
Dini terkejut mendengar penuturan Mita. Kedua bola matanya membola sepadan dengan mimik wajahnya yang langsung terlihat sangat kacau dan bingung.
"Apa aku tidak salah dengar? Aku mengandung?" ucap Dini lirih. Mulutnya terbuka dan sedikit menganga karena rasa kagetnya yang luar biasa.
Baru saja ia berpura-pura sedang mengandung dan ternyata memang sedang mengandung. Tapi benarkah semua penjelasan ini.
Tatapan Mita semakin lekat ke arah Dini.
"Kamu ini aneh. Mengandung tapi tidak sadar? Atau kamu sedang berpura-pura untuk mempermainkan saya dan Adam?" tanya Mita yang lagi-lagi menuduh.
Dini menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak Bu. Sama sekali tidak. Aku benar-benar tidak tahu jika aku mengandung," ucap Dini lirih. Entah kepada siapa lagi Dini harus mengadu.
"Dasar gadis aneh. Jangan-jangan kedua orang tuamu juga tidak tahu jika anak gadisnya sedang mengandung?" ucap Mita dengan kesal.
"Aku sudah tidak memiliki orang tua sejak kecil. Aku hanya di rawat oleh paman dan bibi, dan aku ...." ucapan Dini terhenti sejenak. Kedua matanya menatap ke arah depan. Dini tampak terdiam dan sedikit murung bila harus menceritakan siapa dirinya dan dari mana Dini berasal.
Mita pun ikut terdiam dan hanya melirik sekilas ke arah Dini yang terlihat sedih.
"Jika berat untuk bercerita tidak apa-apa. Mungkin bisa cerita lain waktu," ucap Mita lembut dengan tiba-tiba.
Rasa iba Mita timbul begitu saja, setelah tadi dengan mudahnya yerhasut oleh ucapan-ucapan dari Zya yang merasa terganggu dengan kehadiran Dini.
Adam meneguk air es yang suda ada di meja ruang tengah tersebut sambil menikmati film kesukaannya. Tadi titah Mita, Sang Bunda untuk menemani Zya, dan Adam menepatinya. Adam ikut duduk di sofa ruang tengah sambil menemani Zya yang sejak tadi menatap sendu ke arah Adam.
Lama-lama Zya jengah juga di perlakukan begini. Di diamkan, di abaikan, itulah sifat Adam yang sebenarnya.
"Mas Adam ... Gadis itu mengandung? Masih muda sudah mengandung, memangnya sudah menikah?" tanya Zya pelan sambil mencari tahu. Tapi maksud Zya adalah utnuk menyudutkan Dini.
Tatapan Adam beralih ke arah Zya yang baru saja memeberikan komentar buruk terhadap Dini. Adam saja tidak mengenal Dini, apalagi Zya. Tidak perlu menghujat seseorang dengan segala kekurangannya.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Adam kesal. Dari awal Adam memang kurang merespon Zya. Sikapnya yang seperti bunglon dan benalu sudah bisa terbaca oleh Adam.
__ADS_1
"Aku? Bicara apa? Memang itu faktanya kan? Ibu juga bicara begitu. Gadis itu sednag hamil. Apa aku salah?" ucap Zya kesal. Respon adam di luar nalar Zya.
Zya pikir Adam juga akan membenci gadis itu tapi malah membelanya.
"Jaga ucapanmu Zya. Kamu tidak mengenal Dini. Jangan mengungkap sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu kebenarannya. Percuma kamu berpkaian tertutup jika hatimu tidak memiliki rasa peduli dengan sesamamu," ucap Adam tegas.
Zya menutup mulutnya dan mengunci rapat kedua bibirnya. Baru kali ini Zya merasa malu dan tidak memiliki harga diri di depan lelaki.
"Aku ingin pamit pulang. Ibu dimana?" tanya Zya pelan sambil menunduk.
"Di taman samping, keluar saja lewat pintu tengah. Ibu ada disana," ucap Adam pelan tanpa melirik lagi ke arah Zya.
Zya pun menunduk dan berlalu ke arah taman samping. Langkah kakinya pelan menuju ke taman bunga itu. Mencari cara kembali agar bisa tetap berbaik dengan Mita, Ibu Adam.
