Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
39


__ADS_3

Siska menggelengkan kepalanya dengan cepat. Rudi tidak perlu tahu isi kepalanya saat ini. Rencananya pun jangan sampai terbongkar.


"Tidak ada yang aku pikirkan," jawab Siska pelan lalu tersenyum sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya setelah menghisap rokok yang masih ada di tangannya.


"Kamu jangan membohongiku, Siska. Aku tahu, kamu merokok jika sedang ada masalah. Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan, Siska?" tanya Rudi dengan lembut sambil menghampiri Siska yang duduk bersandar di sofa malas menatap pemandangan indah kota itu.


Rambut panjang Siska sudah di urai di punggungnya. Rudi memainkan rambut itu dan menggulung-gulung rabut hitam itu dengan gemas.


"Sudahlah, Jangan memikirkan aku. Pikirkan saja, bagaimana bisni berlianmu itu?" tanya Siska lembut sambil menoleh ke arah Rudi.


Rudi menatap lekat kedua mata Siska.


"Sejak kapan kamu peduli dengan usaha berlianku? Aku ajak bekerja sama saja kamu tidak pernah mau? Sekarang malah kamu tanyakan," ucap Rudi pelan. Kini jari jemari Rudi mengusap lembut pipi Siska.


Dua kepribadian yang di miliki Siska memang kadang sulit di tebak. kadang sifatnya kalem, terlihat lembut dan ramah. Namun di sisi lain, Siska bisa menjadi wanita yang berbahaya bahkan lebih tepatnya sebagai wanita pembunuh berdarah dingin. Cara kerjanya sangat rapi dan bersih hingga tidak meninggalkan jejak sedikit pun.


Siska tertawa lebar. Senyumnya terus menerus menghiasi wajahnya yang cantik.


"Memangnya aku tidak boleh berubah pikiran? Kini aku menyukai berlian, bahkan aroma berlian sudah membuatku ingin segra membeli semuanya tanpa kecuali,' ucap Siska dengan sikap sombong.


Kekayaan keluarga Siska memang tidak akan habis tujuh turunan, bahkan kalau di hitung tidak akan habis hingga dua puluh turunan anak cucunya.


Rudi yang gemas dengan sikap manja Siska pun memegang dagu runcing itu hingga Siska merasakan risih.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, Siska. Untukmu apa pun akan aku lakukan," ucap rudi dengan suara pelan.


"Ekhm ... Memangnya Perusahaan Berliana Abadi itu sudah menjaid milikmu? Aku dengar, kamu adalah pemilik perusahaan itu sekarang? Apakah benar gosip yang ku dengar itu?" tanya Siska sambil menatap tajam ke arah Rudi.


Rudi bukan dari kasta yang sama degan Siska. Namun, Siska sangat paham dengan usaha jerih payah Rudi sejak daulu demi mendapatkan Siska hingga harus bekerja keras untuk bisa menyamakan status dan kasta agar di akui di Keluarga Besar Siska.


"Pertanyaanmu seolah kamu menganggapku bohong, Siska?" ketus Rudi yang paling tidak suka direndahkan harga dirinya.


Siska tersenyum dan menggelngkan kepalanya dengan cepat.


"Bukan Rudi. Jangan salah paham. Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin memastikan. Setahuku, pemilik lama teman Papah," ucap Siska pelan seperti sedang mengingat sesuatu.


"Kamu itu memang wanita cerdas. Ingatanmu sungguh luar biasa bagus sejak solah dulu, ini juga yang membuatmu tidak bisa melupakan kejadian yang buruk pula yang telah menimpamu, di masa lampau?" ucap Rudi menerka.


"Aku hanya berusaha mengingat dan menanyakan status kepemilikan Perusahaan tersebut,' ucap Siska dengan lantang.


Semakin Rudi tidak menceritakan, maka Siska akan banyak berasumsi dan mencari alasan agar informasi mengenai perusahaan tersbut di ketahui.


"Baiklah Siska sayang. Kepala kamu pasti penuh pertanyaan tentang perushaan ini. Perusahaan ini memang milik teman Papahmu. Saat itu, beliau sedang sakit keras dan ingin, anak lelaki semata wayangnya meneruskan usahanya. Tapi, malahan anak semata wayangnya menikahi wanita miskin," ucap Rudi menjelaskan dengan pelan.


"Terus?" tanya Siska yang semakin penasaran.


