
“Jika nak Bisma sudah bosan di dinas yang sekarang, papa bisa mutasi ke dinas terkait yang tempatnya lebih prestisius,” Wirya mulai mengambil kendali percakapan melihat reaksi lelaki yang ia targetkan menjadi menantunya itu diam tak berkomentar.
“Terima kasih pak. Saya merasa nyaman di tempat yang sekarang,” Bisma menolak secara halus.
“Kalau kamu merasa nyaman, papa bisa koordinasi agar jabatanmu bisa naik ke level atas.”
Mayang melotot memandang Bisma yang kini bersirobak pandangan dengannya. Ia dapat melihat ketidak sukaan yang terpancar dari raut wajah Mayang.
“Papa bisa mengatur semua birokrasi yang ada di sana,” Siska berkata dengan raut penuh kebanggaan.
Ardi dapat melihat bahwa adik iparnya itu tidak terprovokasi atas ucapan kedua ayah dan anak itu.
“Mulai Senin depan Siska bertugas di salah satu rumah sakit di Bogor,” Wirya berkata pelan.
“Terima kasih pa. Aku tuh gak nyaman jika kerja di tempat yang baru, tapi belum mengenal orang .... “ Siska kembali berkata dengan manja.
Mayang kembali berpandangan dengan Bisma. Ia ingin melihat reaksi adiknya ini. Jika apa yang dikatakan mama benar adanya, pasti Bisma akan terlihat senang hati atas kedekatan yang terjadi antara ia dan Siska.
Malam saat mereka menginap di Bogor pun, ia merasa bahwa belum ada yang istimewa dari pandangan Bisma pada dokter cantik yang berusaha merebut perhatian adik ‘batu’nya itu.
Tapi Nurita membuat kesimpulan lain. Dengan bisa bebasnya Siska keluar masuk di rumahnya, berarti memang Bisma telah membuka diri untuk menerima kehadiran seseorang dalam hidupnya.
“Papa ingin menitipkan Siska selama ia bertugas di Bogor,” suara Wirya kembali memangkas ingatan Mayang. “Apalagi rumah sakit tempatnya berdinas tidak terlalu jauh dari lokasi kerja nak Bisma.”
Wirya memandang Bisma yang tetap datar. Lelaki muda di hadapannya ini memang sangat tangguh dan tidak mudah mengikuti aturan main yang ia buat. Ia yakin, jika Bisma bisa menjadi bagian keluarganya, maka keluarga mereka akan semakin terpandang di Bogor.
“Benar pah. Di London aja, kalo udah jalan bareng mas Bisma... rasanya tenang banget. Ngerasa ada yang melindungi,” dengan mata berbinar Siska berterus terang.
Mayang melotot menatap Bisma penuh intimidasi karenatidak bereaksi atas perbincangan kedua ayah anak itu. Ia jadi mulai yakin dengan ucapan mamanya.
“Bisma ....” tepukan di pundaknya membuat Bisma yang ingin menjawab perkataan Siska dan ayahnya langsung terhenti. Ia membalik badan.
“Abdul Ghani ....” Bisma merasa senang atas kedatangan sahabat lamanya saat masih SMA.
“Maaf dokter Siska ... pak Wirya saya permisi,” ujarnya sambil menganggukkan kepala.
Tanpa mengharap persetujuan keduanya, Bisma langsung melangkah mengikuti Ghani teman baiknya yang sudah lama tidak bertemu. Banyak kisah yang mereka bagikan, hingga akhirnya ia tau, kalau Ghani berhasil mewujudkan cita-citanya sebagai penghulu.
__ADS_1
“Selamat atas keberhasilanmu menjadi kepala KUA di kota Batu,” Bisma pun ikut senang atas pencapaian rekannya.
“Aku pun juga mengucapkan hal yang sama,” balas Ghani dengan antusias, “Itu calonmu?”
Bisma mengalihkan pandangan sejenak pada Siska dan papanya yang masih melanjutkan basa-basi mereka. Ia dapat melihat tatapan Siska yang terus tertuju padanya.
“Aku belum memikirkan untuk memulai setelah kegagalan yang pertama,” Bisma berkata pelan mengalihkan pandangannya dari Siska.
“Aku turut prihatin,” Ghani merasa bahwa ada kesedihan dari ucapan temannya itu, “Perbaiki diri dan mulai mendekat dengan yang mempunyai Kuasa. Suatu saat kamu akan menemukan jalan terbaik.”
“Terima kasih Ghan,” Bisma menyambut uluran tangan Ghani dan menjabatnya dengan hangat.
Ia melihat Mayang dan Ardi sudah tidak bersama Siska dan papanya. Keduanya kini berbincang dengan kedua orang Ardi yang menyambut mereka dengan hangat. Ia tau bahwa kedua pengantin yang sedang berbahagia akan melanjutkan perjalanan bulan madu mereka ke Bali dengan pesawat terakhir malam ini.
Dari sudut matanya ia melihat kalau Ajeng mulai memasuki rumah dengan Lala yang sudah tertidur dalam gendongan lelaki muda yang bersamanya sejak awal. Rasa kesal sekaligus sedih secara bersamaan hinggap di benaknya.
Malam ini ia melewatkan kebersamaan dan interaksi dengan putrinya. Tapi setumpuk pertanyaan masih menggantung, dan ia belum bisa memecahkan semuanya. Tidak ada yang dapat ia tanya, semua membisu dan menganggap semua biasa.
Satu persatu tamu mulai meninggalkan kediaman Nurita. Malam pun semakin larut. Bisma merasa lega karena Wirya, Siska bersama pengawalnya juga sudah pamitan beberapa saat yang lalu.
