
Setelah sampai di mansion mewah itu, Xavier kembali menggendong Lio menuju kamar Lio, hal itu tentu saja menjadi pembicaraan para pelayan dan Emillya yang melihatnya tersenyum iblis.
'Lihatlah Iblis besar itu, cihh.. Aku tidak menyangka punya kakak yang sangat bucin pada seorang gadis, andai saja aku bisa dapat pria seperti itu" kekeh Emillya tersenyum lucu melihat kakak nya yang tengah jatuh cinta
'Semoga kebahagiaan kakak akan bertambah untuk kedepannya, aku juga akan ikut menjaga kakak ipar kalau perlu" sambungnya lagi
Emillya pergi menuju taman mansion dan melihat sekretaris Ben yang merupakan orang kepercayaan kakaknya.
Dia melihat sekretaris Ben tengah memainkan laptop di atas meja kaca dan beberapa lembar kertas, dia tau sebenarnya itu adalah pekerjaan kakak nya tetapi kakaknya tengah menjadi budak cinta Lio mengakibatkan sekretaris Ben yang jadi korbannya.
'Ehemm" Emillya berdehem membuat sekretaris Ben menatap Emillya terkejut
'Maaf nona" sekretaris Ben berdiri memberi salam biar bagaimana pun Emillya adalah adik dari tuan mudanya dan harus dia hormati
'Hei, jangan formal begitu padaku, aku tidak suka kak Ben, aku bukan orang yang gila hormat seperti IBLIS yang tengah dimabuk cinta itu" Emillya menekan kata saat mengucapkan kata 'Iblis" yang ditujukan untuk kakak nya
'Maaf nona, saya tidak berani" ucap sekretaris Ben tidak mau ditolak
Emillya membuang nafas kasar, dia sangat hafal dengan sikap sekretaris Ben yang sebelas dua belas dengan kakaknya Xavier.
Bahkan dia pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau sekretaris Ben menembak salah satu musuh kakaknya tepat dibagian jantung setelah itu dia juga mengulitinya kemudian memotongnya untuk diberikan pada hewan peliharaan kakak nya yang berada di hutan tepat dibelakang mansion.
Mengingat itu Emillya bergidik ngeri, dia tidak mau mencari masalah dengan kepercayaan kakaknya itu.
'Ada perlu apa nona?" sekretaris Ben menatap wajah pucat nona mudanya dengan perasaan was-was
Dia sudah bersumpah akan menjaga keluarga tuan mudanya dengan nyawanya sendiri.
'Tidak ada kak, sebenarnya aku sedikit bosan disini. Kakak tau sendiri gimana kak Xavier padaku, bahkan untuk keluar dari mansion ini aku harus bisa menembak burung yang tengah terbang di udara" Emillya berdecak sebal
Sekretaris Ben tersenyum mendengar ucapan nona mudanya, memang benar apabila Emillya ingin keluar dari mansion ini maka Emillya harus bisa mendapatkan burung yang tengah terbang diudara, hal itu Xavier lakukan agar Emillya bisa meningkatkan kekuatan dan kefokusannya pada musuh agar bisa bertahan dari serangan musuh diluar sana.
Xavier sangat menjaga keselamatan adik satu-satunya itu dengan memberikan penjagaan yang amat ketat agar tidak bisa melukai adiknya, meski dia bersikap acuh dan selalu membentak Emillya tapi dia sangat menyayangi adik nya.
'Itu semua tuan muda lakukan untuk keselamatan nona" ucap sekretaris Ben tersenyum manis
Emillya menatap takjub saat sekretaris Ben tersenyum, dia sangat jarang melihatnya bahkan tidak pernah.
'Kak Ben baru saja tersenyum" kekeh Emillya
Sekretaris Ben seketika mengubah mimik wajahnya kembali ke wajah sangar dan dinginnya.
'Ahh tidak seru, harusnya kak Ben tersenyum saja soalnya kakak sangat tampan saat tersenyum" goda Emillya iseng
Emillya sangat berbeda dengan kakaknya, apabila Xavier irit bicara maka Emillya adalah kebalikannya dan begitu seterusnya, kadang Xavier jengah dengan adik nya yang terlalu banyak bicara.
'Sebaiknya nona masuk karna sebentar lagi akan masuk musim dingin" sekretaris Ben berkata agar nona mudanya tidak menggodanya lagi
__ADS_1
'Oh ayolah, aku baru saja ingin mengajak kakak untuk meminta izin pada kak Xavier, aku sudah bosan disini" rengek Emillya manja
'Nona harus segera masuk, atau saya akan me...
'Iya, aku masuk sekarang" Emillya memotong ucapan sekretaris Ben sambil berdecak kesal
Dia sangat hapal dengan ucapan sekretaris Ben yang mengatakan akan menambah tugasnya nanti saat berlatih nanti, menembak burung yang tengah terbang di udara saja dia sudah kewalahan apalagi ditambah dengan tugas baru.
