
Xavier tiba-tiba berdiri dan menatap tajam Duisy yang tergelak tak berdaya tetapi bukan berarti dia mati hanya saja pingsan karena kehabisan darah.
'Hubungi bagian medis untuk segera datang, jangan menggangguku Ben!" perintah Xavier melangkah menuju sebuah ruangan berwarna hitam pekat
Sekretaris Ben menatap Xavier dengan tatapan sendunya, sepertinya tuan mudanya akan kembali dengan sisi kejamnya itu padahal susah payah Xavier ingin berubah untuk Lio dulunya sebelum mereka menikah, entah kenapa sekretaris Ben merasa perubahan Xavier berdampak buruk.
Di dalam ruangan dimana terlihat tamaran Xavier yang mengganti bajunya dengan pakaian serba hitam, matanya menyorot tajam memilih senjata yang cocok untuknya.
'Kalian salah memilih lawan HAHAHAHAHA...!" tawa Xavier menggema di ruangan itu
Dengan gerakan cepat Xavier keluar dari ruangan itu meninggalkan sekretaris Ben yang masih terdiam melihat penampilan Xavier.
'Tunggu tuan" panggil sekretaris Ben khawatir
'Jangan menghalangi ku Ben, sudah cukup selama ini aku bersabar!" Xavier memberontak
'Tenanglah tuan, mereka sudah menemukan titik terang dimana nyonya dan tuan muda berada, saya mohon kembalilah menjadi tuan saya yang sekarang, saya mohon" sekretaris Ben merasa jika Xavier sepenuhnya sudah berubah maka Xavier akan terus di hantui masa kelamnya dimana rasa bersalah menghantuinya bahkan jiwanya akan terkurung oleh rasa bersalah itu
Xavier mendorong sekretaris Ben dan pergi begitu saja.
Sekretaris Ben segera mengejar Xavier dan ikut masuk ke dalam mobil.
'Biar saya yang mengemudi tuan" sekretaris Ben tidak mau meninggalkan Xavier yang terlihat tidak baik
Xavier hanya diam, tatapannya kosong membuat sekretaris Ben khawatir, sudah lama sekretaris Ben tidak melihat tatapan itu, setelah kehadiran Lio tatapan itu tidak pernah muncul, sekretaris Ben berharap Lio dan Geoff baik-baik saja.
Sekretaris Ben menyerahkan sebuah tablet kepada Xavier yang memperlihatkan lokasi istrinya dan putranya itu.
Xavier mengerutkan keningnya melihat titik yang menandakan lokasi istrinya dan putranya.
'Lebih cepat Ben!" perintah Xavier
Mobil melaju cepat hingga Xavier menyuruh untuk berhenti, sekretaris Ben pun menuruti tetapi sekretaris Ben bingung melihat Xavier yang kini turun dari mobil dan berlari menuju hutan membuatnya ikut turun dan mengejar Xavier.
'Mengapa tuan berlari kesini?" tanya sekretaris Ben bingung
'Diamlah Ben, JIKA KALIAN MENDENGAR DADDY MAKA KELUAR LAH, INI AKU DARLING!" teriak Xavier membuat sekretaris Ben berpikir jika Xavier mulai tidak waras
Sekretaris Ben merebut tablet yang tadi dia berikan pada Xavier, matanya membulat melihat titik dimana gps pendeteksi keberadaan Geoff berada di hutan itu tepatnya tidak jauh dari mereka.
'Tuan muda sebaiknya kita segera kesana" sekretaris Ben mengajak Xavier segera berlari menuju lokasi keberadaan Geoff
'DADDY TAU KAMU DISINI SON, SEGERALAH KEKUAR!" teriak Xavier berharap putranya keluar
Xavier dan sekretaris Ben berlari kenarah pohon besar karena lokasi putranya tepat berada di belakang pohon besar itu.
__ADS_1
Jantung Xavier berdegup kencang karena perasannya campur aduk.
