
Bisma tiba kembali ke tanah air tepat setelah dua tahun enam bulan menyelesaikan studi di negeri King Charles. Ia mampu menyelesaikan studinya kurang dari 3 tahun, sehingga kepulangannya lebih cepat dari rencana awal yang ia targetkan.
Tubuhnya merasakan lelah yang berkepanjangan setelah menempuh waktu perjalanan hampir 17-jam dari bandara Heathrow London (LHR) hingga ke bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK).
Ia tidak akan pusing lagi memikirkan kembali ke Surabaya. Saat Jayusman menawarkan posisi untuk mengisi kekosongan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) kota Bogor, tanpa berpikir panjang ia langsung menerimanya.
Bisma menyambut tawaran itu karena ia ingin fokus mengelola perkebunan teh Cisarua yang berlokasi di Tugu Selatan serta pabrik yang akan ditinggal Mayang karena mengikuti calon suaminya pindah ke Jakarta jika pernikahan telah terjadi.
Dari bandara Sukarno-Hatta Cengkareng, mobil yang disupiri mang Toyo langsung membawa Bisma ke rumah mereka yang beralamat di perumahan Green Bamboo Terrace.
Walau pun sudah kosong selama hampir tiga tahun, kebersihan rumah itu selalu terjaga. Nurita telah memperkerjakan sepasang suami istri yaitu pak Marno dan bu Rumlah sebagai art dan petugas keamanan rumah.
Mang Toyo adalah supir yang biasa standby di kantor yang juga satu lokasi dengan pabrik tempat penyimpanan dan pengemasan teh hasil kebun milik keluarga Bisma.
Sebelum kembali ke tanah air, ia sudah memberitahu mamanya bahwa telah dimutasi di Bogor. Semua berkas-berkas penting telah diurus asistennya Budi yang langsung bolak-balik Jakarta-Bogor agar kelengkapan administrasinya bisa selesai pada waktunya.
Sebelum memulai pekerjaannya di tempat yang baru, Bisma masih mempunyai waktu satu minggu untuk rehat serta mempersiapkan diri setelah beberapa waktu, tenaga dan pikirannya terkuras untuk menyelesaikan gelar doktor di bidang pemerintahan.
Ia kembali membuka galeri yang menyimpan foto-foto putrinya kecilnya yang kini mulai memasuki jenjang pendidikan usia dini. Kerinduan untuk bertemu pada putrinya yang kini semakin tumbuh besar tak bisa ia sembunyikan.
Tapi untuk datang mengunjungi kediaman Ajeng ia merasa enggan. Ia belum siap menerima dan melihat kebahagiaan ‘sang mantan’ dengan pendamping barunya. Yang dapat ia lakukan hanya memandang foto atau bertanya kabar Lala langsung dari mamanya yang rutin dikunjungi cucunya jika akhir pekan tiba.
...
Pagi itu ia baru selesai melakukan aktivitas olahraga di ruangan yang memiliki kelengkapan buat nge-gym. Walau pun dengan segala aktivitas yang mengharuskan ia tetap tampil prima, Bisma tak pernah melewatkan kegiatan olahraga untuk kebugaran tubuhnya.
Di usianya yang menjelang 40-an ia tetap menawan, sehingga banyak kaum Hawa yang terpukau akan penampilannya termasuk dr. Fransiska yang usianya baru menginjak 27 tahun.
“Assalamu’alaikum mama,” Bisma langsung menjawab panggilan ketika Nurita menghubunginya sepagi itu melalui ponsel.
“Wa’alaikumussalam ....” Nurita memandang lekat putranya yang bermandi keringat, “Bagai mana kabarmu sekarang?”
__ADS_1
Kerinduannya akan sang putra membuatnya matanya berkaca-kaca. Apalagi mereka berpisah dua tahun lebih ketika Bisma menyampaikan keinginannya untuk melanjutan studi di luar.
“Alhamdulillah, aku baik-baik saja Ma,” ujar Bisma tenang sambil menghapus keringat yang bercucuran di wajahnya dengan handuk kecil yang mengalung di lehernya.
Ia pun menyudahi aktivitas gym-nya dan berjalan menuju ke teras samping rumah untuk menghirup kesegaran alam di kompleks perumahannya yang ditata sedemikian rupa sehingga suasana asri begitu kental terasa.
