
Xavier keluar dari rumah masih mengenakan pakaian santainya, terlihat sekretaris Ben datang menjemput Xavier.
'Apa tuan tidak mau mengganti baju terlebih dahulu?" tanya sekretaris Ben
'Itu tidaklah perlu Ben, dan satu lagi jika kita hanya bedua lupakan atasan dengan bawahan biar bagaimanapun kamu adalah adik ipar ku sekarang meski kamu lebih tua dariku" ucap Xavier memijit keningnya yang sedikit pusing
Xavier sejujurnya tidak mau membohongi putra kecilnya itu tetapi tidak ada cara lain.
'Hari ini Geoff terlihat berbeda, apa cuma aku yang merasa?" sekretaris Ben masih memikirkan kejadian tadi saat keponakannya itu menangis kejar
'Entahlah Ben, aku juga merasa begitu, hari ini dia bertingkah sangat aneh tidak seperti biasanya" Xavier menyetujui ucapan sekretaris Ben
'Tetapi anak kecil memang seperti itu, ada kalanya mereka ingin bermanja-manja dan ada kalanya mereka tidak mau di ganggu" jelas sekretaris Ben dan Xavier mengangguk mengerti
'Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Xavier serius
'Tentu saja" jawab sekretaris Ben
Akhirnya setelah beberapa menit di jalan mereka berdua sampai di kantor milik Xavier.
Rapat kali ini mereka adakan di kantor Xavier karena dia adalah pemegang saham terbesar.
Saat pintu terbuka terlihat sekitar 8 orang tengah duduk di ruangan itu, melihat kedatangan Xavier semuanya berdiri dan memberikan salam hormat pada Xavier meski mereka terkejut dengan penampilan Xavier yang memakai baju santai seolah tidak menghargai rapat ini, tetapi mereka juga tidak bisa melakukan apapun karena Xavier lebih tinggi dari mereka.
'Langsung saja ke acara intinya" ucap Xavier langsung duduk
Seorang wanita cantik pun mulai menjelaskan masalah yang tengah di hadapi.
'Bagaiman ini tuan Xavier, lahan itu ternyata milik panti asuhan yang ada di sebelah barat, jika terus di lanjutkan maka akan berdampak pada pembangunan, terlebih panti asuhan itu menuntut jika tetap melakukan pembangunan maka mereka akan membawanya ke jalur hukum?" seorang pria bertanya dengan wajah serius
'Tuan Mark, sebelum area itu di hancurkan semuanya sudah clear, bahkan lahan itu tidak ada sangkut pautnya dengan panti asuhan itu, bagaimana bisa saat pembangunan ini berlangsung pemilik panti asuhan itu menuntut? bukankah ini sedikit aneh? atau ada orang lain yang mencoba bermain di belakang?!" sekretaris Ben membalikkan kata-kata yang membuat tuan Mark atau yang lainnya terkejut
'Jika pemilik panti asuhan itu menuntut dan melaporkan ke jalur hukum maka saya juga akan melaporkannya balik karena sebelum pembangunan, kami berdua telah melakukan tanda tangan perjanjian, mungkin dia melupakannya atau ada orang yang mengancamnya, sepertinya tuan Mark tidak begitu percaya dengan kemampuanku?!" Xavier tersenyum sinis melihat tuan Mark yang terdiam kaku
'Lahan itu memang sangat bagus di gunakan sebagai salah satu universitas karena tempatnya strategis, tetapi saya tidak menyangka pembangunan itu membuat seseorang gelap mata hingga mengancam seorang pemilik panti bukanlah itu tindakan tidak terpuji tuan Mark" Xavier tersenyum puas melihat wajah pucat tuan Mark
'Siapa yang berani mengancam seorang pemilik panti? sungguh sangat tidak berprikemanusiaan" ucap yang lain
'Aku tidak menyangka jika tuan Mark mencoba menjebak tuan Xavier" ucap yang lainnya
Sindiran-sindiran itu membuat tuan Mark marah karena tadinya dia berencana ingin menjebak Xavier tetapi malah dirinya sendiri yang terjebak, sungguh memalukan.
__ADS_1
'Baiklah, kurasa rapat ini tidak terlalu penting, sebaiknya tidak usah di lanjutkan, untuk kabar selanjutnya sekretaris saya yang akan memberitahukan berita kedepannya, saya harap semuanya mengerti" Xavier segera pergi meninggalkan semuanya yang masih bergosip tentang tuan Mark
Xavier dan sekretaris Ben pergi dari kantor menuju Mansion Xavier.