"Perusahaan itu kemudian dijual bebas sahamnya saat pemilik perusahaan itu meninggal. Tidak ada wasiat yang mengatakan hartanya di peruntukkan bagi anak semata wwayangnya dengan alasan tidak menurut. Tapi yang aku dengar, sekarang anak itu sudah menikah lagi karena istrinya telha meninggal," ucap Rudi menjelaskan dengan pelan.

__ADS_1


"Kamu yakin ceritanya seperti itu, Rudi? Lalu kenapa begitu cepat perusahaan itu kamu miliki? Tentu, Kamu adalah pemilik saham terbesar dong di sana?" tanya Siska yang semakin penasaran. Siska semakin merasa ada sesuatu yang menarik dalam cerita Rudi.


"Sudahlah, Bukankah malam ini seharusnya kita bersenang-senang. Kenapa harus membicarakan perusahaan yang kini aku pimpin?" tanya Rudi lembut sambil mengecup bibir Siska tanpa membasahi.


Siska sudah terbiasa dengan perlakuan mesra dan romantis Rudi. Sejak dulu Rudi memang tidak pernah berubah, selalu lembut dan ramah, rajin menjamah alias pintar bergerilya dengan jari jemarinya hingga membuat tubuh Siska bergetar tanpa arah.


"Aku hanya penasaran. Mengambil alih perusahaan itu tidak mudah. Apalagi perusahaan itu nota bene bukan milik garis keluarga besar keturunan. Lalu, bagaimana kamu bisa membeli saham disana?" tanya Siska yang masih di lingkupi rasa penasaran.


"Sssts ... Sudahlah. Intinya perusahaan itu kini sudah menjadi milikku. Tak perlu risau. Lalu, Kapan kamu akan menceraikan Herman dan kita akan menikah? Aku tagih janjimu, Siska?" tanya Rudi dengan suara pelan, kedua matanya menatap lekat mata Siska yang terlihat panik dan cemas dengan pertanyaan singkat Rudi, namun memiliki maksud yang membuat hidup Siska pun jadi dilema.


"Pertanyaanmu terlalu cepat kamu tanyakan. Kamu tahu, aku ini masih terikat pernikahan SAH dengan Mas Herman," jawab Siska masuk akal. Siska lagi tidak ingin membuat hubungannya dengan Rudi menjadi serius. Ada bukti lain, yang mengarah bahwa Rudi hanya menginginkan hartanya saja. Tapi, di lain sisi Siska masih mencintai Rudi, dan tubuh Rudi, mantan kekasihnya itu sudah lama menjad candu bagi Siska hingga sulit untuk benar-benar melepaskan.


"Hemm ... Itu hanya alasan kamu saja. Bukankah dunia sudah mengenal kekuatan kekuasaan kamu. Masa mengurus Herman saja kamu masih mencari waktu. Tinggal ceraikan sja.Sodorkan saja, surat cerai itu dnegan alasan kamu mengetahui pernikahan siri itu," ucap Rudi yang ikut memperovokasi Siska agar Siska semakin bimbang dan dilema.


"Ah ... Kamu itu paling bisa merayuku Rudi. Tapi aku masih membutuhkan Mas Herman untuk mengurus kembali PT Bangkit Jaya, mungkin aku masih membutuhkan tenaga dan pikirannya untuk satu tahun lagi. Apa kamu masih mau bersabar menungguku?" tanya Siska dengan suara pelan.


Wajah Rudi langsung melesu mendengar jawaban Siska yang malah masih menginginkan untuk bersama Herman. Alasan apa pun, Rudi tidak bisa menerimanya. Sudah jelas Herman memiliki satu kesalahan fatal, kenapa tidak masalah itu di naikkan agar Herman merasa malu dengan dirinya sendiri. Lalu, dengan mudah Siska membuat Herman untuk tunduk terhadap apa yang di perintahkan oleh Siska.


"Aku menunggumu tidak satu tahun, dua tahu, bahkan belasan tahun aku setia menunggumu Siska!! Ketiga anakmu pun, bisa jadi salah satunya adalah anakku, darah dagingku. Aku sudah seperti suami keduamu. Selalu ada buat kamu kapan pun kamu membutuhkan aku," ucap Rudi mnegingatkan.


Ya, Malam ini bukan saja malam mesra bagi keduanya. Tuntutan Rudi akan kejelasan hubungannya dengan Siska malah kini membuat Siska semakin ragu.


Rudi harus mencari cara lagi, bagaimana bisa lebih meyakinkan Siska untuk cepat melepasan Herman, suaminya. Apakah Rudi harus mencari keberadaan Dini, istri sirinya itu.

__ADS_1


__ADS_2