Ketulusan Sang Putri

Ketulusan Sang Putri
Sila bertemu Ega


__ADS_3

Dan akhirnya setelah 5 tahun ini untuk pertama kali nya mereka bertemu.


begitu banyak pertanyaan yang ada dibenak sila tentang situasi ini,ada hubungan apa antara putri dan juga ara??putri sudah menikah,dengan siapa?


putri berjalan cepat bahkan dia tak menghiraukan kondisi nya kini tengah hamil besar.Putri memeluk sila erat,dia menumpahkan rasa rindu nya yang selama ini tertahan karna sang sahabat menutup diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu kelam nya.


"kamu apa kabar sila.?kemana aja.?kok ngilang tanpa kabar.?aku benar benar kangen kamu sila."sila pun diberondong pertanyaan oleh putri yang merasa bahagia bisa kembali dipertemukan dengan sang sahabat.


belum sempat sila menjawab pertanyaan dari putri,sila kembali dikejutkan oleh sosok pria berbadan tegap wajahnya masih seperti dulu hanya kini dia telihat lebih matang dan berwibawa.


"ayah...."ara berlari ke arah sang ayah dan memeluk erat sang ayah,pandangan ega pun terputus kala sang anak menghampiri nya dan memintanya untuk membawa tubuh mungil sang anak ke gendongan nya.


"indra tolong antar pak toni sampai ke mobil beliau...mohon maaf pak saya tidak bisa mengantar sampai mobil berhubung sang pemilik tubuh ini sudah disini."titah nya pada indra sang asisten pribadi dan meminta maaf kepada rekan bisnis nya karna tak dapat mengantar sampai pak toni masuk kedalam mobik nya.


indra dan pak toni pun berlalu dari situ dan meninggalka para sahabat yang kini telah reuni dadakan.


"ayah minta maaf ya tadi rapat nya agak lama jadi ga bisa jemput ara...maafin ayah ya sayang."sesal ega pada sang anak karna tuntutan pekerjaan nya ega sampai harus ingkar janji tuk kesekian kali kepada anaknya itu.


"baiklah ara maafin...untung bunda bidadari mau ngantar ara kesini jadi marah ara sama ayah hilang deh."senyum ara mengembang kala membahas tentang bunda baru nya itu.

__ADS_1


"bunda bidadari.?"tanya ega heran.


"iya ayah...disekolah ara punya teman baik yang ara panggil bunda bidadari karna bunda orang yang baik dan cantik kaya bidadari."lanjut ara.


"bunda sini...kenalin ini ayah ara yang selalu ingkar janji itu."ara melambaikan tangan nya ke arah sila.


dan kedua mata itu pun kembali saling menatap penuh dengan arti masih masih,tatapan ega yang penuh kerinduan dan tatapan sila penuh dengan tanya tapi tak sanggup terucap karna masih syok dengan pertemuan mereka yang tanpa direncana.


sila hanya berdiri mematung dihadapan ega dan juga putri,badan nya terasa lemas tak bertenaga begitu tau kalo ara gadia kecil yang imut dan menggemaskan itu adalah putri dari ega,sahabat yang ingin dia lupakan.


"sila kamu ga apa apakan.?"tanya putri merasa cemas begitu melihat wajah sila yang berubah memucat.


tanpa kata sila pun berlalu dari perusahaan ega,dengan setengah berlari sila keluar dari lobi itu dan menyetop taksi dan bergegas memasuki nya.


"sila..."teriakn ega,ega hendak menyusulnya tapi putri menahan nya.


"biarkan dia sendiri dulu ga...aku yakin dia masih syok dan butuh waktu untuk ini."ega pun mengurungkan niatnya.


ega dan putri berjalan beriringan keluar dari lobi menuju mobilnya,ega berniat mengantar putri dan juga ara pulang ke rumah masing masing.

__ADS_1


walaupun lelah mendera tapi ega tak bisa membiarkan 2 wanita yang dia sayang itu terabaikan,apalagi putri sang sahabat yang kini tengah hamil tua dan ditinggal sang suami ke luar kota guna menyelesaikan tugasnya mewakili ega sang atasan.


didalam mobil ega benar benar kurang fokus,untung saat ini dia menggunakan jasa supir karna kalo tidak mungkin ega sudah membahayakan 3 nyawa sekaligus.


"sayang tadi itu siapa.?kok ara manggil nya bunda.?"tanya putri yang sudah tak bisa menahan rasa kekepoan nya.


"itu ibu guru nasila mamah...ara minta sama bu guru buat panggil bunda kalo diluar sekolah dan ibu guru menyetujui nya."


"masya allah sayang...alhamdulillah...akhirnya."ucap syukur putri terputus kala pandangan nya melihat ke arah ega yang menggelengkan kepalanya.


putri mengerti mungkin belum saatnya ara tau kalo sila adalah sang bunda yang selalu dia rindukan.


percakapan putri dan ara pun terus berlanjut sampai tak terasa mobi mereka telah sampai disebuah rumah minimalis yang asri dan menyejukan


"makasih ya ga udah mau nganterin aku pulang."kata putri sebelum keluar dari mobil.


*


🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2