Tepat pukul 10 malam, pihak WO mulai membongkar tenda. Bisma masih berdiri mengawasi pekerjaan mereka. Pandangannya tertuju pada sosok jangkung yang berjalan dengan cepat keluar dari rumah mamanya.
Ia melihat mantan adik iparnya itu kini berjalan mendekat. Ia harus menuntaskan pertanyaan yang mengganggu pemikirannya. Ia yakin, Dimas-lah satu-satunya yang bisa memberikan jawaban yang sangat ia nantikan saat ini.
“Apa kabar mas?” dengan santun Dimas mengulurkan tangan yang langsung disambut Bisma dengan pelukan hangat.
Sudah hampir tiga tahun mereka tidak bertemu, begitu ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Banyak perubahan yang ia lihat pada Dimas. Badannya semakin kekar, dan kedewasaan juga tergambar di wajahnya.
“Seperti yang kamu lihat sekarang,” jawab Bisma ramah sambil melepaskan rangkulannya, “Kamu semakin berotot. Tentu udah punya pasangan sekarang.”
Dimas tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan mantan iparnya itu.
“Belum lah mas. Masih fokus kuliah juga, sekalian bantuin mbak mengelola usahanya,” jawab Dimas santai, “Saya permisi sekarang mas. Besok masih ada kegiatan di kampus.”
“Mas ingin berbicara banyak denganmu,” Bisma menahan langkah Dimas yang hendak angkat kaki.
Melihat Dimas yang mengerutkan jidat dengan wajah diselimuti kebingungan membuat Bisma tertawa.
__ADS_1
“Jangan khawatir, mas akan mengganti bensinmu sepuluh kali lipat dari mbak-mu,” seloroh Bisma, membuat wajah Dimas langsung mencair.
“Santai aja mas,” Dimas menjawab ucapan Bisma, “Apa yang ingin mas bicarakan denganku?”
“Kita duduk di sana saja,” Bisma menunjuk kursi taman yang kini sudah bersih dari tenda-tenda yang menutupi dan mulai dinaikkan ke mobil box yang sudah disediakan pemilik WO.
Keduanya segera berjalan berbarengan menuju kursi yang posisinya cukup jauh dari rumah. Bisma harus mendapatkan jawaban yang pasti malam ini.
“Apa yang ingin mas tanyakan padaku?” Dimas tak bisa menahan diri langsung mencecar Bisma begitu keduanya duduk bersama.
Bisma terdiam sejenak tidak langsung menjawab. Ia tidak tau harus memulai dari mana pertanyaan yang akan ia ajukan pada Dimas. Terlalu banyak yang ingin ia ketahui.
Pertama tentang kegagalan Ajeng menikah. Selanjutnya perempuan yang dibawa Hilman dan dalam keadaan hamil besar saat di pesta Mayang tadi. Dan terakhir lelaki muda yang dekat dengan Ajeng serta Lala sepeninggalnya melanjutkan studi.
Bisma sudah mengkalkulasi pertanyaannya yang kini sudah mantap akan ia ajukan pada mantan iparnya itu. Ia yakin Dimas akan memberikan semua jawaban yang ia butuhkan saat ini.
“Mas tidak tau bahwa mbak-mu batal menikah dengan lelaki itu,” Bisma berkata pelan tapi cukup jelas tertangkap indera pendengaran Dimas.
Dimas menatap Bisma seolah tak percaya dengan apa yang ditanyakan mantan iparnya itu.
“Bukan rahasia umum lagi mas. Itu pun udah tiga tahun yang lalu,” jawabnya santai tanpa beban.
“Jadi karena itu bundanya Lala dekat dengan lelaki berkacamata itu?” Bisma tidak bisa menahan rasa ingin taunya lebih dalam.
“Gak gitu juga kali alurnya,” Dimas tertawa mendengar pertanyaan receh Bisma yang sangat kepo dengan kehidupan kakaknya.
“Mas bertemu Hilman dan perempuan hamil yang bersamanya,” Bisma melanjutkan perkataannya berharap Dimas menceritakan semuanya dengan jelas.
“Untung saja mbak tidak menerima keputusannya dan memilih berpisah. Lelaki yang tidak bisa dipegang omongannya,” kegeraman tampak muncul dari wajah tampan pemuda jangkung itu.
Setiap mengingat nama Hilman membuat tensinya langsung naik. Ia tidak pernah melupakan saat kedua orang tua Hilman datang, meminta saudari perempuannya untuk memikirkan kembali keputusannya memilih berpisah dan membatalkan pernikahan yang akan dilaksanakan kurang dari satu minggu.
Bisma mendengar dengan seksama dan penuh perhatian. Dapat ia lihat emosi yang tergambar di wajah Dimas. Tangannya beberapa kali mengepal saat bercerita.
“Perempuan tidak tau malu itu terus mengganggu mbak Ajeng. Padahal suaminya yang terus-menerus mendatangi rumah karena mbak tidak mau menemuinya,” cetus Dimas dengan wajah memerah.
***Suka baca komen dari readerku tercinta. Hampir semuanya udah bisa memastikan seperti apa akhir kisahnya. Dukung terus ya\, moga akhir bulan ini otor bisa menyelesaikan kisah Ajeng dengan kebahagiaan yang akan ia jalani atas buah kesabarannya. ... Salam sehat dan semangat.
__ADS_1
Terima kasih juga bagi reader dari tanah Melayu Malaysia yang sudi baca kisah otor.
Otor juga asli melayu dari Ketapang Kalimantan Barat-Indonesia. Yang kebetulan pada hari ini sedang merayakan Napak Tilas 2023 dalam rangka Hari jadi kota Ketapang ke-605.***