan Ajeng.
“Alhamdulillah, berkas penting telah siap. Bang Hendra sudah menghubungi temannya yang pengacara untuk membantu proses semua.”
“Syukurlah .... “ rasa lega tak bisa ditutupi Hilman mendengar jawaban Ajeng, “Apa mas bisa merekomendasikan pengacara lain?”
“Semoga semua dilancarkan hingga hari ‘H’ .... “ gumam Hilman lirih.
Lelaki mana yang tidak bangga mendapatkan perempuan seperti Ajeng. Paket lengkap ada pada dirinya. Ia sudah mengenalnya dan mengikuti perjalanan hidup Ajeng selama tiga tahun terakhir.
Debaran jantung Ajeng meningkat mendengar perkataan Hilman yang nyaris tak terdengar. Ia paham keinginan tulus Hilman yang telah resmi melamarnya. Walau pun belum ada cincin yang melingkar di jemari, tapi ia meyakini bahwa telah siap untuk memulai kembali bersama Hilman.
....
Ajeng membuka ponsel dan melihat beberapa chat yang masuk. Sampai detik ini tidak ada kabar dari Hilman tentang keberadaannya. Pada hal saat keberangkatan nya dua hari yang lalu, ia akan segera memberi kabar begitu tiba di Makasar.
Tatapan matanya beralih pada jemarinya yang kini telah tersemat sebuah cincin berlian indah yang diberikan Hilman pada saat ia turut mengantar di bandara Juanda.
Air mata haru tak bisa ia tahan, saat lelaki yang mulai perlahan mengisi ruang kosong di hatinya mulai menaiki tangga pesawat yang akan membawanya ke bumi ‘Anging Mamiri’ itu.
__ADS_1
Dalam hatinya Ajeng menggaungkan doa memohon diberikan perlindungan serta keselamatan dari Yang Maha Kuasa untuk calon imam yang bakal membersamainya di masa depan.
Ia mengecup cincin berlian itu dengan sepenuh perasaan. Berharap masa depan yang bakal ia jalani kelak akan memberikan kebahagiaan yang tak ia temui selama menjalani biduk rumah tangga bersama Bisma.
Ajeng tak ingin tenggelam dalam kesedihan masa lalunya. Sudah saatnya ia menata hati untuk kebahagiaan dirinya serta semua orang terdekatnya.
“Belum ada kabar dari mas Hilman, mbak?” pertanyaan Dimas menghentikan aktivitas Ajeng yang sedang memeriksa laporan bulanan beberapa usaha mikro yang ia miliki.
Ia tidak ingin terlalu serakah, banyak tawaran kerja sama yang masuk dan ingin ia bergabung di dalam usaha yang mereka geluti. Semua masih ia pikirkan dan ia pelajari. Ia tidak ingin gegabah menerima tawaran dari beberapa usaha mikro yang sedang terlilit pinjaman dan memerlukan modal usaha.
Dari Sigit ia pun banyak menerima masukan tentang beberapa kredit macet dari usaha mikro yang berada di area seputaran Malang. Ia pun masih fokus pada pengembangan usaha dari kolam Lele yang kini panen raya.
Hasil yang melimpah membuat ikan Lele mengalami surplus. Ia pun menggandeng usaha rumah tangga yang bergerak dipengolahan ikan menjadi makanan ringan, baik itu kerupuk maupun olahan lainnya menjadi bagian dari usahanya.
Sudarjo sang pemilik usaha pengolahan ikan merasa terbantu atas kerjasama yang digagas Asih istri Hendra. Keduanya rekan SMP sehingga ia tak menolak ketika Asih yang kebetulan bertemu di pasar menawarinya untuk mengajukan proposal kerja sama dengan Ajeng.
Sudarjo yang terkenal idealis, terbilang susah untuk bekerjasama dengan pihak ketiga. Ia telah menjalankan industri rumah tangga pengolahan ikan selama 7 tahun. Produknya sudah cukup dikenal.
Memang satu tahun belakangan, produksinya mengalami kendala dengan kenaikan bahan baku. Usahanya mulai terseok-seok, hingga ia penasaran ingin bertemu dengan sosok Ajeng yang begitu familiar di mata para pelaku UMKM.
Dari pertemuan awal dan perbincangan keduanya membuat Sudarjo tertarik untuk mengajukan proposal kerjasama dengan Ajeng. Melihat track record serta jiwa sosial Ajeng dalam pemberdayaan anak-anak yang tidak beruntung yang bersekolah di salah satu SMK di kotanya, Sudarjo pun tidak ingin melewatkan kesempatan emas untuk menjalin kerja sama yang menurutnya tidak hanya melulu tentang keuntungan, tetapi juga berbagi keberkahan.
“Mbak .... “ suara Dimas membuat Ajeng mengalihkan pandangan dari laptop.
“Ya .... “ Ajeng menatap wajah Dimas dengan jidat berkerut.
“Apa mas Hilman belum menelpon semingguan ini?” Dimas memandang kakaknya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
Tidak biasanya lelaki yang sangat ia kagumi akhir-akhir ini tidak memberi kabar keberadaannya yang sudah sepuluh hari meninggalkan kota Malang.
“Mungkin ada permasalahan rumit yang membuatnya fokus dan tidak bisa diganggu .... “ ujar Ajeng pelan.
Ia pun berusaha positif thingking. Walau hatinya merasa ada yang terjadi dengan lelaki yang telah ia pilih untuk menjadi pemimpin bahtera rumah tangganya di masa depan.
***Untuk para kesayangan yang masih setia dengan Ajeng dan Bisma\, maaf ya baru sempat up lagi. Kehidupan dunia nyata memang keras. Tak bisa ditinggal karena udah ditarget. Tapi alhamdulillah udah beressss semua.
__ADS_1
Saatnya Otor tunggu dukungan, like, komen, vote dan bunga dan sebagainya agar otor tetap semangat.
Luv u fulllll ...... muach ......