Xavier segera berbalik sedangkan sekretaris Ben tengah waspada pada sekeliling.
Air mata Xavier mengalir melihat istrinya yang terlihat tidak berdaya sedangkan putranya tengah menutup mata dan kedua telinganya, hatinya hancur melihat keduanya.
Xavier berjongkok dan menyentuh tangan putranya yang terlihat bergetar menandakan dia tengah ketakutan.
'HUWAAAA..... GEOFF TAKUTTTT.... HIKS... DADDY HIKS...!" raung Geoff saat Xavier menyentuh tangannya
Xavier segera membawa Geof ke dalam pelukannya, entah apa yang sudah putranya lihat sehingga bersikap seperti ini.
'Ini Daddy son, tenanglah, Ben kemari!" xavier kemudian menyerahkan Geoff pada sekretaris Ben kemudian menggendong Lio yang pingsan
Xavier dan sekretaris Ben segera keluar dari hutan itu dan naik ke mobil menuju rumah sakit terdekat melihat kondisi Lio dan Geoff yang terlihat begitu tidak baik.
Xavier menyentuh wajah istrinya yang pucat, Xavier berharap agar keluarga kecilnya baik-baik saja.
Sesampainya di rumah sakit keduanya langsung diberi penanganan terbaik.
'Sebentar lagi helikopter nya sampai tuan, saya sudah mengurus surat rujukan agar nyonya dan tuan muda segera di pindahkan" lapor sekretaris Ben
'Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa seperti ini!" Xavier menjambak rambut karena frustasi dengan situasi saat ini
'Mereka tengah menyelidikinya tuan, bersabarlah" sekretaris menepuk-nepuk punggung Xavier
Beruntungnya istrinya hanya kelelahan dan luka-luka di kakinya cukup parah karena tidak menggunakan sepatu atau sendal saat berlari, dan beruntungnya bayi yang Lio kandung baik-baik saja.
Sedangkan putranya Geoff tengah di tangani oleh dokter psikologis anak melihat tingkah putranya yang terus menutup mata dan menutup kedua telinganya.
'Darling" panggil Xavier melihat Lio yang membuka matanya
Lio awalnya terkejut karena masih berpikir berada di hutan, senyumnya penuh tangisan menggema di kamar inap itu.
'Syukurlah hiks.. hiks.. aku sangat takut sayang hiks.. aku takut hiks.." isak Lio memeluk Xavier
'Aku disini Darling, dimana yang sakit katakan, maafkan aku karena meninggalkan kalian, tolong maafkan aku" sesal Xavier menciumi ubun-ubun istrinya
'Aku baik-baik saja, dimana Geoff sayang, aku takut batinnya terguncang" Lio menatap sekeliling tetapi tidak menemukan keberadaan putranya pikirannya tiba-tiba tertuju jika putranya berhasil di temukan oleh para penjahat itu
'Tenanglah Darling, putra kita tengah di tangani sekarang kamu lebih baik istirahat ada aku disini" Xavier mencoba menenangkan Lio yang masih khawatir
Lio akhirnya kembali tidur dan Xavier menghela nafas lega, kakinya melangkah keluar dan melihat 8 orang penjaga di lorong itu.
'Aku hanya sebentar, jagalah istriku!" perintah Xavier dan mereka mengangguk mengerti
__ADS_1
Tujuan Xavier kini pada spesialis anak, entah apa yang harus dia katakan pada putranya itu, perasaan bersalah menghantuinya.
CEKLEK
Xavier melihat Geoff yang tertidur di atas ranjang, dengan pelan Xavier berjalan mendekat dan duduk di kursi tepat di samping ranjang.
'Maafkan Daddy" Xavier begitu menyesal tidak menuruti kemauan putranya agar tidak pergi
Ternyata putranya sudah punya feeling tetapi tidak bisa mengatakannya secara langsung padanya.
