Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
masa lalu


__ADS_3

Tidak lama kemudian, Aki Uban masuk ke dalam rumah Kirana. Rumah Kirana terlihat begitu sepi, Aki Uban langsung masuk ke dalam dan melihat kamar tidur Kirana yang terbuka dan Maya duduk disamping Kirana sambil memijat kaki Kirana pelan.


"Apa yang terjadi dengan Kirana, Maya?" tanya Aki Uban panik lalu duduk di seberang Maya dan ikut memijat kaki Kirana dan menatap wajah cantik Kirana yang masih memejamkan mata.


Maya menjelaskan dengan pelan dan detil, kenapa Kirana bisa tidak sadarkan diri seperti ini.


"Kak Kiran, tidak sadarkan diri saat muntah-muntah di kamar mandi. Lalu..." ucapan Maya terhenti mengingat ucapan Lelaki tadi yang tidak memperbolehkan Maya untuk mengatakan kedatangannya kepada siapapun.


"Lalu apa Maya, coba ceritakan, kasihan Kirana," ucap Aki Uban pelan.


Maya takut sekali, sesekali menelan ludahnya ke dalam kerongkongannya yang tidak kering.


"Tadi ada laki-laki yang datang mencari Kak Kiran, saat melihat Kak Kiran tidak sadarkan diri di lantai kamar mandi, laki-laki itu langsung mengangkat dan membawa Kak Kiran ke kamar, lalu memberikan obat ini yang katanya vitamin, dan menyentuh ponsel Kak Kiran, seperti meletakkan sesuatu," ucap Maya pelan sambil menunjuk ke arah meja rias dimana ponsel itu tersimpan.


Aki Uban menatap ponsel itu dan mengambil obat dari tangan Maya laluembaca dengan seksama nama obat itu.


'Nyawa Kirana sedang terancam, sepertinya ada seseorang yang ingin membuat dirinya sengsara dan kesusahan,' batin Aki Uban di dalam hatinya.


"Ini bukan obat vitamin untuk ibu hamil, tapi ini adalah obat tidur, dan ini ada alat pelacak untuk mengidentifikasi Kirana berada dimana," ucap Aki Uban pelan mengambil alat pelacak itu.


"Tapi, orang itu baik, dan bawa mobil, tampan pula," ucap Maya membela.


"Darimana kamu tahu, lelaki itu baik, Maya? Kalau dia lelaki baik dan kenal dengan Kirana, pasti menunggu hingga Kirana sadar," ucap Aki Uban menasehati.


Maya tampak menganggukkan kepalanya pelan tanda paham. Memberikan namanya saja tidak, malahan menyuruh agar Maya tetap diam dan tidak memberitahukan kepada siapapun juga.

__ADS_1


"Maya, asal kamu tahu, nyawa Kirana sedang terancam, alangkah baiknya jangan memasukkan tamu siapapun juga ke dalam rumah, atau jika ada hal-hal yang aneh, kamu bisa panggil Aki," ucap Aki Uban pelan.


Hari semakin larut malam dan sepi. Maya tertidur di samping Kirana yang sudah satu jam lalu sadar dari tidur panjangnya dan kini kembali tertidur untuk melepas lelah dan kepenatan dalam pikirannya.


Sesekali perut rasanya diusap dengan pelan seolah Syakir, Suaminya sedang mengusap dan memperhatikan benih yang telah tertanam di rahimnya.


Aki Uban duduk dan menemani kedua perempuan lemah itu untuk berjaga di depan rumah Kirana. Satu tangannya membawa palu untuk merusakkan benda yang tertempel di ponsel Kirana hingga hancur lebur tidak berbentuk. Lalu obat itu dan alat pelacak yang sudah rusak itu di kubur di dekat tanaman teras depan, bila suatu saat dibutuhkan sebagai bukti.


Maya sudah terlelap dari tadi, sedangkan Kirana berusaha memejamkan kedua matanya yang tidak mengantuk sama sekali dan memainkan ponselnya.


Kirana berharap Syakir peduli dan mencarinya tanpa dihubungi terlebih dahulu.


Membuka kembali galeri foto yang berisi dengan foto-foto pernikahannya bersama Syakir satu bulan yang lalu.


Ting ...


