
Sore ini Windu sudah berada di rumah besar. Tadi siang setelah makan siang bersama Wibisono, ia lanjut melihat ruko yang akan di tempati untuk usahanya nanti. Kebetulan ruko itu terletak di sekitaran mall yang akan di resmikan minggu depan. Paling tidak minggu depan rukonya pun harus sudah siap enjual dagangannya.
"Nona muda mau masak?" tanya Tini pelan sambil membereskan piring ke rak piring.
"Ya. Ini tadi saya mampir ke supermarket. Saya mau buat salad buah, sama bolu tape, buat cemilan Mas Wibisono nanti malam. Ekhemmm ... Mas Wibisono punya pantangan makan? Atau jenis makanan yang gak boleh di makan?" tanya Windu pelan.
"Tidak ada Non. Semuanya aman," ucap Tini sambil tersenyum.
"Oke. Bantu saya menyiapkan makan malam juga," ucap Windu pelan.
Windu mulai sibuk di dapur. Satu per satu menu masakannya selesai di buat sesuai dengan resep yang ia hapal di luar kepala. Windu tersenyum saat Wibisono membicarakan tentang usaha kuliner. Memang tidak ada salhanya ia mencoba untuk membuka restoran ala kadarnya.
"Non Windu hobby sekali memasak? Dan masakannya selalu enak," puji Tini dengan tulus.
"Kamu juga koki di rumah ini. Tentu masakan kamu lebih enak di bandingkan saya," jawab Windu tanpa mematahkan semangat Tini.
"Ekhemmm ... Sebenearnya kalau saya tidak begitu pandai memasak. Ibu asinta selalu memesan makanan dari restaurant atau supir pribadinya yang mmebelikan pesanan Ibu dan di sodorkan di meja makan," jawab Tini jujur.
__ADS_1
Windu tersentak kaget. Kedua matanya begitu lekat menatap dua bola mata Tini yang nampak terlihat cemas.
"Beli? Pesan di restaurant? Jadi selama ini? Kamu membohongi Mas Wibisono?" tanya Windu pelan.
Tini mengangguk pasrah.
"Ya sudah tidak masalah. Mulai sekarang biar saya yang memasak untuk Mas Wibisono dan semuanya. Tapi ingat, kamu harus bantu saya," goda Windu pelan.
"Iya Non. Pasti," jawab Tini semangat.
Tini merasa Windu itu berbeda dnegan Yasinta. Windu tak segan menyapa, mengajak bicara dan memberikan pujian kecil. Berbeda dengan Yasinta yang terkesan angkuh dan suka memaksa.
"Ehemmm sering banget Non. Hampir setiap minggu selalu ada saja kegiatan pergi berlibur. Tapi anehnya tidak pernah pergi bersama Tuan," ucap Tini jujur.
"Oh gitu. Kalau Mas Wibisono ngapain saja? Jika Mbak Yasinta gak ada?" tanya Windu pelan. Ia pnasaran dengan hubungan suami istri tersebut. Seperti ada yang di sembunyikan.
"Kalau Tuan lebih senang menyendiri di ruang kerjanya. Dengan alasan lembur sampai pagi. Tapi kalau membersihkan tempat itu masih saja dalam keadaan sama dan tak berantakan," ucap Tini mulai terpancing untuk menjelaskan.
__ADS_1
"Kalau Yoga? Dia supir pribadi Mbak Yasinta? Atau supir d rumah ini?" tanay Windu pelan.
"Dia supir baru. Baru bekerja sekitar tiga bulan. Itu juga hasil rekruitment Ibu Yasinta. Dan ia khusus untuk mengantarkan Bu Yasinta kemana pun pergi," jawab Tini pelan mulai merapikan piring dan alat makan lan ke meja makan.
Windu masih penasaran. Ia menyalakan satu sumbu kompor di sebelahnya dan mulai memanaskan minyak untuk menggoreng emping.
"Mbak Yasinta bisa setir mobil?" tanya Windu mulai mencari celah pertanyaan lagi.
Windu masih aneh dengan rentetan kejadian setiap malam yang sering ia dengar dari luar kamar Yasinta. Di tambah lagi kejadian pagi tadi, supir itu berani seklai menyumpal mulutnya dengan kaos. PAsti ada sesuatu yang gak beres.
"Bisa Non. Dulu Ibu selalu setir sendiri. Tapi, sekarang bilangnya lelah. Padahal cuma jalan -jalan aja kerjaannya,' ucap Tini yang mulai merasa kurang nyaman dengan majikannya itu.
"Ini rapikan empingnya ke toples dan bawa ke emja makan," titah Windu kepada Tini.
Satu per satu mulai terkuak isi cerita dari keluarga ini. Rumah besar yang terlihat mewah dan aman serta nyaman untuk di tinggali, tapi memiliki se -gudang permasalahn yang tersembunyi dan tertutup rapi.
Windu menyudahi masak -memasaknya. Waktu sudah hmapir mau maghrib. Ia haus segera mandi karena bau masakan yang meleat di pakaiannya. Windu mulai berpikir untuk membuat Wibisono nyaman dengan kamarnya dan merasa aman bila mengerjakan apapun di kamar ini.
__ADS_1
Di dalam bathup, Windu banyak berpikir untuk mengganti semua yang ada di kamarnya. Mulai dari tempat tidur, sprei, kursi dan karpet serta lemari pakaiannya. Tidak lupa cat tembok juga. Ia mulai memberikan suasana baru yang membuat Wibisono betah bersamanya.