
Setelah berpikir semalaman Hilman akhirnya memutuskan akan menceritakan semuanya pada Dewi. Ia harus mengakui hubungannya dengan Ajeng yang sudah diketahui semua pihak dan keduanya akan segera menikah dalam jangka waktu yang tidak lama lagi.
“Apa yang ingin mas bicarakan?” suara Dewi yang manja masih sama di telinga Hilman seperti saat mereka bersama dulu.
Namun itu sudah tidak berarti lagi. Ia tidak ingin kembali ke masa lalu. Baginya masa depan hanya Ajeng.
Keduanya duduk bersama di rooftop lantai atas sambil mengamati lalu lintas yang padat di jalan raya. Mobil masih lalu lalang di malam Minggu itu.
Hilman menghela nafas berat. Berusaha membuang segala beban yang mengganggu pikirannya akan sikap dingin dan panggilan Ajeng saat bertemu tempo hari.
Dewi memandang lekat Hilman yang masih terpaku dalam keheningan malam. Hanya helaan nafasnya yang terdengar seperti menahan kekesalan. Tapi ia tak berani untuk memulai pembicaraan.
Ia pun cukup terkejut karena keinginan Ridwan yang menyatukannya kembali dengan cinta pertamanya. Harus ia akui, perasaannya pada Hilman tidak pernah berubah.
Kepiawaian Ridwan dalam merayunya yang haus akan belaian cinta berbalut naf*su telah menjatuhkannya ke dalam jurang kehancuran. Keinginannya menjadi nyonya dan memiliki barang serba branded memang telah terpenuhi begitu menjadi istri Ridwan.
Tetapi cinta Ridwan tidak utuh padanya. Entah berapa banyak perempuan di luaran sana yang merasakan kehangatan serta kasih sayang yang harusnya hanya untuknya seorang.
Tak sampai satu tahun ia merasakan kebahagiaan menjadi nyonya Ridwan. Baru ia tau kalau suaminya adalah pengunjung setia klub malam. Malam-malam ia merasakan kesepian bersama putri kecilnya yang tidak pernah merasakan sentuhan dari sang ayah.
“Ada satu hal yang harus ku bicarakan padamu,” akhirnya suara Hilman memangkas lamunannya tentang masa-masa suram yang ia lalui setelah menjadi istri Ridwan.
“Aku siap mendengarnya,” ujar Dewi pelan.
Ia melihat tatapan Hilman yang hanya sekilas, dan mengalihkan pandangan kembali ke jalan raya.
“Maafkan aku karena tidak bisa menjanjikan apa-apa dalam pernikahan ini,” suara Hilman terdengar berat.
“Maksud mas?” Dewi penasaran dengan ucapan lelaki yang sempat membuatnya tersanjung karena menikahi dirinya kembali.
“Aku sudah bertunangan. Kami pun akan segera menikah,” tekan Hilman dengan penuh keyakinan.
Dewi tertegun mendengar perkataan Hilman. Padahal ia sudah mempunyai berbagai rencana untuk membayar semua pengkhianatan yang pernah ia lakukan saat mereka masih bersama.
Pikiran Dewi bekerja cepat. Ia teringat perkataan Ridwan saat tiga bulan yang lalu ia mengunjungi lelaki yang masih berstatus suaminya itu.
__ADS_1
Ridwan merasa bersyukur karena Hilman telah melamar seorang perempuan, dan akan segera mengakhiri masa lajangnya di akhir tahun ini. Rasa lega tergambar jelas di wajah suaminya yang tinggal tulang belulang di lapisi kulit itu.
Ia yakin, perempuan yang menggantikan posisinya sebagai kekasih Hilman hanya menginginkan kekayaannya. Dan ia tidak rela hal itu terjadi.
“Apa mas yakin dia tulus?” Dewi berusaha mempengaruhi pemikiran Hilman agar tidak melanjutkan hubungan mereka.
“Kamu tidak berhak mencampuri urusanku!” tegas Hilman.
Ia merasa sikap arogan Dewi tidak pernah berubah dari awal mereka mulai berkomitmen untuk melangkah bersama, walau akhirnya harus kandas karena pengkhianatan.
“Aku istrimu mas. Bagaimana bisa mas mengatakan aku tidak berhak,” suara Dewi terdengar meninggi tidak suka dengan perkataan Hilman.
“Kita harus memperjelas semua ini,” Hilman menatap Dewi dengan tajam, “Aku melakukan ini hanya untuk mengamankan aset Ridwan agar tidak jatuh ke tangan Bagus. Selain itu aku akan membantu proses penyembuhan Hilda.”
“Tapi mas .... “ Dewi menurunkan intonasi suaranya.
Untuk saat ini ia harus mengikuti semua alur yang telah disusun Hilman. Tetapi disebalik itu, ia harus memikirkan rencana lain agar perempuan yang telah menjadi tunangan lelaki yang kini telah menjadi suaminya segera menjauh.
“Baiklah mas. Aku akan menuruti semua keinginanmu,” Dewi berusaha menarik simpati Hilman agar kepercayaannya bisa ia peroleh kembali.
Mereka berdua dekat, tapi hati lelaki itu seperti sulit untuk ia raih. Sikap Hilman begitu dingin padanya. Berbicara pun hanya seperlunya saja. Tapi berbeda jika ia menghadapi Hilda. Apa pun keinginan gadis kecilnya itu selalu dituruti Hilman. Harus ia akui, kemiripan Hilman dan Ridwan membuat Hilda merasa nyaman di sisinya.