'Untuk seterusnya Daddy tidak akan membantah ucapanmu sayang, Daddy minta maaf" Xavier menciumi tangan Geoff
Geoff membuka matanya saat merasakan sentuhan pada tangannya, mata bulatnya melihat Xavier yang masih mencium tangannya.
'Daddy" panggil Geoff dengan suara serak
'Kamu sudah bangun son, dimana yang sakit? apa kepalamu sakit atau tangan, kakimu bagaimana?" tanya Xavier secara beruntun
'Geoff takut" ujar Geoff memperlihatkan wajah penuh ketakutan
Xavier berdiri dan duduk di ranjang Geoff kemudian membawa Geoff ke dalam pelukannya.
'Daddy sudah ada disini, tidak perlu takut son" Xavier mencium wajah Geoff
'Mereka jahat hiks.. hiks.. mereka menembak DOR... DOR... DOR... seperti itu Daddy hiks.. Duisy berdarah hiks..." isak Geoff mengadu
Xavier tidak tau mau bersikap apa sekarang, putranya pasti merasa tertekan melihat kejadian itu.
'Maafkan Daddy, jangan di pikirkan lagi ya son, bagaimana nanti setelah keluar dari rumah sakit kita pulang ke rumah Omah, pasti mereka merindukan kamu" Xavier mencoba mengubah topik pembicaraan agar putranya lupa
'Beneran kita ke rumah Omah sama Opah?" tanya Geoff
'Tentu saja, kebetulan Uncle Leo membuka restoran baru di sana, kita bisa makan sepuasnya" Xavier merasa hangat melihat senyum putranya mulai terbit
'GEOFF MAUU DADDY... nanti Geoff mau makan cumi bakar di campur madu" Geoff perlahan mulai lupa membuat Xavier mulai tenang
🥀🥀🥀
Parah sih jika mental anak terganggu, boleh dong author curhat sedikit hehehe...
Dulu author juga pernah ngalamin kejadian dimana author sering di bully oleh teman-teman pas SD gara-gara author sering bicara sendiri, jujur saja author punya kelainan dan orang-orang mengatakan itu adalah sebuah keistimewaan yaitu umm...bisa melihat makhluk halus dan itu sudah menjadi turunan dari keluarga Mama author, entah nasib author yang sial atau bagaimana nyatanya turunan itu nyangkut pada author padahal sama sodara yang lain enggak ada, karena author sering bicara sendiri mereka mengatakan jika author gi*la, parah kannn... bahkan di sekolah mereka menjahui author, katanya author berbeda dengan mereka, kejadian itu terus berlangsung hingga author duduk di bangku kelas 4 SD, karena tidak tahan author jadi takut buat sekolah, bahkan saat melihat teman-teman author rasanya takut gitu, tiap hari nangis karena nggak mau sekolah, author tidak berani buat ngadu sama orangtua, hingga karena tidak tahan lagi author ngamuk dan bilang jika author memang gi*la seperti yang mereka bilang, orang tua author terkejut dan mengatakan agar Author jujur, akhirnya author jujur dan orang tua membawa Author pada seorang pemuka agama di kompleks perumahan, mata batin author di tutup dan author di pindahkan sekolah di kota lain dan semuanya normal, tetapi yang namanya turunan pasti tidak akan pernah jauh dari kata akan terjadi... Yahhhh... Saat author kelas 6 SD mereka kembali terlihat, tetapi author mulai bisa berbaur meski masih terasa terganggu gitu, makhluk-makhluk itu bilang jika seorang yang punya Indra keenam memiliki bau yang khas dan bisa mengundang makhluk yang lainnya dan benar saja mereka para berdatangan untung saja author tidak mengajak mereka bicara, ehhh... Banyak BANGET sih curhatan author hehehe... Maaf yaaa...
Eh btw jika kalian punya anak yang bandel cara kalian buat ngatasin gimana sih?
Jujur ajasih author paling benci yang namanya bentakan, kalian punya cara apa buat menguasai anak-anak bandel, silahkan komen yaaa...
__ADS_1
riri-can