'Betapa malang nasibku menjadi adik dari seorang penguasa dunia bawah tanah, untuk keluar saja harus bisa menembak dan berkelahi" Emillya berucap sedih dalam hatinya
Emillya pergi masuk kedalam rumah dan mengurung dirinya di dalam kamarnya.
Berbeda dengan Xavier yang kini sudah mengganti pakaiannya dengan setelan jas seperti ingin bekerja, padahal dia hanya dirumah saja.
Author : Xavier memang aneh 😁
Xavier : Diamlah! Atau bazoka ku akan menghilangkan tubuhmu seketika😤
Author :😨
Xavier memasuki kamar dari pujaan hatinya dengan pelan, matanya menatap Lio yang kini tengah berbaring di ranjang membuatnya gemas.
Dengan cepat Xavier ikut bergabung dan memeluk manja tubuh gadisnya dengan erat.
'Tuan" ucap Lio serak karena tidurnya terganggu
'Maaf sayang" Lio berucap dengan nada pelan
Lio takut kalau Xavier marah padanya makanya dia lebih memilih menunduk daripada melihat wajah sangat Xavier
Xavier membuang nafas kasar, dia baru sadar Lio tidak suka di bentak dan di tatap tajam oleh nya.
'Maaafkan aku darling, jadi apa kamu tidak lapar?" Xavier berkata dengan sangat lembut
'Apa sayang sangat lapar?" Lio bertanya dengan sangat polos
Xavier sangat gemas melihat wajah polos Lio yang menurutnya sangat lezat untuk di makan (dalam artian lain ya).
'Tentu saja aku sangat lapar darling, apa kamu akan memberikan makanan untuk ku?" goda Xavier tersenyum penuh arti
'Iya, akan aku buatkan" Lio berkata dengan polos tanpa tau maksud dan tujuan pria dewasa di samping nya
Lio buru-buru turun dari ranjang tetapi saat kakinya akan sampai pada karpet lembut itu, tubuhnya sudah ditarik Xavier dan ditindih oleh tubuh kekar Xavier
Lio gugup di bawah kungkuhan Xavier, dia melihat senyum mengerikan Xavier.
'Aku ingin memakanmu saja darling" Xavier menjilat pipi kanan Lio
__ADS_1
'Tapi aku bukan makanan" ujar Lio polos dan sangat takut dengan jilatan Xavier pada pipinya
Xavier bangkit dari tubuh Lio dan tertawa kuat, bahkan tertawaannya terdengar di luar mansion karena pintu balkon Lio terbuka lebar membuat para pekerja dan sekretaris Ben bergidik ngeri mendengarnya, karena baru kali ini mereka mendengar Xavier tertawa.
'Kamu sangat polos darling, baiklah bagaimana kalau kita saling memakan saja" goda Xavier dengan fulgar
'Memangnya bisa?" Lio berucap dengan polos
Xavier sudah tidak tahan lagi melihat wajah polos gadisnya dengan cepat Xavier membawa tubuh mungil Lio pada pangkuannya dan ******* bibir Lio yang sudah jadi candunya, suara lumatannya menggema di kamar Lio.
Xavier melepaskan ciumannya yang berdurasi hanya beberapa menit saja, dia sangat sadar kalau gadisnya sangat polos maka dia akan berencana akan mengajarinya secara perlahan.
'Kamu sangat menggairahkan darling" Xavier menusap pelan bibir bengkak Lio dan Mengecupnya dengan lembut
'Baiklah, bagaimana kalau kamu memasak untuk suami mu ini darling" goda Xavier
Pipi Lio bersemu merah saat Xavier mengatakan kalau dia adalah suaminya.
Xavier terkekeh pelan melihat gadisnya tengah malu, dengan cepat Xavier turun dari ranjang dan menggandeng tangan mungil gadisnya menuju lantai dasar.
Xavier menuntun Lio menuju dapur, dimana para koki tengah menyiapkan makan malam.
Melihat kedatangan tuan muda dan calon nona muda mereka, dengan sigap mereka memberi hormat.
'Kalian pergilah, biar nyonya muda kalian yang memasak untukku!" ucap Xavier dengan nada tegas
'Baik tuan muda" jawab mereka serentak
Setelah para koki pergi, Xavier menuntun Lio menuju pantri yang berisi masakan para koki.
'Masakkan untukku darling" pinta Xavier
'Kamu mau apa, biar aku masak" patuh Lio
'Apa saja yang penting kamu yang masak" Xavier mengecup kening Lio sayang
'Baiklah, kamu tunggu saja dimeja makan" Lio berkata agar dia lebih leluasa memasak tanpa di tatap Xavier
'Aku disini saja darling, aku ingin melihatmu memasak" keukuh Xavier tidak mau pergi
'Baiklah" pasrah Lio mulai memasak
🌻🌻🌻
Haloo...kalian suka kan, author kadang baper saat nulis ni novel, apa kalian juga begitu!
Semoga kalian suka yaa.
__ADS_1
riri-can