“Aku akan berbicara dengan Ajeng masalah kita berdua. Ku harap dia mengerti dan menerima semuanya,” Hilman berkata pelan sambil memejamkan mata berusaha mengingat perlakuan Ajeng saat pertemuan mereka kemarin.
Pikirannya masih buntu untuk memikirkan langkah selanjutnya. Ia khawatir dengan sikap dingin Ajeng yang mungkin sudah mengetahui pernikahan yang terjadi antara ia dan Dewi walau pun itu bukan keinginannya. Ia berharap Ajeng mau mengerti dan rencana pernikahan mereka bisa berjalan seperti keinginannya sejak awal.
“Aku tidak ingin menahanmu lebih lama dengan pernikahan kita. Jika kamu menemukan lelaki yang tepat, aku akan melepasmu. Kita akan memulai jalan masing-masing,” Hilman berkata datar.
Dewi tercekat mendengar ucapan Hilman yang di luar dugaannya. Ia berharap masih ada setitik rasa di hati lelaki yang makin menawan dan tajir ini.
Begitu Hilman menyetujui keinginan almarhum Ridwan untuk mengambil alih semua tanggung jawab setelah kepergiaannya, rasa haru sekaligus bahagia tak bisa ia ucapkan.
Di malam-malam sepi di rumah megah, saat ia hanya berdua dengan Hilda, tak jarang ia memunculkan sosok Hilman yang begitu perhatian dan mencurahkan segala kasih sayangnya selama mereka masih memadu asmara bersama.
Tidak pernah satu pun keinginannya ditolak Hilman, walau pun terkadang apa yang ia kehendaki belum tentu bisa dipenuhi saat itu juga. Tetapi pada akhirnya Hilman selalu memenuhi apa yang ia mau.
__ADS_1
Menjadi istri Ridwan, segala popularitas dan kemewahan ia dapatkan. Sanjung dan puji ia nikmati dalam setahun pernikahan. Tetapi kemelut rumah tangga akhirnya menghampiri bahtera yang belum lama dibangun di atas fondasi yang memang tidak kokoh. Dewi merana berduka ....
“Aku akan bertanggung jawab dalam proses penyembuhan Hilda. Sampai kapan pun aku akan mengakuinya sebagai putriku sendiri. Kamu tidak usah khawatir akan hal itu.”
Dewi terdiam mencermati setiap ucapan Hilman. Ia kini yakin, celahnya ada pada Hilda. Sikap penuh kasih yang ditunjukkan Hilman menjadi jalannya untuk mendekatkan mereka berdua.
Dan ia akan memanfaatkan celah sekecil apa pun untuk mengembalikan cinta Hilman padanya, sekaligus menghapus semua dosa masa lalunya yang telah meninggalkan Hilman demi cinta sesaatnya bersama Ridwan.
“Baiklah mas. Apa pun yang menurutmu baik, aku akan menyetujuinya. Aku akan menjadi istri yang taat dan patuh pada suami,” lirih Dewi pelan.
Hilman terdiam mendengar ucapan Dewi. Sedikit banyak Hilman mengetahui kehidupan rumah tangga yang dijalani sang mantan dengan sepupunya. Ia hanya tersenyum miris membayangkan neraka pernikahan yang di jalani keduanya dalam mengayuh biduk rumah tangga yang memang tidak sehat sejak awal.
.......
Ajeng terlanjur berjanji dengan Baron Sinaga pengacara yang direkomendasikan Hendra untuk mengurus proses perceraiannya dengan Bisma. Ia sudah mantap untuk mengakhiri pernikahannya di mata hukum dan masyarakat.
Walau pun ia belum mempunyai rencana untuk masa depan, yang pasti ia sudah yakin untuk membuat perpisahan mereka legal secara agama maupun hukum negara.
Ia melihat pesan gambar masuk di ponselnya. Dengan cepat Ajeng membuka dan melihat isinya. Senyumnya terkembang melihat foto Sari sekeluarga yang sedang menunaikan umroh di tanah suci Mekah.
Air matanya tak terasa menetes mengingat keinginan kedua orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji, namun kenyataan yang berbeda keduanya sudah dipanggil sebelum niat dan cita-cita mereka tercapai.
Ia akan mengunjungi Sari begitu kembali ke tanah air. Keinginannya hanya satu untuk konsultasi masalah badal umroh dan haji bagi kedua orangtuanya yang telah tiada.
“Maaf bu Ajeng ya .... “ seorang lelaki muda berpenampilan klimis menghampiri Ajeng yang masih berkutat dengan ponselnya membalas pesan Sari.
“Pak Baron?” Ajeng bangkit dari kursi dan menyalami lelaki muda itu.
“Bukan bu, saya asistennya Andika.” Lelaki muda itu tetap tetap berdiri di hadapan Ajeng, “Kebetulan pak Baron menghadiri seminar lawyer di Bali selama satu minggu. Jadi beliau belum bisa menemui ibu,” Andika menceritakan alasan ketidak hadiran atasannya, “Beliau akan menghubungi ibu begitu sudah kembali dari Bali ... “
“Baiklah pak Dika,” Ajeng mengangguk-angguk mendengarkan keterangan asissten pengacara yang akan membantunya, “Saya akan menunggu kedatangan pak Baron.”
Karena tidak ada yang akan dibicarakan lebih lanjut, Andika pun pamit undur diri dari hadapan Ajeng.
***Tetap dukung ya. Otor berusahan memberikan yang terbaik versi otor walau pun banyak yang komen gak sesuai dengan yang diinginkan. Mohon maaf\, smoga lebih banyak bab yang bisa otor up untuk kisah Ajeng dan keluarga kecilnya menuju bahagia .... ***
__ADS_1