“Kapan mama main ke sini? Udah rindu dengan masakan mama,” Bisma berkata dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
“Harusnya kamu yang mengunjungi mamamu yang udah peyot ini,” geram Nurita mendengar permintaan Bisma agar ia datang, “Dasar anak bandel!”
“Ha ha ha .... “ Bisma tertawa lebar, “Biar peyot, masih cantik kok.”
Nurita menggeleng-gelengkan kepala. Walau pun terkadang menyusahkan pemikirannya, tapi Bisma tetap putra laki-laki yang selalu ia banggakan dengan siapa pun.
“Sore nanti mama akan datang bersama Mayang. Jika Ajeng mau, Lala pun pasti mama bawa.”
“Tidak perlu Ma,” tukas Bisma cepat.
“Cukup ma!” Bisma memangkas perkataan Nurita, “Aku tidak ingin mendengar nama perempuan itu disebut.”
“Tapi .... “ Nurita ingin memberikan penjelasan.
“Bukankan mama sudah tau, aku tidak ingin mendengar namanya lagi setiap pembicaraan kita, walau pun perempuan itu telah melahirkan keturunanku!” tegas Bisma.
“Baiklah kalau itu sudah keinginanmu,” Nurita mengalah, “Mama akan datang bersama Mayang dan tunangannya Ardi. Sekalian mengenalkannya padamu.”
“Baik ma, ku tunggu. Semoga lancar diperjalanan ya ma .... “
“Aamiin. Kamu juga harus tetap sehat. Assalamu’alaikum ....” Nurita mengakhiri panggilannya.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” Bisma menjawab salam mamanya dengan senyum tipis melihat wajah mamanya yang masih terpampang pada layar ponsel.
__ADS_1
Bisma berjalan ke dapur ketika indera penciumannya menangkap aroma nasi goreng yang begitu menggugah selera. Ia sangat merindukan nasi goreng klasik bikinan bu Rumlah.
Perempuan itu baginya sudah seperti ibu kedua. Bu Rumlah dan pak Marno tidak memiliki anak, sehingga keduanya mengabdikan diri dengan keluarga Nurita dan menyayangi Mayang dan Bisma seperti anak sendiri.
“Den, ada tamu yang menunggu sejak tadi....” ucapan bu Rumlah menghentikan langkah Bisma yang sudah menuju meja makan.
“Siapa bu?” Bisma mengerutkan jidatnya karena tidak merasa berjanji untuk bertemu dengan seseorang se pagi ini.
“Perempuan cuantiikk .... “ bu Rumlah berkata dengan penuh semangat sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Senyum Bisma melebar mendengar ucapan art-nya itu. Ia memang tidak pernah membawa perempuan datang ke rumah mereka. Selama pernikahan dengan Ajeng pun karena kesibukan masing-masing, Bisma tidak pernah mengajak Ajeng untuk menginap di kediamannya di Bogor.
“Calonnya ya den?” bu Rumlah jadi penasaran melihat Bisma yang tampak santai menanggapi perkataannya.
“Menurut ibu bagaimana?” Bisma membalikkan pertanyaan art-nya.
“Sepadan. Cah Bagus dan cah Ayu ... “ bu Rumlah kembali mengacungkan jempol, “Mungkin udah saatnya den Bisma mempunyai pendamping. Biar ada yang mengurusi semua keperluan aden .... “
“Belum kepikiran untuk memulai lagi bu,” Bisma menjawab cepat dan berjalan ke depan.
Bu Rumlah hanya menggelengkan kepala melihat Bisma yang berjalan cepat menuju ke ruang depan. Ia memang tidak pernah bertemu dengan perempuan yang telah memberikan seorang putri pada majikannya yang begitu sempurna di matanya.
“Semoga den Bisma menemukan perempuan terbaik dalam hidupnya....” gumamnya dalam hati.
Bu Rumlah pun kembali melanjutkan aktivitas memasaknya di dapur dengan mengeluarkan aneka sayur dan ikan segar dari kulkas besar dua pintu.
Bisma berdiri di depan pintu memandang ke luar melalui jendela kaca besar yang tertutup tirai transparan.
“Siska .... “ gumannya sambil mengernyitkan dahi.
Ikuti dan dukung terus ya ....
__ADS_1