Terlihat Ibu dan Dini sedang berbincang dengan serius.
"Ibu ...." panggil Zya dengan suara keras dari arah pintu yang menyambungkan antara rumah dan taman.
"Zya ... Adam mana?" tanya Mita dengan suara yang agak keras.
"Di dalam Bu," jawab Zya dengan pelan.
Dini menatap Zya dengan penuh keramahan. Senyumnya terbit dengan tulus saat Zya datang mendekat.
"Bu ... Zya mau pamit pulang dulu. Besok-besok Zya main lagi," ucap Zya pelan sambil tersenyum lebar kepda Mita.
Mita pun membalas senyuman indah itu dan menjawab, "Kapan pun kamu mau main, pintu ini akan selalu terbuka untukmu karena kamu calon menantu idaman Ibu," ucap Mita pelan. Mimik wajah Mita sangat bahagia dan itu tidak bisa di bohongi.
"Ibu ...." ucap Zya pelan sambil memeluk Mita dengan erat.
Siapa yang tidak senang bila mencintai lelaki dan orang tuanya mendukng serta merestui. Tentu ini sangatlah membahagiakan sekali.
"Hati-hati ya Zya. Salam untuk Abi dan Umi," ucap Mita pelan.
__ADS_1
Zya mengangguk pelan dan tsenyum, "Iya Bu. Nanti Zya salam kan kepada Abi dan Umi," ucap Zya pelan.
Zya pun pergi meninggalkan rumah itu melalui pintu pagar samaping rumah menuju rumahnya yang berbeda gang.
"Itu calon menantu Ibu? Pacarnya Kak Adam?" tanya Dini dnegan penasaran.
Mita mengangguk pelan sambil membersihkan daun-daun kering yang ada di tangkai bunga-bunga mawar cantik itu.
"Betul sekali. Zya satu-satunya perempuan baik yang Ibu kenal. Dia pandai, sholehah, dan menutup auratnya. Kurang apa lagi? Sudahcocok bukan bila bersanding dengan Adam, anak Ibu?" ucap Mita pelan menjelaskan.
"Cocok Bu. Wah, Kak Zya memang cantik dan beruntung," ucap Dini sekenanya.
Jujur Dini amat kagum dengan kebaikan Adam. Setidaknya memang Dini harus banyak berterima kasih kepada Adam karena Adam telah membantunya.
HOEK!!
HOEK!!
HOEK!!
Tiba-tiba Dini merasa mual dan ingin mengeluarkan isi perutnya yang baru saja diisi makanan.
"Kamu tidak apa-apa Dini?" taya Mita pelan sambil memijat di bagian tengkuk leher itu.
Dini terus mengeluarkn cairan berwarna kuning dari mulutnya hingga terasa pahit yang terasa. Wajahnya seketika menjadi pucat pasi.
"Aku mual sekali Bu. Aku sakit apa?" tanya Dini pelan. Dini memang terlalu polos. Hidupnya dulu hanya berkutat pada dunia ****. Setiap hari selalu di beri obat pil oleh Risma, bibinya. Semenjak Dini keluar dari rumah itu dan menikah siri dengan Tuan Herman, Dini tidal lagi mengkonsumsi obat itu.
"Kamu sedang hamil muda, Dini. Kalau kamu ingin memastikan, Kamu bisa cek kehamilan kamu dengan alat pendeteksi kehamilan. Ibu punya alatnya, kamu bisa coba untuk memastikan," ucap Mita pelan. Gadis di depannya ini benar-benar masih polos. Usianya yang masih sangat muda harus mengalami hal yang pahit, di tambah lagi saat ini Dini harus hamil tanpa ada suaminya di sisinya.
"Ha-hamil? Aku ha-mil?" lirih sekali Dini berucap sambil memegang kursi taman itu dengan erat. Kepalanya begitu pening apalagi sinar matahari sempat menyorot dan mengenai kedua matanya. Pandangannya terasa berkunang-kunang.
"Iya hamil? Siapa Ayah dari bayimu ini?" taya Mita pelan. Setidaknya Mita tahu, bahwa Dini melakukannya hanya dengan suaminya saja.
__ADS_1