Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
31


__ADS_3

Pagi ini, Dini sudah terbangun di saat semua pemilik rumah itu masih tertidur pulas. Seperti biasa, Dini melakukan aktivitas pagi sama yang sering dilakukan sewaktu masih tinggal bersama Paman dan Bibinya.


Dini melakukan ini semua sebagai bentuk ucapa terima kasih karena Adam telah menolongnya, bukan itu saja, semuanya juga dilakukan untuk suatu penghormatan kepada Mita, Ibu Adam, yang juga telah menerima Dini dan merawat Dini hingga sehat kembali.


Hari ini adalah hari minggu, Adam belum kembali ke kota untuk bekerja. Mungkin nanti malam Adam akan kembali ke kota dan beraktivitas kembali seperti biasa.


Dini mulai membuka lemari pendingin dan lemari penyimpanan makanan. Ada beberapa makanan yang harus di olah termasuk sayuran dan ikan.


Tanpa pikir panjang dengan tangan mungil yang cekatan Dini pun mulai meracik bumbu, memotong bebeapa bawang, cabai dan sayuran serta ikan. Ini adalah salah satu hobby Dini sejak kecil, memasak dan mencoba resep masakan baru untuk di coba.


Adam membuka pintu ruang tamu, aroma wangi masakan dari dapur pun menggunggah selera makannya yang memang sejak malam perutnya sudah berntak untuk minta di isi. Lngkahnya lebar menuju dapur. Ingin sekali cepat samapi di dapur dan mencicipi masakan yang sangat wangi ini.


'Wangi ini beda seperti masakan Ibu, tapi kalau buka Ibu siapa lagi yang akan memasak?' batin Adam bertanya-tanya di dalam hatinya.


Kepala Adam menyembul dari tiang penyangga rumah di balik dinding dapur, melihat siap gerangan yang melakukan semuanya sepagi ini.


"Dini? Kamu?" lirih Adam sambil menatap Dini. 'Bangun tidur saja kamu tampak cantik, apalagi kalau sudah berdandan, tentu pesona kamu itu bisa menyihir mata semua kaum Adam. Salahkah aku, jika ikut mengagumimu?' batin Adam di dalam hatinya.


Tepukan satu tangan di bahu Adam membuat Adam terkejut dan terperanjat hingga tubuhnya ikut terguncang loncat ke atas. Adam pu menoleh ke arah belakang dan menutup rapat mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.


"Kamu sedang apa Adam?" tanya Mita dengan suara setengah berbisik.


Adam hanya menutup mulutnya dnegan sau jari telunjuk kanan untuk memberitahukan harus diam. Lalu Adam menujuk ke arah dapur dengan dagunya. Mita pun melihat Dini dengan seksama. Gadis itu seperti sudah biasa melakukan pekerjaan rumah tangga dan memasak. Tangannya begitu terlihat terampil saat memotong dan mulai memasukan potongan ikan dan bumbu di wajan untuk di masak.

__ADS_1


'Sudah cantik, pandai memasak, biasa di andalkan mengurus rumah tangga, tapi sayang, Dini sudah hamil entah dengan siapa,' batin Mita di dalam hati sambil mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Lihat Bu. Dia memang gadis baik-baik, jadi Ibu tidak perlu cemas dengan siapa Dii sebenarnya. Tugas kitahanya menolong, dan tidak lebih. Masalah Dini mau bercerita atau tidak tentang hidupnya itu adalah hak Dini, atau mungkin Dini belum siap untuk membuka siapa sebenarnya Dini," ucap Adam sangat pelan tepat di depan wajah Sang Ibu.


Mita hanya mengangguk pelan dan paham dengan semua ucapan Adam.


"Dini ... Kamu sedang apa?" tanya Mita pelan yang tiba-tiba masuk ke dalam dapur minimalis itu.


Dini pun menoleh ke arah Mita dan tersenyum ramah sebagai sapaan pagi.


"Pagi Ibu. Maaf, Dini mengobrak-abrik dapurnya. Dini sedang mencoba memasak beberapa menu, tadi Dini lihat hanya ada ini di dalam kulkas," ucap Dini dengan suara pelan sambil menunjuk beberapa makanan yang masih ada di talenan.