'Ku pikir tentang apa ternyata hanya rapat tidak berguna, karenanya aku meninggalkan putraku dan membohonginya sungguh menjengkelkan!" kesal Xavier
'Sabarlah, mungkin kamu butuh juga di kerjai" kekeh sekretaris Ben
'Jangan membuatku semakin kesal Ben!" Xavier melirik sekretaris Ben tajam
'Sepertinya kita terjebak macet" sekretaris Ben menatap Xavier yang masih kesal
'Sudah berapa jam kita keluar Ben?" tanya Xavier serius karena merasa perasaannya tidak enak
'Kita sudah 4 jam di luar" jawab sekretaris Ben menatap jam yang melingkar di tangannya
'Apa tidak ada jalan lain menuju mansion?" tanya Xavier terlihat khawatir
'Ada, tetapi kita harus memutar dan memakan waktu lebih banyak dari jalan ini" balas sekretaris Ben
'Pilih jalan itu Ben, aku merasa tidak tenang sekarang" Xavier merasa sesak sekarang
Sekretaris Ben yang paham mulai memutar mobil dan melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata.
'UNCLE! HUWAAAA..... GEOFF TAKUT HIKS... UNCLE HIKS... DADDY HIKS..!" teriak Geoff di seberang sana membuat sekretaris Ben terkejut
DOR
DOR
DOR
Sekretaris Ben membulatkan bola matanya saat mendengar teriakan keponakannya itu disertai suara tembakan.
Xavier merasa jantungnya berdegup kencang karena mendengarnya juga.
Dengan cepat Xavier merebut ponsel sekretaris Ben karena khawatir setengah mati sekarang.
'Halo... ini Daddy son, katakan sesuatu" ucap Xavier panik
'Daddy hiks... hiks... Duisy di tembak hiks.. Huwaaa... Geoff takut hiks.. mereka saling menembak hiks.. Duisy berdarah hiks.." isak Geoff di seberang sana
__ADS_1
'Lebih cepat Ben!" perintah Xavier tanpa sadar air matanya menetes
'Son, dimana kamu sekarang?" tanya Xavier khawatir
'Goeff sama Mommy di ruang gelap dalam lemari hiks.. mereka membuat Duisy berdarah Daddy hiks.. Geoff takut" isak Geoff
'Tenanglah sebentar lagi Daddy sampai, jangan membuat suara son, sekarang Mommy ada dimana?" tanya Xavier tidak tahan dengan air matanya yang mengalir semakin deras
'Mommy disini ... AKKKHHHHH.... MOMMYY..... MOMMYYY.... HUWAAA... DOR.. DOR.. DOR..
Xavier terdiam seketika saat mendengar teriakan putranya disertai suara tembakan, jantungnya serasa copot.
'Son, Hallo.... Geoff... Hallo... Ben lebih cepat!" teriak Xavier frustasi
Setelah beberapa menit melaju dengan cepat akhir mereka berdua sampai di mansion.
Xavier segera keluar dari dalam mobil dan melihat kekacauan yang terjadi di mansion itu, beberapa pengawalnya berjatuhan terlihat mansion itu berantakan akibat penyerangan itu.
Xavier berlari ke dalam di ikuti sekretaris Ben yang sudah membawa sebuah senjata.
Xavier melihat Duisy yang merupakan penjaga sekaligus perawat Geoff yang kini terletak penuh darah di depan kamar mereka.
'Dimana istriku dan juga anakku?" tanya Xavier susah payah pada Duisy yang terlihat sekarat
'M.. maafkan s.. saya tuan, s.. saya tida..kkkk biss... saa menjaga mer.. rrekaaa" ucap Duisy dengan susah payah
'KATAKAN DIMANA MEREKAA!" teriak Xavier tidak sabaran
'Mer...reka di baw...wwa perghiii tu..tuan, s..saya.... saya memberinya alat pe... pendeteksi di kantung baju t..tuan muda, m.. maafkan s..saya" Duisy pun menutup matanya karena sudah tidak tahan
Xavier menutup matanya sejenak mencoba menahan rasa amarahnya, dia tidak boleh gegabah.
'Harusnya aku menuruti kemauannya Ben hiks.. harusnya aku tidak pergi meninggalkan mereka hiks.. mengapa aku tidak merasakan perasaan gundahnya itu" isak Xavier mengingat bagaimana putranya itu bersusah payah menahannya agar tidak pergi
'Aku ayah yang tidak bisa di andalkan!" Xavier nyatanya tidak bisa menahan perasaannya yang begitu hancur karena kebod*ohannya sendiri
'Tenanglah, aku sudah mengabari yang lain untuk mencoba melacak keberadaan mereka, aku yakin mereka akan baik-baik saja" sekretaris Ben menenangkan Xavier
🥀🥀🥀
Rasanya author tidak tahan guys buat ngetik, pusing banget ini tapi karena author sudah lama tidak up author bersusah payah buat update.
__ADS_1
riri-can