Bunyi notifikasi pesan chat masuk ke dalam ponsel Kirana. Kirana membuka pesan singkat itu, tertera satu nama yang sangat membuatnya rindu.


Syakir menanyakan keadaan Kirana dan dimana Kirana saat ini berada, "Sayang, kamu dimana, Mas jemput ya, jangan buat khawatir," begitu kira-kira isi pesan Syakir yang mencemaskan Kirana.


Satu tetes air mata Kirana terjatuh mengalir di pipi chubbynya. Dering ponselnya berbunyi keras dan nyaring, Syakir mencoba menelepon Kirana setelah mengetahui ponsel Kirana aktif kembali.


Kirana hanya menatap nama suaminya yang tertera di layar ponselnya tanpa berniat ingin mengangkat ponselnya itu.


Beberapa kali Syakir mengulang kembali menelepon Kirana, namun tetap saja hasilnya tidak ada jawaban dari Kirana, istri tercintanya itu.

__ADS_1


'Maafkan Kirana, Mas. Kirana butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan pikiran Kirana, setelah banyak masalah yang tiba-tiba muncul, apalagi sekarang muncul dari masa lalu, Disa terindah yang dibuat oleh Bapak,' batin Kirana di dalam hatinya. Sesak sekali rasanya mengingat kejadian tadi malam.


'Dokter Andrew, nama itu akan selalu aku ingat. Dia adalah dokter penyebab kematian Ibu Asih, ibu kandung Kirana yang sempat mendapatkan pengobatan gratis yang ternyata adalah suntuk mati secara perlahan agar hidup Ibu Asih berakhir,' batin Kirana kemudian mengumpat Fi dalam hatinya.


Aki Uban masuk ke dalam kamar, untuk memastikan keadaan Kirana sudah lebih baik dari sebelumnya. Aki Uban menatap Kirana yang masih terjaga dari tidurnya, bahkan kedua matanya menatap bintang-bintang melalui jendela kamarnya.


"Belum tidur Kirana? Tidurlah Nak, kamu harus banyak istirahat agar kondisimu lebih baik lagi. Jaga janin yang ada di dalam perutmu, dia butuh perhatian dan kasih sayang dari Ibunya, jadi kamu jangan sampai lemah dan banyak pikiran, itu amanah yang paling berharga," ucap Aki Uban menasehati. Aki Uban hanya berdiri di ambang pintu kamar Kirana, beliau tidak masuk ke dalam kamar Kirana, ingin menjauhkan dari fitnah kejam yang bisa saja dimanfaatkan orang lain untuk menjatuhkan nama baiknya sebagai Marbot.


Kirana menegakkan tubuhnya dan bersandar pada tembok kamar yang dingin itu lalu tersenyum menatap Aki Uban.


"Terima kasih Aki, sudah banyak membantu Kirana. Kirana mau kuliah di Amerika saja, kebetulan Mas Syakir akan ke Amerika dalam minggu ini. Aki bisa bantu Kirana, biar Maya Kirana bawa ke Amerika, biar Kirana urus Maya disana," tanya Kirana pelan kepada Aki Uban.


"Aki harus membantu apa Kirana?" tanya Aki Uban pelan kepada Kirana.


"Tolong carikan orang yang bisa mengurus keberangkatan Kirana. Mengurus semua administrasi yang di butuhkan untuk Kirana dan Maya," ucap Kirana dengan mantap.


Rencana Kirana besok akan mengambil semua uang yang ada di rekening itu untuk biaya keberangkatan dan biaya kuliahnya dan sebagian untuk modal membuka usaha toko kue di Amerika.


"Sudah kamu pikirkan dengan matang Kirana? Kamu ingin tinggal disana?" tanya Aki Uban memastikan.


Aki Uban hanya takut, pilihan dan keputusan Kirana hanya emosi sesaat saja.


"Kirana harus tetap menemani Mas Syakir, walaupun kita tidak bersama. Anak ini tetap harus melihat Abynya, mungkin sesekali butuh perhatian dari Abynya," ucap Kirana pelan menjelaskan.


Aki Uban tersenyum bahagia, pilihan Kiran sudah tepat, mungkin untuk bisa tinggal bersama dan hidup berdampingan dengan madunya itu membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama dan membutuhkan kelapangan dada yang luar biasa sabar dan ikhlas.

__ADS_1


__ADS_2