Mita membalas senyuman ramah Dini. Begini rasanya memiliki anak perempuan, tentu pekerjaan rumah Mita tidak akan terasa berat dan akan terasa lebih ringan. Apalagi Mita sudah berada di usia yang semakin senja, setidaknya ada yang menemaninya.


"Oh ini .... Ikan nila goreng saus padang, tumis kangkung dan ini bakwan jagung," ucap Dini dengan penuh senyum kebahagiaan. Bagi Dini memasak adalah salah satu obat sres untuk dirinya. Jika, pikirannya mulai banyak, Dini segera ke pasar untuk berbelanja beberapa bahan makanan dan memasak. Dengan begitu mood boosternya kembali menyemangati hidupnya kembali.


"Harum sekali baunya. Ini sepertinya sangat enak sekali. Dari aromanya sangat membuat lidah Ibu bergoyang ke kanan dan ke kiri," ucap Mita sambil tertawa terbahak-bahak.


Air liur Mita sudah mengupul di dalam mulutnya, rasanya ingin segera menikmati beberapa menu amkanan yang tak biasa itu.


"Semoga saja rasanya enak da Ibu cocok dengan masakan Dini." ucap Dini pelan sambil membalikkan bakwan jagung yang mulai menguning.


Mita duduk di kursi makan yang ada di sana. Sambil menunggu bakwan jagungnya matang Dini pun menyiapakn piring dan gelas yang akan di pakai untuk sarapan pagi serta merapikan meja makan hingga terlihat berkelas dan sangat rapi penataannya.

__ADS_1


Mita hanya mengamati cara bekerja Dini yang begitu cekatan dan tanpa ragu. Semuanya dilakukan dengan baik dan sangat rapi.


"Kegiatan kamu selain kuliah? Apa kamu bekerja?" tanya Mta tiba-tiba sambil mengisi air putuh ke dalam gelas yang ada di meja makan.


Dini menggelengkan kepalanya pelan sambil mengangkat bakwan jagung terakhir dari minya panas itu dan mematukan kompornya.


Nasi di dalam wadah pun sudah tertata rapi di meja makan, begitu juga dengan ikan nila yang sudah lengkap dengan bumbu saos padang di pirng besar. Tumis kangkung dengan campuran toge serta cabe hijau pun membuat beberapa kali Mita meneguk salivanya dnegan rasa penasaran.


"Kak Adam kemana Bu? Makanan untuk sarapan pagi sudah siap," ucap Dini dengan suara pelan.


"Ekhm ... Tadi sih katanya mau joging, tapi biasanya kalau dari rumah sudah tercium wangi makana, perutnya akan berbalik pulang," tawa Mita dengan sangat lucu.


Adam itu sangat hobi sekali dengan makan. Makanan apapun pasti akan di cicipinya walaupun Adam memiliki makanan kesukaan yang tidak biasa.


"Setelah ini kita ke pasar? Kamu mau Dini? Kita belanja dulu untuk beberapa hari ke depan. kebetulan nanti sore Adam kembali ke kota untuk menjalankan aktivitasnya kembali. Kamu sendiri ingin kembali ke kota?" tanya Mita pelan.


Dini duduk di salah satu kursi makan dan meneguk air putih hangat.


"Kita belanja ke pasar? Dini mau Bu. Ibu ... Dini mau tinggal disini dahulu untuk beberapa waktu, apakah boleh?" tanya Dini lirih sambil menundukkan kepalanya.


Adam masih berada di balik dinding dapur dan mendengarkan semua pembicaraan pribadi antara Mita, Sang Ibu dengan Dini, gadis yang sedang mengandung.


"Kamu yakin, mau tinggal di sini? Di sini jauh dari pusat belanja. Kamu akan jenuh, Dini.," ucap Mita pelan.

__ADS_1


"Apakah jawaban ini salah satu penolakan halus Ibu terhadap Dini?' tanya Dini dengan suara pelan.


__ADS_2